Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Sepertinya kau terlalu bersemangat Bung!


__ADS_3

"Kau ingin hidup damai? Apa maksudnya?" tanya Ayaz.


Pria itu mengambil batu kerikil untuk dilemparkan ke kolam. Marco mengatakan ingin bicara serius dengannya, hanya berdua saja, jadi Ayaz mengajak pria paruh baya itu ke taman.


"Aku sudah menyuruh Rym berhenti." ucap Marco.


"Apa kepalamu terbentur begitu keras saat kecelakaan kemarin?" tanya Ayaz bercanda.


"Hemm, seharusnya begitu, tapi sayangnya tidak." sahut Marco.


"Sudahlah Bung, jangan bercanda, katanya ingin mengajakku berbicara serius."


"Ayaz!" seru Marco, dari wajahnya mengapa Ayaz melihat Marco yang begitu tegang.


"Aku punya pertanyaan untukmu?"


"Apa?"


"Nindi Rowans?"


"Kenapa?" tanya Ayaz heran, mengapa tiba-tiba Marco menanyakan Ibunya.


"Dia Ibumu?" tanya Marco.


"Ya!" jawab Ayaz.


"Dia sudah tiada?" tanya Marco.


Kening Ayaz mengkerut, "Bukankah sudah kuceritakan padamu, dia sudah tiada." jawab Ayaz, dia memang sudah beberapa kali menceritakan perihal hidupnya pada Marco, apa maksudnya Marco menanyakan itu.


"Ceritakan bagaimana? Sekali lagi!" pinta Marco.


Pria paruh baya itu duduk di kursi taman, menyuruh Ayaz duduk di sampingnya.


Tapi, Ayaz lebih memilih duduk di bebatuan dekat kursi itu, berhadapan dengan Marco.


"Ada apa?" tanya Ayaz. Ia menatap curiga pada Marco.


"Tidak apa? Aku hanya ingin mendengarnya, akan aku bantu jika kau mau membalaskan dendammu pada ayah tirimu." sahut Marco beralasan.


"Hemmm..." Ayaz mulai menerawang jauh ke belakang, "Aku dilahirkan sebagai dosa, begitulah sebanyak yang aku dengar saat Sian mencaciku, kehadiranku ditengah-tengah pernikahannya dan Ibuku adalah aib, dosa besar, aku adalah suatu terburuk baginya."


"Mengapa?" tanya Marco, tangannya menggeram, namun ia masih mencoba menahannya.

__ADS_1


"Kata seorang pelayan yang lumayan lama bekerja di kediaman Sian waktu itu, Ibuku sudah mengandung setidaknya dua bulan saat menikah dengan Sian."


"Dan kenyataannya, aku yang saat itu tengah dikandung Ibuku, bukanlah anak pria itu." jelas Ayaz.


Tangan Marco mengepal, dua bulan, jelas saja siapa yang harusnya bertanggung jawab, mengapa Nindi menyembunyikan hal besar seperti ini darinya?


"Sian tidak memperlakukan Ibuku dengan baik, aku yang saat itu masih kecil mencoba melawan, namun Sian bukanlah tandinganku."


"Apa yang dia lakukan?" tanya Marco, dirinya mencoba menelisik sesuatu yang mungkin seharusnya tidak dirinya dengar.


"Aku tidak tau, tapi aku sering melihat Ibuku menangis saat keluar dari kamar mereka, dan dia mencoba tersenyum saat bersamaku, dia mengatakan kalau Sian begitu baik, tapi aku tidak percaya."


"Pernah juga sesekali aku melihat memar di beberapa bagian tubuh Ibuku yang bisa kulihat, sudut bibirnya sering berdarah, bagaimana bisa aku mempercayai perkataannya yang mengatakan Sian memperlakukannya dengan baik."


Marco memejamkan matanya, seorang preman sepertinya saja tidak pernah memperlakukan Nindi seperti itu.


Wanita itu begitu dijaga olehnya, kalau bukan saat itu dirinya sedang mabuk, mungkin ia tidak akan lepas kontrol membiarkan Nindi memberikan kesucian padanya.


"Sian juga tidak peduli akan penyakit yang diderita Ibuku, harus kuakui aku yang saat itu tidak mengerti dan tidak bisa berbuat apapun juga membiarkan Ibuku dalam keterpurukan, dan sayangnya setelah aku cukup mengerti akan situasinya, Ibuku sudah tiada."


"Dia meninggal, karena...?"


"Kanker!"


"Aasshhh..." rasa nyeri menyeruak dalam dada Marco. Pria paruh baya itu memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Kenapa?" tanya Ayaz.


"Tidak apa!" Marco sebisa mungkin menetralkan amarahnya.


Nindi hidup dalam hina selama itu, dan dia tidak mengetahui, sungguh tidak berguna.


"Apa menurutmu, aku harus membalas dendam? Bajingan itu seharusnya tidak hidup dalam ketenangan kan?" tanya Ayaz, meminta pendapat Marco.


Marco menatap Ayaz, "Kiranya apa yang kau rencanakan?" tanyanya.


"Aku?"


"Iya, aku rasa, Sian memang tidak bisa dibiarkan hidup dengan baik, jangan membunuhnya terlalu cepat, itu terlalu mudah." ucap Marco.


"Heh, kau memikirkan hal yang sama denganku, Sian memang harus menanggung apa yang sudah dialami Ibuku, tersiksa, terabaikan, tanpa pengampunan, akan aku pastikan dia menderita dan memohon untuk kematiannya padaku." Ayaz memejamkan matanya, semangat itu menyala bersamaan dengan dendam yang membara.


"Ayaz, apa kau tidak pernah mencari keluarga Ibumu untuk meminta bantuan dulunya?" tanya Marco.

__ADS_1


"Pernah, beberapa kali, tapi, semuanya berada di bawah kendali Sian, Sian keparat itu begitu menjaga ketat pengawalanku, aku diperlakukan bagai seorang budak, tapi juga dijaga seperti barang yang begitu berharga, miris sekali."


"Karena apa?"


"Warisan Ibuku, akan jatuh di tanganku saat aku berumur dua puluh satu tahun."


"Warisan?" tanya Marco tercengang.


Ayaz menatap lucu ke arah Bosnya itu, "Lihatlah! Kau, selalu saja bersemangat jika menyangkut tentang harta." sindir Ayaz.


Marco memiringkan sudut bibirnya, harus dirinya akui itu, tapi kali ini tentu saja bukan karena harta, dia lebih terkejut karena ternyata saat itu Ayaz begitu menderita, dan penyebabnya hanya karena warisan, ternyata ada yang lebih menyedihkan dari padanya perihal harta.


Sian, seseorang yang nyatanya begitu terkenal kaya raya, malah masih melakukan hal yang begitu menyedihkan, begitu menjijikan untuk mendapatkan sebongkah harta.


"Kalau begitu kau harus mencari keluarga Ibumu kali ini."


"Aku bahkan sudah menemukannya, tapi entah mengapa, aku tidak menginginkan harta itu, aku lebih tertarik membawa Sian dalam penderitaan dari pada mengurus harta itu, mungkin aku berpikir, karena harta itulah aku dan Ibuku harus menderita."


"Daslah! Dia nenekku, sedang berada di Itali, Sam mengatakan kalau beliau sedang sakit, tapi aku bahkan tidak mau menemuinya."


"Daslah Donulai?"


"Iya, menarik bukan."


"Kenyataannya, kisah hidupmu begitu rumit." Yah, kenyataan hidup yang dialami Ayaz nyatanya memang begitu rumit, begitu banyak tragedi dalam hidup pria itu.


Ayaz mengangguk, pandangannya menatap lurus kedepan, "Untuk itulah aku tidak bisa membunuh Sam, kau tau, dia adalah satu-satunya orang yang padahal tidak memiliki apa-apa, namun nyatanya punya segudang keberanian, dia menyelamatkanku saat aku dipaksa untuk buta oleh Sian, dia juga menyelamatkanku dan tanpa ragu mengganti hidupnya untukku. Saat aku ditemukan di sebuah mobil yang mengangkut barang haram milikmu, saat itulah hidupku diselamatkan oleh Sam, aku bahkan tidak berani memikirkan apa yang akan dilakukan Sian padanya setelah ketahuan menyelamatkanku, waktu itu entah bagaimana nasibnya kalau Sam tidak ditemukan oleh Donulai, mungkin dia sudah mati dengan mengenaskan ditangan Sian." jelas Ayaz.


Marco menunduk, hal itu membuat dirinya menjadi semakin yakin, benar yang dikatakan Ayaz, Sam memang pantas dipertahankan.


"Aku akan membantumu?" ucap Marco.


"Kita sudahi saja misi ini, tidak usah dilanjutkan, fokus saja pada Sian, apa kau sudah siap membalaskan dendam?"


"Maksudmu? Apa kau mau aku melakukannya segera?"


"Apa lagi yang harus ditunggu, aku juga sudah tidak sabar menyiksanya dengan tangan ini." ucap Marco menggebu.


Dahi Ayaz mengkerut, ia tampak heran dengan sikap Marco kali ini, "Oh, sepertinya kau terlalu bersemangat Bung, hanya menyangkut dendam anak buahmu seorang Bos tidak perlu seroyal itu, bagaimana jika kau cukup memfasilitasi saja, tidak perlu ikut menyiksa jatahku! Hahaha!" Ayaz tertawa renyah.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2