Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Aku suka saat kau melakukannya!


__ADS_3

"Putra?" Ayaz menyerngit heran, apa maksudnya?


"Kenapa?" tanya Dennis, ia sedikit heran saat melihat ekspresi yang dilayangkan Ayaz.


"Ahh... Iya, Tuan Dennis, saya rasa anda perlu menemui Dokter Mike untuk mengambil obat, dokter Mike termasuk orang yang tidak pernah bekerja di atas jam lima sore, mungkin dia masih bisa menunggumu di detik-detik mendekati waktunya ini. Saya akan mengantar anda." ucap Marco cepat, untung saja ia bisa berpikir cepat tentang sebuah alasan, karena jika tidak, Marco menggeleng ia benar-benar belum siap Ayaz mengetahui segalanya.


"Hemm, benar juga! Ayaz, aku harus pamit karena mungkin setelah ini aku akan kembali ke desa, tetap jaga kesehatan, jangan sia-siakan darahku." ucap Dennis berpamitan.


Ayaz sedikit canggung, ia merasa ada yang aneh terlihat dari sikap Marco, namun ia mengangguk jua sebagai salam perpisahan untuk seseorang yang telah menyelamatkan hidupnya itu. "Hubungi aku jika kau butuh sesuatu, aku akan mengunjungimu nantinya, karena darah kita yang sudah menyatu, seharusnya kita memang sudah sedarah kan! Bukan begitu?" Ayaz sedikit tergelak untuk mencairkan suasana.


"Yah kau benar, kita sudah sedarah!" sahut Dennis yang juga diiringi dengan gelak tawa.


Marco segera membawa Dennis menuju ruangan Mike, dalam perjalanan ia mengirim pesan pada Mike untuk segera mengemas obat yang akan dikonsumsi oleh Dennis di beberapa hari ini, Marco tersenyum lega, hampir saja identitas dirinya dan Ayaz terungkap.


...***...


"Apa yang harus kulakukan dengan mayat hidup ini?" gumam Jovan, bertanya pada dirinya sendiri, baginya Ayaz benar-benar tega, ia ditugaskan untuk menjaga bajingan semacam Sian di sebuah tempat tersembunyi seperti ini, ingin sekali rasanya Jovan melempar tubuh tak berdaya Sian ke laut, yah jika saja dirinya memang berani.


Sian, kondisi pria tua itu begitu memprihatinkan, tubuh tak berdayanya dipenuhi dengan luka cambuk, beberapa juga dipenuhi semacam goresan benda tajam, kemeja putihnya sudah dipenuhi noda darah di mana-mana, badannya juga sepertinya demam, mungkin juga panas, namun Jovan sama sekali tidak mau menyentuhnya, ia juga jijik dan tiba-tiba menjadi tidak berprikemanusiaan saat diharuskan menghadapi manusia yang dianggapnya sungguh jahat itu.


Entah mengapa saat melihat Sian, ia tiba-tiba saja jadi ketularan Ayaz, hilanglah sikap peduli akan sesamanya.


Jovan mengambil ponsel di sakunya, sudah berapa kali ia menatap kontak bernamakan Rymi itu, namun urung dirinya panggil, Jovan takut Ayaz menganggapnya tidak bisa diandalkan.


"Tapi bagaimana kalau dia mati?" tanya Jovan lagi.


"Ayaz saja mungkin belum puas menyiksanya, apa iya dia harus mati begitu saja?"


"Aaishhh, ini memuakkan, aku harus menjaga orang seperti dia, tidak berguna!"


"Hei kau, bertahanlah lebih lama lagi, kau harus menunggu siksaan yang lebih pedih, biar dendam adik iparku terbalaskan!" ucapnya pada Sian yang meringkuk di lantai, tangan dan kaki serta tubuhnya terikat oleh kawat besi dengan penuh duri kawat yang tajam, Marco melakukan itu supaya Sian bisa lebih menghayati untuk merasakan betapa tersiksanya dia saat ini. Hingga rasanya memang benar, Sian benar-benar berharap kematian akan segera datang menjemputnya.

__ADS_1


Bayangkan saja, untuk bergerak pun, Sian pasti enggan melakukannya. Kawat berduri itu akan menusuk bahkan merobek tubuhnya, saat ia merasakan kesakitan itu dan ingin berteriak, sayangnya Sian tidak mampu lagi untuk bersuara, Marco cukuplah puas untuk penyiksaan itu.


Mata Sian terus terpejam, Jovan bangkit dan mulai mengambil tangan Sian, memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan pria itu, memang masih ada meski Jovan merasakan nadi Sian begitu lemah.


"Tidak bisa, aku harus menghubungi Rymi, Marco harus tau keadaan Sian, akan lebih bagus jika pria tua ini mati di tangan dua orang itu."


Kali ini, dengan tanpa ragu, Jovan menghubungi Rymi, melaporkan kondisi terkini Sian, ia akan menunggu apa yang akan diperintahkan Marco atau Ayaz selanjutnya.


...***...


"Aku khawatir akan dirimu!" ucap Yaren, Marco sudah mengizinkannya untuk bebas menemui Ayaz, dan itu membuatnya begitu senang. Akhirnya Yaren bisa puas memandangi wajah tampan suaminya itu.


"Hei! Memangnya apa yang akan terjadi?" tanya Ayaz dengan sedikit gelak tawanya.


"Sudahlah, kau terlalu santai Ayaz!" kesal Yaren, dirinya begitu mengkhawatirkan sang suami, namun apa ini, yang dikhawatirkan justru tidak merasa perlu dikhawatirkan. Sungguh sia-sia.


"Aku tidak bisa menganggap ini serius, sebenarnya bagiku hal ini lebih baik dari pada terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi." ucap Ayaz.


"Iya, aku memikirkan setidaknya kau akan mengenalku hanya sebagai suamimu saja." jawab Ayaz.


"Aku tidak mengerti? Memangnya aku akan mengenalmu sebagai apa?"


Ayaz membelai pipi istrinya itu, "Yaren, apa kau mengetahui sesuatu tentangku dari orang lain?" tanya Ayaz tiba-tiba, haruskah ia jujur mengenai dirinya sekarang, yah... Untuk apa lagi menyembunyikan sesuatu.


Yaren sedikit bingung, matanya menatap mata Ayaz, begitu teduh, haruskah Yaren jujur saja, bahwa memang telinganya ini pernah mendengar sesuatu yang lain tentang diri suaminya ini.


"Katakan saja!" titah Ayaz.


Yaren menggeleng, "Aku masih menunggu, akan tetap menunggumu untuk menceritakannya padaku, aku tidak ingin mendengar apapun dari orang lain mengenai dirimu, siapa suamiku, orang seperti apa dia, aku hanya percaya apa yang keluar dari mulutmu saja." ucap Yaren, mencoba meyakinkan hatinya.


"Aahhhh, rasanya jawabanmu itu cukup menghiburku!" goda Ayaz. "Terimakasih sudah mengatakan itu, jika jawabanmu begitu, berarti aku anggap kau sudah pernah mendengar hal lain mengenai diriku dari orang lain." lagi dan lagi Ayaz tersenyum manis, "Bukankah benar begitu?"

__ADS_1


"Ayaz..."


"Yaren, kau tidak bisa berbohong atau menyembunyikan sesuatu dariku!"


"Apa begitu kentara?"


"Yah, bagiku kau sangat tidak berbakat!"


"Harus bagaimana lagi..." bibir Yaren mengerucut, ia sedikit kesal karena baginya tidak bisa bersikap menyenangkan. Padahal yang dirasakan Ayaz justru sebaliknya.


"Kau yang terburuk!" Ayaz mencubit gemas pipi Yaren, "Kau mencemaskanku?" tanyanya kemudian.


"Tadinya, tapi aku rasa sekarang tidak lagi, kau terlalu bersemangat untuk ukuran orang yang harus dicemaskan!" sindir Yaren.


"Whoaaa, kau sudah lebih berani ternyata." sahut Ayaz tak mau kalah. "Aku merindukanmu Yaren!" ucapnya lagi.


"Ya?"


Ayaz menatap tangannya yang masih dalam keterbatasan, infus masih bertahan di sana, padahal ia ingin sekali memeluk istrinya itu saat ini. Sungguh keadaan yang tidak pengertian! Gerutunya dalam hati.


"Ya, merindukan saat kita berdua, hanya ada kau dan aku, kita melakukan hal gila di sekitar sprei, lalu kau pasti akan meneriakkan namaku tiada hen..." Ayaz tidak bisa melanjutkan kata-katanya kala tangan Yaren sudah membekap mulutnya erat.


"Ayaz, kau... Bagaimana bisa kau tidak punya malu membicarakan hal semacam itu." protes Yaren, lalu tangannya mulai melepas pelan bekapan itu.


"Ti! Ayaz, Ayaz..." lanjut Ayaz, namun kali ini sangat pelan, lebih terdengar seperti bisikan, matanya mengerling genit menatap istrinya yang tampak malu menggemaskan.


Wajah Yaren memerah, haruskah dirinya mengakui bahwa hal semacam itu memang benar pernah dirinya lakukan.


"Tapi aku suka!" lanjut Ayaz, "Aku suka saat kau melakukannya!"


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2