Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Hutang belum lunas, malah sudah berhutang lagi.


__ADS_3

Yaren tau, setelah ini, setiap hari tidak akan ada yang berpihak padanya, begitupun keberuntungan.


Berharap Ayaz akan menjadi kawan itu tidak lah mungkin, karena Ayaz sama sekali tidak bisa dianggap teman.


Mengumpulkan keberanian, Yaren mencoba keluar dari rumah itu, menyusuri jalan panjang di tengah hutan, berharap lebih cepat sampai di persimpangan, namun nyatanya tidak.


Mata Yaren melotot kala mendapati gerombolan babi hutan yang hanya berjarak sekitar sepuluh meter darinya. Yaren mencoba menahan nafasnya yang tersengal karena berlari.


Setidaknya ada belasan ekor babi hutan yang mangkal di kubangan, entahlah Yaren juga tidak tau mengapa ia bisa sampai di tempat seperti ini, seingatnya saat melewati jalan hutan ini bersama Ayaz, Yaren tidak pernah menemukan tempat semacam ini.


Jantung Yaren berdegup lebih kencang, kala salah satu dari gerombolan babi hutan itu mendekat ke arahnya.


Yaren memejamkan matanya, hendak lari namun kakinya bagai tidak berdaya, suara langkah babi hutan itu semakin mendekat, Yaren yang masih sembunyi di balik semak-semak tiada hentinya melafalkan doa untuk keselamatannya.


Kalau seperti ini, tidak akan ia mencoba kabur dari rumah Ayaz, tidak akan... hutan ini terlalu mengerikan baginya yang tidak pernah sama sekali berpetualang.


"Dorrr!" suara tembakan menggema, memaksa Yaren untuk membuka matanya.


Mulut Yaren menganga tidak percaya kala melihat babi hutan yang tadi mendekat ke arahnya itu sudah tewas di tempat, sementara gerombolan lainnya tampak membubarkan diri sembarang arah.


"Heh, menyusahkan saja!" umpat seseorang yang ternyata sudah berada di dekatnya, menyadarkan Yaren atas keterkejutannya.


"Ayaz!" pekik Yaren.


"Hutang belum lunas, malah sudah berhutang lagi!" dengus Ayaz kesal.


"Apa maksudmu?"


Ayaz mendekat, mengikis jarak antaranya dan Yaren, mata keduanya bertemu.


"Kau sengaja yah, terus berhutang padaku, supaya aku bisa mengikatmu." ucap Ayaz dingin.


"Gila... Kau pikir aku tidak waras, hutang apa lagi yang kau bicarakan, aku tidak tau!" Yaren marah, hutang semacam apa lagi yang ia ciptakan pada Ayaz.


"Aku baru saja menyelamatkan nyawamu, see kau berhutang nyawa padaku!" jelas Ayaz menyimpulkan seenaknya, tidak perduli Yaren menerima atau tidak.

__ADS_1


"Dasar sinting!" Yaren menatap nyalang Ayaz, "Kau anggap itu sebagai hutang, semua yang kau lakukan padaku di beberapa hari ini kau anggap hutang, dan aku harus membayar padamu, sebenarnya manusia seperti apa kau ini?" tantang Yaren.


Ayaz mengepalkan tangannya, pria itu tidak suka bernegosiasi, baginya jika apa yang dirinya mau, semuanya harus terpenuhi.


Ayaz mengambil kedua tangan Yaren dan mengunci dengan tangannya. Membawa Yaren bersandar pada sebuah pohon dengan tangan Yaren yang ia letakkan di atas.


"Aku tidak suka dibantah!" ucap Ayaz dingin.


"Jika aku mengatakan kau akan tidur denganku, maka kau harus tidur denganku!"


Yaren tercekat, nafasnya naik turun, wajah Ayaz memerah, menandakan sang pemilik wajah begitu marah.


"Kau akan menurut?" tanya Ayaz, bukan seperti pertanyaan lebih tepatnya penekanan dengan paksaan.


Yaren tidak punya kekuatan lagi untuk menolak, dengan terpaksa ia mengangguk mengiyakan.


"Bagus..."


"Kemarilah Baby, kita harus segera kembali ke singgasana." ucap Ayaz tepat di telinga Yaren, suara bariton itu membuat Yaren meremang.


Takut? Tentu saja!


Ayaz bersiul memecahkan suasana, namun Yaren, wanita itu tidak tertarik lagi banyak bicara dengan Ayaz.


Entah sudah berapa lama keduanya berjalan, akhirnya sampai juga di rumah Ayaz.


Yaren masuk mengikuti, hari juga sudah mulai gelap, meski hatinya menolak namun langkah kakinya terus saja melangkah ke depan.


"Bersihkan dirimu!" titah Ayaz.


Yaren mengangguk, dirinya melangkah menuju dapur kemudian berlalu ke kamar mandi.


"Dasar bodoh!" gumam Ayaz, masih bisa didengar Yaren, namun Yaren acuh tidak perduli.


Dalam kamar mandi, Yaren merutuki kebodohannya, bagaimana bisa Ayaz membungkam mulutnya dengan tatapan yang bagai mau membunuh itu.

__ADS_1


Tidur dengan Ayaz, yang benar saja.


Ayaz mengambil satu stel baju untuk diberikan pada Yaren, pakaian yang dibelinya tadi sudah diantarkan oleh orang-orangnya.


"Dia ceroboh sekali!"


Sedang di tempat lain,


Wana, ibu tiri dari Yaren tiada hentinya mengumpat karena sebuah tagihan dari sebuah toko pakaian import mengatasnamakan Yaren Motan mendarat di rumahnya.


"Dasar pembawa sial, udah minggat dari rumah aja masih nyisa sialnya."


Tak terkecuali Pak Argantara, Papa Yaren itu juga tidak habis pikir mengapa anaknya bisa seberani itu.


Nekat keluar dari rumah dengan sehelai sepinggang, tidak memberi kabar sama sekali seolah sangat yakin dengan keputusannya, namun apa kali ini, sebuah tagihan atas nama Yaren Motan dengan nilai tidak tanggung-tanggung harus ia bayar sebagai penanggung jawab.


Apa saja yang dibeli oleh anaknya di luaran sana? Pak Argantara begitu pusing memikirkan itu, terlebih ponsel anaknya itu sedari kemarin sudah tidak bisa dihubungi.


"Ini semua gara-gara kamu Pa, kamu terlalu memanjakannya, nah kamu liat sendiri kan!" geram Wana pada suaminya, tidak ada Yaren membuatnya melimpahkan seluruh kekesalannya pada sang suami.


"Kok aku sih, mana aku tau dia akan berbuat nekat seperti ini, aku juga tidak tau apa benar sebuah toko barang branded begitu bisa belanja dengan cara berhutang lalu mengirim tagihan semacam ini?" elak Pak Argantara.


"Jadi gimana? Gila sebanyak ini, Yaren itu benar-benar yah, udah nggak ada gunanya taunya cuma nyusain!" umpat Wana, tidak perduli akan hubungan suaminya dan Yaren adalah sebagai ayah dan anak kandung.


"Ma dia juga anakku!" protes Pak Argantara tidak terima.


Selama ini, ia memang memanjakan Yaren, namun dibandingkan Raisa sebenarnya Argantara rasa dirinya jauh lebih selalu memanjakan Raisa, apapun akan ia lakukan untuk anak dari istri keduanya itu, sementara Yaren, anak yang juga kandung baginya itu dibesarkan dengan kasih sayang dan harta yang secukupnya. Rasanya Argantara sebisa mungkin untuk berlaku adil pada kedua putrinya, hanya saja Yaren selalu bisa mengalah dibandingkan Raisa jadilah akhirnya Yaren terabaikan.


Lalu dengan seenaknya Wana mengatakan bahwa Yaren selalu dimanjakan, bahkan istrinya itu mengatakan Yaren tidak ada gunanya dan selalu menyusahkan, Argantara merasa tidak terima.


"Yah dia memang anakmu, tapi bukan anakku." ketus Wana.


Satu hal yang tidak akan pernah berubah dari dulu adalah Wana istrinya tidak pernah menganggap Yaren sebagai seorang anak, Argantara tau itu, namun rasa cintanya pada Wana membutakan hatinya, membuat ia mengorbankan kebahagiaan Yaren.


Yaren tidak pernah mengeluh, itu juga sebabnya Argantara menjadi maklum atas sikap istrinya. Padahal tidak mengeluhnya Yaren adalah karena ketidakberdayaanya.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu di mana Nak?" gumam Argantara pelan membayangkan anak sulungnya itu.


Bersambung...


__ADS_2