
"Maafkan Yaren Pa..."
Yaren menahan isaknya, ia tidak boleh menangis. Akan sulit nantinya ia menyembunyikan sisa tangisannya ini saat menemui Ayaz.
"Papa pasti kuat, aku saja yang tidak setangguh Papa bisa kuat menghadapi dunia yang penuh dengan kekejaman ini, aku yakin Papa pasti bisa bertahan."
"Hiduplah dengan baik, aku harap Papa bisa memaafkan Mama Wana, Papa harus tetap hidup rukun, kasihan Raisa... Hari bahagianya baru saja dimulai."
Yaren mengajak tubuh yang masih belum sadarkan diri itu bicara, tangannya pelan terulur untuk membelai lembut pipi Papanya, mata itu masih terpejam terlihat begitu damai.
Yaren tidak bisa membayangkan saat Papanya sadar nanti mungkin keadaannya tidak akan sama lagi, wajah damai ini entah akan tergambar di wajah Papanya lagi atau tidak.
Ayaz memang kejam, pembalasannya tidak main-main, ia mengakui itu. Melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Ayaz menghancurkan hati Papanya, hidup Papanya pasti seketika hancur saat itu juga. Ia tidak tega, namun mau bagaimana lagi, dari semenjak ia membuat hubungan dengan Ayaz ia selalu saja kalah, Ayaz bukanlah seseorang yang bisa dibantah ucapannya.
Kata-kata Ayaz yang selalu menyuruhnya untuk menurut saja sebenarnya juga masih sering terlintas di pikirannya, untuk itulah Yaren tidak akan pernah melawan setiap kata yang terucap dari bibir Ayaz.
"Yaren menemui Papa kali ini, mungkin akan menjadi pertemuan kita yang terakhir, karena setelah ini... Yaren tidak yakin bisa menemui Papa lagi atau tidak."
"Maafkan Yaren Pa, jika selama Yaren hidup dengan Papa, Yaren hanya bisa menyusahkan Papa saja, Yaren masih sering manja dan tidak bisa diandalkan, Yaren belum bisa menjadi anak baik, anak penurut, Yaren harap Papa tidak terus-menerus kecewa terhadap Yaren dan mau memaafkan Yaren."
Yaren menggenggam tangan Papanya, ia mengusap pelan, matanya terpejam lalu setitik air mata yang menggenang di pelupuk itu akhirnya jatuh juga.
"Yaren akan pergi, maafkan Yaren yang bekum bisa membahagiakan Papa, maafkan Yaren Pa..."
Lalu, Yaren melepaskan genggamannya, kemudian ia melepaskan kalung berinisial namanya itu yang tersemat di lehernya, kalung itu adalah pemberian almarhum Mamanya dan sekarang akan ia berikan pada Papanya sebagai kenangan.
"Meski Yaren pergi ninggalin Papa, percayalah Yaren tetap anak Papa, jangan marah lagi Pa, Yaren nggak mau Papa sakit kayak gini."
"Yaren sayang banget sama Papa, Papa harus jaga kesehatan, jangan terlalu banyak pikiran, meski nantinya akan kehilangan apapun, tapi setidaknya Papa harus bisa berdamai dengan hati Papa, Yaren nggak mau Papa jatuh sakit nantinya."
Yaren mengecup lama tangan Papanya, lalu kemudian meletakkan kembali tangan itu pelan.
"Yaren Pamit Pa!" ucapnya kemudian benar-benar berlalu pergi.
Keputusan ini, Yaren berharap tidak akan pernah dirinya sesali, dirinya telah memilih Ayaz dan saat ini sedang menguatkan hatinya untuk tetap teguh pada pilihannya itu.
Semoga ini yang terbaik, semoga jalan yang aku tempuh benar-benar tepat.
__ADS_1
Sementara di suatu rumah megah,
"Mengapa kau bisa salah menilai orang begitu Harun?" tanya Tuan Suryono. Ia tidak percaya hari ini terjadi sesuatu yang mengerikan untuk keluarganya, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan, betapa malunya ia menghadapi publik nantinya.
"Ini semua salah kalian!" bentak Harun.
"Salah kami?" Tuan Suryono bertanya tidak paham, "Kau mengada-ngada, bukankah Raisa itu adalah pilihanmu, kau berkata kau sudah mempunyai calon sendiri untuk dinikahi namun ternyata keluarga itu keluarga penipu!" tegas Tuan Suryono.
"Karena kalian yang sering kali mendesakku untuk segera menikah, aku jadi sembarangan memilih calon!" jelas Harun.
"Sembarangan? Apa itu artinya kau baru saja mengatakan kau memilih secara acak siapa yang akan menjadi pasangan hidupmu?" tuduh Tuan Suryono lagi.
"Mau bagaimana lagi!" pasrah Harun.
"Harun! Kau tidak pernah seceroboh ini, saat kau mengatakan akan menikah dengan anak perempuan Argantara sialan itu, aku berpikir gadis itu adalah Yaren Motan, namun aku sungguh terkejut karena pikiranku itu salah, kau malah mau menikahi putri bungsunya yang juga hari ini baru saja kami ketahui bahwa dia sedang hamil dan bodohnya kau mau saja bertanggung jawab yang bukan perbuatanmu, tapi karena melihat kau tetap menerimanya, kami tidak bisa melakukan apapun karena kami pikir itu adalah kehendakmu, tapi apa kepelikkan ini tidak juga cukup? Hari ini aku benar-benar malu, kau menolak semua wanita yang kami kenalkan padamu, dan malah dengan gilanya memilih sampah itu!"
"Diam!" berang Harun. Ia tidak suka disalahkan, baginya ini juga adalah salah kedua orang tuanya yang selalu saja mendesaknya untuk segera menikah, tapi di sini saat sudah tertipu, Papanya itu malah seenaknya saja melimpahkan semua kesalahan padanya.
"Kau..."
"Sudahlah, aku akan bercerai, aku pasti akan segera bercerai dengan wanita penipu itu dan menuntut Argantara sialan itu!"
"Ayah tidak mau tau Harun, kau harus menyudahi keadaan ini, kau harus memperbaiki keadaan, perusahaan kita sedang berada di puncaknya, Papa tidak mau karena pernikahan konyolmu ini malah berdampak bagi perusahaan kita."
"Ada untungnya juga kau tidak menganggap serius pernikahan ini."
"Papa jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
...***...
"Kau menangis?" tanya Ayaz. Ia melihat wajah sendu Yaren, sepertinya istrinya itu baru saja menghapus air matanya.
"Kalau boleh jujur, bagaimana mungkin aku tidak menangis?" sahut Yaren.
"Dasar cengeng!"
"Ayaz, ayo kita pergi!" ajak Yaren, ia tidak ingin berlama-lama di sini.
__ADS_1
"Baiklah!"
Ayaz menggenggam erat tangan istrinya itu dan membawanya ke dalam dekapan, "Kau pasti bisa melaluinya, aku dan Argantara tidak akan bisa berjalan bersama, karena kau sudah memilihku maka aku akan terus mengingat ini, aku akan sangat menghargai keputusanmu ini."
"Terimakasih Yaren!"
"Ayaz, aku melakukannya karena aku ingin, jadi mari kita jalani ini bersama, aku juga akan kuat karena dirimu, jadi jangan tinggalkan aku yaaa." Yaren membalas pelukan Ayaz, ia juga memeluk erat suaminya itu.
"Terimakasih sudah mencintaiku! Terimakasih sudah memilih bajingan ini!" tutur Ayaz begitu lembut.
"Aku juga, aku juga berterimakasih karena telah melindungiku, aku seperti mendapatkan kekuatan saat bersamamu, aku tau kau melakukan semua ini pastilah bukan karena dendammu, kau hanya ingin membahagiakanku bukan?"
"Anak pintar, ternyata kau tidak begitu bodoh!" ledek Ayaz.
"Ayaz, aku sedang serius, mengapa kau mengataiku begitu?" protes Yaren.
"Kau ini, aku kan hanya bercanda! Sudahlah ayo, aku bisa khilaf kalau terus bertatapan denganmu begini." ucap Ayaz.
"Khilaf? Kenapa?" tanya Yaren tidak mengerti.
"Sudahlah, ayo pulang!" ajak Ayaz, ia gemas karena Yaren yang dinilainya masih begitu polos.
"Ayaz jawab dulu, khilaf kenapa?" sergah Yaren.
"Tidak ada!" kilah Ayaz.
"Katakan! Apa maksudnya?"
"Sudahlah, ayo pulang!" ajak Ayaz lagi, ia sedikit tergelak melihat mimik wajah Yaren yang tampak seperti penasaran.
"Iihh, Ayaz katakan dulu!" rengek Yaren.
"Pulang dulu, nanti akan aku jelaskan khilafku ini!" ajak Ayaz lagi.
Yaren cemberut, dasar Ayaz selalu saja mempermainkannya begitu.
Sementara Ayaz, ia semakin tergelak melihat wajah tidak bersahabat Yaren, tangannya terulur mengacak gemas puncak kepala istrinya itu "Sudah, ayo pulang!" ajaknya lagi dengan masih tergelak.
__ADS_1
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...