You Are My Mine

You Are My Mine
Kesedihan Martin.


__ADS_3

Seseorang tertawa senang setelah menerima telepon dari orang-orang suruhan nya. Akan tugas yang ia berikan telah selesai sesuai keinginan nya. Seseorang itu pun langsung mentransfer dengan jumlah yang di tentukan orang suruhan sebagai upah nya.


Seseorang itu adalah Rima. Ia terus tersenyum kala melangkah menuju rumahnya. Ia telah di buta kan akan cinta nya, bahkan ia seperti terobsesi. Maka setiap yang akan dekat dengan Orang yang di cintainya, ia akan berbuat apapun untuk menyingkirkan orang tersebut.


Rima berbaring di atas kasur nya, rasa nya walaupun telah hampir pagi, ia akan tertidur dengan nyenyak karena semua rencana nya telah berhasil. Benar. Rima pun telah tertidur dengan cepat di atas kasur nya.


Sedangkan di tempat lain, Martin telah sampai di tempat Alamat rumah Yuda. Terlihat di jam tangan nya menunjukkan pukul lima pagi. Ia pun tidak perduli dengan keanehan penghuni rumah yang bertamu di waktu sangat pagi. Martin meredam kan emosi nya terlebih dahulu. Ia akan mencoba bermain taktik untuk menghadapi Yuda yang telah berani menyentuh wanita nya.


Martin berdiri dan mengetuk pintu rumah tersebut. Namun belum ada jawaban. Lampu rumah itu menyala. Tapi tidak ada seorang pun yang membuka pintu nya. Hingga beberapa kali Martin mengetuk pintu tersebut hasilnya tetap sama.


Sampai ada seseorang yang sedang melintas di depan rumah menghampiri karena melihat Martin terus mengetuk pintu.


"Mas cari siapa ya?." Tanya orang yang menghampiri Martin.


Martin pun menoleh. "Saya mencari Yuda. Apa benar ini rumah nya?." Tanya Martin.


"Iya Benar Mas ini rumah nya. Namun penghuni Rumah sedang tidak ada. Kalau gak salah sudah hampir tiga bulanan. Karena Ibu Yuda, di rawat ke Singapore. Saya tetangga sebelahnya." Orang itu memberitahukan Martin, dan menunjuk letak rumah nya.


Martin pun terdiam. Ia sangat kecewa akan hasil nya. "Oh begitu ya Pak. Kalau begitu terima kasih atas informasi nya Pak." Martin berterima kasih.


Lalu melangkah menuju mobil nya. Martin merasa lelah bahkan mengantuk, tapi ia tahan demi untuk menemukan Yuda. Namun ia kecewa akan hasil nya, karena Yuda tidak ada di tempat.


Sekarang aku harus temui Adelia.


Aku butuh penjelasan dari nya akan video tersebut.


Ucap Martin dalam hatinya. Ia pun mulai menancap gas nya, meninggalkan tempat itu. Ia kini berniat akan mendatangi rumah Adelia. Martin butuh penjelasan Adelia akan video di dalam nya. Karena memang masih pagi, jalanan pun masih sepi. Martin pun hanya menghabiskan sekitar satu jam setengah untuk menempuh perjalanan ke rumah Adelia.


Martin turun dari mobilnya, terlihat ada beberapa warga yang masih menyaksikan tempat Adelia yang sudah ambruk karena Lalapan Api. Martin tercengang kaget, ia berjalan lebih cepat untuk mendekati Ruko Adelia yang sudah hangus terbakar. Martin bergetar langkahnya kala terhenti di depan garis polisi. Martin menatap bangunan tersebut, dan di edarkan pandangan nya mencari keberadaan Adelia. Martin menyusuri kerumunan warga yang berkumpul, namun ia tidak dapat menemukan Adelia.


Martin mulai bertanya kepada Polisi.


"Pak. Maaf saya ingin menanyakan perihal penghuni ruko tersebut. Apa dia selamat? Lalu dimana dia?." Tanya Martin.


Polisi tersebut menatap Martin.


"Mohon maaf Mas. Penghuni rumah tersebut tidak terselamat kan. Sepertinya sudah menjadi Abu dengan sebagian reruntuhan bangunan tersebut. Karena api yang susah di padamkan." Ucap Polisi tersebut.


Martin tiba-tiba ambruk dari berdiri nya. Ia merasa kaget, bahkan sedih ketika mendengar penuturan polisi yang di tanya nya. Martin tidak menyangka hal ini akan terjadi kepada kekasihnya. Martin bertumpu dengan lututnya, ia menangis dengan menunduk.


"Maafkan aku. Maafkan aku yang tak bisa menjaga mu." Martin dengan menangis.


Terbayang saat-saat kebersamaan nya bersama Adelia. Senyum nya. Marahnya. Bahkan hal yang membuat wajah Adelia kesal. Martin terus berurai air mata mengingat setiap moment kebersamaan nya itu. Lalu Martin membayangkan kembali kala ia selalu bermanja kepada Adelia, memeluknya, hingga mencium nya. Martin terus menangis.


"Ini Semua salahku. Ini semua karena aku. Yang tak bisa menjaga mu. Maafkan aku."


Martin terus merutuki dirinya dengan terus menyalahkan dirinya yang tak bisa menjaga Adelia. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Martin, Martin pun menoleh. Terlihat seseorang itu adalah Reyhan sahabatnya, ia datang bersama Bu Rosy ibunya.


"Martin... Aku turut prihatin akan musibah yang menimpa Adelia. Lalu bagaimana dengan keadaan nya?." Reyhan mengucapkan keprihatinan nya, dengan menanyakan akan keadaan Adelia.


Martin menggelengkan kepalanya, dengan terus berulang kali. Ia juga terus menitik kan air Mata nya. Sontak Reyhan dan Ibu nya saling tatap satu sama lain. Reyhan dan Ibu nya merasa belum paham akan Martin yang tidak bersuara.


"Martin. Apa Adelia baik-baik saja?." Tanya Reyhan kembali.


Lagi-lagi Martin dengan menunduk memberikan jawaban nya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Reyhan pun tiba-tiba merasa sedih melihat teman baik nya menangis dengan berurai air mata.


"Apa Adelia meninggal?." Tanya Reyhan kini.


"Tidak. Ia tidak akan pernah meninggal di kehidupan ku." Martin menjawab dengan tegas.


Lalu ia menunduk kembali dengan menangis. Reyhan mencerna apa yang baru saja di katakan Martin. Ia melotot kaget setelah mengerti akan ucapan Martin baru saja.


"Bu. Adelia sudah tiada." Reyhan menghampiri ibunya.

__ADS_1


"Apa?. Tidak mungkin Rey." Bu Rosy dengan melotot kaget.


"Iya bu. Rey akan memastikan kepada polisi tentang apa penyebab kebakaran tersebut?." Reyhan berniat ingin menanyakan lebih detail.


"Rey. Titip Martin sebentar bu." Ucap Reyhan menitipkan Martin kepada ibu nya.


Ibu nya menjawab dengan mengangguk.


Reyhan pun dengan cepat melangkah ke arah polisi yang sedang berkumpul dengan warga. Reyhan pun berhasil menanyakan perihal penyebab terjadi nya kebakaran. Polisi telah menyelidiki, dan menemukan bukti bahwa penyebab terjadi nya kebakaran adalah karena konsleting listrik. Kemudian Penghuni yang memang sedang terlelap tidak menyadari itu. Hingga penghuni habis terbakar. Reyhan benar-benar tidak menyangka akan musibah yang terjadi. Setelah Reyhan mendapatkan informasinya, ia kembali menemui Martin yang masih tertumpu lutut dengan menunduk.


"Ma... Ternyata penyebab nya dari konsleting listrik." Reyhan menyampaikan informasinya dari polisi kepada Ibu nya.


"Ya Tuhan..." Bu Rosy dengan bersedih.


Martin mendengar apa yang di ucapkan Reyhan barusan. Ia lagi-lagi menangis. Martin terus merutuki dirinya, menyalahkan dirinya yang tak bisa menjaga calon istrinya.


"Martin. Aku pinjam ponsel mu. Aku ingin mengatakan kepada tante Meli. Agar kamu tidak terus seperti ini." Reyhan berniat ingin memberitahu Tante Meli satu-satu nya keluarga Martin.


Martin pun dengan lemah menyerahkan ponsel nya kepada Reyhan. Dan dengan cepat Reyhan pun menerima nya. Dan melakukan panggilan dari ponsel Martin tersebut, kepada Tante Meli. Terdengar Tante Meli begitu kaget setelah mendengarkan apa yang di ucapkan Reyhan. Tante Meli pun dengan cepat akan bergegas ke tempat Adelia dengan mengajak Rima yang sedang duduk sarapan.


Setelah selesai menelepon Tante Meli, Reyhan pun mengembalikan kembali ponsel milik Martin. Martin pun menerima nya. Namun tiba-tiba badan Martin ambruk tak sadarkan diri. Reyhan dengan cepat meminta bantuan warga yang berada di sana untuk membantu menggotong Tubuh Martin ke salah satu Kursi depan Ruko milik orang lain.


Tubuh Martin pun di baringkan. Dan kemudian datang Tante Meli dengan Rima menghampiri. Lalu menanyakan perihal penyebab kebakaran, dan keselamatan Adelia.


Tante Meli syok mendengarnya.


Rima juga kaget Akan misi nya yang berhasil melenyapkan Adelia. Ia pun tersenyum dalam hatinya akan kecerdikan orang suruhan nya yang tidak meninggalkan jejak sama sekali. Rima pun berpura-pura sedih di hadapan yang lain nya.


...----------------...


Adelia terbangun dari tidur nya. Ia melihat jam dinding kamar telah menunjukan pukul 08:30. Adelia pun buru-buru berdiri dan bergegas ke kamar mandi.


Setelah selesai ia bergegas keluar kamar. Terlihat Yuda masih tertidur lelap di atas sofa. Adelia pun berdiri sejenak memperhatikan Yuda sang penolong nya. Adelia pun melangkah bergegas menuju dapur. Di buka sebuah lemari pendingin, dan Adelia pun memilih bahan-bahan yang akan di masak nya.


"Sudah bangun?." Tanya Adelia.


Yuda mulai mendekati Adelia dan duduk di kursi meja makan. "Ya. Wangi masakan mu yang membangun kan aku." Jawab Yuda dengan tersenyum.


Adelia pun tersenyum mendengar jawaban Yuda yang merasa lucu baginya. Yuda pun terus tersenyu melihat Adelia yang tersenyum.


"Kamu mau makan terlebih dahulu?. Aku akan ambilkan." Kata Adelia.


"Aku lebih baik mandi dulu. Oh ya... Kamu gak ada baju ganti kan?." Yuda ingin mandi terlebih dahulu, lalu menanyakan perihal baju ganti Adelia.


"Iya gak ada." Jawab Adelia.


"Nanti aku bawakan baju untuk mu dan Rara. Gak apa-apa kan pakai baju aku terlebih dahulu?." Yuda memastikan.


"Iya gak apa-apa." Adelia dengan tersenyum.


Yuda pun melangkah pergi ke arah kamar nya untuk berniat mandi.


Rara yang sudah terbangun menghampiri Adelia di dapur.


Rara duduk di kursi sebelah Adelia. "Del Lu udah mandi?." Tanya nya.


"Udah Ra. Kamu sendiri?." Adelia bertanya kembali.


"Udah. Tapi kita gak ada baju ganti." Ucap Rara.


"Iya Sama. Tapi Yuda bakal minjemin baju nya nanti." Tutur Adelia.


"Gak apa-apa. Dari pada gak ganti-ganti." Rara yang mulai menyomot makanan di meja.

__ADS_1


Terlihat Yuda datang menghampiri, dengan tangan nya membawa beberapa baju milik nya.


"Ini kalian bisa pilih, lumayan untuk sementara. Sebelum Nanti kita keluar untuk membeli pakaian." Yuda dengan menaruh beberapa pakaian tersebut di atas Kursi kosong. Lalu Yuda pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Adelia.


"Iya Nanti saja. Sekarang Kita mau makan terlebih dahulu." Rara yang sudah tidak sabar ingin memakan makanan di hadapan nya.


Adelia melirik Rara dengan tersenyum. Begitu pun Yuda.


Mereka pun makan dengan keadaan hening.


Setelah mereka selesai dengan makan nya. Adelia dan Rara pun memilih pakaian yang tadi Yuda taruh di kursi, dan masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.


Yuda duduk di sofa ruang tengah dengan bermain ponsel. Ia menerima pesan rekaman Video dari Rima, bertuliskan. "Moment Bahagia Lu bersamanya. Sebelum dia meninggal." Seperti itu tulisan nya. Yuda pun membuka rekaman Video tersebut, dan ternyata isi video tersebut saat Adelia dalam pengaruh obat perangsang.


Lalu Yuda pun membalas pesan Rima, dengan berpura-pura menanyakan perihal rencana Rima.


Yuda.


Gimana Rencana Lu?.


Rima.


Berhasil.


Dia mati hingga menjadi Abu.


Yuda pun melotot. Yuda Yakin Rima tidak mengetahui bahwa Adelia dan Rara masih hidup. Ia harus menyembunyikan keberadaan Adelia dan Rara mulaibdari sekarang. Yuda tidak Mau sampai terjadi apapun kepada keduanya.


Terlihat Adelia datang menghampiri dengan sudah memakai kemeja Yuda hingga batas lutut. Yuda melihat Adelia seperti itu, menelan ludah nya. Karena baginya Adelia terlihat begitu Sexy dengan memperlihatkan kaki mulus nya.


Adelia pun duduk di hadapan Yuda. Yuda berpura-pura sibuk dengan ponsel nya.


"Yuda... Maaf kan kami yang telah merepotkan mu." Ucap Adelia meminta maaf.


"Udah gak usah minta maaf segala Del. Aku merasa gak di repotkan koq." Ujar Yuda dengan fokus ke ponselnya.


Adelia pun merasa heran akan Yuda yang tidak menoleh kepada nya saat berbicara.


Adelia pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Yuda, kenapa kamu tidak melihat ku saat bicara?." Adelia bertanya.


Yuda pun sontak menghentikan pura-pura sibuk dengan ponsel nya. Lalu menatap Adelia dengan lekat.


"Maaf aku gak sengaja Del. Aku tadi tanggung lagi bermain game." Ucap Yuda beralasan. Padahal ia enggan menoleh karena Yuda tidak mau melihat ke seksian Adelia yang menggugah kejantanan nya.


"Gitu..." Ucap Adelia. Dengan mengerucutkan bibirnya.


Yuda pun terkekeh melihat Adelia seperti itu.


Lalu datang Rara dengan membawa ponsel di tangan nya. Dan duduk di sebelah Adelia.


"Yud. Kamu punya charger gak?. Baterai Ponsel ku habis ni..." Rara berniat ingin mengisi daya baterai nya.


"Ada. Tapi ku mohon kalian tidak boleh mengaktifkan nomor ponsel kalian. Aku khawatir Rima akan mengetahui keberadaan kalian. Ia tadi memberitahukan bahwa Rumah kalian sudah habis terbakar, dan Rima mendapatkan Informasi dari penyelidik bahwa kalian telah habis terbakar. Berarti kalian sudah di anggap meninggal saat ini." Yuda melarang Adelia dan Rara untuk menhlgaktifkan nomor ponsel nya. Dan mengatakan bahwa Yuda di beritahukan Rima akan Adelia dan Rara sudah meninggal.


Adelia tercengang kaget, ia syok mendengar nya. Adelia pun lalu menangis. Begitu pun Rara. Yuda mencoba mendekat untuk menenangkan Adelia. Yuda mencoba menggenggam tangan Adelia. Adelia pun tidak menolaknya. Rara berniat menumpahkan kesedihan nya di dalam kamar. Tinggal lah Adelia dan Yuda berada di ruangan tengah tersebut.


"Aku ingin memberitahukan Martin." Ucap Adelia.


"Jangan Del. Martin juga berada di sana. Dan ia sudah pingsan ia syok karena kamu telah meninggal." Cegah Yuda.


"Tidak Yuda. Dia calon suami ku. Dia harus tahu kejahatan Rima kepada ku." Adelia ingin memberitahukan Martin.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2