Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Aku akan membuangnya saja!


__ADS_3

Ayaz sedang berada di perjalanan menuju panti asuhan bersama Yaren dan seorang anak laki-laki itu, Mike berpesan padanya untuk membawa anak laki-laki itu setidaknya seminggu sekali menemui dirinya. Dokter kepercayaan Marco itu juga menempatkan seorang perawat untuk mendampingi anak laki-laki itu di panti. Sepetinya Marco memang bekerja keras untuk menyembuhkannya.


Mike sudah meresepkan beberapa obat yang akan dicampurkan pada makanan anak itu, untuk itulah seorang perawat ditugaskan, karena obat yang akan diberikan oleh Mike ini adalah ilegal, mereka akan berurusan dengan hukum jika saja sampai ketahuan memberikan obat itu. Obat itu memang mengandung beberapa persen kadar narkoba, jadi kali ini mengingat Marco dan Mike tidak bisa mengawasi anak itu secara langsung maka perawat yang ditugaskan adalah perawat yang sudah terpilih, yang pastinya bisa menjaga rahasia mereka.


"Apa kata dokter Mike?" tanya Yaren, ia menoleh kebelakang, dilihatnya anak laki-laki itu masih terus saja termenung, enggan berinteraksi dengan orang lain, semenjak dari kemarin bahkan Yaren melihat tidak begitu banyak yang berubah dengan anak itu.


"Dia akan aku kembalikan, aku menempatkan perawat khusus untuknya, semoga saja traumanya tidak terlalu menjarah pikirannya, jadi secepatnya ia bisa sembuh!" jelas Ayaz.


"Benarkah?" Yaren antusias, ia juga berharap Ayaz bisa menyembuhkan anak itu.


Ayaz menggenggam tangan Yaren, tersenyum manis seolah ingin mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Yaren!" serunya.


"Ya!"


"Apa kau mau memiliki anak?" tanya Ayaz tiba-tiba.


Yaren langsung saja spontan menatap wajah Ayaz, mencari keseriusan di sana.

__ADS_1


"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Yaren memastikan, jangan sampai yang ia dengar tadi hanya halusinasi, Ayaz menanyakan tentang anak padanya, apa kali ini pendengarannya bermasalah?


"Ehmm, tidak!" sahut Ayaz, "Aku bertanya, apa kau juga menginginkan seorang anak?"


"Anak kita, hasil pergulatan antara aku dan kau?" tanya Ayaz tanpa filter, ia tersenyum genit, menaik turunkan alisnya menggoda Yaren.


Semburat merah itu muncul lagi di pipi Yaren, aahhh selalu saja seperti ini, selalu saja malu jika Ayaz membahas hal semacam itu.


"Ayaz!" Yaren membuang muka.


"Jawablah!" goda Ayaz.


"Memangnya kenapa? Bukannya kau bilang kau tidak ingin memiliki anak?" Yaren balik bertanya.


"Memangnya kalau aku menginginkannya kau akan setuju?" tanya Yaren lirih, kali ini ia tertunduk lesu sudah sadar diri karena Ayaz yang pernah menegaskan adanya untuk jangan pernah berharap untuk memiliki seorang anak.


Sementara Ayaz, pria itu tiba-tiba saja merasa bersalah karena sudah menekankan penolakannya waktu itu tentang anak pada Yaren, kali ini ia sudah menyadari kalau sebenarnya Yaren mungkin sangat menginginkannya.


"Aku akan menuruti keinginanmu, apapun itu termasuk jika kau menginginkan anak dariku!" ucap Ayaz tiba-tiba yang berhasil membuat Yaren terkejut, benarkah itu?

__ADS_1


"Ayaz... Kau serius?" tanya Yaren.


Ayaz mengangguk, dengan tangan yang masih mengemudi, tangan satunya sudah mengambil tangan Yaren untuk dikecupnya. "Apa kau masih meminum pilnya?" tanya Ayaz.


Yaren mengangguk, "Aku akan membuangnya saja!" ucap Yaren bersemangat.


Sebenarnya kehamilan Rymi lah yang mampu merubah prinsip seorang Ayaz, ia dan Rymi awalnya berpikiran sama, jangankan untuk membangun sebuah keluarga dan memiliki anak, membayangkan masing-masing dari mereka akan menikah saja Ayaz tidak berani, untuk itulah awalnya ia menolak keras saat Yaren memintanya menikah jika ingin menjadikan Yaren teman ranjang waktu itu.


Namun setelah Rymi dikabarkan hamil, dan melihat Rymi yang tampak frustasi karena sempat tidak menerima kehamilannya, Ayaz mulai sadar dia tidak akan tega untuk membuang janin itu, ia sendiri yang juga berusaha menguatkan Rymi, mengharapkan Rymi untuk berpikir jernih dan menerima bayi itu, lalu mengapa dia harus mencegah Yaren memiliki anak darinya.


Bukankah kehadiran anak tidak akan pernah salah, meskipun Sian mengatakan kalau kelahiran dirinya adalah sebuah kesalahan tapi buktinya Marco yang benar-benar ayah kandungnya tentu saja akan menyayanginya. Menerimanya dengan senang hati.


Jadi jika Yaren menginginkan seorang anak darinya, akan sangat egois jika dirinya mengabaikan itu dan terang-terangan menolak. Apa lagi ia pernah melihat Yaren menangis saat meminum pil kontrasepsi, itu berarti bukankah Yaren sebenarnya seakan terpaksa menyetujui prinsipnya.


"Aku mencintaimu Yaren..." Ayaz mengusap lembut puncak kepala istrinya itu, ia tidak menyangka seorang wanita yang pernah diperlakukan sangat kejam olehnya ini adalah wanita yang juga benar-benar sangat ia cintai saat ini. Ayaz bahkan rasanya tidak akan sanggup untuk berpisah dari Yaren.


Ahhhh, jika memikirkan itu Ayaz tentu saja akan dihadapkan lagi pada dilema. Bagaimanapun ia tidak bisa mengetahui apa yang nantinya akan terjadi.


Semoga kita bisa secepatnya memiliki anak, karena jika aku pergi nanti, setidaknya kau sudah mendapatkan penggantiku untuk menemanimu...

__ADS_1


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2