Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Akan aku buat kau terus saja berharap.


__ADS_3

"Jovan!" Raisa berbinar, tiba-tiba saja hatinya lega saat melihat sosok pria yang begitu dirinya rindukan itu.


Namun senyumnya itu tidak bertahan lama, kala melihat Jovan yang ternyata mendekati Rymi.


"Ada apa?" tanya Rymi.


Raisa melihat interaksi antara keduanya, mengapa sepertinya mereka tampak saling mengenal.


"Aku sudah diberi tahu oleh Ayaz!" ucap Rymi.


"Untuk mereka, biar menjadi urusanku saja!" ucap Jovan, ia menatap Raisa dan Wana bergantian.


"Kau yakin?"


"Kenapa?"


"Ini permintaan Yaren! Kau baru saja membuat hubungan baik dengannya."


"Tapi aku tidak bisa membebaskan mereka begitu saja." sergah Jovan.


Raisa terperangah kala mendengar apa yang baru saja terucap dari bibir Jovan, apa maksudnya?


"Terserah kau saja!" ucap Rymi acuh.


"Rym..." Jovan memegang tangan Rymi, pria itu meminta sedikit pengertian Rymi. Perdebatan mereka waktu itu membuat keduanya menjadi canggung.


"Aku tidak akan membantumu Jo!"


"Kau sebelumnya juga melakukan ini pada kami bukan?"


"Rym, jika itu terjadi, maka aku juga bertanggungjawab, jadi mana mungkin aku tidak berpikiran buruk?"


"Tapi kuanggap kau terlalu berlebihan, dengan kekuasaanmu seharusnya kau tidak perlu setakut itu!" bantah Rymi.


"Oke! Aku salah!" Jovan menyerah, "Aku tidak biasa menyelewengkan kekuasaan, itu adalah hal pertama bagiku, tapi untuk kedua orang ini aku benar-benar akan mengurusnya."


"Apa kau mau jika kami melepaskan ini padamu?" tanya Rymi, tatapannya sungguh terlihat sangat serius.


"Aku hanya ingin membalaskan semuanya!"


"Bagaimana jika aku katakan, setelah ini jangan lagi melibatkan aku dan Ayaz?" tanya Rymi, seolah membalikkan kata-kata Jovan tempo hari.


Jovan terlihat berpikir, lalu akhirnya dirinya mengangguk.


"Akan aku usahakan!"


"Sebaiknya kita akhiri saja, percayalah yang sedang kau pertaruhkan saat ini sama beratnya dengan apa yang Ayaz alami waktu itu, jika Ayaz mempertaruhkan nyawanya sedang kau mempertaruhkan kepercayaan." ucap Rymi.

__ADS_1


"Aku tidak ingin mengurusi masalah kalian terus-terusan, jadi bukankah lebih baik kita akhiri saja."


"Lagi pula, kau tinggal menikmati kehancuran mereka, tertawalah dan aku yakin kah bisa tidur dengan nyenyak setelah ini."


"Jovan... Apa maksudmu?" tanya Raisa, mendengar percakapan antara Jovan dan Rymi ia menjadi curiga, mengapa Jovan tiba-tiba saja berubah.


Jovan begitu malas menyahut, ia lebih memilih untuk memikirkan lagi perkataan Rymi.


"Sudahlah Raisa, ayo kita pergi!" sentak Wana, ia mengambil tangan putrinya itu dan hendak menuju ke luar.


Jovan berpikir cepat, apakah ia harus menghentikan itu atau membiarkan saja keduanya berlalu.


"Baiklah, akan aku lepaskan mereka, tapi aku tidak akan hanya diam saja, mereka tetap dalam pengawasanku!" ucap Jovan pada akhirnya.


"Itu terserahmu!" acuh Rymi, sembari melihat Raisa dan Wana yang hendak keluar.


"Tunggu Ma!" Raisa merasa ia harus mengetahui sesuatu.


"Apa lagi? Ayo!" ajak Wana, "Kesempatan tidak datang semudah ini!" lanjutnya berbisik.


Raisa menatap Jovan, lalu perlahan mendekat, "Ada apa?" tanya Raisa menatap tajam Jovan.


"Kenapa?" Jovan bertanya balik.


"Apa hubunganmu dengannya?" tanya Raisa langsung.


"Mengapa kalian tampak dekat? Dan juga, mengapa kau mengatakan itu?"


"Apa? Hahahahaha!" Jovan tergelak keras mendengar pertanyaan Raisa.


"Kau sungguh ingin mengetahuinya? Raisa Kharunia, aku rasa kau tidak akan sanggup mendengar kenyataan yang sebenarnya!"


"Katakan? Aku yang mengira kedatanganmu ke sini adalah angin segar, namun apa aku salah mengira?"


"Biar kuberi tau, aku sama sekali tidak pernah mencintaimu, aku mendekatimu waktu itu adalah karena Yaren." jelas Jovan.


"Karena Yaren?" heran Raisa.


"Sepertinya, kau telah dimanfaatkan... Bukankah itu cukup membuktikan bahwa kau memang bodoh, sampah tidak berguna!" sambung Rymi, ia juga cukup menikmati wajah terkejutnya Raisa.


"Diam kau!"


"Ck! Bawa saja mereka Jo, melihat betapa tidak tau dirinya mereka membuat mataku sakit!"


"Raisa!" seru Jovan, "Benar, karena Yaren, aku mendekatimu hanya karena Yaren, karena dia adalah adik kandungku!" jawab Jovan langsung.


"Aa... Apa? Adik kandung?" Raisa lebih-lebih terkejut.

__ADS_1


"Kau bilang apa? Adik kandung, yang benar saja?" kali ini Wana, ia juga tidak kalah terkejutnya dari Raisa. Mendengar sesuatu yang baginya sangat tidak mungkin itu dan tentunya jika yang baru saja didengarnya ini adalah benar, itu berarti selama ini dirinya benar-benar telah dibohongi oleh Jovan.


"Mengapa? Apa kalian tidak percaya?"


"Bagaimana bisa?"


"Dia adalah anak Mamaku, Lily Andara... Bukankah kau sudah mengetahui siapa nama dari orang tuaku, bahkan semua orang yang mengenalku pun mengetahui itu, bukankah nama Mamaku dan nama Mamanya Yaren adalah sama? Kalian saja yang baru menyadarinya." jelas Jovan.


Wana tampak berpikir, mengapa dirinya tidak sedetil itu, padahal Jovan sama sekali tidak menutupi apapun tentang informasi kehidupannya, yah mungkin karena selama ini dirinya kelewat tidak peduli tentang Yaren hingga banyak sekali yang terlupakan.


Apa lagi, semenjak Raisa berpacaran dengan Jovan tempo hari, percayalah setiap harinya selalu saja diiringi kebahagiaan.


Dirinya juga baru ingat, semenjak ia berhasil mengusir Yaren dari rumah utama Argantara, semenjak itulah Jovan tiba-tiba memutuskan Raisa tanpa sebab apapun, tanpa penjelasan, bahkan pergi pun Raisa tidak diberikan alasan untuk keputusannya, sehingga membuat Raisa kehilangan kendali dan mungkin saja membuat onar hingga hamil seperti itu. Dirinya tahu betul bahwa Raisa benar-benar mencintai pria di hadapannya ini.


"Jadi... Selama ini, kau membohongiku?" sergah Raisa.


"Tepat sekali! Ternyata kau bisa mengerti dengan baik." sahut Jovan santai.


"Mengapa kau lakukan itu, apa salahku?"


"Sampai saat ini pun kau masih mempertanyakan apa kesalahanmu?"


"Apa kau merasakan sakitnya?"


"Brengsek..." umpat Raisa.


"Aku hanya membalaskan apa yang seharusnya memang aku kembalikan!"


"Bagaimana rasanya, putus sekolah, rasanya tertinggal, bagaimana rasanya terkucilkan, bagaimana rasanya sendirian tanpa ada siapapun yang bisa mengerti dirimu, bagaimana rasanya terabaikan, sebentar lagi kau akan menikmati masa-masa itu."


"Jovan, kau benar-benar keterlaluan!" berang Raisa, tiba-tiba rasa cintanya yang beberapa waktu lalu masih menggunung untuk Jovan kini sudah bercampur dengan kekecewaan, melihat wajah puas Jovan dirinya benar-benar merasakan sakit hati yang tiada terhingga.


"Kau menghancurkanku hanya demi gadis sialan itu!"


"Tutup mulutmu!" teriak Jovan, ia tidak suka siapapun menghina Yaren.


"Yang kau katakan sialan itu, adalah adikku! Sebagai seorang kakak, tidak mungkin aku akan membiarkan penghinaan itu, kau benar-benar tidak bisa menyadari kesalahan."


"Lihat saja, aku... Aku akan membalaskan perlakuanmu ini, aku akan membuat kau bertekuk lutut padaku!"


"Kalau begitu, lakukanlah!" Jovan menatap tajam Raisa dan Wana secara bergantian, "Aku menunggu saat itu tiba, dan akan aku buat kau terus saja berharap!"


"Aarggghhh!"


Wana menarik Raisa untuk keluar, dia sudah tidak memikirkan tentang Jovan yang menipunya, yang jelas ia hanya ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu.


Bersambung...

__ADS_1


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2