
Tiga hari kemudian...
Adelia sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter Risa. Terlihat dari kondisi Adelia yang sangat baik, begitupula dengan baby twin Daffa dan Saffa, bayi kembar itu sehat dan di perbolehkan untuk pulang juga.
Kedatangan Adelia dan bayi kembarnya di sambut meriah oleh sahabat, dan adik iparnya. Adelia sungguh terkejut saat melihat ada Mita dan Desi yang juga ikut hadir. Albi, Arman, Dirga, dan Aldi juga pun turut hadir.
Adelia dan Rasya menyunggingkan senyumannya karena merasa haru, melihat dekorasi rumah yang begitu mewah dan terlihat banyak hadiah dari mereka khusus untuk menyambut kehadiran bayi kembarnya.
"Selamat datang untuk keponakan aunty," pekik Serly antusias saat langkah Adelia mendekati dirinya.
Adelia menjawab sambutan Serly dengan tersenyum, "Terima kasih Aunty Serly," ucapnya.
Lalu Adelia menidurkan baby Saffa yang sedari tadi ia gendong di sebuah ranjang bayi yang terdapat di ruangan itu yang sengaja mereka sediakan untuk menyambut bayi kembar Adelia. Dan di susul oleh Lia ia pun menidurkan baby Daffa di sebelahnya.
"Mama, ke kamar dulu ya," ucapnya berpamitan. Lalu melenggang pergi.
Adelia kini tersenyum ke arah Desi dan Mita. Dan langsung dapat pelukan dari kedua temannya itu. Mita menangis haru, karena hari ini adalah hari pertamanya ia kembali bertemu setelah sekian lama. Berbeda dengan Desi, yang selalu tukar kabar dengan Adelia. Bahkan sering bertemu jika Adelia sedang melakukan kontrol kandungan.
"Del ... sumpah aku kangen banget sama kamu," Mita dengan terisak di dalam pelukan Adelia. Desi mengalah membiarkan Mita memeluk lama Adelia.
"Ehemm ...," suara deheman Rasya mengisyaratkan agar Mita tidak terlalu lama memeluk istrinya, namun Mita tidak menyadarinya, ia terus memeluk Adelia dengan erat. Membuat Rasya memberengut dan melangkah ke arah Aldi.
"Aku juga kangen sekali sama kamu, Mit ...," Adelia dengan menjawab pelukan Mita lebih erat.
Desi yang sengaja mengalah, kini merasa kesal. "Mita, sudah. Sekarang giliran aku yang memeluk Adel," dengan tangannya menarik tubuh Mita dengan perlahan.
"Bentar Des, aku kangen sekali. Ini pertemuan pertamaku setelah sekian purnama berganti," celetuknya dengan masih memeluk Adelia.
"Ah kamu. Dan dari sekian purnama berganti kamu masih saja Jodi," cicit Desi mengejek.
Mita melerai pelukannya, dan kini menatap Desi dengan memberengut. "Memang Dokter Desi ahli syaraf. Sekarang sudah mempunyai gandengan. Ngatain aku seenaknya," Mita dengan berkacak pinggang.
Desi merasa malu, ia menatap sekelilingnya yang sedari tadi merasa jadi bahan pertunjukan mereka.
"Stt ... aku memang belum punya gandengan. Tapi, setelah pulang dari sini, aku jamin akan ada yang menggandengku," celetuknya dengan melirik ke arah empat pria tampan yang kini sedang mengobrol dengan Rasya. Yaitu, Albi, Dirga, Arman dan Aldi.
Serly, dan Rara saling pandang. Dan kemudian setelahnya terkekeh.
Begitupula dengan Adelia ia tersenyum senang bisa melihat dua temannya yang bila bertemu selalu ada saja yang di debatkan.
"Wahai, Dokter Ahli syaraf. Apakah anda menjamin hal itu terjadi?" Mita semakin mengejek.
"Lihat saja nanti!" tantang Desi yang sengaja merasa percaya diri.
__ADS_1
Adelia kini menggeleng-gelengkan kepala, "Kalian sengaja hadir di sini, untuk berdebat saja?"
"Oh tidak. Adelia ku yang cantik. Kita hadir di sini tentu untuk menyambut kedatangan bayi kembar mu," sanggah Mita langsung, dan di angguki Desi.
Desi kini memeluk Adelia dengan erat. "Aku bersyukur dan merasa senang. Kamu berhasil sembuh dari amnesiamu, dan kini kamu berhasil menjadi seorang ibu," ucapnya.
Albi yang sekilas mendengar apa yang barusan Desi katakan, bergumam di dalam hati.
"Jadi Adelia sudah tidak amnesia? syukurlah ...,"
Hadi datang dari arah pintu utama dengan membawa sebuah kado besar dan tersenyum ramah kepada para anak muda yang sudah berkumpul di ruang tengah. Lalu menaruh kado itu di dekat keranjang bayi yang sudah terdapat banyak kado dari teman Adelia dan Rasya.
Dan tak lama terdengar salam serempak dari si kembar Bima dan Sakti. Membuat semakin seru saja di dalam rumah itu.
"Selamat Adeliaku, kamu sekarang sudah menjadi Momy yang cantik," celetuk Sakti dengan menyerahkan sebuah kado kepada Adelia. Ia sengaja menggoda Adelia.
"Terima kasih Sakti," ucap Adelia dengan menerima kado yang Sakti berikan.
Rasya yang mendengar itu berkacak pinggang lalu menatap Sakti dengan tatapan membunuh.
"Sejak kapan kamu genit gitu?" Rasya menodongkan pertanyaan yang menohok.
Sakti terkekeh ia sudah sangat paham. Pasti suami dari Adelia yang sudah ia goda akan protes bahkan di pastikan marah.
"Sejak sekarang, karena melihat Mahmud ini semakin cantik," godanya kembali.
Bima kini menepuk bahu Sakti, "Saudaraku, jangan bermain-main dengannya. Kamu seperti lupa, bahwa dia akan menerkam kita jika wanitanya kau goda,"
"Oh ya? tapi aku suka menggodanya. Semakin aku menggoda, semakin marahlah pria itu," Sakti semakin menjadi, ia terus ingin menggoda Rasya yang cemburuan.
Adelia yang sudah paham dengan apa yang akan terjadi, ia menggeleng-gelengkan kepala, lalu melangkah lebih mendekati Rasya.
"Mas, kamu di ladeni saja mereka. Orang mereka sudah biasa selalu menggoda aku jika di hadapanmu," Adelia menenangkan Rasya yang sudah bucin parah kepadanya. Rasya menjawab hanya dengan gelengan kepala.
"Noh bini Lu saja tidak merasa keberatan kita goda. Sensitif baget sih. Bentar ... kok yang ngalamin baby blues nya, kok malah di elu?!" celetuk Sakti semakin gencar.
"Sialan, Lu Sakti!" umpat Rasya menggeleng-gelengkan kepala, seraya berdecak kini ia mendekati sahabat kembarnya dan merangkul mereka. Sehingga mereka berpelukan.
"Haha ...," gelak tawa dari mereka bertiga.
Albi, Arman, Dirga dan Aldi menatap dengan senyuman kepada Rasya dan Teman kembarnya.
Rara kini mengintrupsi, "Mending sekarang kita Makan siang dulu."
__ADS_1
Bima langsung melepaskan rangkulannya dari rangkulan Rasya. Lalu menatap Rara dengan senyuman, "Baiklah, Nona" ucapnya.
Rara tersenyum dan mengangguk.
Adelia pun kini mengintrupsi, "Ayo. Aldi, Dirga, Arman, dan Mas Albi," ajak Adelia ke arah empat pria tampan itu yang sedari tadi berbincang-bincang.
Rasya menggeram. Saat mendengar Adelia memanggil Albi dengan panggilan 'Mas'.
"Tuh, beneran baby bluesnya dia yang ngidap," Sakti yang tahu Rasya menggeram.
"Haha ... benar saudaraku!" timpal Bima.
Rasya kini menoleh ke arah Sakti dan Bima, "Ayo. Kita Makan!" ajaknya. Rasya melenggang begitu saja. Dan kini di ikuti oleh Bima dan Sakti.
Di susul oleh Adelia, Serly, Rara, Desi dan Mita. Dan di belakangnya, Albi, Arman, Dirga dan Aldi.
"Loh, kok kamu malah balik lagi Del?" tanya Mita saat melihat Adelia membalikkan tubuhnya.
"Aku lupa, gak ada yang jagain Daffa sama Saffa,"
"Biar Mama saja," ucap Lia yang baru turun dari arah tangga. "Kamu harus lebih banyak makan. Agar Asi-mu banyak Del!" lanjutnya memberikan pesan.
"Terima kasih, Ma. Kalau begitu, Adel gabung bersama mereka," Adelia dengan tersenyum senang. Perutnya sebenarnya sudah sangat perih, di tambah menyusui dua bayi yang sangat kuat menyusu. Membuat Adelia cepat lapar kembali.
"Tapi, apa Mama tidak apa-apa? em ... maksud Adel, Mama tidak makan sekarang?"
Lia menggeleng dengan tersenyum, "Tidak, Del. Mama belum lapar. Sekarang lebih baik kamu cepat makan sebelum Daffa dan Saffa bangun,"
Adelia mengangguk dengan tersenyum. Lalu pergi ke arah ruang makan yang sudah di penuhi oleh teman-temannya, kini tersisa satu kursi yaitu untuk dirinya, yang tepat di samping Rasya.
"Sayang ... kamu kemana dulu?" tanya Rasya yang sudah menunggu kedatangan istrinya.
"Maaf, Mas. Tadi aku sampai lupa mau ninggalin Daffa dan Saffa. Tapi, untung ada Mama yang mau jagain," Adelia menatap piring yang ada di hadapannya yang sudah penuh oleh makanan.
"Mas, kok kamu siapin buat aku?" Adelia merasa tidak enak.
Rasya menggeleng seraya tersenyum, "Tidak apa-apa Sayang ... cepatlah makan sebelum baby kembar kita bangun!"
Adelia tersenyum merasa senang sudah di perhatikan oleh suaminya itu. Ia mulai melahap makanannya dengan lahap.
Semua perhatian dari Rasya, di perhatikan Albi. Ia merasa senang jika Adelia sangat di cintai dan di sayangi Rasya suaminya.
"Apa aku harus merelakan saja Adelia hidup dengan suaminya?" batin Albi. Ia seraya menyuapi mulutnya. Pikirannya terus bercabang. Albi di beri amanat oleh Sang Mama untuk mendekati Rara. Sedangkan Hadi menawarkan perjodohan kepadanya, yaitu untuk menjadi pasangan Serly.
__ADS_1
...***...
...Bersambung....