
"Kau... Cukup ahli dalam berpura-pura!" sindir Marco.
Ayaz mendongak lagi, tangan yang mengepal keras tadi sudah basah sebab keringat. Ia menatap tajam Marco, mungkinkah ini sudah saatnya pikir Ayaz.
"Aku tidak sedang berpura-pura, kau hanya melihat sebagian dari diriku saja." ucap Ayaz dingin.
"Waktu itu, aku... Tidak mengetahui kalau Ibumu tengah mengandung..."
"Brengsek!" umpat Ayaz, "Bughh..." tangan yang dari tadi mengepal ia layangkan pada wajah Marco, ia tidak rela mendengar penjelasan Marco, apa lagi dengan alasan hanya karena ketidaktahuan. Bukan tidak tahu baginya, tapi tidak perduli.
"Kau tidak pantas menjelaskannya! Bajingan!" geram Ayaz. Ia masih melayangkan tinjunya brutal memukuli Marco.
Marco awalnya tidak melawan, namun jika terus seperti ini dirinya bisa saja mati di tangan anak sendiri, ia tidak mau mati sebelum berhasil menjelaskan semuanya, sebelum mengungkapkan yang sebenarnya, jika nanti Ayaz masih juga tidak terima, hendak memukulinya hingga menemui kematian pun dirinya sudah pasrah.
Marco melawan, ia menangkis serangan Ayaz, dengan keahliannya, akhirnya ia berhasil mengunci pergerakan Ayaz dan mencoba menenangkan putranya itu.
"Aku tidak akan membela diri, yang akan aku katakan itu bukanlah sebuah pembelaan, hanya saja aku rasa kau perlu mengetahui yang sebenarnya, dari sudut pandangku." ucap Marco, terdengar napasnya dan napas Ayaz yang begitu memburu, tatapan Ayaz seperti begitu ingin membunuhnya.
"Kau yang menyarankan aku untuk membunuh Ayah kandungku, jadi kau lah yang membawa dirimu sendiri menemui kematian." ucap Ayaz marah. Ia meronta-ronta supaya bisa lepas dari kuncian Marco.
"Ayaz..." seru Marco, "Nindi, Ibumulah yang meninggalkanku, dia yang meninggalkanku lebih dulu, aku bahkan begitu hancur mengetahui kalau dia lebih memilih Sian dari pada pria miskin ini, dia yang meninggalkanku dan menyuruhku untuk melupakan semua tentang kami, aku benar-benar tidak mengetahui kalau saat itu Ibumu sedang megandungmu." ucap Marco, ia mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sebisanya.
Ayaz terdiam, ingin menyangkal, namun entah mengapa telinganya bahkan lebih tertarik untuk mendengarkan lagi apa yang akan dikatakan Marco.
__ADS_1
"Hari itu aku memukuli Sian, untuk pertemuanku dan Nindi yang terakhir, aku berharap Nindi mengingat itu, mengingat bahwa aku begitu kecewa atas keputusannya."
"Dia meninggalkanku demi pria kaya itu, pria yang orang tuanya pilihkan, waktu itu aku hanya pengedar barang haram, hidup miskin bahkan tempat tinggal pun aku tidak punya, setelah dicampakkan dan memukuli Sian, aku tersadar mungkin memang lebih baik Nindi bersama pria itu, yang bisa membahagiakannya lebih dan lebih, tidak seperti aku, yang tidak punya apapun untuk diharapkan."
"Meski berat, aku menerima itu, aku mencoba menerima itu, keputusannya yang tanpa aku ketahui malah membuatnya semakin tersiksa."
"Aku... Tidak sedikitpun niatku untuk menelantarkan kalian, setelah hari itu, aku pergi jauh selama bertahun-tahun, selain untuk mencari hidup yang lebih baik, aku juga ingin melupakan Nindi, orang yang nyatanya sampai kini masih bersarang di benakku."
Tubuh Ayaz melemah, pelan Marco merasakan Ayaz tidak melawan lagi, sehingga ia bisa yakin untuk melepaskan kunciannya.
"Mengapa, mengapa jika kau cinta, mengapa kau tidak pernah mencari keberadaan Ibuku, melihat dirinya apakah baik-baik saja?" tanya Ayaz, begitu lirih, ia hampir menangis.
"Aku pikir keputusannya adalah yang terbaik, dia yang membuat keputusan itu, salahku... Yang selalu menganggap Nindi sudah bahagia." jawab Marco.
"Aku dan Ibuku begitu tersiksa, pria sialan itu selalu memanggilku anak haram, aku bahkan tidak bisa melupakannya." ucap Ayaz lagi.
"Tapi semuanya sudah sia-sia, saat ini aku hanyalah orang tua yang hanya bisa meminta pengampunan dari anaknya, ampuni aku... Aku yang bersalah."
"Ayaz... Kau sudah sebesar ini, kau sangat tampan, kau... Persis seperti ayahmu!"
"Ayaz...Berjanjilah untuk tidak membenci, kebencian hanya akan menghancurkanmu!"
"Kau akan mendapatkan bahagia jika kau mengubah pandangan dirimu, jangan membenci Nak, Ibu harus berpisah dengan keluarga Ibu karena suatu kebencian, dan... suatu hal juga tidak bisa terselamatkan juga karena suatu kebencian."
__ADS_1
"Suatu hari nanti, mungkin kau akan mengetahui sebuah kebenaran, Ibu percaya kau tidak akan menyimpan dendam, Ibu hanya bisa memohon, buanglah seluruh rasa benci, kebencian hanya akan membuatmu menjadi tersesat lebih dalam lagi."
Ayaz mengingat percakapannya dengan sang Ibu dalam mimpinya waktu itu. Mungkinkah yang dimaksud akan mengetahui sebuah kebenaran yang dikatakan Ibunya di alam mimpi adalah Marco sebagai Ayah kandungnya, Ibunya mengatakan untuk dirinya jangan menyimpan dendam dan membenci, mungkinkah kenyataan yang sebenarnya memanglah sesuai apa yang dikatakan Marco.
"Apakah waktu itu... Ibuku mencintaimu?" tanya Ayaz meragu.
"Entahlah!" Marco bangkit, ia mengambil gelas lalu menuangkan air minum untuk diberikan pada Ayaz, "Aku tidak bisa mengatakan itu, aku yang cukup percaya diri ini akhirnya harus menelan kecewa, Nindi selalu mengatakan kalau dia mencintaiku, kau tau... Bahkan Ibumu sendiri yang mengakuinya lebih dahulu, seorang gelandangan sepertiku rasanya mana berani mengungkapkan cinta pada seorang tuan putri, yah... Meskipun aku sangat, sangat mencintainya." sahut Marco.
Ayaz menerima gelas itu, lalu menenggaknya hingga habis. "Aku tidak ingin menerimamu, rasanya ini begitu sulit."
"Aku sudah menjelaskan apa yang kiranya harus dirimu ketahui, selanjutnya... Aku serahkan padamu." ucap Marco.
"Mengapa tidak kau katakan saja." tanya Ayaz, yah benar dirinya harus menanyakan itu juga.
"Pernahkah kau merasakan saat kau begitu menginginkannya, namun entah mengapa rasanya tidak bisa." tanya balik Marco.
"Kau tidak sepengecut itu kan?" tanya Ayaz lagi, ia tidak percaya Marco akan mengatakan itu.
"Sayangnya harus aku akui, aku memang seorang pengecut! Penolakan, rasa kecewa, tidak diterima, dan menganggap kau pasti akan membenciku, membuatku tidak sanggup rasanya untuk menjelaskan semua ini padamu."
"Aku selalu menunggu waktu yang tepat, namun nyatanya tidak pernah ada waktu yang tepat, semuanya seakan sama saja, selalu mencekikku." jelas Marco.
Ayaz tersenyum miris, bukankah ia dan Marco sedikit banyaknya memang memiliki kesamaan, bagaimana dengan dirinya yang lebih memilih menghindar, menganggap seolah semuanya baik-baik saja, semata-mata dirinya lakukan supaya ia tidak terlibat percakapan tentang hal ini dengan Marco. Sama seperti Marco, ia pun juga tidak siap.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...