
Esok Paginya...
Adelia dan Rasya masih terbaring di atas ranjang. Kebetulan hari ini hari minggu. Sehingga Adelia sengaja tidak membangunkan suaminya. Ia lebih memilih terbaring santai dengan memandangi wajah tampan sang suami.
"Mas, kamu tampan sekali," Adelia dengan tersenyum memandangi wajah Rasya yang memang begitu sempurna. Alis yang tebal, hidung yang mancung, bibir yang tipis memberikan kesan menggoda saat melihatnya di tambah Mata yang kecoklatan.
Rasya terlihat menggeliat tangannya melingkar cepat di pinggang Adelia. Menenggelamkan kepalanya di bahu Adelia.
Membuat Adelia merasa sesak karena perutnya terlalu menempel dengan badan suaminya.
"Mas, lepas!" pekik Adelia yang merasa sesak.
Namun, Rasya tidak bergeming. Entah saking pulasnya atau memang tidak mendengar.
Merasa perutnya yang terlalu tertekan. Adelia lebih memilih mencubit tangan suaminya yang melingkar itu. Membuat Rasya seketika menjengit, dan terpekik.
"Auw ...," pekik Rasya dengan membuka kedua matanya.
Ia bisa melihat istrinya yang sedang merasa kesakitan.
"Sayang, kamu kenapa?" Rasya langsung bertanya ia memilih mendudukkan tubuhnya dan mengelus kepala Adelia.
"Ini gara-gara kamu Mas. Mas memeluk ku erat sekali. Sehingga tubuhmu terlalu menekan perutku," Adelia masih mengelus perutnya itu. Agar merasa hilang rasa sakit di perutnya.
Rasya melotot, "Yang benar, Sayang? maaf aku tak sengaja. Aku tak bermaksud melukaimu," ucapnya dengan nada yang begitu khawatir.
"Aku bawakan air hangat ya, agar sakit di perutnya hilang," lanjut Rasya menawarkan.
"Iya boleh," sahut Adelia dengan mengangguk.
Rasya cepat turun dari ranjangnya. Dan keluar kamar melangkah menuju dapur. Terlihat di dapur ada Lia yang sedang membuat sandwich.
"Sya, kamu mau sarapan sekarang?"
"Enggak Ma. Nanti saja. Aku ke dapur hanya membawa air hangat untuk minum istriku," ujarnya dengan meraih gelas dan dituangkan air panas dari termos lalu di campur air dingin.
"Kenapa dengan istrimu?" Lia dengan wajah khawatir tidak jauh dari saat Rasya tadi.
"Itu, karena aku memeluk terlalu erat. Sehingga perut istriku kesakitan," sahut Rasya dengan menyengir.
Lia langsung memukul lengan Rasya dengan kuat.
"Auw Mama ini doyan sekali ya, menyiksa anaknya!?" Rasya dengan mengelus-elus bekas pukulan Lia di lengannya.
__ADS_1
"Itu masih kurang. Karena sakit perut istrimu tidak sebanding dengan sakit dari pukulan Mama. Awas saja jika perut istrimu sampai kenapa-kenapa! Mama akan pukul kamu pakai cobek," ancam Lia. Membuat Rasya merasa bersalah kepada Adelia.
"Aku ke kamar dulu, Ma" Rasya berjalan dengan cepat. Dengan gelas air hangat ia pegang. Dan masuk ke dalam kamar.
"Sayang ... di minum dulu!" perintahnya. Membuat Adelia mendudukkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
Adelia meminum air hangat itu hingga habis. Dan gelas bekasnya ia taruh di nakas samping dirinya.
"Apa masih terasa sakit?" tanya Rasya seraya mendekat dan duduk di samping Adelia. Tangannya terangkat dan mengelus perut istrinya.
"Sudah enggak Mas. Ya elus gitu, Mas. Baby-nya langsung terasa gerak," Adelia dengan menyuruh Rasya agar terus mengelus perutnya.
"Eh iya Sayang ... ya ampun debay. Kamu geraknya lincah banget!" Rasya dengan tangan yang terus mengelus ia merasa senang karena merasa gerakan dari perut istrinya terasa pada tangannya.
Lalu Rasya memperhatikan perut Adelia yang bergerak-gerak. Membuat Rasya berkaca-kaca merasakan haru bahagia. Bahwa dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
"Mas, kamu nangis?" tanya Adelia yang melihat mata suaminya berkaca-kaca. Rasya menyahuti dengan menggeleng.
"Aku bukan menangis sedih. Aku menangis bahagia. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah. Dan kamu cantik, akan menjadi seorang bunda," jelas Rasya dengan terus memperhatikan perut Adelia yang bergerak-gerak seperti gelombang ombak.
"Subhanallah ... Maha Suci Allah."
Rasya bergumam dengan mensyukuri apa yang ia lihat. Membuat Adelia tersenyum merasakan hangat di hatinya. Benar-benar Adelia merasa beruntung mempunyai suami seperti Rasya yang benar-benar lembut, dan sangat mencintainya. Di tambah kehadiran sang janin yang ada di dalam perutnya, menambah Adelia bersyukur berkali-kali lipat.
Rasya kini mengecup perut Adelia dengan lama. Dan setelahnya mengelus perutnya.
"Sayang sebentar lagi mau enam bulan, ya?"
Adelia mengangguk. Tidak terasa kehamilannya sudah memasuki 24 minggu. Dan 16 mingguan lagi ia akan melahirkan.
"Mas, nanti kita intip jenis kelaminnya yuk!" Adelia mengajak Rasya untuk melihat jenis kelamin bayi di dalam perutnya saat nanti periksa kandungan.
"Kapan sayang jadwalnya?" Rasya bertanya seraya merangkul bahu Adelia untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Kalau gak salah tanggal lima," ucap Adelia. Dan Adelia teringat bahwa tanggal tiganya Rasya ulang tahun.
"Aku harus menyiapkan kejutan untuk ulang tahun Mas Rasya. Tapi kejutan apa?" Adelia melanjutkan ucapannya di dalam hati.
Rasya terdiam. Ia juga mengingat bahwa dirinya sebentar lagi akan berusia dua puluh empat. Di usia yang terbilang masih muda. Ia akan menjadi seorang ayah.
"Sayang ... apa kamu ingat sebentar lagi aku akan ulang tahun?" Rasya berucap. "Dan tanggal tiga aku ulang tahun," lanjutnya.
"Aku gak ingat Mas. Aku lupa ...," membuat Rasya berwajah sendu. Bukan karena kecewa. Namun, karena ia lupa bahwa istrinya sedang amnesia. Tentu Adelia lupa bahkan tidak mengingatnya.
__ADS_1
"Eh maaf Sayang ... aku lupa. Kalau ingatanmu belum pulih," Rasya dengan tidak enak ia meminta maaf karena telah menanyakan perihal tentang ulang tahunnya.
"I-iya Mas gak apa-apa," sahut Adelia terbata. "Harusnya aku yang meminta maaf padamu, Mas. Yang belum mengatakan semuanya tentang ingatanku yang pulih. Tapi beberapa hari lagi aku akan mengatakannya kepadamu," lanjut Adelia berbicara di dalam hati.
Rasya terbangun dari duduknya. Ia melihat jam sudah hampir jam delapan.
"Sayang, kamu mau sarapan sekarang?" tanyanya. Membuat Adelia berpikir.
"Mas boleh gak aku ingin sarapannya di luar?" tanya Adelia dengan hati-hati takut suaminya itu tidak mengijinkan.
"Em ... boleh. Tapi, kita mandi dulu!" jawab Rasya. Membuat Adelia tersenyum senang.
"Terima kasih, Mas. Ayo kita mandi bareng!," Adelia seraya turun dari atas ranjang. Ia dengan cepat melangkah ke dalam kamar mandi.
"Beneran kamu ngajak aku mandi bareng?" Rasya memastikan dengan menyusul Adelia ke dalam kamar mandi.
"Iya Mas. Tapi Mas mandi di bawah Shower. Aku mandi di bathup," pinta Adelia.
"Ah yang benar saja harus gitu. Aku itu ingin mandiri bareng kamu di bathup," rengek Rasya yang tidak terima jika mandinya harus terpisah. Percuma sekamar mandi kalau mandinya masing-masing, pikirnya begitu.
Adelia mendelik, "Gak ada penolakan. Sudah Mas mandi di sana!" tunjuk Adelia pada shower.
"Kalau aku mandi di sana. Berarti kamu sarapannya di rumah saja," elaknya kini dengan mengancam.
Adelia mencebikkan bibirnya. Merasa tidak mau jika sarapan di luar tidak terlaksana. Akhirnya Adelia menyetujui Rasya mandi di bathup bersama dengannya.
"Iya sudah Mas mandi bareng aku sini! tapi, jangan macam-macam!" Adelia kembali mengancam dengan matanya melotot memberikan peringatan. Agar suaminya mandi dengan sebenar-benarnya mandi.
Rasya menelan ludahnya dengan kasar, "I-iya," jawabnya pasrah.
...****...
...Bersambung....
Ayo Readers tinggalkan jejaknya, dengan Like dan Comment!
Agar author semangat untuk up 😉
Hadiah poinnya juga boleh! 😊
Salam bahagia untuk readers!
Dan Terima kasih telah membaca karya author yang masih belum menetas ini 😁😍😍
__ADS_1