
"Rymi memuji kerja salah satu anak buah Marco, wanita itu bergumam karena puas hati, "Kau pikir hanya dirimu dan suamimu yang bisa membuat seseorang menjadi sesuatu yang salah, saat itu kau hanya mengenal Samudra namun sayangnya tidak mengenalku, apakah aku harus minta maaf padamu Amla? Bersiaplah, kau mungkin sebentar lagi tidak akan merasakan kedamaian dalam hidupmu!"
"Hahaha!" Rymi tertawa menggelegar.
"Apa kau yakin identitas pria itu memanglah pria yang sama dengan yang aku bunuh kemarin?" tanya Rymi menyelidik.
Anak buah Marco mengangguk pasti, "Tentunya, Nona Rymi!"
"Bagus! Sekarang tinggal menunggu Mike untuk mendapatkan hasilnya!"
"Apakah saya perlu pergi ke kantor polisi untuk melihat apa yang terjadi Nona?" usul anak buah Marco itu.
"Tidak perlu! Aku mempunyai salah satu relasi di sana dengan kau pergi ke sana maka akan semakin menyulut kecurigaan nantinya." jawab Rymi.
Anak buah Marco itu mengangguk.
Rymi masuk ke dalam markas, ia ingin menanyai kedua orang tua Sam sesuatu.
"Nona Rymi!" sapa Romi, orang tua itu selalu saja ingin bersikap baik pada Rymi, karena ia merasa Rymi adalah wanita yang menepati janji karena sudah berhasil membawa istrinya berada di sampingnya seperti sekarang ini.
"Apa kau senang dengan keadaanmu sekarang?" tanya Rymi, ia menatap remeh Romi dan istrinya.
"Setidaknya, dari pada harus terkubur di ruangan bawah tanah itu!" Romi memegang tangan istrinya, memberikan kekuatan seolah mengatakan jangan takut karena Rymi adalah wanita yang baik
"Aku punya pertanyaan!" ucap Rymi langsung saja.
Romi menanggapi dengan senang hati "Apa itu?" tanyanya.
"Selama kalian di penjara bawah tanah apa kalian diperlakukan baik oleh Sian dan istrinya?" tanya Rymi menyelidik.
Romi mengangguk, namun bukan itu yang diinginkan Rymi "Jawab Pak Tua, kau punya mulut kan!"
"Iya! Sian memperlakukan kami dengan baik dia mengatakan akan membebaskan kami dari jerat Samudra." jawab Romi.
"Aku ingin bertanya dan kali ini tolong kau jawab sejujur-jujurnya, karena jika tidak aku tidak akan mengampunimu!" ancam Rymi.
Erra sedikit ketakutan, ia menoleh ke arah suaminya, Romi mencoba menenangkan walau dalam hatinya juga berdesis rasa takut.
"Silakan!" ucap Romi mencoba yakin.
"Apa kalian benar-benar mengenal Samudra? Maksudku, Samudra sebagai anak kalian bukan Samudra yang diperkenalkan oleh Sian!"
"Apa maksud Nona Rymi, kami tidak mengerti?"
__ADS_1
"Tolong bekerja sama lah, di sini aku hanya ingin kejujuran dari kalian karena sebuah kejujuran dari kalian akan bisa menyelamatkan kondisi yang ada supaya tidak semakin memburuk." jelas Rymi.
"Kami mendapatkan informasi dari Sian bahwa Samudra lah yang menawan kami di ruangan bawah tanah itu, Samudra yang telah menyuruh Sian untuk menyiksa kami, kadang Sian juga berusaha untuk menyelamatkan kami namun seperti yang kukatakan, dia hanyalah bawahan dari Samudra, jadi ia tidak punya kekuatan selain menuruti perintah." jelas Romi, masih sama seperti saat Marco menanyainya.
"Apa kau merasa tidak ada keganjalan sama sekali?" tanya Rymi.
"Ayahmu memberitahu kami tentang Sian Huculak, dia benar pengusaha kaya raya dan itu membuatku merasa ganjal, mengapa ia bekerja untuk Samudra jika ia sendiri sudah kaya raya?" aku Romi.
"Ternyata kau tidak bodoh-bodoh amat, aku pikir kau pantas untuk dibuang!" ucap Rymi pedas.
Romi tertunduk namun ia mencoba bersabar untuk menghadapi wanita yang memang tampak kasar ini.
"Kau dipermainkan oleh Sian!" ucap Rymi menegaskan.
"Bagaimana bisa?" tanya Romi tidak percaya.
"Bukankah bukti dari Daddyku seharusnya sudah cukup membuatmu sadar?" ucap Rymi.
"Bagaimana tentang Samudra yang sudah menahan dan menyiksa kami selama bertahun-tahun?" kekeh Romi tak kalah.
"Biar ku jelaskan, Samudra selama ini berada di Itali untuk sebuah misi, Apa kalian kenal Ayaz Diren? Seharusnya kalian mengenalnya karena jika... Terutama kau Ayahnya Samudra, bukankah kau cukup lama bekerja di kediaman Sian, apa kau tidak ingat dengan anak laki yang selalu disiksa oleh Ayahnya sendiri?"
Dengan berat hati Romi harus menggeleng pelan, ia benar-benar tidak ingat hal semacam itu.
"Sudah kuduga!" gumam Rymi.
"Ck!" Rymi berdecak, "Menyusahkan saja!" geramnya.
"Aku akan menyembuhkan kalian tapi dengan satu syarat!" ucap Rymi.
"Menyembuhkan? Apa maksud Nona Rymi, kami tidak merasa sakit sama sekali!" tanya Romi.
"Kau tidak merasakannya? Apa kau tahu kau bahkan tidak mengenali dirimu sendiri jika bukan orang lain yang memberitahu siapa dirimu, siapa istrimu dan siapa anakmu, saat ini kau sudah hampir gila namun kau masih tidak menyadarinya? Miris sekali!
"Gila? Tidak tidak, aku masih waras, aku masih sadar!" ucap Romi tidak terima, Erra juga.
"Dasar! Percuma saja bicara dengan kalian, hanya orang gila yang bisa menghadapi orang gila lainnya, karena di sini aku merasa, aku bukanlah orang gila, jadi aku putuskan tidak mau menghadapimu lebih lama lagi." keluh Rymi.
"Nona Rymi, tolong jangan bicara sembarangan, kami memang orang rendahan, hidup miskin dan penuh penghinaan, namun anda tidak bisa mengatakan kami gila begitu saja!" protes Romi.
"Sudahlah, aku malas membahas ini, aku hanya berharap kalian cepat sadar!" ucap Rymi lagi.
Rymi bangkit lalu ia meninggalkan Romi dan istrinya.
__ADS_1
"Orang tuanya Samudra benar-benar tidak bisa untuk diberikan pemahaman, mereka tidak akan masuk jika aku hanya mengatakannya tanpa bukti, sepertinya efek obat itu sudah menjarah di seluruh tubuh mereka hingga mereka sangat mempercayai Sian bagai Tuhan." gumam Rymi.
...*** ...
"Ada apa kiranya Pak?" tanya Amla pada ketua penyidik.
"Tidak apa! Kami meminta anda untuk datang ke sini hanya untuk menanyakan beberapa hal." jawab ketua penyidik itu.
"Apa ini tentang suamiku?" tanya Amla langsung saja.
"Bisa juga berhubungan, jika anda bersikap jujur dan kooperatif!"
"Apa kiranya?"
Lalu ketua penyidik itu memberikan sebuah kartu tanda pengenal yang dimiliki oleh Dale Adrie, "Apa kau mengenalnya?" tanya ketua penyidik itu pada Amla.
Amla memicingkan matanya, ia mencoba mengingat apakah ada gerangan pengawal di rumahnya yang memiliki wajah seperti itu dengan nama Dale Adrie.
"Ini memang kartu tanda pengenal untuk pengawal di kediaman kami." aku Amla.
"Baik! Jadi untuk itu Anda mengakuinya, bahwa benar kartu pengenal ini memang berasal dari kediaman anda, benar begitu?" tanya penyidik itu memastikan.
Dengan keraguan yang ditahannya Amla akhirnya mengangguk, ia sebenarnya takut apa yang dijawabnya kali ini akan mempengaruhi keterlibatannya nanti.
"Kalau begitu, kapan terakhir kali anda melihat pengawal ini?"
Amla menjawab, ia menggeleng pelan, "Aku kurang tahu Pak, aku tidak mengenali satu persatu pengawal di kediaman kami, hanya beberapa namun sepertinya untuk Dale Adrie ini aku tidak begitu mengenalnya."
"Benarkah?" tanya pihak penyidik penuh selidik.
Amla mengangguk lagi.
"Kiranya ada apa, mengapa pengawal kediaman kami, kartu tanda pengenalnya bisa berada pada anda, apakah ini ada hubungannya dengan hilangnya suami saya?" tanya Amla lagi, yang seolah ingin mengalihkan pembahasan untuk menjurus ke kasus hilangnya sang suami saja, karena menurutnya hal itu lebih aman.
Ketua penyidik itu mengangguk, "Tuan Sian masih juga belum ditemukan, kemungkinan bisa saja terjadi!"
"Apa belum ada titik terang mengenai suami saya Pak?" tanya Amla lagi, matanya sudah berkaca-kaca, ia sudah siap melayangkan ratapan seolah menggambarkan bahwa ia tidak sanggup kehilangan sang suami.
Pihak kepolisian itu menggeleng, "Sayangnya belum, kami juga masih terus melakukan pencarian."
"Lakukan yang terbaik untuk menemukan suami saya, apapun yang anda butuhkan saya akan memberikan dukungan!" ucap Amla.
"Baiklah!" sahut penyidik itu.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...