Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Belajar memasak.


__ADS_3

"Kau sedang apa?" tanya Yaren, setelah letih karena perjalanan jauh tadi Yaren memilih untuk tidur, dan saat dirinya bangun Ayaz tidak berada di sampingnya. Wanita itu mulai berpikir mungkinkah Ayaz pergi meninggalkannya lagi?


"Masak!" sahut Ayaz.


Yaren melihat suaminya itu sedang berkutat dengan berbagai bahan makanan, kadang Yaren juga iri karena Ayaz bisa memasak makanan yang selalu saja enak, sementara dirinya? Dari kecil, Yaren memang tidak pernah melakukan hal semacam itu, meski Wana dan Raisa begitu membencinya, namun Argantara selalu memanjakannya, mungkin hal itulah yang membuat ibu tiri dan saudara tirinya itu semakin memendam benci padanya.


"Kemarilah!" titah Ayaz.


Yaren kebingungan, tidak biasanya Ayaz menyuruhnya untuk membantu. Namun wanita itu tetap saja harus menurut.


"Iya!" sahut Yaren.


Tap,


Ayaz langsung saja menarik pinggang Yaren, memposisikan tubuh Yaren di depannya sementara tangannya sudah memeluk Yaren dari belakang.


"Aa Ayaz!" gugup Yaren.


"Bukankah seorang istri harus melayani suaminya?" ucap Ayaz.


Jantung Yaren berdebar tidak karuan, bagaimanapun dihadapkan dengan posisi seperti ini, sungguh Yaren tidak siap. Sungguh berdekatan dengan Ayaz begini selalu saja mengganggu kinerja jantungnya.


"Maksudnya?"


"Selama ini kau dibebastugaskan dari kewajibanmu seperti ini, bukankah aku sungguh murah hati?"


"Apa maksudnya kau menyuruhku untuk memasak?" tanya Yaren hati-hati.


"Istriku yang pintar, aku akan mengajarimu, hari ini mari kita memasak bersama." ajak Ayaz.


"Kau mau?" tanyanya.


"Ii iya Ayaz!" Yaren semakin gugup kala Ayaz berkata tepat di telinganya, seketika tubuhnya meremang, ingin melayangkan protes namun bibir Yaren seolah kelu, tidak berani menyampaikan itu.


Tap,


Lagi dan lagi, Yaren dibuat bungkam oleh tingkah Ayaz, jika Ayaz terus saja memperlakukannya begini, jangan salahkan Yaren bila memupuk rasa itu.


Ayaz memegang lembut tangannya, kemudian dengan lembut juga tangan keduanya yang bertaut mulai memotong wortel.


Tak, tak, tak,


"Apa kau pernah memasak sebelumnya?" bisik Ayaz, Yaren memejamkan matanya, entah kenapa suara Ayaz malah terdengar begitu menggoda di telinganya.


"Tti tidak Ayaz."


Oh Tuhan, kuatkan aku, mengapa dia berubah, mengapa dia memperlakukanku seperti ini, mengapa dia menggemaskan, aku kan jadi suka.

__ADS_1


"Kau harus terbiasa, menyiapkan makanan untukku, dan suatu hari nanti aku pasti akan bergantung padamu untuk urusan perutku ini." bisik Ayaz lagi.


"Ah, iya Ayaz."


Bukannya bisa mengingat apa saja bahan makanan yang dipakai untuk masak kali ini, Yaren malah terbuai akan pesona Ayaz, berdekatan dengan Ayaz tidak akan membantunya untuk lebih pandai nampaknya.


"Kau mengerti?" tanya Ayaz saat sup yang dirinya buat sudah hampir matang.


"Eh!"


"Kau sepertinya lebih tertarik melihatku dari pada belajar masak?"


"Bukan begitu Ayaz."


"Kali ini kumaafkan, lain kali kau harus belajar lebih giat lagi."


Memangnya aku salah apa, sampai kau bilang memaafkanku segala, dasar suka semaunya.


"Kau melamun lagi, Yaren... Apa kau rindu Ibumu?" tanya Ayaz lagi, kemarin dirinya pernah menanyakan ini pada Yaren, namun sayangnya Ayaz lebih dulu terlelap.


"Mengapa menanyakan itu?"


"Apa kau mau ikut denganku ke suatu tempat?" tanya Ayaz.


Memangnya aku bisa menolak?


Yaren mengangguk, baginya tidak ada pilihan lain bukan, bayang-bayang Ayaz yang selalu mengancamnya membuatnya menjadi gadis yang begitu penurut.


"Kau cantik!" ucap Ayaz tiba-tiba.


Yaren tersentak, apa baru saja Ayaz memujinya, apa benar kata itu terlontar dari mulut Ayaz?


"Yaren!" seru Ayaz lagi.


"Ya!"


"Apa kau sudah jatuh cinta padaku?" tanya Ayaz langsung.


"Eh, emm..."


"Ah iya, bukankah sudah seharusnya kau jatuh cinta padaku!" Ayaz tersenyum, namun langkah kakinya berlalu meninggalkan Yaren.


Ayaz melangkahkan kakinya cepat menuju kamar, berdekatan dengan Yaren untuk saat ini bukanlah kondisi yang baik baginya.


Pria itu segera menutup pintu kamar, takut saja Yaren akan menyusulnya.


Ayaz memegangi dadanya, Ayaz sedikit kesal karena saat dirinya memejamkan mata mengapa selalu saja wajah Yaren yang memenuhi pikirannya.

__ADS_1


"Aku sudah membuatnya begitu membenciku, hingga dia tidak bisa meyakinkan hatinya untukku!"


"Mengapa kali ini aku melangkah tidak sesuai keinginanku, aku yang begitu enggan terikat dalam status pernikahan, tapi mengapa sekarang aku malah begitu bangga dengan status itu?"


"Yaren tidak mencintaiku! Ini semua salahku!"


Tok tok tok,


Suara ketukan dibalik pintu terdengar,


"Ayaz... Supnya sudah matang, kau ingin makan sekarang atau nanti?" tanya Yaren di seberang pintu.


"Nanti saja. Kau makanlah lebih dulu." jawab Ayaz.


"Baiklah!" sahut Yaren lagi.


Kemudian terdengar suara langkah kaki yang semakin menjauh.


"Baiklah, jawaban apa itu? Dia tidak memaksaku untuk makan! Heh, dasar tidak perhatian." Ayaz sedikit kesal karena Yaren tidak memperhatikannya, menurutnya seharusnya Yaren sedikit memaksanya untuk makan bersama, namun diluar dugaan Yaren malah berlalu pergi setelah menanyakan itu.


Pria itu kemudian berbaring di ranjang, membuka ponselnya untuk memastikan apakah ada email yang masuk.


Namun, dirinya cukup kaget saat membuka icon galeri di ponselnya, terpampanglah foto pernikahannya dan Yaren, meski Yaren tidak dirias dan memalai kebaya seperti layaknya pengantin namun itu adalah foto dirinya yang berdampingan dengan Yaren. Sepertinya Ayaz harus berterimakasih pada Rymi yang pastinya telah mengambil foto itu.


"Dia sepertinya sedikit tertekan!" gumam Ayaz yang sepertinya begitu tertarik memandangi foto itu.


"Lihatlah, kasihan sekali dia!"


"Sepertinya dia benar-benar tidak menyukaiku, lihatlah ekspresinya seperti ingin mati saja padahal hanya menikah denganku."


"Seharusnya kau bahagia bisa menikah dengan pria setampan diriku, bukannya malah seperti ingin menangis seperti ini, bagaimana sih!"


Ayaz mengubah wallpaper ponselnya dengan foto pernikahannya dan Yaren, ibu jarinya tak henti mengusap wajah istrinya yang sekali lagi dilihatnya sungguh sangat menggemaskan, bagaimana bisa Yaren berekspresi begitu menyedihkan.


"Kau harus membantuku, di waktu yang tinggal enam jam ini setidaknya aku bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari pria tua itu untuk kujadikan suami!"


"Kau pikir aku lebih baik darinya?"


"Aku tidak tau, tapi setelah kita menikah nanti kita akan segera bercerai, aku janji akan membebaskanmu dari hubungan konyol ini."


Sekilas bayangan percakapannya dengan Yaren pada pertemuan pertama mereka terputar ulang, Ayaz masih mengingat itu, dan hal itulah yang membuatnya ingin membantu Yaren besoknya, karena Yaren sepertinya tidak menyukai dirinya, sungguh berbeda dari wanita-wanita lain yang sebanyak Ayaz jumpai selama ini.


"Hubungan konyol, apa bagimu menikah denganku adalah sebuah hubungan konyol?"


"Aku tidak akan menceraikanmu, kau tidak akan pernah bisa lepas dariku Yaren, meski aku harus mati, tapi aku pasti akan mati dengan statusku yang masih suamimu."


Ayaz menyunggingkan senyumnya, diletakkannya ponsel di atas nakas kemudian melangkah ke luar kamar untuk menemui Yaren di meja makan.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2