
Akhirnya setelah melewati hal yang mengerikan, setelah tiga bulan lamanya, Rymi akhirnya bisa kembali bangun.
Yah, karena melahirkan anaknya, Rymi bahkan harus mengalami koma selama tiga bulan.
Mike yang menanganinya pun tidak bisa berbuat banyak kala Rymi tidak juga bangun dari komanya, padahal rasanya ia sudah melakukan yang terbaik apapun yang dirinya bisa.
Dan pada akhirnya ia menyerah, mengatakan pada Marco bahwa Rymi bisa koma selama itu karena Rymi lah yang tidak ingin bangun, jadi mereka tidak bisa melakukan apapun selain menunggu wanita itu bangun dengan sendirinya.
Sam menatap senyum yang begitu dirinya rindukan itu, setelah tiga bulan lamanya akhirnya Rymi bisa kembali tersenyum untuknya.
"Sayang, ini bayi kita!" Sam memberikan bayi yang digendongnya itu pada Rymi, seorang bayi perempuan berumur tiga bulan, sangat cantik, wajahnya perpaduan antara Rymi dan Sam, namun bibir dan matanya benar-benar persis seperti Rymi.
"Anakku... Putriku..." lirih Rymi. Dia menggendong bayinya, menimang kecil sebentar, lalu menciumi hangat pipi bayinya.
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi sayang!" ucap Rymi penuh haru.
Karena selama dirinya koma, Rymi bahkan berpikir kalau dia tidak akan kembali lagi ke dunia. Karena adanya suatu hal yang menyuruhnya untuk tidak bisa bangun, dan tetap saja harus berada dalam kondisi vegetatif itu.
...***...
Sementara di tempat lainnya, jika Rymi dan Sam sedang bahagia, lain hal nya dengan pasangan yang diharuskan untuk tinggal di pengasingan itu, di waktu yang bersamaan Yaren juga merasakan kesakitan di perutnya, Ayaz benar-benar panik, Yaren mendahului hari perkiraan lahir yang dikatakan Mike, bahkan hari itu maju sekitar hampir satu bulan.
"Ayaz, aku benar-benar akan melahirkan!" ucap Yaren, dia memegangi perutnya yang buncit, lalu berbaring di ranjang, dia benar-benar merasakan ada yang akan keluar dari intinya.
Ayaz benar-benar bingung, ia hendak mencari pertolongan dengan pergi ke sekitaran jalan raya untuk mencari sinyal namun tidak mungkin dirinya lakukan, karena Yaren yang terlihat sangat kesakitan itu rasanya tak sanggup jika harus dirinya tinggalkan.
"Ayaz... Ayaz... dia sudah mau keluar!" panik Yaren.
"Aaahhhh!" erangnya, Ayaz langsung saja menuju ranjang, berpikir cepat, berpikir cepat, lalu tangannya dengan mau tak mau memposisikan untuk membuka kaki Yaren.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Yaren.
"Yaren di sini hanya ada kita berdua, jika bukan aku lalu siapa?" ujar Ayaz, namun saat ia sudah membuka seluruh pakaian bawah Yaren, Ayaz benar-benar terkejut kala ada semacam gumpalan rambut yang menyembul keluar dari inti Yaren.
"Ayaz, dia mendorong!" teriak Yaren.
__ADS_1
"Yaren, kepalanya!" Ayaz tak kalah panik, ia memang benar-benar melihat kepala bayi yang akan keluar.
"Yaren bagaimana ini?" Ayaz hampir frustasi.
"Ayaz, dia mendorong lagi..."
"Aaahhh!"
"Yaren, terus..." Ayaz merasa saat Yaren mengerang begitu bayi mereka seperti semakin terlihat.
"Yaren terus lakukan, mengerang..."
"Maksudmu mengejan?"
"Ya apapun itu, dia akan keluar, benar-benar akan keluar!"
"Eeehhhh..."
"Teruslah Yaren, aku memegang kepalanya!" Ayaz memegangi kepala bayi, dia benar-benar menyesal karena tidak pernah melihat video orang melahirkan, karena saat ini ia benar-benar minim tentang ilmu.
"Eeehhhh..."
"Satu dua tiga, dorong Yaren..."
"Aaahhhh!"
"Eeehhhh..."
Ayaz memegang leher bayi itu, lalu menariknya, entah caranya benar atau salah dia tidak peduli, yang terpenting bayi itu bisa ia keluarkan dari inti Yaren.
"Oaakkk... oaakkkk.."
Yaren menangis haru saat mendengar tangisan bayinya, Ayaz langsung saja memberikan bayi yang masih merah itu pada Yaren untuk didekapnya.
"Anak Mommy..." seru Yaren, ia menangis melihat bayi itu dan juga membayangkan Ayaz dan dirinya yang melahirkan sendiri.
__ADS_1
Ayaz dibuat bingung karena ari-ari bayinya yang masih tersambung, lalu dia mengambil bayi itu dan meletakkannya di samping Yaren.
Ia menyuruh Yaren untuk mengejan sekali lagi, dan benar tak lama plasenta bayi itupun ikut keluar dari inti Yaren.
"Yaren bagaimana ini?" tanyanya.
Berbekal pengetahuan Yaren yang pernah menduduki bangku kuliah kedokteran, akhirnya Yaren menggunting sendiri plasenta bayinya.
Yaren menyelimuti bayinya dengan selimut, Ayaz membersihkan kew*nitaan Yaren dengan hati-hati, dia tidak tau ada luka atau tidak yang ditimbulkan karena proses persalinan, yang terpenting dia bisa meninggalkan Yaren setelah ini untuk mencari bantuan.
Setelah semuanya di rasa selesai, Ayaz mengambil baju bayi yang telah mereka persiapkan, memakaikan pada bayinya itu dengan hati-hati, tak lupa popok supaya Yaren tidak terlalu pusing nanti saat ditinggalkan olehnya sebentar.
Ayaz mengecup singkat pipi bayi mungil itu, dia juga mengecup pipi Yaren dan mengatakan akan pergi sebentar untuk mencari bantuan.
Yaren mengangguk paham, dia tidak mau menjadi wanita yang manja, sudah tau dirinya hanya tinggal berdua di rumah hutan ini.
...***...
Tiga jam berikutnya, Marco dan Jovan datang, membawa Mike dan seorang dokter yang akan mereka tugaskan untuk merawat Yaren serta beberapa kebutuhan saat melahirkan.
Semua orang menatap kagum Ayaz, benar-benar luar biasa, membantu persalinan istrinya sendiri.
"Aku hanya melakukan semampuku, siapapun yang berada di posisiku tentunya akan melakukan hal yang sama, aku bahkan tidak menyangka bisa melakukan itu, yang aku tau aku hanya berpikir bagaimana caranya agar istriku tidak merasakan kesakitan!" ujarnya.
"Kau sudah bekerja keras, Daddy bangga padamu!" ujar Marco, menepuk pundak Ayaz haru.
"Aku juga!" sambung Jovan, "Terimakasih telah menyelamatkan adikku!" lanjutnya.
Mereka melihat keadaan Yaren yang tengah ditangani oleh dokter, benar-benar mengharukan.
Pada akhirnya, kita tidak pernah tau, apa yang akan terjadi pada hidup kita selanjutnya. Seseorang yang menyatakan tidak akan pernah mau terlibat hubungan pernikahan pada seorang wanita nyatanya menjadi orang yang sangat menyayangi pasangannya.
Dia adalah Ayaz Diren, seorang bajingan yang hanya menginginkan pasangan sebagai teman ranjangnya, kini bahkan menikmati hidupnya sebagai seorang suami dan juga seorang Ayah.
"Aku mencintaimu Yaren... Sampai kapanpun... Aku mencintaimu!" gumamnya saat melihat istri dan bayinya sedang terlelap bersama, ia benar-benar terharu hingga tanpa sadar menangis karena bahagia.
__ADS_1
...-TAMAT-...