
Ayaz sampai di rumah saat malam sudah menunjukkan pukul sebelas. Dilihatnya Yaren sudah tertidur di ranjangnya.
Letih seolah hilang saat Ayaz melihat wajah itu. Ayaz tersenyum samar, pria itu tidak menyangka jika benar dirinya sudah jatuh cinta pada Yaren, secepat itu! Bagaimana bisa?
Ayaz mengambil handuk di gantungan kemudian gegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selesai mandi Ayaz ingat, dirinya harus menelpon Rymi, menanyakan kinerja rekannya itu.
“Kau, di mana?”
^^^“Di rumah!”^^^
“Kau sudah memberikan dokumen itu padanya?”
^^^“Sudah kubuang tepatnya.”^^^
“Apa?”
^^^“Yah, target menyuruhku untuk membuang dokumen itu, kau tau bahkan aku hampir gila dibuatnya.”^^^
“Kenapa?”
^^^“Perfectionist, aku yang lugu dan polos ini mana bisa bekerja sama dengannya.”^^^
“Apa yang terjadi?”
^^^“Menurutmu?”^^^
“Dia seperti tidak menyukaimu?”
^^^“Kurang tepat, lebih tepatnya aku harus banyak belajar sabar darimu!”^^^
^^^“Dia menyebalkan!”^^^
“Kau bukan orang yang mudah menyerah, lagi pula tadi kau percaya diri sekali kau pasti bisa membuatnya takluk!”
^^^“Yah, ini baru sehari, bukan apa-apa!”^^^
“Semoga harimu menyenangkan!”
^^^“Semoga saja.”^^^
Ayaz menutup panggilan teleponnya. Melihat ke arah rice cooker, apa Yaren masak nasi hari ini?
Ada sedikit nasi, kemudian Ayaz membuka daging yang sempat dibelinya tadi lalu memasaknya cepat. Dirinya akan mengisi perut terlebih dahulu untuk bekal tidurnya.
Yaren terbangun, mengendus bau masakan yang menggugah seleranya, menandakan Ayaz pastilah sudah kembali.
“Ayaz sudah kembali, aku harus bagaimana?” gumamnya pelan.
Sebenarnya dirinya juga sangat lapar, tadi dirinya hanya memakan mie instan di siang hari dan itu sangat membosankan baginya.
“Kruukkk kruukk.” Seolah enggan bekerja sama dengannya, perut Yaren malah meminta untuk dimanjakan.
Yaren bangkit, dirinya akan menebalkan mukanya untuk menemui Ayaz di dapur, tentu selanjutnya Ayaz sudah tau apa yang diinginkannya.
“Kau sudah pulang?” sapa Yaren pada pria yang tengah mengaduk-aduk masakannya.
“Kau terbangun, maaf aku mengganggu tidurmu.” kata Ayaz lembut.
“Ayaz...”
“Duduklah, sebentar lagi siap!”
Benarkan, Ayaz memang sudah tau apa tujuan Yaren menemuinya ke sini.
“Bagaimana hidupmu tanpaku?” tanya Ayaz, tangannya masih juga sibuk menyelesaikan masakannya.
__ADS_1
“Rumah ini benar-benar sepi saat malam hari!” sahut Yaren.
“Begitukah?” tanya Ayaz memastikan, bahkan dirinya berencana akan meninggalkan Yaren lagi besok.
“Yah, mau bagaimana lagi, aku...”
“Sudah siap!” Ayaz menghidangkan masakannya di atas meja.
Seketika Yaren menjadi lupa tentang apa yang akan dirinya katakan, padahal tadi dirinya ingin protes dan melayangkan keluhan karena Ayaz meninggalkannya.
Ayaz mengambil nasi di rice cooker, membagi nasi yang tersisa sedikit itu untuk Yaren dan dirinya.
“Maafkan aku yang tidak memasak nasi!” sesal Yaren.
“Tidak apa, bukan masalah!” ucap Ayaz, lagi-lagi lembut, Yaren sedikit heran dengan perubahan sikap Ayaz.
Keduanya mulai menyantap makan malam seadanya itu. Ayaz hanya memasak semur daging untuk menu makan malamnya, simpel namun cukuplah membuatnya berselera.
...***...
Rymi menarik pelatuk di senjata apinya, Dorrrr! Tepat sasaran, buah semangka itu hancur sebab terkena tembakannya.
“Dasar Rangga sialan! Aku tidak suka diperlakukan seperti ini.” Dengus kesal Rymi.
Flashback.
Rymi mulai membuat lagi kopi baru untuk Bosnya, kopi susu sesuai permintaan Bosnya itu sudah siap untuk dihidangkan.
Tak lupa Rymi juga menambahkan satu sendok penuh garam untuk mengerjai Bosnya. Rasa dendam bahkan sudah menjarah karena dirinya tidak terima diperlakukan seperti itu.
“Silakan diminum Pak!” ucap Rymi saat dirinya sudah sampai di ruangan Bosnya itu.
“Kau yakin ini enak?” tanya Sam meragu.
“Iya Pak!”
“Eh, maksud saya semoga enak.”
“Mengapa tidak yakin?”
Rymi menghela napasnya pelan, “Apa Bapak tidak berniat mencobanya, Bapak bisa mencobanya dulu, lalu akan tau apa kopi itu enak atau tidak?” jawab Rymi sembari menahan kesal.
“Kau berani mengaturku?”
“Maksud saya...”
“Cicipi dulu!” titah Sam.
“Aa apa?” tanya Rymi. Matanya melotot tidak percaya.
“Kalau begitu cicipi dulu, aku tidak yakin akan sesuatu buatanmu!” perintah Sam.
“Tapi Pak!”
“Kau berani membantah Bosmu?”
“Hah, bukan maksud saya begitu Pak, tapi apa tidak apa jika saya mencicipinya terlebih dahulu?” tanya Rymi hati-hati.
“Kau tes rasa dulu, kalau aku melihat ekspresimu saat meminumnya tidak ada masalah atau terjadi sesuatu, maka kau bisa membuatkanku yang persis seperti itu lagi, satu untukku yang baru.” Jelas Sam.
Deg deg deg, jantung Rymi berpacu lebih cepat, oh ya Tuhan, sumpah demi apapun, Rymi dongkol!
“Hehe, harus diminum Pak?” tanya Rymi memastikan sembari nyengir kuda.
“Kenapa? Apa ada masalah?” tanya Sam.
“Ah, enggak Pak, iya saya minum ya Pak!” ucap Rymi.
__ADS_1
Rymi dengan segala reaksi tidak nyaman yang tertahan, mulai meminum kopi asin buatannya itu. Berusaha untuk memberikan reaksi terbaik, meski mulutnya itu ingin sekali muntah di hadapan Rangga Donulai, Bos yang sudah di cap menyebalkan olehnya mulai hari ini.
“Kenapa reaksimu begitu?” tanya Sam mulai curiga.
“Ah tidak, tidak apa Pak, saya hanya tidak terbiasa meminum kopi, jadi rasanya sedikit berbeda, tidak nyaman!” ungkap Rymi.
“Oh begitu, mengapa tidak bilang?”
“Em, tidak apa Pak!”
“Bagaimana, aman?” tanya Sam.
“Aman Pak!” jawab Rymi.
“Ya sudah, kau kembali lah ke mejamu, kau sudah bekerja keras!” ucap Sam santai saja.
“Hah!”
“Iya, silakan kembali, nanti akan aku panggil saat aku butuh sesuatu.” Lanjut Sam.
“Baik Pak!”
Rymi melangkah keluar, hidungnya kempang kempis, seharusnya kopi itu mendarat mulus di lidah Bosnya, tapi malah dirinya yang harus menanggung akibat perbuatannya itu sendiri.
Saat aku menjadi penjahat, baru kali ini karma berlaku padaku, sial!
Flashback off.
“Aku harus membalas perbuatannya, akan aku buat dia bertekuk lutut padaku!” gumam Rymi.
Dorrr! Satu tembakan lagi mendarat tepat sasaran.
“Ada apa?” tanya seseorang tiba-tiba.
“Bos!” pekik Rymi, terkejut kala mendapati Marco sedang berada di dekatnya, sejak kapan Bosnya itu berada di rumahnya?
“Aku mengkhawatirkanmu, gadis kecil!” ucap Marco.
“Dad!” sahut Rymi melemah.
“Rym, saat menjalankan misi, aku tidak pernah sekalipun terbawa emosi, tenang seperti air yang kadang malah seringnya menghanyutkan itu lebih terlihat baik!”
“Jika aku benar-benar anakmu, pasti aku sudah mewarisi sifat memabukkanmu ini!” kagum Rymi pada Marco.
“Kau tetap anakku!” ucap Marco.
“Yah, anak angkat!”
“Aku bahkan melewati masa-masa kecilmu, aku yang merawatmu, kau sepertinya tidak menghargai pengorbananku!” sindir Marco.
“Dad, mengapa aku melihat gambaran dirimu di Ayaz, maksudku begitu banyak kesamaan antara dirimu dan Ayaz!” ungkap Rymi tiba-tiba.
Dirinya sudah lama ingin mengatakan ini, namun masih ada keraguan dan dirinya juga takut menyinggung hati Bos yang juga adalah Ayah angkatnya itu.
“Hemm, mungkin Ayaz hanya melihat diriku sebagai acuannya, hal begitu wajar saja terjadi pada seorang anak buah dan Tuannya!” jawab Marco sekenanya.
“Dad, tapi sekilas wajah kalian juga mirip!” ucap Rymi lagi.
“Aku memperhatikannya beberapa hari ini!” lanjutnya.
“Rym, jangan mengada-ngada!”
“Dad, sungguh aku serius!”
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1