You Are My Mine

You Are My Mine
Pernikahan Part 1


__ADS_3

Rasya mulai melepaskan pelukan nya, Ia kini menatap Wajah Adelia yang sembab, dengan sesekali terdengar isakan dari nya.


Adelia pun mulai menatap Rasya dengan tersenyum.


"Sekarang Kita kembali berteman kan?." Adelia dengan mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Rasya.


Rasya pun tersenyum.


"Ia kita kembali berteman." Jawab Rasya, dengan menyatukan jari kelingking milik nya dan juga kelingking milik Adelia.


Adelia dan Rasya pun saling tatap dan tersenyum.


"Sudah, ayo kita pulang. Aku antar kamu pulang yaa..." Rasya berdiri mengajak Adelia pulang.


Adelia pun mengangguk, dan ikut berdiri. Lalu berjalan mengekori Rasya.


Rasya berjalan, dan menggenggam tangan Adelia sampai masuk ke dalam mobil.


Di perjalanan pulang, Adelia tertidur.


Rasya tersenyum melihat nya.


Tak terasa Mobil milik Rasya sudah terparkir di depan Toko Kue Adelia.


Namun terlihat Ada sebuah mobil mewah sudah terparkir lebih dulu.


Rasya mulai ingin membangun kan Adelia yang tertidur, ia mulai menyibakkan rambut yang sedikit menghalangi wajah Adelia.


Rasya tersenyum, lalu mengecup kening Adelia.


"Del, sudah sampai." Ucap Rasya dengan berbisik ke telinga milik Adelia.


Adelia pun mulai mengerjapkan ke dua mata nya, dan mulai membuka seatbelt nya.


Setelah Adelia menatap ke arah depan, Adelia seakan membeku melihat sebuah mobil mewah yang terparkir di depan Toko nya.


Adelia pun melirik ke arah Rasya, Rasya yang di lirik pun menggeleng, tanda ia tidak mengetahui mobil siapa yang terparkir itu.


Adelia mulai membuka pintu mobil Rasya untuk keluar, Adelia langsung melotot tatkala melihat Martin yang berdiri di depan Pintu Rolling Dor. Rasya pun merasa heran dengan Adelia yang malah berdiri mematung di tempatnya. Rasya pun ke luar dari mobil nya, dan Rasya pun ikut terkejut melihat Martin yang berdiri di depan pintu Rolling dor Toko Kue Adelia.


Terlihat Martin menghampiri Adelia yang masih berdiri mematung, Martin melangkahkan kaki nya untuk lebih dekat.


Tanpa di duga Martin mendekat dan mencium bibir Adelia di depan Rasya.


Rasya yang melihat nya, darah nya mendadak naik, Dada nya mendadak sesak.


Adelia pun yang di cium dengan tiba-tiba, mata nya melotot kaget. Namun Adelia tidak bisa menolak nya. Tangan Martin mulai menekan tengkuk Adelia untuk memperdalam ciuman nya. Rasya pun akhirnya membuang muka ke arah lain, tidak mungkin ia terus melihatnya.


Setelah beberapa lama, Martin mulai melepaskan ciuman nya, kini ia menatap Wajah Adelia yang sembab. Martin sudah yakin jika Adelia habis menangis.


Martin langsung menarik tangan Adelia untuk masuk ke dalam Ruko tanpa bicara sepatah kata pun ke pada Rasya yang masih berada di sana.


Rasya pun akhirnya, masuk ke dalam mobilnya. Dan melajukan mobilnya meninggalkan halaman ruko Adelia.


Sementara itu di dalam, Rara sudah menatap ke arah Adelia, setelah Adelia pergi begitu saja ketika selesai menyanyi Rara sangat mencemaskan Adelia. Karena beberapa telpon dan chat darinya tak ada yang di jawab oleh Adelia. Sehingga Rara menelpon Martin, sampai Martin berada di sini sekarang.


"Del, Lu kemana sih? Gue cemas tahu... Lu habis nyanyi pergi begitu saja. telpon dan chat gue gak ada yang Lu jawab. Jadi gue minta Martin ke sini, buat nyariin Lu." Rara berbicara dengan beruntun.


Adelia sekarang paham, Martin berada di sini saat ini, itu karena Rara yang meminta untuk nyariin dirinya.


"Aku gak ke mana-mana Ra." Jawab Adelia.


"Gak ke mana-mana ya? terus kenapa bisa pulang nya dengan Dia?." Martin kini berbicara meluapkan apa yang memang di Lihatnya.

__ADS_1


Adelia pun terdiam, ia tak berani menjawab pertanyaan Martin.


"Sudahlah, tak mungkin kamu bisa menjawab nya. Lebih baik sekarang kamu tidur." Martin setelah berbicara, ia melangkahkan kaki nya ke luar pintu.


"Ayo Del, mending sekarang kita tidur. Martin dari tadi mencemaskan Lu. dan Lu pulang-pulang malah dengan Rasya. Pasti saat ini dia lagi jelaous." Rara dengan menuntun Adelia untuk menaiki tangga.


Martin yang berada di luar mulai melangkah menuju mobil nya, ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Martin ternyata berniat tidur di dalam mobil nya, ia seakan tidak mau meninggalkan Adelia, walaupun masih dalam ke adaan marah.


Sementara itu Rasya yang baru tiba di rumahnya, langsung di sambut oleh kerabat-kerabat nya yang baru datang setelah Acara Rasya selesai bersama teman-teman nya, walaupun Rasya malah menghilang tetapi acara tersebut berlanjut hingga selesai.


"Nah calon pengantin, baru nonghol ni dari mana aja?." Tanya sepupu Rasya anak dari paman nya.


"Maaf, Rasya baru datang karena ada urusan." Jawab Rasya ke pada sepupunya.


"Iya, ya ya... Udah mendingan sana tidur. Biar besok kamu tidak ngantuk pas akad." Ucap sepupunya lagi seraya tertawa.


Rasya pun mengangguk, pura-pura mengiyakan. Padahal dirinya kini tengah berkecamuk, Rasa resah menghadapi hari esok, bahkan rasa cemburu kini tengah menyelimuti Rasya karena melihat Adelia berciuman dengan Martin di depan Rasya langsung.


Wajah Rasya pun sangat kentara muram dan di tekuk. Lia melihatnya untuk mendekat, namun Rasya dengan cepat melangkah menaiki anak tangga untuk menuju kamar nya.


"Huuuh......" Rasya membuang nafas setelah sampai di kamarnya dan langsung berbaring di ranjangnya.


Rasya memutar kembali apa yang tadi telah ia lihat. Dada Rasya seakan panas kini ia duduk dengan menggeretakan giginya, dan tangan nya mengepal lalu ia pukulkan ke ranjang.


Berani-berani nya dia mencium Adelia di hadapan ku.


Seperti sengaja ingin membuat diriku marah.


Arghhhh..........


Rasya berbicara sendiri, lalu ia mengerang mengeluarkan amarahnya yang ia tahan sedari tadi.


Lalu Rasya berbaring kembali, hingga matanya tertutup dan terlelap tidur.


Ke esokan harinya, Rasya di bangunkan oleh Lia karena telah menjelang pagi, dan Rasya harus bersiap-siap untuk mempersiapkan dirinya sebelum berangkat ke kediaman mempelai wanita.


"Sya. Rasya.... Bangun nak. Kamu harus siap-siap." Lia menggoyangkan lengan Rasya untuk bangun dari tidur nya.


Rasya tidak bergeming, namun malah mengigau.


"Del Aku sangat mencintai kamu. Adelia." Rasya mengigau menyebutkan perasaan nya kepada Adelia.


Lia pun terdiam setelah mendengar Rasya yang mengigau seperti itu, rasa kasihan kini muncul, dan rasa bersalah pun ada. Tapi tetap pernikahan harus di laksanakan.


"Rasya..... Bangun." Lia sedikit berteriak, agar Rasya terbangun.


Rasya pun mengerjapkan mata nya, dan mulai melihat Lia yang berdiri di depan nya. Rasya pun buru-buru duduk, dan menatap mama nya, lalu melihat jam dinding.


"Ada apa sih ma? baru jam lima juga." Ucap Rasya yang mau hendak tidur lagi.


"Kamu, hari ini akan menikah Rasya. Semua kerabat sudah bersiap-siap, sedangkan kamu yang menjadi mempelai lelaki nya malah masih terlelap. Ayo bangun..!" Lia dengan ingin melangkah keluar.


Rasya pun kini sadar, hari ini adalah hari pernikahan nya.


Rasya pun menghela nafas, dan beranjak dari ranjang nya untuk menuju kamar mandi.


Sementara itu di lantai bawah keluarga Rasya sedang mulai memasuk kan barang-barang yang sudah di kemas atau di bungkus secantik mungkin ke dalam bagasi mobil, barang-barang tersebut merupakan barang-barang hantaran seserahan dari mempelai pria untuk mempelai wanita.


Terlihat dari berbagai make-up, Sandal, Sepatu, Tas, Pakaian hingga Alat-alat mandi dan sebagainya.


Rasya pun sudah selesai dengan Pakaian dan Jas nya yang ia kenakan untuk akad, ia mulai turun menuruni anak tangga.


"Ciyee... yang mau jadi pengantin." Ucap Sepupu Rasya, seraya menggoda Rasya yang sedang berjalan ke arah nya.

__ADS_1


Rasya tidak menimpali, hanya sorot mata yang tajam yang ia tampak kan kepada sepupunya.


"Aduuh... Bakal ada yang unboxing ni." Ucap Salah satu Sepupu Rasya yang lain.


"Sudah, ah Rasya nya jangan di goda terus kasihan, Rasya pasti malu." Ujar Tante nya Rasya.


Semua yang berada di sana pun tersenyum.


Berbeda dengan Rasya yang berwajah datar, bahkan tidak menyunggingkan bibirnya sama sekali.


Setelah terlihat semua sudah di masuk kan ke dalam bagasi mobil. Lia pun menyuruh semua kerabat keluarga nya untuk sarapan.


Meja makan yang panjang dan luas pun terpenuhi oleh mereka yang ingin hendak sarapan.


Rasya pun ikut serta dalam Sarapan tersebut, karena memang perutnya dari semalam belum terisi.


"Kita ini akan seserahan ke daerah mana sih paman?" Tanya salah satu Sepupu Rasya kepada Hadi Papa nya Rasya.


"Oh itu, ke kota D. Gak jauh koq dari sini, di jalan paling 30 menit." Jawab Hadi Papa Rasya.


Sepupu Rasya itu pun mengangguk kan kepalanya, tanda ia tahu.


Sarapan pun akhirnya selesai, terlihat jam menunjuk kan pukul 07:30 Wib.


Rombongan pun akan mulai berangkat dengan menggunakan mobil nya masing-masing.


Beda dengan Rasya, Rasya kini tidak mengendarai mobilnya, ia kini tengah duduk di jok belakang penumpang bersama Papa dan Mama nya. Dengan mobil yang sudah di Rias sebagai mobil pengantin pria di depan nya, dan sopir pun mulai melajukan mobil nya untuk menuju Rumah mempelai wanita.


"Pa.." Rasya mulai bersuara menyapa Papa nya.


"Ada Apa Sya..?" Jawab Hadi Papa Rasya.


"Ehm... Sebenarnya hutang Papa ke Pak Rony itu Berapa? Sampai harus membayarnya dengan menikahkan Rasya." Rasya mulai berani menanyakan tentang hutang Papa nya.


Hadi memdengarnya langsung melotot tajam ke arah anaknya, seperti ingin menggerakan tangan nya untuk menampar Rasya, namun Lia dengan cepat menggelengkan kepalanya, tanda Lia mencegah Hadi untuk menampar Rasya.


"Banyak." Hadi pun menjawab, dengan menatap ke arah depan.


"Banyak?. Seberapa banyak nya Pa?. Apa dengan di cicil Papa bisa kan membayar nya? Rasya juga akan membantu Pa. Tidak harus dengan menikah kan Rasya." Rasya semakin berani mengungkapkan yang selama ini di benak nya.


Hadi sekarang benar-benar melotot tajam menatap Rasya, yang berani menanyakan itu semua.


"Apa kamu mampu membayar nya hari ini juga?" Hadi berkata dengan suara tinggi.


Sampai sang sopir di buat kaget.


"Iya Berapa?. Lalu jika Rasya mampu membayar nya hari ini, apa Rasya bisa membatalkan pernikahan nya?" Tanya Rasya kembali.


Hadi kini naik pitam.


"Jadi kamu berencana ingin membatalkan pernikahan ini Rasya?." Hadi dengan mata nya memerah menatap Rasya.


Rasya pun sedikit takut melihat Hadi Papa nya marah. Rasya sadar telah membuat Hadi marah, namun Rasya sangat penasaran ingin mengatakan nya. Rasya pun akhirnya diam dan menunduk.


Sedangkan Lia sedari tadi, mendengarkan dengan hati cemas takut sampai Rasya, dan Suaminya bertengkar hebat.


Dan Tak lama Mobil yang di lajukan sopir pun masuk ke pelataran parkiran yang di sediakan keluarga Ariyanti di depan Rumahnya.


Rasya pun menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak mau cepat sampai.


Lia merangkul tangan anaknya, memberi sentuhan untuk menenangkan, karena Lia tahu Rasya pasti tidak menginginkan pernikahan nya terjadi.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2