Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Yang jelas bukan aku.


__ADS_3

"Aku menukarnya!" ucap Ayaz, memulai cerita tentang kemarahan Marco babak ke dua. "Sengaja menukarnya, karena jika tidak maka akulah yang harus menghadapi wanita jadi-jadian itu!" terang Ayaz.


"Aa apa?" Yaren terkaget, tadi saat di mobil, Rymi hanya mengatakan sebagian ceritanya saja, Marco yang begitu terkejut saat ingin mencicipi wanita yang dipilihnya.


"Maaf!" ucap Ayaz, ia merasa perlu mengatakan itu karena menjaga hati Yaren, ia takut seseorang yang sangat dicintainya ini merasa kalau ia bukanlah yang pertama.


"Maaf untuk apa? Maaf karena kau mengerjai Daddymu?" tanya Yaren yang belum mengerti.


Ayaz tersenyum dipaksakan, "Sudahlah, tidak usah diceritakan, bukannya Rym sudah menceritakannya padamu, untuk apa lagi mendengar cerita yang sama!" Ayaz mencoba mengalihkan pembicaraan.


Pada malam itu, malam di mana ia mengerjai Marco dengan menukar wanita yang Ayaz yakini adalah wanita jadi-jadian itu dengan wanita yang ditugaskan untuk melayani Marco.


Flashback,


Pada sebuah klub malam yang cukup terkenal, namun sayangnya Marco dan Ayaz tidak mengetahui bahwa klub malam itu juga menyediakan jasa layanan transgender ataupun wanita cantik yang membalut kelakiannya dengan tubuh molek seorang wanita, bahkan jika sekilas wanita yang sebenarnya adalah seorang pria itu tidak menampakkan ciri kalau mereka adalah pejantan.


"Kau pilihlah Ayaz, nikmati saja malam ini!" ucap Marco, ia tau anak buahnya ini tidak pernah tersentuh akan wanita, bukannya ia ingin mengajarkan ilmu sesat namun ia merasa s*x juga diperlukan untuk laki-laki tangguh semacam mereka.


Setelah menuntaskan misi dan menghasilkan uang dengan jumlah yang lumayan besar, Marco hanya ingin menikmati hidup, beberapa hari ini bayangan Nindi entah mengapa selalu saja mengganggunya, ia bahkan tidak bisa tidur sebelum melakukan ritual berfantasi melakukan hubungan ranjang dengan Nindi. Itu sangat mengganggunya, dan ia merasa mungkinkah ia sudah sangat lama tidak melakukannya jadi ia merasa butuh sebuah pelepasan dengan yang benar-benar pada sebuah sarang.


Berapa tahun, mungkin sekitar lima tahun yang lalu ia pernah menyewa seorang wanita bayaran, setelah itu ia tidak ingat pernah melakukannya pada wanita lain atau tidak. Seingatnya ia selalu bermain solo jika menginginkannya.


Dan hari ini, setelah meminta maaf berapa kali pada foto Nindi di kamarnya, ia bermaksud untuk melakukannya sekali lagi.


"Aku, yang mana saja, bagiku rasanya pasti akan sama saja " sahut Ayaz acuh.


"Kau yakin?" tanya Marco lagi.

__ADS_1


"Yah!"


Ini adalah yang pertama bagi Ayaz, namun ia tidak begitu bersemangat, baginya melihat Rymi tel*njang saja ia sudah biasa, namun entah mengapa ia tidak merasakan hawa panas bergai*ah, padahal wanita itu cukup se*y dengan lekuk tubuh yang sempurna.


Ayaz juga tidak mengerti mengapa ia tidak memiliki ketertarikan pada setiap wanita yang dijumpainya, pikirannya hanya tertuju pada satu, hidup untuk membalaskan dendamnya.


Sebelum ia bisa melakukan itu, menuntaskan balas dendamnya, maka mungkin tidak ada waktunya untuk bermain-main. Dan mungkin hal itulah yang membuatnya seolah mati rasa terhadap seorang wanita, karena Ayaz rasa, sebenarnya ia juga masih tetap berpegang pada jalan yang benar, yaitu masih menyukai lawan jenisnya.


Marco menyuruh pemilik klub malam itu memberikan satu wanita dalam deretan terbaik di klub malam itu untuk melayani Ayaz. Marco diberikan beberapa pilihan, dalam suasana remangnya pencahayaan pemilik klub malam itu menunjuk beberapa wanita yang menyandang predikat paling bisa memuaskan dan terbaik dalam satu bulan ini.


Lalu, Marco yang merasa wanita yang akan dipilihnya kali ini bukan untuknya pun menunjuk random pada wanita malam itu. Asalkan dia cantik dan se*y baginya mungkin Ayaz akan suka, Ayaz kan bilang terserah jadi dia juga merasa sudah melakukan yang terbaik.


"Anda yakin Tuan, tapi..."


"Kenapa? Soal bayaran, hei apa kiranya tampangku ini sangat meyedihkan?" berang Marco.


"Ah, tidak tidak Tuan, bukan maksud saya begitu, tapi..."


Semuanya sudah siap sesuai perintah Marco, Ayaz memasuki kamar dengan wajah yang tidak bersahabat, seseorang sudah siap dengan gaun malam yang glamor menyambut kedatangannya.


Dengan lembut seseorang itu berkata, "Kau tampan sekali?" menatap suka pada Ayaz, padahal lampu kamar tidak begitu terang tapi Ayaz masih bisa melihat dengan jelas bagaimana ungkapan ekspresi seseorang itu.


"Buka bajumu!" titah Ayaz.


Ia tidak mau lagi berlama-lama, jika setelah wanita itu membuka bajunya dan Ayaz masih juga tidak merasakan apapun, maka ia benar-benar harus memeriksakan dirinya pada seorang psikolog.


Baginya, tidak ada yang menandingi moleknya tubuh Rymi, banyak lelaki yang menatap suka pada wanita yang sudah dianggap adik olehnya itu, tapi entah mengapa ia malah tidak sedikitpun tertarik.

__ADS_1


Atau jangan-jangan, dirinya impoten karena begitu seringnya disiksa oleh Sian dahulu, Ayaz kadang suka berpikir hal yang sangat ditakutinya semacam itu. Tapi tidak, ia membuang jauh pemikiran yang kadang terlintas mengganggunya itu, karena jika dirinya mimpi ba*ah si perkasanya masih bisa bekerja dengan baik.


Wanita itu membuka bajunya, menyisakan lingerie berwarna hitam yang sebenarnya tidak bisa menutupi apapun, hanya seperti seutas tali yang dililitkan lada tubuh menurut penglihatan Ayaz.


"Berbaring!" perintah Ayaz lagi.


Wanita itu baru saja ingin melakukan servis terbaiknya, namun tatapan mata Ayaz yang tajam membuatnya lebih baik menurut saja.


Ia berbaring, menggigit sedikit bibir bawahnya, berharap pria tampan di hadapannya ini akan menyentuhnya.


Meskipun ia terlahir laki-laki, namun ia sudah bagai menjadi wanita seutuhnya, dadanya yang menyembul ini benar-benar segumpal daging, dan area sensitif untuk disentuh ini sudah ia rawat sebaik mungkin, ia juga sudah punya lu*bang kenikmatan seperti milik wanita pada umumnya.


Berkat kecanggihan teknologi sekarang ini, ia bisa menjadi semakin percaya diri.


Ayaz mulai mendekat, ia menggeleng tidak percaya, meski di goda seperti ini, tapi mengapa si perkasa miliknya tidak juga menunjukkan sisi garangnya.


Ayaz berinisiatif ingin mencium wanita itu, namun saat berada di jarak dekat, Ayaz barulah bisa merasakan keanehan. Bukankah sepertinya ia baru saja ditipu.


"Kau seorang pria?" tanya Ayaz ia menjauhkan diri dari wanita itu. Tanpa ingin melihat bagaimana rupanya, Ayaz begitu geram dan benar-benar marah pada Marco.


"Baa... bagaimana?"


"Aku tidak bisa dibohongi, sekalipun kau berhasil membohongi dirimu sendiri!" lanjut Ayaz.


"Tuan, tapi bukankah anda sendiri yang memilih saya!" bela wanita yang nyatanya adalah seorang transgender itu.


"Hahhhh!" Ayaz menghela napas kasar, "Pergilah pada seseorang yang benar-benar telah memilihmu, tapi yang jelas bukan aku!" geram Ayaz.

__ADS_1


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2