You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 231.


__ADS_3

"Terima kasih, kalian sudah bersedia membantuku," ucapan tulus dari Adelia kepada Bima dan Sakti. Tadi saat di perjalanan Sakti sengaja menghubungi Bima untuk datang. Bahkan Bima membawa makanan ketring untuk merayakan ulang tahun Rasya dengan makan malam bersama.


Dan kini taman belakang rumah Rasya sudah di sulap menjadi tempat pesta yang sederhana. Meja panjang yang dari ruang makan di bawa sejenak kebelakang. Meja panjang itu yang bisa mengisi dua belas orang. Sengaja agar tercipta kebersamaan.


"Sama-sama, Del" sahut dari Bima dan Sakti bersamaan.


"Ngomong-ngomong Rasya kapan pulangnya?" Bima menanyakan soal waktu kepulangan Rasya dari kantornya. Kini sudah menunjukkan jam empat. Dan Rasya biasanya pulang jam lima.


"Satu jam lagi." jawab Adelia. "Kalau begitu, aku mandi dulu. Untuk menyambut kepulangan suamiku," lanjut Adelia dengan tersenyum.


Bima dan Sakti tersenyum.


"Dandan yang cantik, untuk menyambut suamimu itu!" Bima sedikit berteriak karena Adelia sudah melenggang pergi dari hadapannya.


Adelia yang masih bisa mendengar teriakan Bima. Ia hanya mengacungkan jempolnya, menandakan ia akan siap melakukannya.


Adelia dengan berjalan tidak sabaran melangkah ke dalam kamarnya. Ia membuka lemari dan memilih gaun untuk menyambut kepulangan suaminya. Setelah menemukan gaun yang menurutnya pas. Adelia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.


Setelah lima belas menit lamanya Adelia baru merampungkan mandinya. Dan langsung mengenakan gaun yang sudah ia pilih tadi. Lalu memoles make-up sedikit tebal, dengan tidak lupa menggerai rambutnya yang panjang nan indah itu, hingga menutupi kerah gaunnya yang mengekspos bahu mulusnya.


Setelah puas dengan bercermin. Adelia keluar kamar dan langsung duduk di kursi teras rumah, untuk menyambut kedatangan suaminya.


Tidak berselang lama. Senyum Adelia mengembang saat melihat mobil suaminya memasuki halaman rumah. Namun, senyuman itu surut sebentar. Saat melihat Ariyanti yang keluar lebih dulu dari mobil milik Rasya.


Dan Adelia kembali mengembangkan senyumannya saat melihat Rasya keluar dari mobil. Adelia dengan tidak sabaran. Ingin cepat-cepat memeluk suaminya, hingga ia sedikit berlari menghampiri Rasya yang sedang berjalan dengan tersenyum kepadanya. Tidak memperdulikan Ariyanti yang menatapnya di ambang pintu, Adelia berhambur memeluk tubuh Rasya.


"Hei, Sayang aku cemas sekali saat kamu lari barusan," Rasya dengan menjawab pelukan erat Adelia, tangannya mengusap-usap rambut Adelia yang tergerai. Ia sempat khawatir saat melihat Adelia yang sedikit berlari ke arahnya.


"Aku kangen kamu," lirih Adelia dalam pelukan Rasya. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang milik suaminya. Dan dapat Adelia rasakan aroma tubuh sang suami dengan parfum maskulin yang Adelia senangi. Nyaman damai rasanya dalam pelukan sang suami yang Adelia rasakan.


Rasya tersenyum, "Sama aku juga," ucapnya. Lalu matanya tidak sengaja melihat Ariyanti yang masih berdiri di ambang pintu, sedang menatap ke arahnya.


"Pasti dia cemburu?, biarlah ... aku tak perduli," batin Rasya.


Adelia merenggangkan pelukannya. Karena baru sadar bahwa perutnya merasa tertekan, akibat Adelia memeluk tubuh Rasya dengan erat.


Dan tak lama mobil Hadi datang. Lalu turun bersamaan dengan Lia.


"Rasya, ada apa kenapa kalian peluk-pelukan di luar?" Lia langsung menodong pertanyaan. Hadi hanya menyunggingkan senyumannya.


"Gak ada apa-apa, Ma. Kami hanya saling meluapkan rasa rindu," sahut Rasya yang langsung dapat pukulan di bahunya dari Lia.


"Rindu, rindu. Sudah masuk!" kata Lia lalu menyuruh Rasya dan Adelia masuk.


Ariyanti yang merasa Rasya dan Adelia akan masuk. Ia segera cepat melenggang masuk ke dalam dan langsung menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.

__ADS_1


"Mas, langsung mandi ya!" Adelia menyuruh Rasya agar cepat-cepat membersihkan badannya. Tentu agar Rasya segera menghadiri acara yang sudah ia siapkan.


Rasya mengernyit heran, "Kenapa? padahal aku ingin mencicipi ini dulu," kata Rasya dengan bibirnya langsung mengecup bahu Adelia yang terbuka. Membuat Adelia menegang.


"Apa kamu sengaja menggoda ku, dengan memakai gaun seperti ini?" Rasya dengan kembali mengecup bahu Adelia. Bibirnya kini semakin menjelajahi hingga ceruk leher Adelia. Dan tangannya mulai nakal menjelajahi pada dua gunung kembar.


Adelia meremang. Namun, kesadarannya menolak. Karena ini bukan saatnya untuk melayani suaminya.


"Nanti saja ya, Mas. Lebih baik sekarang Mas mandi dulu! aku akan menunjukan sesuatu sama Mas," ucapnya.


"Menunjukan sesuatu?" Rasya menatap dengan penuh tanda tanya. Adelia mengangguk dengan tersenyum.


"Sesuatu apa?" tanya Rasya lagi.


"Ada aja. Kalau di kasih tahu sekarang. Itu bukan sesuatu!" Lalu tangan Adelia mendorong pelan dada Rasya, "Mandi sana! dan jangan lama!" ujarnya.


"Sayang?" Rasya masih penasaran apa yang akan Adelia tunjukan padanya.


Adelia menggeleng, "Ayo mandi dulu, Mas!" Lalu Adelia melangkah ke arah lemari untuk memilih pakaian Rasya. Rasya pun masuk kedalam kamar mandi dengan penuh pertanyaan.


Setelah memilihkan pakaian untuk Rasya. Adelia duduk di sofa menunggu Rasya selesai dengan mandinya. Tidak berselang lama. Rasya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di area pribadinya. Kemudian melenggang menuju pakaian yang sudah Adelia siapkan.


"Kemeja?" tanya Rasya dengan mengernyit heran. Biasanya bila sudah menjelang malam. Istrinya akan mempersiapkan piyama.


Rasya pun menurut. Ia memakai kemeja dengan warna yang senada dengan gaun yang Adelia pakai.


"Apa yang akan kamu tunjukan itu?" Rasya yang sudah sangat penasaran. Dan kebetulan hari sudah gelap, dan menunjukan jam enam sore.


Adelia tersenyum lalu berdiri menghampiri Rasya. "Mas. Selamat ulang tahun" ucap Adelia kemudian mengecup pipi Rasya dengan lama.


"Kamu ingat sayang?" tanya Rasya yang seakan tidak percaya bahwa Adelia mengingat tanggal kelahirannya.


Adelia mengangguk, "Tentu aku mengingatnya, Mas. Aku dulu selalu merayakan ulang tahunmu. Di pantai," ucap Adelia. Yang membuat Rasya terkesiap. Terkejut.


"Sayang, apa kamu mengingatnya?" Rasya dengan menatap serius kepada Adelia.


"Aku sudah ingat Mas. Ingatanku sudah pulih. Dan aku sengaja mengatakannya saat ini. Di hari ulang tahunmu,"


Rasya tersenyum senang ia langsung merengkuh Adelia dalam pelukannya, "Terima kasih Tuhan. Engkau sembuhkan penyakit istriku," ucap syukur dari Rasya.


Adelia tersenyum sama-sama merasakan senang.


"Sayang, sejak kapan kamu mengingat?" Rasya meraih dagu Adelia. Sehingga Adelia mendongak menatapnya.


"Dua minggu lalu," sahut Adelia.

__ADS_1


"Kamu sengaja sembunyikan dariku?"


Adelia mengangguk, "Surprise Mas," ucapnya dengan menyengir.


Rasya tidak kuasa menahan gemas melihat bibir Adelia yang berada di hadapannya. Ia langsung melu*at bibir merekah merah muda itu. Menc*capi memberikan penekanan-penekanan pada bibir Adelia untuk membukanya.


"Mas," Adelia mendorong dada Rasya. Sehingga tautan bibir itu terlepas.


"Aku sudah mandi, Sayang ... terus apalagi?" tagih Rasya yang mengingat bahwa tadi Adelia mengulur waktu memberikan pelayanannya di atas ranjang, dengan menyuruhnya mandi terlebih dahulu.


"Ayo ikut aku!" Adelia langsung menarik tangan Rasya dan keluar dari kamar.


Saat di dapur. Adelia melihat Lia yang seperti sedang syok dengan sorot mata penuh keheranan.


"Mama kenapa?" tanya Adelia.


"Meja makan hilang, Del" ucapnya dengan menunjuk ruang makan yang terlihat kosong.


Rasya pun melotot, "Kok bisa gak ada?"


Adelia menyengir, "Maaf," kata Adelia meminta maaf.


"Maaf apa Sayang?" sahut Rasya.


"Kita makan malamnya di taman belakang Mas, Ma ...."


Lia hanya melongo masih belum mengerti. Sedangkan Rasya terdiam.


"Meja makannya aku pinjam dulu. Dan meja makannya ada di taman belakang," ujar Adelia. Membuat Lia tersenyum serta menggeleng.


"Ayo, Ma, Mas!" kata Adelia dengan melenggang ke arah pintu belakang.


"Tapi sayang siapa yang memindahkannya? jangan bilang, kamu sendiri yang memindahkannya?" Rasya bertanya konyol kepada istrinya.


Adelia tersenyum serta menggeleng, "Lihat saja sama Mas!" titahnya.


Adelia dan Rasya kini sudah di luar pintu belakang. Rasya terkesiap, terbelalak menatap ke arah yang Adelia suruh. Di sana ada kedua temannya, Rara, dan Serly. Dan meja makan yang tadi membuat Lia syok berada di sana. Dengan di atasnya sudah berbagai macam makanan memenuhi meja tersebut, dan tak lupa kue yang Adelia tadi beli. Lalu tiang-tiang lampu taman di sulap dengan riasan-riasan sederhana.


"Sayang?" Rasya menoleh ke arah Adelia yang berada di sampingnya. Mata haru bahagia yang Rasya pancarkan saat ini.


"Ayo, Mas. Kita hampiri mereka!" ajak Adelia dengan menggandeng tangan Rasya untuk menghampiri Mereka yang sudah tersenyum kepadanya.


...***...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2