You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 134.


__ADS_3

Setibanya di Alun-alun Kota, Rasya langsung mengedarkan pandangan setelah berhasil memarkirkan mobil miliknya. Rasya mengerutkan dahi merasa heran begitu ramai di tempat itu, padahal masih pagi.


Rasya mulai berjalan santai, menatap para pedagang kaki lima, yang gerobaknya berjejer dengan rapih. Berbagai macam jajanan tersaji di pandangan matanya.


Rasya tersenyum kala menatap makanan yang sedang di inginkannya itu. Rasya langsung bergegas mendekati gerobak penjualnya.


Rasya langsung mencari tempat duduk yang nyaman, di depan penjual Bakmie yang sudah tersedia. "Bu, saya pesan satu, ya!" ucap Rasya memesan bakmie yang tengah di inginkannya.


"Baik Mas. Di sini atau di bungkus?" tanya ibu penjual Bakmie dengan ramah.


"Di sini saja bu," jawab Rasya.


"Tunggu ya Mas," ucap Ibu penjual bakmie, dan dapat anggukan dari Rasya.


Rasya seperti tak sabaran, ingin segera menyantap bakmie yang kini ia inginkan itu. Dengan matanya terus menatap ke arah Ibu penjual, yang sedang memproses pensajian bakmie. Hingga Ibu penjual Bakmie itu selesai, dan menghidangkan nya tepat di depan Rasya.


"Silahkan, Mas!," kata Ibu penjual itu saat menghidangkan bakmie buatannya di depan Rasya.


Rasya mengangguk dengan tersenyum. Kemudian tangan nya dengan cepat meraih botol saus, beserta sambal yang ada di hadapannya dan Rasya tuangkan ke dalam mangkuk bakmie. Setelah itu Rasya mulai mengaduk bakmie tersebut dan mulai melahapnya.


Hingga Rasya selesai melahap bakmie tersebut. Entah ada apa dengan perasaan Rasya, ia sangat senang kala keinginannya itu terpenuhi, padahal hanya semacam makanan sederhana.


Rasya bergegas meninggalkan tempat penjual bakmie tersebut saat setelah membayarnya. Kemudian Rasya kembali berjalan santai, dengan melihat orang yang lalu lalang. Ada yang sengaja duduk di taman itu, dan ada yang sekedar untuk berjalan-jalan.


Rasya menatap jam di pergelangan tangannya, waktu telah menunjukkan jam sebelas siang. Sungguh tak terasa waktu yang Rasya rasakan berada di tempat itu. Rasya merasa terhibur, dan rasa kekalutan hatinya seakan menghilang.


Rasya memilih duduk di bangku taman, yang berada di bawah pohon cemara. Karena terik matahari mulai menyengat, Rasya memilih tempat itu agar tidak terlalu tersorot sinar matahari.


Rasya memandang sebuah danau buatan di depannya. Dengan angin berhembus menambah kesejukan dan kenyamanan bagi Rasya.


Kemudian, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Rasya, membuat Rasya terhenyak kaget yang sedang memandang lepas danau di hadapannya.


"Rasya, kan?" tanya seorang gadis dengan rambut sebahu.


Rasya yang masih terhenyak kaget, menatap gadis yang berada di depannya dengan memutar ingatan. Bahwa gadis di depannya merasa tidak asing lagi bagi penglihatan Rasya.


"Iya Saya Rasya," jawab Rasya dengan masih memutar ingatan tentang gadis di hadapannya.


"Apa kabar? Boleh aku duduk di sini?" tanya gadis tersebut.

__ADS_1


"Silahkan! saya kabar baik," sahut Rasya. Tidak mungkin dirinya melarang gadis itu untuk duduk, karena tempat yang mereka tempati merupakan tempat umum.


"Kamu tidak ingat dengan aku?" tanya gadis itu mempertanyakan.


Rasya menoleh dengan sedikit memperhatikan gadis di dekatnya kini. "Maaf. Jujur saya tidak ingat. Namun, saat saya melihat anda, sepertinya saya pernah kenal. Tapi saya lupa lagi,"


Gadis itu terkekeh, "Bisa juga kamu lupa. Kita tidak bertemu sekian lama. Dulu aku kenal kamu karena Adel. Waktu kita masih kuliah, aku Mita. Teman Adel dulu satu jurusan," ucap gadis itu mengingatkan seraya mengatakan nama dirinya.


Rasya manggut-manggut membenarkan, dan mengingat tentang gadis tersebut, "Oh iya. Sekarang saya ingat. Maaf saya lupa!."


"No problem. Maaf tadi aku dari kejauhan memperhatikan mu, dan setelah aku yakin itu kamu, aku baru berani nyamperin ke sini," kata Mita.


Memang sedari tadi dirinya yang sedang sengaja berjalan-jalan. Menangkap sosok Rasya yang sedang duduk sendiri, dengan menatap ke arah danau buatan di depannya. Kemudian setelah merasa yakin bahwa sosok Pria yang di perhatikannya adalah Rasya, Mita baru berani menghampiri.


"Oh, iya apa kabar dengan Adel, kamu masih sahabatan, kan?" pekik Mita. Dan membuat Rasya berubah menjadi sendu. Sungguh jika ada yang bertanya, atau mengingatkan tentang Istrinya itu, Rasya tiba-tiba saja ingin menangis.


"Baik," ucap Rasya tidak mau terlalu banyak bicara, dan mengatakan yang sesungguhnya.


Dan Rasya berpura-pura menatap jam di pergelangan tangannya. "Maaf, saya tak bisa lama-lama, ada keperluan yang saya lupakan. Permisi!" ucap Rasya dengan cepat-cepat berdiri tanpa mendengar sahutan Mita.


Mita yang melihat Rasya seperti itu merasa heran, saat dirinya bertanya tentang Adelia, Rasya langsung berubah roman wajahnya. Dan langsung ingin pergi begitu saja. Padahal Mita ingin sekali tahu bagaimana keadaan Adelia dan ingin meminta bertemu, tapi sayangnya Rasya langsung tergesa-gesa pamit pergi.


"Adel, maafkan aku! jika aku menjadi pria yang lemah setelah kepergian mu. Tentu kamu pasti tidak akan menyukai pria cengeng seperti aku, bila kau tahu. Bahkan dirimu yang dulu di tinggalkan orang tuamu, begitu kuat menahan kesedihan. Tetapi kenapa aku begitu sangat lemah? bahkan, jika ada yang mempertanyakan hal tentang dirimu, dadaku selalu merasa sesak, bahkan seketika aku ingin menangis. Maafkan aku Adelia, semoga kamu tenang di alam sana!"


Rasya menangis dengan menunduk, dan menempelkan dahinya pada setiran mobil. Ia terus terisak hingga beberapa menit. Setelah merasa lega, Rasya meraih tisu di atas dashbord dan mengelap air mata yang membasahi pipinya. Lalu Rasya membuang nafas lembut dengan bersandar pada jok mobil.


"Kenapa dengan perutku, tiba-tiba lapar lagi?" ucap Rasya bermonolog.


Rasya memilih keluar kembali dari mobilnya, dan mencari makanan yang belum ia sempat beli. Pertama Rasya menghampiri tukang seblak, dan membelinya. Lalu setelah itu Rasya menghampiri tukang Batagor.


Rasya tersenyum menggeleng-gelengkan kepala. Ia merasa dirinya kini sangat konyol. Dilihat tangannya menenteng kresek putih berisikan bungkusan makanan seblak, dan sekarang dirinya tengah berdiri menunggu pesanan Batagor yang sedang dibuatkan penjualnya.


Ada apa gerangan dengan dirimu Rasya? Sungguh konyol kamu saat ini! bahkan di balik kekonyolan ini, kamu masih sangat bersedih.


Rasya berbicara pada dirinya di dalam hati. Menertawakan kekonyolannya saat ini. Tapi Rasya cuek berjalan kembali setelah menerima pesanan Batagornya. Ia berniat menuju parkiran, dan pulang ke rumah.


Rasya yang sudah berada di dalam mobilnya, menaruh dua kantong kresek dengan tersenyum senang, menatap makanan yang nanti akan ia santap. Kemudian Rasya mulai menancapkan gas mobilnya, dan berlalu meninggalkan parkiran Alun-alun kota tersebut.


Rasya yang sedang menyetir, terus melirik pada kantong kresek yang berada di sampingnya, seperti sudah tidak sabar untuk melahap makanan yang berada di dalamnya.

__ADS_1


Dengan melajukan mobilnya dalam keadaan sedang. Tak lama mobil yang Rasya kendarai belok ke halaman rumah yang luas. Rasya menghentikan mobilnya, dan mengambil dua kantong kresek yang ia taruh di jok sampingnya terlebih dahulu, lalu Rasya keluar dengan berjalan cepat masuk kedalam rumah.


Lia yang tengah duduk menonton tv, ia melihat putranya datang. "Sya, kamu baru pulang?" tanya Lia.


"Iya. Ma. Sebentar, Rasya mau bawa mangkuk dulu," ucap Rasya dengan melangkah lebar masuk ke arah dapur.


Tak lama Rasya datang dengan sebelah tangan memegang dua mangkuk beserta dua sendok, dan tangan sebelahnya memegang dua kantong kresek kecil. Lia menatap heran pada Rasya, dan pada dua tangannya yang di penuhi dengan pegangan.


"Ampun Rasya, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Lia heran setelah Rasya duduk di sofa sebelahnya. Dan Rasya menaruh mangkuk beserta kantong kresek pada meja yang berhadapan pada sofa.


"Rasya mau makan seblak Ma, dan nanti setelahnya makan batagor," ujar Rasya dengan santai tangan nya mulai membuka bungkusan seblak dan Rasya tuangkan kepada mangkuk yang tadi ia bawa


Apa Rasya masih mengidam? Tapi apa mungkin? Adelia kan, sudah tiada.


Lia menerka-nerka dengan apa yang terjadi pada Rasya, yang seperti seseorang yang tengah mengidam dengan menginginkan makanan aneh yang tidak ia sukai sebelumnya.


"Makan Bakmie nya, jadi?" tanya Lia dengan menatap Rasya yang sedang menyantap seblak.


Rasya mengangguk dengan mulutnya yang sedang mengunyah.


"Lalu sekarang kamu makan Seblak?" tanya Lia lagi, dan Rasya mengangguk kembali.


"Setelah seblak, kamu mau makan batagor?,"


Rasya kembali menjawab dengan mengangguk.


Lia menggeleng-gelengkan kepalanya. Benar-benar merasa heran bahkan aneh, kepada Putranya itu.


"Menurut Mama, Rasya aneh, kan?" tanya Rasya. "Sama. Rasya sendiri juga begitu," sambung Rasya sebelum Mamanya menjawab.


...***...


...Bersambung....


Takut Readers Lupa sama Mita. Mita adalah teman Adelia waktu Adelia kuliah. Dan Ceritanya pada Episode-episode awal.


Tenang, Mita bukan jadi pelakor kok😊😊


Jangan lupa Like, Comment, dan Hadiah Poin nya!!.

__ADS_1


Dan terima kasih yang masih setia membaca cerita receh Author.


__ADS_2