
Rymi memasuki pintu utama, membawa seseorang yang akan menjelaskan segalanya. Menjelaskan betapa busuknya keluarga Argantara dan siapa yang harus bertanggung jawab atas semua itu.
Para tamu undangan menatapnya heran, dirinya tampil elegan dengan gaun pesta berwarna merah terang, heels-nya juga merah menyala, tatapannya seolah tidak terpengaruh akan kejadian di sana, tampak datar.
"Sudah kubawakan!" ucapnya pada Ayaz.
Dalam sedikit lirikan, wanita yang Rymi duga pastilah Ibu tiri dari Yaren itu tampak gemetar, mungkin takut semua kejahatannya akan terbongkar sebentar lagi.
"Bekerjalah dengan penuh penghayatan, karena jika tidak, haruskah aku mengakhiri hidupmu setelah ini? Aku mengawasimu!" ancam Rymi, ia menepuk beberapa kali pundak seseorang yang dibawanya di kursi roda itu.
Pelan pria itu mengangguk, membuat Rymi tersenyum puas.
"Apa ada yang ingin kau katakan?" Ayaz bertanya pada pria itu.
Wana maju karena ingin mencegah Ayaz, "Kau sudah merusak acara kami, dan ini apa lagi?" Wana mengatakan itu dengan gemetar.
"Kau sungguh ingin tau? Mengapa tidak kau tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya?" tantang Ayaz.
Astagah, Wana menyadari tindakannya bukanlah bisa meredakan situasi, namun semakin memperparah, karena kalut ia justru menjadi salah bicara.
"Tidak perlu! Tentulah bukan sesuatu yang berguna?" berang Wana, ia benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika pria itu dengan beraninya membuka mulut.
"Kenapa? Apa kau saat ini sedang takut? Ibu tiri!" tanya Ayaz menyeringai.
Yaren tidak mengerti, sebenarnya siapa orang yang berada di kursi roda dengan tangan dan kaki terikat ini?
Wana semakin tersudutkan, betapa ia ingin melindungi dirinya sendiri namun yang ada dirinya semakin tidak bisa melakukan apapun.
Argantara juga sejurus heran, siapa sebenarnya yang dibawa oleh wanita itu, mengapa seperti seorang sandraan.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Ayaz pada Argantara.
Argantara menggeleng pelan, ia kira Ayaz akan langsung membeberkan fakta bahwa Raisa tengah berbadan dua dan mereka seolah tidak keberatan dengan itu karena mengadakan pesta megah seperti ini, namun yang dilihatnya justru membingungkan.
Selain Jovan, jika orang luar hanya ada satu orang lagi yang mengetahui keadaan Raisa, yaitu dokter Amri, namun rasanya dokter keluarganya itu tidak akan punya cukup nyali untuk mengkhianatinya.
"Bagaimana Ibu Tiri? Apa kau berniat menjelaskan dia siapa? Atau kau menyuruhnya sendiri yang mengatakannya?" tanya Ayaz santai pada Wana.
Argantara semakin heran, apa itu artinya istrinya itu mengenal siapa pria itu?
__ADS_1
"Kau mengenalnya?" tanya Argantara pada Wana.
Wana semakin bingung, tidak disangka di sini dirinyalah yang akan menjadi bintang.
Reaksi apa yang akan dirinya layangkan, menggeleng atau mengangguk dengan menekankan alasan.
"Katakan Ma! Jawab!" cerca Argantara.
"Dia... Dia..." Wana mengatakan itu sembari tanpa sadar kepalanya menggeleng pelan.
"Mama tidak mengenalnya?" selidik Argantara.
"Menarik sekali!" ucap Ayaz.
"Dia..." Wana benar-benar kalut, ia tidak bisa menjawab apapun, napasnya memburu, jantungnya berdetak lebih cepat, rasanya lebih baik dirinya pingsan atau sekalian mati saja, namun Tuhan pun seolah enggan memihak padanya.
Dengan mengakuinya, Wana bisa memastikan kalau hidupnya benar-benar akan hancur, dirinya tidak bisa membiarkan itu terjadi, namun di waktu yang sesingkat ini Wana benar-benar tidak bisa berpikir bagaimana cara menghadapinya.
"Kau, jangan kau pikir kau bisa menghancurkan kami, sebenarnya apa maumu? Kau marah karena kalian tidak diterima di keluarga ini, maksudmu... Kau ingin membalas dendam? Begitu? Licik sekali!"
Ayaz tersenyum smirk, ia menatap Wana kasihan, tidak lagi punya kata untuk menyahut, maka hanya bisa menggertak seperti itu, apa Wana kira dirinya ini anak kemarin sore?
"Sampai kalian merasa betapa sakitnya rasanya terbuang, dicampakkan, tidak dipandang, mungkin kalian akan menyadari bahwa sakitnya istriku yang disebabkan oleh kalian dulu... Akan aku balaskan berkali-kali lipat, hingga kalian tidak akan sanggup untuk menghadapi hidup di setiap harinya!"
Ayaz menjentikan jarinya, lalu sebuah rekaman jelas saja terputar.
"Lihatlah anakmu, apa kau benar-benar merawatnya dengan baik? Heh, Argantara sialan itu nyatanya tidak lebih baik dariku!"
"Dengar, aku tidak akan menyerahkan Raisa padamu."
"Lalu, bagaimana kau menyikapi masalahnya ini? Kau sudah temukan siapa yang seharusnya bertanggung jawab?"
"Aku tidak tau, Raisa sama sekali tidak bisa ditanyai, bahkan Argantara sudah bersikap begitu lembut padanya, tapi Raisa tetap saja tidak mengatakan apapun."
"Biar aku saja yang mengurusnya."
"Bagaimana bisa?"
"Jika tidak ada yang bertanggungjawab, kita harus bertindak cepat."
__ADS_1
"Bagaimana caranya, aborsi?"
"Kau gila, aku jadi tidak yakin kau merawat Raisa dengan tanganmu sendiri selama bertahun-tahun."
"Kau tidak berhak menanyakan itu, dasar sialan, memangnya apa yang sudah kau berikan untuk Raisa?"
"Meski aku tidak pernah memberikan apapun untuk Raisa, tapi diasuh oleh Argantara aku yakin dia tidak akan kekurangan apapun. Kau mengatakan aborsi, jelas saja aku marah, jangan-jangan kau memang ada berpikiran seperti itu?"
"Kalau iya kenapa?"
"Kau sama sekali tidak berubah Wana, tidak berperasaan, akal sehatmu lebih buruk dari seekor monyet, aku ini ayah kandungnya... Kau pikir, gila saja seenaknya mengatakan aborsi!"
"Ups, aku memang sengaja memutarnya!" ucap Rymi tanpa bersalah, karena semua orang menoleh ke arahnya yang sedang memutar rekaman itu.
Wana tertunduk, ia memejamkan mata, tidak berani melihat dunia. Sementara Argantara dengan cepat langsung saja mengguncang bahu Wana, berteriak kesal, "Katakan apa itu? Jelaskan! Kau harus jelaskan!"
"Katakan!"
"Jelaskan, apa itu Wana? Katakan kalau suara itu bukan berasal dari mulutmu ini!" berang Argantara.
Namun mau bagaimana lagi, ingin mengelak dan beralasan atau pun lari dari kenyataan, Wana tidak memiliki cukup nyali. Kali ini ia benar-benar menyesal telah dengan beraninya menantang suami dari anak tirinya itu.
"KATAKAN!!!" teriak Argantara menggema, ia benar-benar lupa kalau saat ini ia sedang berada di resepsi putrinya.
Karena begitu marah dan kesal, tangan Argantara yang mengguncang bahu Wana itu kini dengan cepat berpindah ke leher, ia mulai mencekik Wana dan Wana pasti akan mati jika saja tindakannya tidak segera dihentikan.
"Papa!" teriak Yaren, tangan Yaren langsung saja mencegah itu, mencoba melepaskan tangan Argantara yang sedang melingkar erat di leher Wana.
"Papa hentikan! Lepaskan!" pinta Yaren memohon.
Beberapa tamu undangan juga mulai ikut membantu, keadaan menjadi riuh karena pertengkaran itu, suasana semakin panas, banyak orang yang begitu takut dan menyayangkan itu.
Sementara Ayaz, Jovan dan Rymi, tidak berniat untuk menghentikan, mereka menganggap hal yang berada di hadapannya ini adalah sebuah tontonan yang menarik.
Bahkan Rymi, masih punya satu kejutan lagi di tangannya. Kali ini siapa yang masih bisa mengatakan kalau Argantara tidak akan hancur? Bahkan kehancuran Argantara benar-benar akan dimulai detik ini juga.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...
__ADS_1