
"Bisa kau jelaskan, mengapa kau bisa berada di sini?" tanya Yaren pada seorang gadis sebaya dengannya.
"Yaren..." gadis itu tampak gugup, mencoba berpikir bagaimana cara menghadapi situasi yang kurang mengenakkan ini.
"Apa kau menikahi pria di rumah ini?" tanya Yaren lagi, meneliti tubuh gadis itu.
"Tidak, tidak tidak bukan begitu."
"Lalu?"
"Dia adikku!" ucap seseorang, yang dikenali Yaren sebagai seseorang yang pernah mengaku keluarganya. Dan yah, ia berada di sini juga untuk menanyakan itu.
"Anda bukankah?"
"Orang yang mengirimkan paket itu!" ucap Jovan.
Yaren mengangguk, ia meneliti wajah itu, merasa tidak pernah mengenali keluarganya dengan wajah seperti itu. Apa pria di hadapannya ini sedang mengaku-ngaku, membual?
"Aku akan jelaskan." ucap Jovan, diliriknya Ayaz yang sudah duduk santai di kursi kesehatan miliknya, merilekskan diri di sana dengan tanpa dosa atau beban apapun. Ingin sekali Jovan memenggal kepala pria sombong itu. Sumpah!
"Jangan pedulikan aku, kau bisa memulai persentasinya. Perkenalkan saja siapa dirimu!" ucap Ayaz santai, yang jujur saja semakin menyulut pemasaran Yaren.
"Kita pernah bertemu sebelumnya, dan dia juga pernah bertemu denganmu sebelumnya." ucap Jovan sembari menunjuk gadis tadi.
"Iya!" jawab Yaren bingung.
"Apa kau percaya, jika hari ini aku katakan bahwa kau adalah adikku?" tanya Jovan hati-hati.
"Hah?" Yaren bertambah heran, meski Ayaz sudah memberitahunya, namun mendengar apa yang dikatakan orang di hadapannya ini, mengapa sulit menerima. Pelan, kepala itu menggeleng. Yaren tidak percaya.
__ADS_1
"Ayla! Apa itu nama Ibumu?" tanya Jovan.
Yaren menunduk, mengingat nama itu rasa hati Yaren begitu hancur. "Ya!" jawab Yaren.
"Foto yang saat itu kuberikan padamu, apa belum cukup membuktikan bahwa kita adalah sedarah?" tanya Jovan lagi.
Hening,
Hening,
Hening,
"Aku, datang ke rumah Argantara, untuk memastikan kau berada di sana, melihat apa kau baik-baik saja, makan dengan baik, tidur dengan cukup, aku tau Wana tidak akan membiarkanmu hidup tenang, saat aku melihatmu pertama kali, ingin rasanya aku membawamu ke istana ini, memberikan apa yang sudah seharusnya menjadi milikmu, tapi aku tidak bisa, karena kau bukan hanya milik kami, aku melihat Argantara menyayangimu, yaahh meski pada akhirnya, aku merasa dia nyatanya menipuku." jelas Jovan.
"Apa maksudnya? Aku tidak mengerti, tipuan apa? Papa, apa maksudnya menipumu?" tanya Yaren.
"Kau terlena akan kasih sayang Argantara, padahal yang sebenarnya Argantara lah yang hidup dalam kekayaan Ibumu, dia dan Wana tidak bisa mengabaikanmu karena kau berperan penting untuk perusahaan itu, saat Argantara dengan tanpa ragu mengisirmu hari itu, sejak itu juga aku sudah berubah pikiran, bagiku tidak ada orang baik di rumah itu." lanjut Jovan lagi.
"Mama..."
"Dia juga Ibuku, aku pasti tidak akan menerima semua itu dengan mudah."
"Sebenarnya, apa yang terjadi, katakan mengapa kita bisa mempunyai Ibu yang sama." tanya Yaren, sekelebat kemungkinan memenuhi pikirannya, mungkinkah Mamanya dulu adalah wanita yang sudah pernah menikah, atau pria di hadapannya ini adalah anak angkat, atau mungkin juga pria ini adalah anak haram, atau, atau apapun itu, mengapa dia dan pria ini bisa satu ibu sebagai saudara sekandung.
"Mamamu pernah menikah dengan Ayahku, aku memanggilnya Ibu, kami hidup bahagia sampai saat umurku tujuh tahun." Jovan menghela napasnya, memberikan jeda untuknya memberikan semua penjelasan.
Yaren masih menyimak, tidak berniat untuk menyela, wanita itu cukup menghargai mungkin saja yang diceritakan pria itu memang benar.
"Suatu ketika, Ayahku tidak sengaja mengkhianati Ibuku, dia..." Jovan memejamkan matanya, sembari melanjutkan kata-katanya, "Dia memperk*sa seorang pelayan yang saat itu sedang membersihkan kamar mereka, pada hari itu Ibuku sedang berada di rumah keluarganya untuk acara tahunan, sedang Ayahku yang saat itu dibawah kendali obat perangsang karena dijebak oleh salah satu rekan bisnisnya berusaha untuk menahan gairah itu dan memilih mengunci diri di kamar, namun naasnya, seorang pelayan yang masih berada di kamar itu untuk bertugas harus menanggung segala perbuatan Ayahku yang nyatanya masih tidak bisa melawan, Ayahku dipengaruhi obat perangsang, dia melihat seorang pelayan itu sebagai Ibuku, dan... Pelayan itu..."
__ADS_1
"Hentikan!" ucap seseorang, Yaren menoleh ke arah gadis yang bersuara, gadis itu sudah menangis sembari terduduk di lantai, "Jangan katakan itu di hadapannya..."
"Cemir!" lirih Jovan.
Yah, gadis itu adalah Cemir, sahabat dekat Yaren.
"Dia tidak akan membencimu!" bujuk Jovan.
"Katakan, katakan saja." Yaren begitu penasaran akan lanjutan ceritanya, sebuah kenyataan yang seharusnya memang terungkap baginya.
"Cemir, adalah anak dari pelayan itu, maka bisa dikatakan kau adalah saudara kandungku satu Ibu, sementara Cemir adalah saudara satu ayahku, apapun yang terjadi di masa lalu, bukankah sebaiknya kita lupakan segala kenangan buruk itu, belajarlah menerima, siapa kita, kita hanyalah anak-anak yang merindukan kasih sayang orang tua, tapi aku... Sebagai yang tertua, pengganti orang tua kita, aku berjanji akan menjaga kalian meski aku harus menaruhkan seluruh nyawaku. Aku tidak akan membiarkan kita terpisah lagi."
Kata-kata dramatis itu meluncur begitu saja, Jovan saja tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya, benarkah dia mengatakan itu, mencoba menyelesaikan masalahnya, meski ini baru saja dimulai.
"Apa... Apa kenyataannya benar begitu?" tanya Yaren meragu.
Jovan mengangkat tangannya, terarah untuk membelai pipi Yaren, namun sebuah suara menghentikannya. "Ehhmmm!" Ayaz sudah menatapnya dengan nyalang, sudahlah manusia bucin pasti akan bertindak jika saja tangan itu benar-benar sampai di pipi Yaren.
"Sudah lama sekali, sejak aku melihatmu, aku ingin sekali memberitahumu kenyataan ini, sudah lama sekali, maafkan aku... Maafkan aku yang baru bisa memberitahumu saat ini, maafkan aku... Yang nyatanya sudah sangat terlambat." ucap Jovan.
Yaren menggeleng pelan, tidak ingin percaya, tapi pria itu nyata berada di hadapannya, berkata sangat penuh percaya diri, dan lagi pula tidak ada alasan Yaren menyangkalnya.
"Mengapa? Mengapa Mama tidak pernah mengatakan ini, hal sebesar ini? Ku kira Mama adalah seseorang yang tanpa keluarga, hingga aku menjadi begitu bergantung pada Papa, mengapa?"
"Ibuku kecewa, sejak kejadian itu perceraian tidak bisa terhindarkan, Ibuku meninggalkan kami, ayahku sangat terpuruk dan jatuh sakit, pelayan itu, ah tidak maksudku Ibu Darinah, harus menjalani perawatan karena trauma dan sampai kini pun masih berada di rumah sakit jiwa, bukan hanya karena trauma akan kisah kelamnya di hari itu, lebih-lebih karena Ibu Darinah merasa bersalah telah membuat Ayah dan Ibuku berpisah." jelas Jovan lagi.
"Aku akan menceritakan lebih banyak padamu, tentang bagaimana Ibu, apa kau mau dengar?" tanya Jovan. Ia menatap lekat wanita yang nyatanya adalah adik kandungnya itu.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...