
“Masuk!”
Rymi terpaksa harus menurut, Sam benar-benar memaksanya kali ini, Rymi memikirkan cara untuk memberikan Sam pelajaran.
Mobil melaju cepat, Rymi sedikit risih harus berdua dengan Sam, namun dirinya masih bisa mengikuti apa sebenarnya yang Sam inginkan.
Mobil berhenti di sebuah tepian danau, pohon yang rimbun membuat tempat itu menjadi begitu teduh, apa lagi ini masih pagi semakin menambah hawa sejuk orang yang berada di sekitarnya.
Sam turun, lalu membukakan pintu untuk Rymi, “Keluar!” titahnya.
Rymi keluar, ia juga pernah ke tempat ini sebelumnya, sendiri untuk menumpahkan keluh kesahnya, ia tidak tau kalau Sam juga mengetahui tempat ini.
Danau ini terletak di pinggiran kota, jadi masih sangat nyaman untuk digunakan sebagai tempat menenangkan diri.
“Katakan apa maumu?” tanya Rymi langsung.
“Merve!” seru Sam, pria itu menatap Rymi dengan tajam, “Kau pikir, perkara orang tua bisa sernaknya kau anggap permainan?” tanya Sam.
Rymi melongos, dia berjalan sedikit menjauh dari Sam, sama sekali tidak berpikir bahwa sikapnya tadi mungkin sudah keterlaluan.
“Aku hanya bertanya, jika kau tau maka apa salahnya memberi tahuku?” ucap Sam lagi.
Rymi berbalik, menatap Sam dengan remehnya, “Aku pikir orang seterkenal Donulai, mengingat kerajaan bisnisnya yang sudah menjarah, bisa mempekerjakan orang-orang yang cukup kompeten dalam hal itu? Apa aku salah menerka?”
“Aku kira kau akan bertindak cepat dari dugaanku, tapi nyatanya kau malah sebaliknya?”
“Apa iya, hanya begitu cara kau menanggapi masalah orang tuamu?” sindir Rymi.
“Merve!” pekik Sam.
“Apa kau masih punya senjata lainnya selain berteriak begitu?” Rymi mendengus kesal, “Aisshh, bukankah kau tau, aku bukanlah orang yang akan takluk hanya dengan kau meneriakiku!”
“Aku benar-benar mengalami jalan buntu, dan juga, Sian...”
“Kalau aku jadi kau!” Rymi mendekat ke arah Sam, dia semakin mendekat hingga mata mereka bertemu dan terlibat tatap, “Aku sudah pergi ke kediaman Sian, dan membakar rumah itu tanpa sisa, seperti apa yang dia lakukan pada Ayaz!” bisik Rymi.
“Ayaz...”
“Ah ya! Kau menanyakan Sian? Apa kau ingin berjumpa dengannya?” tanya Rymi.
__ADS_1
“Iya, di mana keparat itu?” tanya Sam lagi.
“Apa kau ingin mengunjunginya?” tanya Rymi, ia begitu senang mempermainkan Sam.
“Aku ingin...”
“Di neraka?” lanjut Rymi, kemudian “Hahahaha!” wanita itu tertawa terbahak-bahak.
Seperti seorang psikopat gila, Sam melihat Rymi yang tergelak keras di hadapannya, sungguh mengerikan.
“Apa maksudmu? Apa maksudmu Sian sudah mati?” tanya Sam.
“Kenapa? Apa kau belum sempat mengucapkan selamat tinggal untuknya?” Rymi lagi-lagi tergelak, melihat wajah Sam yang kebingungan sungguh menjadi hiburan pagi untuknya.
“Samudra Rangga Donulai!” Rymi menyebutkan nama lengkap Sam, “Aku akan memberitahumu, mengapa saat itu aku bisa menjadi sekretarismu!”
Dahi Sam berkerut, di suatu sisi ia memang begitu penasaran tentang mantan sekretarisnya ini.
“Alasan yang cukup mungkin adalah karena DN Company adalah perusahaan yang cukup besar...” Rymi menggantungkan ucapannya, Sam masih menyimak, pria itu juga pastinya mengakui kalau DN Company, memang perusahaan besar. “Yang sangat menguntungkan jika aku dapat menipunya.” Lanjut Rymi berbisik.
Sam membulat, apa-apaan yang baru saja dirinya dengar itu, “Kau gila? Sudah punya cukup nyawa saat mengatakan ini?” tanya Sam marah.
“Kalau bukan karena Ayaz adalah pewaris satu-satunya dan saudaraku itu masih memikirkanmu!” ucap Rymi, tangannya sudah mulai nakal bermain-main di dada bidang Sam yang berbalutkan jas kerja. “Dengan kondisi pemimpinnya yang lamban sepertimu, hal itu tentunya akan sangat mudah bagiku!”
“Aku?”
“Kau, beraninya kau!”
“Hahahaha, kau yakin ingin tau siapa aku?”
“Siapa kau?” berang Sam.
“Aku tidak bisa menyebutkan siapa diriku ini dalam pekerjaanku, karena aku pun juga tidak tau apa posisiku, tapi yang jelas, aku bukanlah orang baik! Aku hanya orang yang mencoba menipumu!” jelas Rymi, mungkin hanya itu yang bisa dirinya gambarkan mengenai hidupnya itu.
“Beraninya kau...” berang Sam, namun tindakannya terhenti kala jari telunjuk Rymi sudah bersemayam manis di bibirnya.
“Shuttt!” ucap Rymi, “Melihatmu yang seperti ini, jadi Tuan Rangga, apa kiranya kau menyesal telah jatuh cinta pada wanita sepertiku?” tanya Rymi berbisik. Lalu terdengar gelak tawanya yang mengerikan.
“Kau gila, wanita gila!”
__ADS_1
“Yang sayangnya sudah dengan beraninya membuat anda tergila-gila?” ledek Rymi sembari tangannya mencolek sedikit dagu Sam.
“Kau!”
“Jadi, bukankah sangat tidak etis jika kita harus bersama? Untuk itu, lupakan saja apa yang pernah terjadi, dan anggap kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya!” Rymi tersenyum manis, namun syarat akan kepuasan.
“Kau akan membayar ini mahal Merve! tegas Sam.
“Ah ya! Whoaaa, aku merasa sedih setiap kali kau memanggilku dengan nama itu, Tuan Rangga... Namaku sebenarnya bukan Merve, tapi Rymi!” Rymi menampilkan raut wajah sedihnya, seolah dirinya benar-benar merasa bersalah, namun Sam tau itu sungguh hanya berpura-pura. “Jadi, berhenti memanggilku nama itu, karena aku sungguh muak!” lanjut Rymi.
Rangga menahan napasnya, ia benar-benar ingin mencabik-cabik wanita di hadapannya ini, namun rasanya ia sungguh tidak bisa, tangannya masih terus saja mengeras enggan melakukan itu, hatinya juga, jauh di lubuk hatinya Sam masih menganggap Rymi adalah wanita yang dicintainya.
“Apa kau menyesalinya Tuan?” tanya Rymi.
“Jangan terlalu berlarut dalam kesedihan, ck... Wanita ini terlalu buruk untuk bersanding denganmu bukan?” lanjutnya.
“Merve...”
“Stop it!” Rymi menyela, “Sudah kubilang jangan memanggilku dengan nama itu, menggelikan!” ucap Rymi kesal.
“Oke Rymi... Mengapa kau lakukan itu?” tanya Sam.
“Aku?”
“Sebenarnya bukan hanya aku!” Rymi mendongak dan tanpa rasa bersalahnya malah nyengir kuda, “Ayaz juga terlibat, kami berdua melakukannya!” ungkap Rymi.
“Ayaz?” Sam tertawa miris, “Tidak mungkin, bagaimana bisa?”
“Kenapa? Kau tidak percaya?”
“Kami berdua memang melakukannya! Apa kau tau, setelah kau dan Ayaz berpisah saat itu, bagaimana kiranya Ayaz bisa bertahan hidup? Apa dunia sungguh begitu berpihak padanya saat ia memutuskan keluar dari rumah terkutuk itu? Kau pikir kota yang kejam ini akan memberikan kami makan yang layak, tempat tinggal yang nyaman, karena Ayaz hanya mengharapkan langit untuk berteduh, maka kami bisa apa jika tiba-tiba langit itu menangis?” sindir Rymi.
"Ohhh, miris sekali!"
Dam menatap Rymi, apa wanita ini sednag menjelaskan bagaimana kehidupan Ayaz setelah berpisah dengannya empat tahun yang lalu, apa semenyedihkan itu?
Rymi menatap Sam tajam, “Begitulah cara kami bertahan hidup!” ucapnya!
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...