Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Jika ini benar,


__ADS_3

Ayaz terbangun saat matahari sudah mulai tinggi, ia mengedarkan pandangannya dan menyadari sedang berada di mana.


Seluruh tubuhnya masih terasa pegal, kepalanya sedikit sakit, apa lagi dirinya tertidur dengan posisi tidak begitu nyaman di kursi.


Ayaz mencoba mengingat kejadian semalam, ia hanya mengingat bahwa Marco sudah mengakui kalau pria paruh baya itu memanglah ayah kandungnya. Mereka berkelahi dan kemudian saling berbagi cerita, selebihnya ia tidak bisa mengingat lagi apa yang telah dirinya lakukan.


Dilihatnya botol vodka yang tergeletak di meja, Ayaz maklum dan tersenyum miris.


Pria itu bangkit dan beralih ke kamar mandi, ia membasuh wajahnya pelan rasa dingin membantunya untuk lebih sadar.


Marco sedang mempersiapkan sarapan, meski tidak bisa lagi disebut hidangan untuk sarapan karena jam dinding yang letaknya di dapur itu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas, Marco tetap saja berinisiatif untuk menyambut haru pertamanya dengan Ayaz, hari pertama mereka tanpa rahasia.


"Kau sudah bangun?" tanya Marco saat melihat Ayaz yang sudah berada di dapur.


Ayaz tampak bingung, tadinya ia ingin mengambil air dingin di kulkas, tidak menyangka kalau Marco akan memakai apron dan sedang mengaduk makanan di sebuah wajan. Di sini, di dapur, dan ini adalah yang pertama bagi Ayaz melihat Marco yang begitu atletis berbalutkan apron warna coklat dengan sentuhan renda di pinggirannya itu. Menggemaskan atau menggelikan, kedua hal itu dirasakan Ayaz secara bersamaan.


"Untuk putra kecilku!" ucap Marco, semalaman ia berpikir bagaimana cara menghadapi Ayaz kalaulah anaknya itu sudah bangun, dan berakhirlah ia pada titik ini, ia akan memperlakukan Ayaz dengan sebaik-baiknya, memberikan apa yang sudah seharusnya dirinya lakukan sedari dulu jika saja ia tau bahwa dirinya memiliki anak dari seorang yang sangat dirinya cintai itu.


Ayaz diam saja, mungkin lebih tepatnya ia juga tidak tau apa yang harus dirinya lakukan. Saat ini hanya ada kecanggungan semakin menyeruak dirasakannya.


Ia mengambil air dingin di kulkas sesuai dengan tujuannya, menuangkannya di gelas dan menenggaknya hingga habis.


Marco tidak peduli akan tanggapan Ayaz mengenai dirinya, namun sejauh ini Ayaz juga tidak melayangkan penolakan dan itu dianggapnya sebagai lampu hijau.


Marco sudah menyelesaikan makanannya, ia menyajikan hasil masakannya itu di meja, ia sudah lama tidak masak, jadi maklumi saja jika rasanya nanti tidak memuaskan.


"Makan?" tanya Marco.


Ayaz menatap lagi pria tegas yang awalnya adalah seorang bos baginya itu, siapa yang menyangka mereka berdua nyatanya adalah Ayah dan anak.


Tanpa menyahut Ayaz melangkah mendekat, ia menarik kursi dan kemudian duduk.


Berhadapan dengan Marco, namun kali ini sepertinya meski masih ada, namun kebencian itu sedikit mereda.

__ADS_1


Marco menyajikan makanan untuk Ayaz, ia benar-benar akan melayani putranya itu dengan baik.


...***...


Amla mengunjungi sebuah rumah yang cukup mewah, namun rumah itu tampak sepi jika dilihat dari luar.


Satpam penjaga mengatakan kalau sebagian orang di rumah ini sedang berada di kantor polisi, Amla sebenarnya sudah mengetahui itu namun ia sengaja berpura-pura tidak mengetahui apapun.


Ia pun menyuruh satpam itu menghubungi majikannya, dan mengatakan kalau dirinya perlu bertemu.


Amla dipersilahkan masuk, para maid menyambutnya dengan baik, dan segera melayaninya dengan baik juga.


Sebagian pekerja di sana mengetahui siapa dirinya, karena sebagai istrinya Sian, orang terkaya nomor lima di negaranya tentu saja wajahnya sering kali tampil di mana-mana.


Setengah jam menunggu akhirnya Nyonya Kate datang menemuinya dengan wajah tidak bersahabat, yah tentu saja! Siapa yang akan bisa bersenang hati jika suaminya harus di tahan di balik jeruji besi sebelum sidang berlanjut beberapa hari mendatang.


"Dengan Kate Yarkan?" tanya Amla langsung dalam perkenalannya.


Kate tampak heran, namun kemudian ia mengangguk, "Ada apa?" tanyanya.


Kate mengangguk lagi, kemudian ia duduk di hadapan Amla.


"Kita perlu bicara, mungkin anda tidak ada hal yang ingin anda bicarakan, tapi saya... Saya akan membicarakan sesuatu yang sangat penting."


Kate masih menyimak, ia mengisyaratkan maidnya untuk membawakan air putih untuknya.


"Apa yang sudah kau lakukan untuk suamimu?" sergah Amla tampak begitu mengurusi.


Kate tertunduk lesu, sungguh ia malas sekali menjelaskannya, apapun sudah ia lakukan termasuk menyewa pengacara paling terkenal, namun apa? Semuanya bagai sia-sia.


"Dari ekspresi wajahmu, aku bisa membacanya pastilah sudah begitu banyak! Tapi Kate... Kita harus sering-sering ikut arisan bersama setelah ini sepertinya, biar kuberi tahu... Semuanya yang kau lakukan akan sia-sia, karena sebenarnya kasus ini sudah dirancang oleh satu-satunya penjahat dalam pembunuhan anakmu. Kau merasakannya?"


Kate, saat mendengar itu dirinya langsung mengerti, memang kenyataannya begitu, dan ia juga mencurigai hal semacam itu.

__ADS_1


"Dean Aries!" gumamnya.


"Hahahahaha!" tawa Amla langsung menggelegar, lalu tangannya dengan cekatan mengambil sesuatu dari tas besarnya.


Sebuah surat-surat dengan nama Dean Aries ia letakkan di meja, Amla membeberkan itu.


"Apa ini?" tanya Kate.


"Ini adalah data seorang Dean Aries..." Amla menggantungkan ucapannya, tangan Kate mulai terulur untuk mengambil salah satu data itu, "Yang asli!" lanjut Amla.


Kate mendongak, apa maksudnya? Pikirnya.


Lalu ia melihat salah satu data yang katanya berisikan profil tentang Dean Aries, pria berkewarganegaraan asing dan dengan foto yang sama sekali tidak mirip dengan Dean Aries yang dirinya kenal.


Kate menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak mengerti.


"Itulah Dean Aries yang sebenarnya, dan pria yang membunuh anakmu bukanlah Dean Aries seperti yang kalian kenal, itu hanya kepalsuan, semua data terkait dirinya adalah fiktif." beber Amla.


Kate menganga tidak percaya, suaminya sedang di penjara, lalu di sini ada wanita yang entah mengatakan kebenaran atau membual, ia benar-benar tidak mengerti.


Amla mengambil ponselnya, lalu diperlihatkannya sebuah foto, "Namanya Ayaz, Ayaz Diren!" ucapnya.


Kate tidak percaya, foto itu begitu mirip dengan Dean Aries, hanya jambang dan kumis yang tipis membedakannya, jadi apakah ia harus percaya dengan wanita ini pikirnya.


"Bagaimana bisa?" gumamnya tidak percaya.


"Kau tidak akan percaya, pria ini sudah begitu banyak melakukan hal kriminal, meski aku tidak memiliki bukti namun dengan pemalsuan data ini kau bisa membuat keraguan pada pihak kepolisian." tutur Amla.


Kate tampak mengangguk setuju, namun hal ini belum cukup untuk membuat suaminya terlepas dari tuduhan.


"Kau bisa mencari sisanya, siapa Ayaz Diren sebenarnya, dan begitu ada celah yang bisa sedikit saja membantumu, apapun itu maka kau harus mempersiapkan segalanya, dan yah... Aku senang bisa membantu." ucap Amla tampak begitu manis dan peduli.


"Bagaimana bisa... Jika ini benar, maka pembunuhan Ali benar-benar sudah direncanakan." gumam Kate begitu sedih.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2