You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 222.


__ADS_3

Maaf jika ada readers yang bosan tentang author yang menceritakan perjalanan kisah Adelia dan Rasya terus. Namun, tenang nanti setelah perjalanan cinta Adelia dan Rasya tentram dan damai. Tidak ada ujian dan halangan. Nanti Author akan ceritakan perjalanan cinta Serly adiknya Rasya, dan Rara gadis tomboy di episode-episode nanti.


Maka simaklah dulu yang ada. hehe...


Dan mohon maaf jika ada kesalahan typo atau penempatan dalam kata atau bahasa.


Dan terima kasih banyak untuk readers yang masih setia menunggu, dan membaca setiap episode-nya.


Happy Reading!.


...----------------...


Seperti rencana sebelumnya. Adelia dan Rasya kini sudah bersiap-siap untuk melakukan sarapan di luar. Pasangan itu baru keluar dari kamar dan melangkah menemui kedua orang tua Rasya.


"Ma, Pa ... aku dan Adel mau sarapan di luar. Bumil katanya ingin jalan-jalan," ucap Rasya berpamitan pada Lia dan Hadi yang sedang sarapan di meja makan.


Hadi mengangguk menanggapi dengan mengunyah sandwich yang Lia buatkan.


"Iya harus kamu ajak jalan-jalan Adel biar gak jenuh. Istrimu itu sesekali harus di ajak berlibur," sahut Lia menyetujui apa yang di inginkan Adelia.


Adelia hanya tersenyum, sangat senang dengan Lia yang perhatian.


"Iya Ma ... aku akan ajak seharian ini berjalan-jalan, siapa tahu debay nya langsung berojol" timpal Rasya nyeleneh.


"Hush ... kamu kalau bicara di jaga ya, Sya! jangan bicara gegabah," Lia dengan melotot tidak suka kalau Rasya berbicara nyeleneh.


Rasya hanya menyengir saja. "Ya sudah. Aku berangkat sekarang. Ayo sayang!" ajak Rasya dengan meraih tangan Adelia untuk ia genggam.


"Ma ... Pa ... Adel pergi dulu," Adelia berucap.


"Hati-hati," sahut Hadi dan Lia bersamaan.


Rara dan Ariyanti tidak terlihat di meja makan. Membuat Adelia merasa bingung. Kini Adelia dan Rasya sudah berada di depan rumah. Rasya sedang memanasi mesin mobilnya terlebih dahulu.


Tiba-tiba suara Rara mengagetkan Adelia, "Del, mau pergi?" Rara datang dari arah kolam renang. Sepertinya sudah menyiram tanaman-tanaman milik Lia.


"Eh iya, Ra. Kamu mau ikut?" Adelia dengan menoleh dan mengajak Rara.


Rara menggeleng, "Enggak Del. Oh iya. Tadi pagi sekali si Ariyanti pergi. Tapi gak tahu kemana. Aku dengar dia saat meminta ijin pada tante Lia. Katanya mau menemui temannya," Rara dengan berbisik membicarakan hal tentang Ariyanti yang pergi pagi sekali.


"Pantas saja. Aku tidak melihatnya saat di meja makan tadi," timpal Adelia.

__ADS_1


"Ya sudah. Aku berangkat ya, Ra ...," pamit Adelia saat melihat Rasya sudah membukakan pintu mobil untuknya.


"Iya. Hati-hati Del," pesan Rara.


Adelia mengangguk dengan tersenyum. Lalu melenggang melangkah menuju mobil yang di sana pintunya sudah Rasya bukakan.


"Sayang ... kamu mau sarapan apa?" Rasya bertanya setelah ia duduk di balik jok kemudi. Melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya.


"Aku ingin makan bubur ayam yang di alun-alun kota, Mas. Bubur ayam yang suka kita datangi dulu waktu SMA kalau hari minggu," Adelia berceloteh meminta Rasya untuk sarapan bubur di alun-alun. Dan dengan tidak sadar Adelia mengatakan hal saat di lakukannya dahulu.


Rasya terdiam sejenak. Mengingat apa yang baru saja ia dengar tentang Adelia yang mengatakan hal jaman dulu waktu SMA. Seketika Rasya tersenyum. Mengingat apa mungkin ingatan Adelia mulai berangsur pulih.


"Baiklah, Bumyang" sahut Rasya dengan tersenyum.


Adelia menautkan kedua alisnya merasa bingung apa yang Rasya ucapkan.


"Bumyang? maksudnya apa, Mas?" tanya Adelia penasaran.


Rasya dengan fokus menyetir, "Bumyang. Bumil Sayang ...," jawabnya dengan menyengir.


"Ish ... kamu ada-ada saja sih Mas," Adelia dengan terkekeh.


Rasya hanya tersenyum dengan masih fokus menyetir. Hingga tidak berselang lama. Mobil yang di lajukan Rasya masuk ke area parkir taman alun-alun kota.


Adelia dengan membuka setbelt-nya, sama menatap ke arah luar jendela, "Iya Mas. Memang bukannya, seperti itu 'kan setiap hari minggu?!" dan dengan cepat Adelia keluar.


Rasya menyusul keluar dari mobilnya. Ia menatap Adelia yang sedang tersenyum.


"Kamu senyum sama siapa?" Rasya dengan mengikuti arah pandang Adelia. Tapi tidak jelas pada siapa. Bahkan yang Adelia pandang adalah segerombolan orang yang sedang berkumpul.


"Lihat, Mas!. Mungkin, nanti setelah bayi kita lahir. Kita kalau jalan-jalan, mendorong bayi kita secara berganti," Adelia menunjuk pasangan suami istri yang baru saja duduk di taman itu. Dengan suaminya yang mendorong stroler bayi, dan sang istri menjinjing keperluan bayinya untuk di taman itu.


Rasya pun menyunggingkan senyuman melihat apa yang Adelia tunjukkan. "Iya, Sayang ... tenanglah empat bulan lagi kita akan seperti mereka," sahut Rasya dengan masih menatap ke arah pasangan itu.


"Iya Mas. Ayo kita cari bubur Mang Oni!" seru Adelia dengan semangat.


Rasya terdiam dengan mengernyitkan dahinya, "Apa istriku ingat tukang bubur itu? berarti, apa ingatannya sudah pulih?" tebak Rasya berbicara sendiri. Hingga ia lupa bahwa istri cantiknya sudah melenggang pergi.


Rasya gelagapan saat mengingat istrinya sudah tidak ia lihat. Sepertinya sudah berbaur berjalan di area lautan manusia yang sedang berjalan-jalan di alun-alun itu. Membuat Rasya menjelikan matanya untuk bisa melihat Adelia berada.


"Dress putih, rambut panjang. Dan seksi! itu, dia" seloroh Rasya dengan tersenyum saat mengingat-ingat penampilan Adelia. Ia langsung menggenggam tangan Adelia setelah benar memastikan apa yang ia lihat.

__ADS_1


Rasya dengan bernafas lega, "Sayang ... kamu jangan berjalan sendirian. Aku takut sampai kamu hilang lagi," celetuk Rasya membuat Adelia terkekeh.


"Mana ada aku sendirian. Lihat, Mas di sini puluhan orang mungkin bisa juga ratusan orang!" Adelia dengan menunjuk orang-orang di sekelilingnya.


"Iya-iya. Tapi aku takut kamu kenapa-kenapa. Jangan seperti tadi ya, jalan sendiri sehingga membuat suamimu khawatir," Rasya dengan erat menggenggam tangan Adelia seraya berjalan menuju akringan tempat berbagai penjual makanan.


Adelia tersenyum, "Maaf ya, Mas. Aku membuatmu khawatir," ujar Adelia merasa tidak enak hati karena membuat suaminya khawatir.


"Iya Sayang. Ayo, kita ke bubur Mang Oni. Mumpung lihat mejanya ada yang kosong!" Rasya mempercepat langkahnya dengan tangan yang saling menggenggam. Di susul Adelia yang semangat sejak tadi untuk berjalan seperti itu.


"Mang Oni. Buburnya dua. Di sini!" Rasya memesan seraya menarik kursi untuk Adelia duduki.


"Iya, Mas. Di Tunggu ya!" sahut Mang Oni penjual bubur ayam tersebut. Dengan mulai membuatkan dua porsi bubur untuk Adelia dan Rasya.


Setelah bubur itu tertuang ke dalam mangkuk, dengan toping kacang, daun bawang, ayam suwir, serta sedikit kuah khas bubur Mang Oni, di tambah kerupuk. Membuat aroma bubur itu tercium wangi di penciuman Adelia.


"Ini, Mas. Mbak!" Mang Oni menaruh dua mangkuk di meja Adelia dan Rasya.


"Terima kasih, Mang Oni" Rasya seraya menggeserkan satu mangkuk untuk Adelia.


"Ayo, Debay makan yang lahap, ya!" celetuk Rasya dengan mengelus perut Adelia yang duduk di sampingnya.


Adelia tersenyum, dengan mengangguk. Lalu meraih bubur itu. Mengaduk dan melahap bubur itu dengan semangat. Entah keinginan alami dari dirinya ingin makan bubur Mang Oni tersebut, entah semangat karena mengingat masa lalu yang memang sering bersama makan bubur di tempat itu bareng Rasya.


Selang beberapa menit Adelia dan Rasya menghabiskan bubur itu. Dan Rasya membayarnya sebelum mengajak Adelia ke tempat lain.


Rasya dan Adelia kini sedang berjalan sejajar. Dengan jari jemari yang saling terpaut. Memberikan kesan romantis pada pasangan itu.


"Mas, aku ingin ke Vila kamu yang di pinggir Pantai," celetuk Adelia saat masih berjalan.


"Beneran kamu mau ke sana?" Rasya memastikan.


"Iya Mas. Aku ingin kesana!" Adelia dengan tersenyum. "Aku ingin bermain pasir, Mas" lanjut Adelia.


Rasya mengangguk, "Ok. Baiklah dengan senang hati" lalu Rasya menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sudah jam sembilan. Berarti kita nanti sampai jam sebelas," ucap Rasya.


Adelia dan Rasya pun memasuki mobil yang tadi Rasya parkirkan. Keduanya terdiam. Rasya yang fokus menyetir. Dan Adelia dengan menerawang mengingat-ingat apa yang telah terjadi di dalam kehidupannya.


......***......

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2