
"Bugh!"
"Bugh bugh!"
Rymi menghajar sendiri keempat penjaga pintu gerbang kediaman Sian itu, perkelahian pun berlangsung, para penjaga itu mulai mengeroyok Rymi, Sam yang melihat itu pun tidak tinggal diam, meski masih ada sisa-sisa keterkejutannya melihat apa yang dengan telah beraninya Rymi lakukan, namun ia juga tidak bisa membiarkan Rymi menanggung hal itu sendirian.
Saat semua penjaga sudah tumbang di hajar oleh Rymi dan Sam, Rymi mulai mengeluarkan suntikan dari balik jaketnya, ia membius keempat penjaga itu hingga benar-benar tidak sadarkan diri.
Rymi tersenyum smirk, tangannya mulai beraksi membuka kancing baju salah satu penjaga jika saja hal itu tidak dihentikan oleh Sam, "Kau... Mau apa?" pekik Sam tidak terima, mengapa wanita yang disukainya ini dilihatnya begitu gampangan.
Rymi menoleh, "Aku hanya meminjam bajunya! Hei, Samudra, benarkah kau mau berdiri di situ saja? Tidak akan masuk ke dalam untuk melihat keadaan?" tanya Rymi, nadanya acuh, namun jika orang yang bisa mengerti dirinya, begitulah cara Rymi peduli terhadap orang lain.
Sam mendekat, tangannya menghalau tangan Rymi yang sudah siap membuka resleting celana salah satu penjaga itu. "Mengapa kau tidak punya malu begini?" heran Sam.
Rymi mencibir, apanya yang tidak punya malu coba? Melihat pria bertelanj*ng saja sudah biasa baginya, mengapa harus malu? pikirnya!
Sam segera melucuti pakaian penjaga itu, hingga tertinggal pakaian dalam saja, dia memberikan pakaian itu pada Rymi, dan kembali melucuti satu lagi pakaian penjaga lainnya yang ia pikir pas di badannya.
Rymi sudah selesai dengan kegiatannya, wanita itu tampak keren dengan pakaian apapun, Sam pun dengan segera mengganti pakaiannya, ia sembunyi di balik semak-semak. Hatinya bertanya, apa tadi Rymi mengganti pakaian tidak bersembunyi seperti apa yang dirinya lakukan ini, ia tidak tau dan sedikit merasa rugi tidak bisa melihat hal menakjubkan yang sudah pernah dirasainya itu.
"Kau sudah siap?" tanya Rymi.
Sam mengangguk, dirinya sudah menyiapkan hati dan mentalnya, tujuannya hanya satu menyelamatkan Ibunya.
"Bertingkahlah seperti penjaga, jangan menyerang orang jika tidak benar-benar terdesak!" pinta Rymi.
Sam mengangguk lagi, sebenarnya di sini siapa Bosnya? Kenapa dia malah menurut dan mengangguk teratur saja kala Rymi memerintahnya, hancur sudah citra Rangga Donulai sepertinya.
Sam dan Rymi mulai masuk ke kediaman Sian, Rymi berbisik, "Apa kau cukup mengenali tempat ini? Ayaz mengatakan kalau tempat ini tidak begitu banyak perubahan dalam tata letak!"
Sam sedikit berpikir, dia mengangguk dan berkata, "Benar, sepertinya begitu, tadi aku juga ikut memeriksa tempat ini, tidak banyak yang berubah!"
__ADS_1
Rymi mengedarkan pandangannya, dilihatnya sebuah mobil yang dilihatnya tadi, mobil itu parkir di salah satu ruangan. Terlihat juga Wana yang sedang berbincang dengan seseorang.
Rymi melangkah lebih dekat, Sam mengikuti, Rymi tidak bisa mendengar apa yang tengah Amla bincangkan karena jaraknya dan Amla lumayan jauh.
"Mereka mengatakan apa?" tanya Sam berbisik.
"Jika kukorek pun telingaku ini hingga habis seluruh kotorannya, sampai bagian dalam dalamnya sekalipun, kau kira aku bisa mendengar mereka dengan jarak seperti ini, gila saja! Dadar bodoh!" gerutu Rymi.
"Maksudku, bagaimana caranya supaya kita bisa mendengar apa yang mereka bicarakan?"
Rymi mengangkat kedua bahunya acuh, "Mana aku tau?"
Sam menghela napas, bertanya dengan Rymi kadang hanya akan membuat darah tingginya naik saja, wanita itu sebenarnya selalu berhasil membuatnya kesal.
Lama keduanya mengamati sembari menunjukkan tingkah sedang berjaga agar tidak dicurigai, namun tak lama terdengar suara Amla sedang memanggil seseorang!
"Hei kau!" teriak Amla.
Sam gugup, takut sekali akan ketauan. Sedang Rymi mencoba memastikan, ia bersiap untuk menyahut menanyakan apakah Amla benar memanggilnya.
Namun sebelum itu, Rymi menarik napas dalam untuk merubah suaranya menjadi suara pria.
"Aku?" tanyanya dengan langkah yang semakin mendekat ke arah Amla.
Sam terkejut, bagaimana bisa Rymi berbicara dengan suara yang bukan miliknya, terlebih suara yang dirinya dengar itu bahkan adalah suara pria.
"Ya kau! Memangnya siapa lagi? Temanmu itu, kenapa tidak datang?" tanya Amla ketika Rymi sudah mendekat.
"Dia sedang sedikit bermasalah dengan perutnya!" jelas Rymi beralasan, "Ada apa nyonya?" tanya Rymi langsung.
Amla meneliti tubuh penjaganya itu, begitu banyak orang berseragam sama yang bekerja untuk Sian, namun bukankah tubuh ini cukup langsing untuk ukuran pria, pikirnya rancu.
__ADS_1
Rymi masih bisa mempertahankan sikap, dia sama sekali tidak gugup, keadaan macam ini sudah biasa baginya, dan jikapun ia harus tertangkap ia hanya perlu melawan, tidak ada yang akan membuatnya takut. "Apa saya bisa meminta izin untuk rekan saya?" tanya Rymi mencoba mengalihkan pembicaraan.
Amla melihat ke arah Sam, dilihatnya pria yang dikira penjaga itu tampak begitu gelisah, mungkin memang benar pikirnya pria itu benar sedang mengalami masalah gangguan perut.
Padahal yang sebenarnya, Sam begitu gelisah karena Rymi yang menghadapi Amla sendirian, ia sedang berpikir keras dan mencoba mengambil keputusan secepatnya, apakah ia harus menyusul Rymi ke hadapan Amla, atau tetap berada di sini menahan kegelisahannya.
"Silakan!" ucap Amla menyetujui.
Ia menatap wajah Rymi, begitu bersih untuk ukuran seorang pria, kulit wajah yang begitu mulus, bulu mata lentik, dan tatapan yang tajam, sepertinya Amla pernah melihat tatapan itu, namun di mananya ia benar-benar tidak ingat.
Tapi, berhubung Amla adalah penyuka lelaki tampan, dan Rymi yang dinilainya cukup tampan itu, jadi dia bisa berbaik hati meski dengan seorang penjaga sekalipun.
"Terimakasih Nyonya!" ucap Rymi mengagungkan seorang Amla.
Amla mengangguk, ia melihat ke arah pria yang masih betah berada di dekatnya, sedang menunggu perintah darinya.
"Bisakah kau menunjukkan jalan ke sebuah gudang tua, yang letaknya tidak jauh dari Villa kosong keluarga Huculak?" tanya Amla pada Rymi.
Rymi tampak berpikir, namun akhirnya ia mengangguk.
"Tentu saja Nyonya!" jawabnya menyetujui.
"Bagus!" ucap Amla.
Amla bertepuk tangan satu kali, lalu tak lama terdengarlah derap kaki serta suara rantai yang sepertinya juga terdengar hingar menemani langkah kaki itu.
Rymi mendongak, lalu di lihatnya seorang wanita tua yang tubuhnya sedang terikat, kakinya dirantai dan Rymi melihat ia seolah sangat berat untuk berjalan. Namun wanita itu memaksakan diri untuk tetap melangkah, banyak orang yang menuntutnya dan wajah mereka semuanya terlihat sangar dan tentunya tidak bersahabat.
Pria yang tadinya sempat berbincang bersama Amla tadi mendekat dan langsung saja mengambil alih wanita itu, menyeretnya paksa untuk dibawa menuju mobil.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...