You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 169.


__ADS_3

Esok Harinya di Kediaman Rasya...


Adelia terbangun lebih dulu. Ia langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Saat beberapa menit lamanya. Adelia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe yang selalu Rasya pakai.


Rasya masih tertidur lelap di ranjang. Membuat Adelia tersenyum dan gemas melihat wajah polos suaminya yang tertidur, dengan masih terlihat tampan.


Adelia kembali ke dalam kamar mandi untuk memakai pakaian yang semalam oleh Lia antarkan ke dalam kamar Rasya. Sebuah dress yang tingginya tidak terlalu pendek, dengan berlengan panjang.


Kamar Rasya luas. Namun, tidak tersedia ruang ganti. Rasya orangnya yang serba simple. Tidak ingin kamarnya itu terlalu banyak skat.


"Mas, sudah bangun?" tanya Adelia saat keluar dari kamar mandi menatap Rasya sedang duduk bersandar.


Rasya tersenyum, "Iya. Em ... kamu sudah mandi?" tanyanya.


"Iya Mas, aku gerah," sahut Adelia.


Yah, gagal dong tadinya aku mau ngajak olahraga pagi. Karena semalam mau di ajak, gak tega lihatnya istriku yang mengantuk.


"Gagal deh," gumam Rasya lirih namun, bisa terdengar oleh Adelia.


"Apanya yang gagal, Mas?" tanya Adelia heran.


"Oh. I-itu ... anu, em ... olah raga," ucap Rasya dengan tersenyum.


"Olah raga? ini masih pagi kok, ya masih bisalah Mas," ujar Adelia membuat Rasya tersenyum nakal.


"Beneran masih bisa?" katanya seraya mendekati Adelia. Kemudian memeluknya.


"Ya masihlah Mas ... lihat jam nya juga baru menunjukkan setengah tujuh!" tunjuk Adelia pada jam dinding.


"Tapi kamu sudah mandi. Masa nanti kamu mandi lagi," seloroh Rasya membuat Adelia menatap curiga apa yang di maksud suaminya.


"Aku gak mau olah raga. Mas saja, sana!"


"Tapi masa iya Mas sendirian. Gak enaklah, kalau tanpa kamu," imbuh Rasya. Membuat Adelia kembali mencurigai maksud olah raga suaminya.


"Kenapa tanpa aku jadi gak enak?" ucap Adelia sambil mendelik. Kini Adelia beranjak untuk menyisir rambutnya.

__ADS_1


"Ya gak enaklah, karena sumber ke enakannya ada di kamu," ucap Rasya dengan ikut beranjak. Ia kini memeluk Adelia dari belakang. Tangan nakalnya ia tempelkan di dada istrinya.


"Mas?" Adelia merasa geli. Karena tangan Rasya memainkan benda yang menempel di dadanya.


"Apa Sayang?, aku lagi olah raga. Lagi pemanasan," ucapnya.


Adelia sekarang yakin bahwa olah raga yang di maksud Rasya adalah olah raga ranjang. Adelia pun mencubit tangan Rasya yang terus bermain di dadanya.


"Auw sakit, Sayang ...," ucap Rasya dengan melepaskan tangannya dari dada Adelia.


"Mandi sana. Biar otak Mas, gak mesum terus!" titah Adelia.


Rasya tersenyum, "Siapa yang mesum? aku hanya ingin mengajak kamu olah raga pagi Sayang, biar kamu sehat, dan baby juga sehat," kelit Rasya.


"Mas??!" pekik Adelia seraya kini tangan nya melipat selimut.


"Sayang, kita baru pertama kali tidur di kamar ini. Ayolah, kita buat kamar ini menjadi saksi olah raga kita!,"


Adelia menatap Rasya dengan menggeleng-gelengkan kepala. Merasa gemas pada suaminya yang terus merengek meminta berolah raga pagi.


"Tidak Mas, nanti saja ya. Emang Mas yang kemarin gak cukup?, bahkan kemarin malamnya juga," ujar Adelia.


"Maaf ya Mas. Yang kemarin saja buat badan aku pegal-pegal sampai sekarang. Mas, tidak kasihan apa kalau sampai aku kesakitan," Adelia tidak kalah memasang wajah memelas. Ia ingin tahu seberapa sabar suaminya menahan hasratnya.


"Tentu aku kasihan Sayang. Ya sudah aku mandi saja." Rasya mendadak serius. Ia tidak tega melihat wajah istrinya yang memelas seperti memohon. Ia mengecup kening Adelia, dan mengusap perut Adelia. Kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Adelia tersenyum senang. Karena telah berhasil membuat Rasya tidak meminta jatah lagi. Sebenarnya Adelia bisa saja melayani kapanpun. Hanya sekarang ia ingin tahu seberapa sabar suaminya itu.


Adelia beranjak menuju lemari. Ia ingin memilih pakaian untuk di kenakan suaminya pagi ini. Adelia memilih kemeja kotak-kotak, dan kaus oblong hitam. Celananya Adelia memilih celana Panjang jeans hitam.


Setelah itu Adelia beranjak keluar kamar. Ia ingin menuju dapur. Membuatkan sarapan untuk suaminya dan juga keluarganya. Adelia sudah memasuki ruangan dapur. Melihat belum ada siapapun di sana.


Adelia terlebih dahulu membuka lemari pendingin. Terlihat banyak stok bahan makanan di dalamnya. Ia memilih membuat Nasi goreng seafood saja. Yang menurut Adelia simple. Adelia bergegas membuka ricecooker, dan masih ada nasi cukup untuk ia olah menjadi nasi goreng.


Saat Adelia mencuci cumi di washtafell. Terdengar suara langkah seseorang yang masuk ke ruangan dapur. Membuat Adelia menoleh. Dan tersenyum saat tahu siapa yang datang.


"Mama," sapa Adelia kepada Lia.

__ADS_1


"Sayang kamu mau masak?" tanya Lia melihat Adelia yang sedang berdiri mencuci cumi.


"Iya Ma. Gak apa-apakan Aku masak di dapur Mama?" tanya Adelia dengan hati-hati takut mertuanya itu tidak suka dapurnya ia pakai.


"Loh, kok nanya nya seperti itu Sayang?. Tentu saja boleh. Rumah ini rumah kamu juga," sahut Lia merasa gemas.


Adelia tersenyum kembali, "Terima kasih Mama," ucapnya.


Amnesia membuat dia lupa. Bahwa dirinya sedari dulu suka berkutat di dapur ini. batin Lia saat mengingat tadi Adelia bertanya.


"Iya Sayang. Kalau begitu, Mama mau ke taman belakang. Mau siramin bunga-bunga," kata Lia dengan membuka pintu belakang dari arah dapur.


Adelia mengangguk dengan tersenyum. Kemudian melanjutkan kembali mencuci cumi. Setelah itu menghaluskan bumbu.


Sementara itu Rasya yang berada di kamar. Tersenyum melihat penampilan dirinya dengan pakaian yang Adelia pilih tadi di depan cermin. Ia memuji dirinya sendiri.


"Lihat Aku ini keren, tampan, dan ta--" Rasya bermonolog. Namun, terhenti saat ingin mengatakan kata tajir. Ia ragu. Karena dirinya hanya mempunyai penghasilan dari bengkel-bengkel yang di kelola anak buahnya. Rasya yang memilih mandiri tidak mau bergantung kepada perusahaan Papanya.


"Apa aku bisa di katakan tajir?" tanyanya pada diri sendiri. Ia menjadi mengingat Albi yang masih muda sudah mempunyai perusahaan. Terlintas pikiran buruk di benaknya. Kalau Adelia lebih memilih pria tajir, bagaimana dengan dirinya?.


Rasya menggeleng-gelengkan kepala menepis pikiran buruknya. Ia kembali berpikir. Bahwa Adelia bukan wanita seperti itu. Sedari dulu ia tahu bagaimana karakter Adelia yang sederhana.


Rasya mengatur nafasnya. Agar lebih tenang. Agar pikiran buruk tidak menghinggapinya kembali. Setelah selesai dengan penampilan. Rasya keluar kamar, bergegas menyusul sang istri yang sudah Rasya tahu dimana keberadaannya.


Dan benar. Rasya sudah menduga bahwa Adelia sedang berada di dapur. Ia melihat dari kejauhan dengan terus tersenyum. Terlihat Adelia menyajikan hasil masakannya di atas meja makan. Dan tersenyum saat melihat Rasya berdiri.


"Mas," sapa Adelia. Membuat Rasya melangkah lebih dekat.


"Kamu masak Nasi goreng kesukaan aku?" tanya Rasya dengan menatap lekat wajah Adelia yang polos tanpa make-up. Namun, masih terlihat cantik.


"Jadi nasi goreng yang aku buat itu kesukaan Mas?," jawab Adelia dengan bertanya.


Rasya mengangguk. Kemudian ia mengecup kening Adelia dengan lama dan lembut.


"Terima kasih, Sayang ...," ucapnya.


...***...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2