Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Apa Kakak tidak sedang berbohong?


__ADS_3

“Kalau aku jadi kau! Aku sudah pergi ke kediaman Sian, dan membakar rumah itu tanpa sisa, seperti apa yang dia lakukan pada Ayaz!"


"Aku memang akan membakar rumah ini tanpa sisa, setelah aku menemukan Ibuku!" Sam bergumam pelan.


Sam memikirkan saran Rymi, tampaknya besar sekali pengaruh Rymi terhadap tindakannya kali ini.


Pihak kepolisian mulai melaksanakan tugas mereka, untunglah Sam memiliki bukti kuat untuk menggeledah rumah ini, Ayahnya, Romi dengan tanpa paksaan mau bersaksi untuk itu.


Amla tampak gelisah, ruang bawah tanah itu memang sulit untuk ditemukan, namun kali ini pihak kepolisian membawa serta anjing pelacak, dan Amla tidak bisa menjamin kali ini.


Belum lagi, suaminya yang tidak juga ditemukan, hal itu semakin membuat kesal dirinya. Di mana Sian di saat-saat seperti ini.


...***...


"Apa Daddy melakukannya?" tanya Rymi, wanita itu menatap curiga pada ayah angkatnya itu.


Marco mengangkat kedua bahunya acuh.


"Daddy tau..."


"Aku harus menyelesaikannya Rym, setelah masalah ini selesai aku akan berbicara padanya, membebaskannya, mengatakan yang sebenarnya dan membiarkannya memilih." lanjut Marco.


Rymi mengangguk paham, lalu tangannya mengusap lembut lengan Marco, "Daddy sudah melakukan yang terbaik!" ucapnya.


Marco mengambil tangan putrinya itu, mengecupnya pelan dan berkata, "Jangan tinggalkan aku Rym, meski kau sudah menikah nanti, jangan lupakan aku." ucap Marco lirih, di masa tua ia baru menyadari pentingnya memiliki seorang anak, untung saja ada Rymi yang kali ini berada di dekatnya karena jika kalau tidak, Marco benar-benar akan merasa kesepian di masa tuanya.


"Oooohh, itu tergantung!" ucap Rymi acuh, dia hanya bercanda.


Marco mengangguk dengan cibiran, "Kau harus membaginya dengan Ayaz, setidaknya jika dia mau mengakuiku!" ucap Marco.


"Hemmm, aku tidak yakin." ledek Rymi.


"Kau ini!"


Marco mengacak gemas puncak kepala putrinya itu, "Aku akan selalu tetap sehat untukmu!" ucap Marco.


Rymi mengangguk lagi, "Yaaa, jangan banyak penyakit, aku kan tidak akan mau mengurusmu!" Rymi mengerlingkan matanya.


"Haaahh!" Marco menghela napas, "Biarlah aku mengadu dengan Ayaz saja!" ucapnya yakin.


"Whoaaa, anda berani sekali Pak!" ledek Rymi.


"Hahahahaha!" lalu keduanya tertawa riang, sejenak melupakan masalah yang begitu berat yang kini tengah mereka hadapi.

__ADS_1


"Apa kau yang menyuruh dia melakukannya?" tanya Marco setelah mereka menyudahi tawanya.


"Apa?" bingung Rymi, hal apa lagi yang ayahnya ini tanyakan.


"Samudra!" jawab Marco.


"Ehe?"


"Aku lihat dia pergi ke kantor polisi sore tadi, tidak ada alasan lain kan?" tanya Marco.


Rymi memiringkan sudut bibirnya, "Yah, mau bagaimana lagi, dia terlalu lamban, apa salahnya? Aku hanya mengarahkan hal yang mungkin bisa membantunya, dia selalu berkata mencemaskan kedua orang tuanya tapi membunuh seekor semut saja butuh pertimbangan, aku selalu gregetan dengan orang seperti itu!" jelas Rymi.


"Rym, sebenarnya tanpa kau menyadari kau ini sudah peduli padanya! Kenapa?" tanya Marco lagi.


"Aku? Peduli padanya?" heran Rymi, ia tidak terima, dia peduli terhadap Sam, bagaimana mungkin?


"Ya! Kau!" ucap Marco tegas.


Rymi menggeleng, "Aku hanya kasihan Dad!" sangkalnya.


"Benarkah hanya kasihan? Kau selalu berbicara ketus padanya tapi kau tanpa sadar juga memedulikannya, apa kau juga melakukan sikap seperti itu dengan pria lainnya?"


"Ehmm, eehhmm!" Rymi terbatuk menetralkan sebuah rasa yang datang tiba-tiba, ia canggung.


"Kau sudah dewasa Rym, memang sudah saatnya kau menjalin hubungan yang serius!" ucap Marco.


"Rym, apa kau tidak ingin memberikan cucu untukku?"


"Uhukkk uhukkk!" Rymi tersedak air liurnya sendiri, pertanyaan macam apa itu? Apa Daddynya ini sudah gila?


"Lucu sekali Marco! Cucu? Kau benar-benar gila!" ungkap Rymi, Marco tergelak saat Rymi memanggilnya dengan nama.


"Kenapa? Aku hanya meminta cucu, bukan nyawamu?" Marco tergelak.


Rymi melongos pergi meninggalkan Marco, enggan menanggapi terlalu banyak.


...***...


Cemir tidak bisa tidur malam ini, pemikirannya terus saja tertuju pada pembicaraannya dan Yaren pagi tadi.


Ia merasa ada yang ganjal, seperti ada sesuatu yang saling berhubungan, tapi... "Astagah!" Cemir memekik saat menyadari sesuatu.


"Kak Jovan, Astagah waktu itu bukannya Kak Jovan pernah menelpon dokter Amri, lalu apa Kak Jovan mengenalnya? Dan rasanya aku pernah mendengar mereka juga membicarakan perihal Yaren. Apa itu artinya..."

__ADS_1


"Tapi Kak Jovan tidak pernah menyinggung tentang dokter Amri sama sekali, aku tidak yakin."


Lalu Cemir mengambil ponselnya, benda itu sudah ikut menunjang hidupnya semenjak ia tinggal di kediaman Jovan. Jarinya mulai mengetikkan sesuatu, mencari informasi terkait Dokter Amri, kali saja dokter tampan itu memiliki akun di instagram.


Cemir memeriksanya, dan menemukan beberapa akun dengan nama yang sama, namun tidak satupun akun yang menampilkan foto dokter Amri yang dikenalnya. "Apa dia tidak punya Instagram?"


Oh ayolah, di zaman seperti ini? pikir Cemir.


Cemir terus saja berkelana menjelajahi media sosial, hingga matanya tidak sengaja menangkap foto dari sosok yang dirinya cari. Dokter Amri dengan seorang gadis.


Cemir mengklik akun tersebut, bernamakan @Heizenil yang ternyata mempunyai followers yang lumayan banyak, akun tersebut adalah akun salah satu selebgram tanah air, terbukti dari beberapa foto yang menampilkan jasa endorse, Cemir mengamati foto gadis itu dengan dokter Amri, dibacanya caption bertuliskan nama salah satu tempat wisata yang mungkin mereka kunjungi untuk berfoto saat itu.


"Whoaaa, siapa dia?" gumamnya penasaran.


Cemir cukup mengagumi gadis cantik yang bersama dokter Amri itu, di foto tersebut keduanya tampak serasi saat berpegangan tangan. Apa gadis itu adalah kekasih dokter Amri, Cemir mulai menebak.


"Kenapa belum tidur?" tanya Jovan, Cemir melongo tidak percaya saat melihat kakaknya itu sudah masuk ke kamarnya, kapan Jovan membuka pintu, ia sungguh tidak menyadarinya.


"Aa aaku?" gugup Cemir.


"Kenapa? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Jovan.


Cemir menghela napas, "Ya, aku rasa sedikit!" jawab Cemir.


"Ada apa?"


"Kemarin aku mengunjungi Panti!" ucap Cemir.


"Ya? Ada apa? Apa ada yang teman-temanmu butuhkan?"


"Emmm, seseorang pernah datang mencariku!" lanjut Cemir.


"Siapa?"


"Dokter Amri!" jawab Cemir.


Jovan tampak berpikir, apa pria itu belum menyerah pikirnya.


"Apa Kakak mengenalnya?" tanya Cemir langsung.


"Mengenalnya?" Jovan sedikit bingung, mengapa Cemir menanyakan itu. Lalu dengan pasti ia menggeleng, tidak ingin menganggap antaranya dan dokter Amri pernah menjalin sebuah hubungan kerja sama.


"Benarkah? Apa kakak tidak sedang berbohong?" sergah Cemir langsung.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2