
"Namun, ini harus diselesaikan, tidak bisa dibiarkan berlarut, tidak mudah untuk mengikhlaskan kekecewaan, tapi mudah saja untuk membuat semuanya semakin rumit."
"Daddy sudah begitu dewasa, banyak hal dan keputusan yang sudah Daddy ambil selama Daddy hidup, bukankah Daddy pernah bilang padaku dan Ayaz, 'Jangan pernah ada keraguan, pemikiran yang ganda hanya akan menyesatkanmu. Tentukan pilihanmu, jikapun pada akhirnya itu salah, maka kau hanya perlu membenarkannya, tidak untuk di sesali!' Bukankah itu rasanya cukup saja untuk memberikan Daddy alasan mengapa Daddy harus punya keberanian?"
"Daddy hanya akan terus saja terpuruk dalam rasa sesal, aku pun tidak akan bisa menolong Daddy nantinya jika Daddy sudah masuk semakin dalam."
Marco menatap Rymi kagum, benarkah ini adalah seorang anak jalanan yang ia putuskan untuk membesarkannnya dulu.
"Kau sudah dewasa, rupanya kau sudah mempunyai cukup kata untuk menasihati orang tua ini, aku pikir di masa tuaku, aku hanya akan berdebat denganmu setiap hari, tapi nyatanya tidak, kau bisa menerangi jalan orang tua yang sedang tersesat ini, Rym... Aku rasa sudah sangat lama aku hidup, dan di seumur hidupku aku akan katakan kalau aku bangga memiliki putri sepertimu Rym." ucap Marco, ia mengambil tangan Rymi yang masih betah mengusap lengannya, ia kecup tangan itu dengan sayang. "Kau benar, aku harus berani, harus dengan berani mengaku bersalah, harus dengan berani mengatakan yang sebenarnya dengan saling berhadapan, dia menerimaku atau tidak maka itu bukan urusanku, di sini aku hanya harus bertanggung jawab. Hanya tentang bagaimana tanggung jawabku!"
"Aku yakin Daddy kuat, Daddy bisa!" Rymi memberikan semangat.
Marco memejamkan mata, penjelasan dari Rymi yang baru saja dirinya dengar tadi nyatanya cukup saja untuk menjadi sebuah pencerahan.
...***...
Pagi menjelang, Jovan membuatkan sarapan untuk Yaren, hari ini adalah hari pertama Yaren tinggal di rumahnya, jadi ia ingin memperlakukan Yaren begitu spesial. Sekalian juga mencoba menghibur suasana hati Yaren yang Jovan pikir pastilah tidak begitu baik.
"Kau sepertinya takut saja di cap menjadi kakak yang menelantarkan adiknya, kau terlalu bersemangat." sindir Ayaz. Tangannya dengan lincah meracik sendiri kopi pagi untuknya di mesin pembuat kopi.
"Aku pikir selama ini kau menyukai kopi instan?" sindir Jovan.
"Aku hanya memanfaatkan barang yang sudah ada, apa kau termasuk tuan rumah yang pelit?" sindir balik Ayaz.
"Setidaknya aku harus memperlakukan tamu dengan baik kan!"
__ADS_1
"Ya baiklah tuan rumah!"
Ayaz duduk di kursi setelah mendapatkan kopinya, dia mengamati kegiatan masak memasak yang dilakukan Jovan.
"Dia sulit dipahami." ucap Ayaz membuka percakapan.
"Aku yakin dia pasti mau membantu." sahut Jovan, sembari tangannya dengan lihai meracik bumbu. "Apa karena itu, kau harus tidur di sofa semalam?" tanya Jovan, nadanya penuh dengan sindiran.
Ayaz malas menanggapi, kalau sudah tau, lalu apa bagusnya bertanya, mengesalkan saja!
"Seorang Ayaz, tang nyatanya tidak kenal takut akan apapun, bisa mengalah saja saat istrinya mengeluarkannya dari kamar! Hahahaha!" pagi ini Jovan benar-benar menang, dia benar-benar puas hati bisa meledek Ayaz.
"Apa lehermu itu tidak penat?" tambah Jovan lagi dengan gelak tawanya.
Jovan terpaksa menghentikan tawanya, berusaha menahan senyumnya, Ayaz benar-benar tidak bisa disinggung, tapi pagi ini rasanya Jovan benar-benar tidak mau mengalah, jadi Jovan mempunyai satu siasat untuk menghadapi tatapan sengit itu. Jovan lalu berkata, "Yaren..." melihat ke arah pintu seolah kaget akan kedatangan adiknya.
Spontan saja Ayaz menoleh dengan wajah yang tiba-tiba pucat, pagi ini ia belum melihat istrinya karena tidur yang terpisah dan Yaren belum juga keluar dari kamar. Ia bangkit dan mencari-cari keberadaan Yaren, namun tidak juga menemukan istrinya itu.
"Bwahahahaha!" tawa Jovan menggelegar, pagi ini tampaknya Ayaz kalah telak dengannya.
"Kau benar-benar mau mati Jo?" ucap Ayaz garang.
Sementara di sebuah kamar, Yaren sudah selesai akan kegiatannya, dia bersiap-siap untuk keluar kamar, namun langkah kakinya meragu karena takut jika akan berhadapan dengan Ayaz, ia tidak siap karena ia yang pernah mengusir Ayaz tadi malam.
Suaminya itu bukanlah orang yang bisa disinggung, dia melakukan itu semalam atas dasar ketidaksadaran, Yaren benar-benar dipenuhi kekecewaan dan seolah tidak bisa berpikir jernih, ia begitu terkejut akan apa yang diungkapkan Ayaz tentang kisah hidup suaminya itu.
__ADS_1
Flashback.
"Yaren..., Yaren, kau tidak bisa melakukan ini padaku Yaren." teriak Ayaz saat Yaren mendorong tubuh itu keluar kamar.
"Pergi, aku tidak mau melihat wajahmu, aku terlalu takut jika harus percaya dengan apa yang baru saja. kudengar." tangis Yaren masih terisak, menurutnya ia benar-benar tidak bisa bersama dengan Ayaz di ruangan yang sama malam ini, Yaren tidak akan bisa memikirkan keputusan apa yang akan dirinya ambil, Yaren butuh waktu sendirian untuk mencerna semuanya.
Namun Ayaz, ini adalah pertama kalinya seseorang melakukan penolakan terhadapnya. Tentu saja ia tidak terima, namun nampaknya pengecualian untuk Yaren, hendak marah pun Ayaz tampaknya tidak bisa.
"Yaren, kita tidak bisa seperti ini Yaren, aku tidak bisa terpisah denganmu!" ucap Ayaz. Tidak! Akan sangat memalukan bukan, pertama kalinya mereka bertengkar sampai pisah ranjang begini dan sayangnya itu harus terjadi di kediaman Jovan, bagaimana Ayaz bisa menghadapi muka Jovan yang pasti akan sangat suka hati untuk meledeknya nanti.
"Brakkk!" pintu dikunci. Yaren menyandarkan tubuhnya di balik pintu, mengapa kisah rumah tangganya ini begitu rumit, tidak bisakah ia mengalami drama rumah tangga dalam tingkat kesabaran yang biasa saja, seperti hanya menghadapi mertua yang tidak mengenakkan hati misalnya, atau mendapatkan ipar yang selalu saja mengajaknya bersaing dalam urusan dunia, iri dengki akan kehidupannya, sungguh konflik semacam itu baginya lebih masuk akal dari pada kisah rumah tangga yang dialaminya saat ini.
Flashback off.
Yaren sudah memutuskan sesuatu, ia juga tidak mungkin sanggup untuk kehilangan Ayaz, maka hentikan rasa peduli akan sesama, kali ini terserah orang mau menganggapnya begitu jahat, dia hanya ingin bahagia.
Yaren juga sudah mengucapkan kata maaf berkali-kali untuk jiwa Aki Yarkan di sana, maaf kali ini dia tidak bisa membela kebenaran, karena nyatanya kebenaran itu pasti akan melukainya, Yaren juga berjanji setelah Ayaz dinyatakan selamat nanti ia akan mengunjungi makam Ali Yarkan untuk benar-benar meminta maaf, hanya itu yang bisa dirinya lakukan untuk bersikap sedikit tau diri dalam permasalahan ini. Ia juga akan meminta maaf atas nama suaminya.
Tangannya terulur menyentuh gagang pintu, ia siap untuk hari ini, tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain memberikan yang terbaik untuk suaminya itu, meski yang dirinya lakukan adalah sebuah kesalahan sekalipun.
"Untuk Ayaz!" gumamnya.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1