
Tiga hari kemudian...
"Sya ... Papa hari ini akan pergi ke kota S. Seperti apa yang Papa waktu kemarin lusa bicarakan. Dan untuk mu Ariyanti, maaf kamu harus berangkat dulu sama Rasya ya, hari ini!" Hadi membuka obrolan ketika semuanya sedang melahap makanan di meja makan. Mereka semua sedang melakukan sarapan bersama seperti biasanya.
Rasya terdiam sejenak. Lalu tiba-tiba ia seperti tahu kalau Papa nya sedang mulai melakukan aksinya. Agar tidak terlihat begitu tiba-tiba di depan keluarganya, khususnya didepan Ariyanti. Kalau Rasya akan mendekati Ariyanti seperti rencananya.
Hadi sengaja memulai aksinya itu. Setelah tiga hari dari pembicaraan dengan Rasya di ruang kerjanya. Hadi sengaja mengundur waktu sebentar. Agar Ariyanti tidak menaruh curiga. Karena semua tahu kalau Rasya dan Hadi sempat berbicara empat mata di ruang kerja Hadi. Walaupun tidak ada yang berprasangka buruk. Namun, Hadi tetap akan berhati-hati agar semua tindakannya tidak terbaca oleh sang musuh.
Ariyanti terlihat tersenyum, mungkin karena senang akan berangkat dengan Rasya.
"Iya, Om" sahutnya.
Adelia dengan mengunyah makanannya. Mulai mengerti. Tapi hari ini adalah tepat tanggal tiga, dimana hari ini tanggal ulang tahunnya Rasya.
"Mas, boleh aku minta ijin keluar?!" Adelia berbisik seperti biasa jika berada di meja makan.
Rasya menoleh dengan tersenyum, "Mau ijin kemana, Sayang?" tanyanya sedikit pelan agar tidak mengganggu yang lainnya.
"Aku ingin ke makam orang tuaku," lirih Adelia. "Aku akan mengajak Rara, jika Rara sudah selesai dengan tugasnya," lanjut Adelia.
Rasya mengangguk, "Boleh. Asal Hati-hati ya," ujar Rasya memberikan pesan.
"Iya, Mas. Terima kasih" tutur Adelia dengan senang. Karena hari ini ia akan keluar untuk mempersiapkan surprise ulang tahun Rasya.
"Sya, nanti jam dua belas. Tolong jemput Serly ya, hari ini dia baru pulang dari kempingnya," Lia meminta Rasya untuk menjemput anak bungsunya.
"Bukannya anak itu bilang kemping dua hari, namun ternyata lima hari?" sungut Rasya yang tidak suka karena di bohongi adiknya. Yang mengatakan dua hari saat meminta ijin.
Lia mengedikkan bahu, "Mama juga tidak tahu alasannya. Kenapa anak itu berbohong. Padahal ijin lima hari saja akan mama ijinkan," ujar Lia. Ia seraya mengambil air minum. Lalu di minumnya secara perlahan.
Hadi terlihat lebih dulu menghabiskan makanannya. Kini Hadi menatap kepada Adelia sang menantu.
"Del, kapan jadwal periksa kandungan?"
Adelia yang sedang masih mengunyah, menatap Hadi. "Dua hari lagi, Pa" sahutnya.
Hadi kini menatap kepada putranya, "Jangan lupa dampingi istrimu untuk chek-up, Sya!" titahnya.
__ADS_1
Rasya baru saja meneguk air minumnya, lalu menatap Hadi yang berbicara kepadanya memberikan perintah, "Tentu, Pa. Aku sudah mempersiapkan diri untuk mengantar istriku kontrol, dan sekalian mau ngintip jenis kelaminnya,"
"Mama juga ingin ikut. Mama ingin lihat cantik, atau ganteng cucuku itu," Lia dengan tersenyum menatap Adelia dan Rasya.
"Cucu Papa juga, Ma" Hadi menimpali.
"Iya Pa. Cucu kita. Papa ingin laki-laki atau perempuan cucunya?" Lia bertanya apa keinginan Hadi.
"Papa apa saja. Selagi itu adalah cucuku. Yang penting sehat bayi dan juga ibunya," Hadi lalu beralih menatap Adelia, "Jaga ya, Del. Kandungannya. Dan jangan sampai terlalu banyak pikiran. Masalah amnesia mu. Nanti setelah lahiran. Akan Papa berikan pengobatan yang bagus."
Adelia mengangguk, "Iya Pa. Tentu Adel akan menjaga kandungan dengan baik,"
"Kalau masalah pikiran. Aku tidak tahu, Pa. Selama Mas Rasya tidak melakukan aneh-aneh pada Ariyanti nantinya. Aku belum bisa tenang!" Adelia melanjutkan berbicara di dalam hati. Ia sebenarnya mulai berpikir keras saat ini setelah Rasya meminta ijin untuk mendekati Ariyanti demi melaksanakan rencananya.
Satu persatu meninggalkan meja makan. Adelia seperti biasa akan mengantarkan Rasya sampai teras depan.
"Sayang, Ayah kerja dulu ya. Jangan nakal di perut bunda!" Rasya berjongkok seraya mengecup perut buncit Adelia. Ariyanti yang sudah berdiri di dekat mobil Rasya, memperhatikan perlakuan manisnya itu. Mengeratkan giginya. Karena merasa iri kepada Adelia.
Adelia tersenyum, kemudian meraih tangan Rasya. Adelia menciumi punggung tangan Rasya dengan takzim.
"Mas hati-hati ya di jalannya!" ucap Adelia dengan tersenyum, "Jaga diri, dan jaga hati!" lanjutnya dengan tegas.
"Aku, berangkat sekarang ya, bye ...," Rasya lalu melenggang melangkah ke arah mobil miliknya yang sudah terlihat Ariyanti berdiri di sana.
Rasya sedikit canggung. Karena baru kali ini akan berangkat dengan Ariyanti menuju kantor. Rasya menghirup nafas dalam-dalam. Lalu menghembuskannya secara perlahan.
Rasya kemudian menekan kontak kuncinya. Mempersilahkan Ariyanti masuk ke dalam mobilnya tanpa membukakan pintu.
"Masuklah!" ucapnya. Lalu Rasya masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
Ariyanti dengan tersenyum tipis, ia membuka pintu samping kemudi. Yang mana ia akan duduk bersampingan dengan Rasya di depan. Setelah Ariyanti di pastikan sudah duduk dengan memasangkan seatbelt. Rasya baru melajukan mobilnya. Dan melambaikan tangan pada istri tercinta, lalu mobil itu keluar dari halaman rumah.
Adelia menghela nafas dengan menjawab lambaian tangan suaminya. Lalu setelah di pastikan mobil Rasya tidak terlihat. Adelia masuk dan menutup pintu. Adelia terdiam di balik pintu sebentar. Ia harus menguatkan hatinya. Karena pemandangan seperti tadi akan berlangsung lama, dan bukan hari ini saja tentunya.
"Sabar Adelia. Tenangkan hatimu. Jangan bergemuruh. Mas Rasya hanya sedang menjalankan Misi-nya demi Merebut hak-mu. Dan mencari dalang pembunuhan itu," ucap Adelia di dalam hati menenangkan dirinya sendiri.
Setelah menenangkan hatinya. Adelia melangkah menuju dapur untuk mencari keberadaan Rara. Dan di dapur masih ada Hadi yang sedang berbincang dengan Lia istrinya.
__ADS_1
"Hei, Sayang ...," sapa Lia saat melihat menantunya itu masuk kedalam area dapur.
Adelia hanya menyunggingkan senyuman, "Ma, aku tadi sudah ijin sama Mas Rasya untuk keluar. Aku ingin ke makam orang tuaku. Boleh aku mengajak Rara?" ujarnya.
Lia dengan tersenyum mengangguk cepat, "Boleh, Nak. Mama akan membolehkan kamu keluar dengan di temani Rara. Panggil saja Rara-nya, di belakang. Sepertinya sedang menjemur pakaian!"
Adelia mengangguk, "Kalau begitu, aku temui Rara dulu ya, Ma, Pa ...,"
Hadi dengan mengangguk, "Hati-hati, Del ...!" ucapnya.
Adelia kembali mengangguk dengan tersenyum. Lalu melangkah ke arah pintu belakang. Dan menemui Rara yang sedang menjemur pakaian hasil cuciannya. Adelia menepuk bahu Rara yang sedang anteng menjemur itu, sehingga mengagetkan Rara.
Rara menoleh, "Astaga, Del ...," Rara memekik seraya mengelus dadanya.
Adelia hanya terkekeh, "Makanya jangan sambil melamun," lalu tangan Adelia bergerak untuk membantu Rara menjemur.
Rara langsung menepis tangan Adelia. "Maaf, Bumil sayang ini kerjaan jatah saya! anda tidak perlu capek-capek membantu saya!" ucapnya dengan bahasa resmi dan baku.
Adelia kembali terkekeh, "Aku sengaja ingin membantumu. Dan setelah itu aku ingin kamu yang membantuku," lalu Adelia kembali meraih pakaian itu untuk di jemur.
"Oh, jadi kamu ke sini ternyata ada maunya?!" Rara tersenyum mengejek.
"Ra, bukan begitu!" Adelia menepis ucapan Rara.
Rara tersenyum, "Iya Bumil sayang. Aku tahu. Maaf aku hanya bercanda," Rara meminta maaf karena melihat raut wajah Adelia menjadi sendu.
"Aku ingin keluar, antar ya!" ucap Adelia.
Rara mengangguk, dengan tersenyum. "Siap bumil!" dengan mengacungkan jari jempolnya di depan Adelia.
"Aku siap-siap dulu, ya!" Adelia lalu meninggalkan Rara. Adelia berjalan dengan tersenyum melewati area dapur yang sudah tidak terlihat keberadaan kedua mertuanya.
Hari ini, Adelia akan mempersiapkan surprise untuk merayakan hari ulang tahun Rasya. Namun, Adelia akan menemui makam kedua orang tuanya terlebih dahulu.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1
Jangan Lupa like, Comment, dan Vote-nya!
Terima kasih 😍😘