
Rasya kembali kedalam rumah setelah menyelesaikan urusan nya bersama ketiga anak buahnya itu. Rasya berlalu begitu saja, saat melewati ruang tengah yang disana ada Lia, Serly, dan Rara. Lia paham kepada Rasya, mungkin putranya itu tidak mau banyak bicara saat ini.
Rasya merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia membelai bantal di sampingnya yang kosong, yang selalu menjadi tempat tidur istrinya itu. Masih tertinggal aroma khas dari istrinya, Rasya menghirupnya dengan sangat dalam. Perlahan butiran bening keluar dari pelupuk matanya. Kepergian Adelia membuat Rasya menjadi cengeng.
Sayang. Ternyata kehilangan itu sangat menyakitkan. Semoga rencanaku menyebarkan lembaran kertas itu, membuahkan hasil. Aku yakin sekali, bahwa kamu masih hidup. Rasya membatin dengan tangannya mengelus bantal yang selalu dipakai Adelia itu.
Ya Rasya selalu meyakini hatinya bahwa Adelia masih hidup. Rasya bahkan tersinggung dan sakit hati jika orang-orang mengatakan bahwa istrinya itu telah meninggal. Dua hari di tinggalkan sang istri, Rasya selalu saja menangis. Bagaimana jika Istrinya itu sampai benar-benar tiada, entah akan apa jadinya Pikir Rasya.
Namun Rasya semakin mendekatkan diri kepada Dzat Maha Kuasa. Kepergian Adelia tidak membuat dirinya hilang arah, justru membuat dirinya mengingat akan Sang Pemberi Kehidupan. Rasya selalu banyak beristighfar, mendo'akan dirinya agar menjadi diri yang menerima akan keputusan Sang Takdir.
Bahkan Rasya selalu mengingat akan sebuah ayat Allah yang isinya dalam QS. Al-Anbiya Ayat 34-35 ditegaskan bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara. Semua yang hidup dan bernyawa pasti akan mati.
وَمَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٍ مِّنۡ قَبۡلِكَ الۡخُـلۡدَ ؕ اَفَا۟ٮِٕن مِّتَّ فَهُمُ الۡخٰـلِدُوۡنَ
Wa maa ja'alnaa libasharim min qablikal khuld; afaimmitta fahumul khaaliduun
Artinya: "Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad); maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?
كُلُّ نَفۡسٍ ذَآٮِٕقَةُ الۡمَوۡتِؕ وَنَبۡلُوۡكُمۡ بِالشَّرِّ وَالۡخَيۡرِ فِتۡنَةً ؕ وَاِلَيۡنَا تُرۡجَعُوۡنَ
Kullu nafsin zaaa'iqatul mawt; wa nabluukum bishsharri walkhairi fitnatanw wa ilainaa turja'uun
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.
***
Di tempat lain, Adelia sedang memakan lontong dengan sate yang telah di belikan Albi lewat Arman. Albi tersenyum melihat wanita didepannya yang begitu lahap memakan makanannya itu, tanpa ada kata malu-malu, atau mungkin karena tengah hamil, hingga makannya seperti itu, pikir Albi.
Bahkan Adelia sampai bersendawa saat setelah menyelesaikan makannya.
"Maaf Tuan," kata Adelia meminta maaf saat setelah sendawa.
"Tidak apa!" kata Albi dengan tersenyum.
Adelia menaruh bekas makannya itu di meja samping dekat bed pasien. Adelia bergerak untuk berdiri.
"Arumi, apa kamu sudah tidak sakit?" tanya Albi saat melihat wajah Adelia biasa saja saat berdiri.
"Iya Tuan. Saya sudah tidak kesakitan lagi," katanya.
Adelia pun mulai melangkah dengan pelan seraya tangannya mendorong tiang infus. Adelia ternyata hendak masuk ke dalam toilet, dan semua pergerakan Adelia itu terus tak lepas dari perhatian Albi.
Cantik. Gumam Albi dalam hatinya.
Namun, setelah sadar ia bergumam memuji Adelia di dalam hatinya. Albi melotot.
"Gak salah gue baru saja muji dia?" gumam Albi.
__ADS_1
Tak lama Adelia keluar dari dalam toilet, masih seperti tadi semua tak lepas dari perhatian Albi. Hingga Adelia berbaring bersandar di bed pasien pun, Albi masih memperhatikan Adelia.
"Tuan, ada apa?" tanya Adelia saat menangkap Albi terus memperhatikannya.
Albi menggeleng dengan memasang wajah datarnya. Albi menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam 21:00, dan kedua temannya itu belum saja datang menemui dirinya.
Setelah Arman tadi membelikan Lontong beserta Sate. Arman dan Dirga meminta ijin untuk pulang ke Vila terlebih dahulu dengan beralasan untuk mandi, dan akan membawa pakaian ganti buat Albi. Tapi mereka berdua belum saja datang.
"Em ... kalau kamu sudah ngantuk, tidur saja!" titah Albi.
"Tidak Tuan. Saya dari siang banyak tidur, jadi sekarang belum merasa ngantuk," sahut Adelia.
"Ya sudah. Em ... kamu jangan terus memanggil Saya dengan sebutan tuan! panggil saja nama saya!" tukas Albi.
"Nama Tuan siapa?" tanya Adelia yang lupa saat awal ia sadar, bahwa Albi memperkenalkan namanya.
Apa seperti itu efek amnesia? dia begitu lupa bahwa aku telah memperkenalkan namaku. Batin Albi.
"Nama Saya Albi," sahut Albi.
"Albi?" kata Adelia mengulang nama yang di sebutkan Albi.
"Ya. Albi," tegas Albi.
Adelia pun tersenyum, "Baiklah, Albi." katanya.
"Arumi," sahut Adelia.
Jadi dia hanya mengingat yang saat setelah sadar saja? gumam Albi dalam hatinya.
Albi tersenyum dengan hangat. Albi ingin mengutarakan tentang ide Arman saat ini. Namun, Albi masih ragu. Albi akan menunggu saat Adelia sudah bisa pulang saja. Agar Adelia keadaannya sudah lebih baik, walaupun amnesianya belum di pastikan sampai kapan.
Albi akan membawa Adelia berobat di Rumah Sakit besar, agar Adelia cepat pulih dan mengingat kembali akan semua kehidupannya.
Selang beberapa lama, Arman dan Dirga datang. Mereka membawa koper kecil milik Albi. Dan menenteng beberapa Paperbag.
"Apa yang Lu bawa?" tanya Albi.
"Sorry Kita lama, soalnya beli perlengkapan pakaian untuk Arumi," sahut Dirga dengan menaruh Paperbag itu di atas meja depan sofa.
Albi tersenyum kepada kedua temannya itu, benar-benar memperhatikan Wanita yang ditolongnya. Sampai Albi sendiri tidak mengingat tentang itu.
"Thanks" kata Albi.
"Oh ya, em ... Ada yang kita bicarakan ini penting dan serius," ucap Dirga dan diangguki oleh Arman.
"Ada apa?" sahut Albi.
__ADS_1
"Kita bicara di tempat lain," ajak Arman.
Albipun mengangguk dan beralih menatap Adelia.
"Arumi ... maaf kami tinggal dulu ya, tidak apa, kan?"
"Tidak apa. Pergilah!" ucap Adelia dengan lembut dan tersenyum kepada Albi.
Albi, Arman dan Dirga pun keluar dari ruangan Adelia. Mereka hendak akan berbicara yang menurut Arman dan Dirga begitu serius juga penting. Mereka memilih berbicara di dalam mobil Albi yang berada di depan Parkiran Klinik Kesehatan tersebut.
"Albi ini gawat!!" pekik Dirga dengan tiba-tiba setelah mereka masuk ke dalam mobil.
"Gawat apa?" tanya Albi.
"Keluarkan kertasnya ayo!" titah Dirga kepada Arman.
Dan Arman mengeluarkan kertas yang ia lipat dari saku jaketnya. Lalu ia serahkan kepada Albi.
"Ini Apa?" tanya Albi setelah menerima kertas itu dari Arman.
"Buka saja!" kata Arman.
Albi pun membuka kertas yang Arman lipat itu. Albi mulai membaca dengan serius, dan setelahnya Albi terdiam dengan menghela nafas panjang.
"Gimana Bos?" tanya Dirga setelah tidak ada reaksi dari Albi.
"Ya mungkin lebih baik kita hubungi nomor itu, kita serahkan Arumi kepada keluarganya," ujar Albi.
Ternyata kertas tadi yang Albi baca adalah Tentang Pencarian Adelia yang dibuat Rasya. Dan di saat Arman dan Dirga memasuki sebuah Toko Pakaian. Mata Dirga terbelalak saat melihat Photo dalam kertas yang menempel tersebut. Arman dengan cepat membawa dan melipatnya menaruh kedalam saku jaketnya. Dan sekarang Kertas itu sudah di baca oleh Albi.
"Jangan Bos!!," cegah Dirga dan Arman bersamaan.
"Kenapa? bukankah sekarang kita punya jawabannya?, wanita itu bernama Adelia, dan sekarang tengah di cari keluarganya!" pekik Albi menjelaskan.
"Bos Lu itu gimana? jika wanita itu kita serahkan kepada keluarganya. Terus rencana Elu yang akan membawa wanita kedepan Tante Hera bagaimana?" Tanya Dirga mengingatkan tentang Rencana Albi.
Albi langsung mendesah saat mengingat tentang hal itu. Albi tidak mau sampai di jodohkan, kalau Albi tidak membawa wanita pilihan nya sendiri, ke hadapan Mamanya itu.
"Betul itu Bos!" kata Arman menyetujui pertanyaan Dirga.
Albi terdiam mengingat di sisi lain, keluarga wanita yang di tolongnya pasti tengah mencari, dan di sisi lain Albi tak memiliki cara, untuk membawa wanita kehadapan Mamanya itu, kecuali Membawa Wanita yang sudah di tolongnya kehadapan Mamanya.
"Baiklah. Kita lanjutkan rencana kita" ucap Albi.
...Bersambung....
Jangan Lupa Like, Comment-nya ya Readers!!!
__ADS_1