
"Terimakasih!" ucap Ayaz kala keduanya sudah selesai melakukan olahraga malamnya. Sepasang suami istri itu nampak menikmati moment mesra mereka di ranjang.
"Ayaz, bolehkah aku bertanya?" tanya Yaren.
"Emm!" Ayaz mengangguk, Yaren masih berada dalam pelukannya, pria itu membelai lembut puncak kepala istrinya.
"Apa kau benar berniat menghancurkan perusahaan Papaku?" tanya Yaren hati-hati. Dari nada bicaranya Ayaz bisa menangkap ketidaksukaan.
"Menurutmu?"
"Apa harus, emmm... maksudku, sudahlah aku tidak menyimpan dendam pada mereka, terlepas dari semua yang aku alami, aku juga berharap mereka bisa berbahagia." ucap Yaren.
"Istriku, kau murah hati sekali." ejek Ayaz.
Bibir Yaren mengerucut, Ayaz malah tidak serius menanggapi pertanyaannya.
"Cup!" Ayaz mengecup singkat bibir yang tampak menggoda itu.
"Kau tidak seharusnya mengurusi sejauh ini." ucap Ayaz, matanya menatap mesra Yaren.
Tapi itu Papaku, meski mereka begitu tidak berperasaan, tapi mereka tetap keluargaku.
"Aku bahagia, bahagia hidup berdua seperti ini bersamamu, bagiku itu sudah cukup." ucap Yaren, meski bagaimanapun baginya ia harus menyelamatkan keluarganya.
"Sayangnya aku tidak cukup murah hati seperti istriku ini, jadi bagaimana?" tanya Ayaz acuh.
Yaren tertunduk, bayangan dirinya yang harus selalu menurut pada Ayaz kembali ia ingat-ingat lagi.
"Kau sudah banyak menderita, bagiku sudah saatnya giliran mereka." ucap Ayaz, si bucin sudah mulai menunjukkan taringnya.
"Tapi..."
"Shuttt, apa kau sedang menunjukkan perlawanan?" sindir Ayaz.
"Eh, tidak... Bukan begitu Ayaz, maksudku..."
"Ooohh, seharusnya aku kecewa untuk hal ini." berkata dengan menampakkan mata yang sendu, terlihat seperti menyedihkan.
"Ayaz..." lirih Yaren, ia merasa bersalah telah menentang Ayaz, namun mau bagaimana lagi, bagai dilema ia benar-benar juga tidak bisa membiarkan kehancuran terjadi pada keluarganya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin mendengar apapun!" kekeh Ayaz, pria itu memeluk erat istrinya, menenggelamkan wajah Yaren pada dada bidangnya.
Sudah kukatakan aku bukan orang baik, pengampunan seperti apa yang bisa mereka dapatkan saat telah dengan hebat membuat istriku menderita dulunya, cih... Keluarga seperti itu benar-benar harus dibuang layaknya sampah.
Andai kau tau, mereka sama sekali tidak peduli padamu, dan menuduhmu sebagai wanita murahan yang sudah berani tidur dengan laki-laki asing, bagaimana perasaanmu? Padahal, merekalah yang memutuskan untuk membuangmu tanpa membawa apapun.
Kau harus bahagia Yaren, akan aku buat kau melupakan keluarga sampahmu itu dan hidup bahagia bersamaku.
"Emm..." suara meronta-ronta terdengar, Ayaz dengan segera melonggarkan pelukannya, dilihatnya Yaren yang nampak kesulitan mengatur napasnya.
"Maaf!" ucap Ayaz.
"Ayaz, kau hampir membunuhku!" pekik Yaren, sungguh dirinya juga terbawa emosi.
Ayaz menyunggingkan senyumnya, lalu dengan cepat ia kembali merengkuh Yaren dalam pelukannya lagi. "Sayang, satu kali lagi yaaa!" pinta pria itu. Melihat Yaren yang tampak kacau seperti itu mengapa rasanya begitu menggemaskan.
...***...
"Ini sudah malam, apa kau tidak apa?" tanya Sam, Rymi menuangkan lagi bir ke dalam gelasnya, pikirannya sedikit kacau karena tidak menyangka akan terjebak pada sebuah hubungan seperti ini dengan atasannya.
Terlebih, karena sebuah alasan. Wanita itu bahkan menganggap dirinya sudah setengah gila karena hidupnya yang selalu saja diatur.
Setelah berkencan, menuruti kencan seperti apa yang diinginkan Rangga yang ternyata adalah kencan ala-ala abege yang bagi Rymi bukan lagi sesuai umurnya, Rymi nampak lelah dan berakhir di sebuah klub malam. Namun, tidak sampai di situ, tadinya ia sudah berpisah dari Rangga, memilih jalan masing-masing karena Rymi tidak akan membiarkan Rangga mengantarnya sampai rumah, namun tidak disangka pria itu ternyata masih mengikutinya juga sampai ke sini.
"Merve." ucap Rymi, wanita itu tersenyum smirk memikirkan sebuah nama, Rangga mengenalnya dengan nama itu, entah bagaimana reaksi pria dihadapannya ini jika mengetahui kalau dirinya adalah penipu.
"Hahahahaha!" tawa keras itu kemudian keluar dari mulut Rymi yang memang sudah mulai mabuk.
"Ayo kita pulang, aku bisa mengantarmu pulang." ajak Sam.
Rymi mendelik tajam, wanita itu menatap tidak suka pada atasannya itu.
"Mengapa? Mengapa aku harus terjebak dalam hubungan konyol seperti ini? Heh, kalian berdua pasti bahagia kan melihatku begini? Aisshhh, bajingan... sudah kubilang aku tidak mau, kalian masih juga memaksaku." ucap Rymi mulai meracau.
Sam begitu bingung dengan apa yang di racaukan Rymi, apa maksudnya? Tapi, bukankah orang bilang, perkataan orang mabuk kadang menjurus ke apa yang sebenarnya orang itu tengah rasakan.
"Kau mulai meracau, sebaiknya kita pulang." tidak mau menanggapi lebih lanjut, karena Sam merasa mungkin apa yang baru saja dikatakan Rymi adalah bersifat pribadi, dan ia tidak seharusnya mendengar itu, meski Sam juga sedikit penasaran.
"Meracau? Hahahahaha!" Rymi lagi-lagi tertawa keras, dalam mabuknya ia menertawakan dirinya sendiri yang tidak bisa bebas memilih jalan hidupnya.
__ADS_1
"Marco sialan!" umpat Rymi. "Gila, bajingan, tidak waras, dasar tukang maksa! Aisshhh, aku juga sudah gila karenanya."
Marco, siapa Marco?"
Sam mendelik tidak suka, dalam hatinya bertanya siapa Marco, nama seorang pria yang keluar dari mulut mungil wanita yang di sukainya ini, apa hubungan Mervenya dengan pria bernama Marco? Pikirnya.
"Kau tau, aku ingin sekali lepas darinya, namun aku sungguh menyayanginya... Ashhh, aku benar-benar akan gila jika memikirkannya." Rymi membuka lagi satu botol bir untuk menemani malamnya, tidak peduli akan kehadiran Rangga.
Sam tersentak, mendengar pengakuan Rymi baru saja mengenai Marco, mengapa rasanya begitu menyakitkan.
"Dia... siapa?" tanya Sam, bolehkah ia menanyakan itu, bukan maksudnya memanfaatkan Rymi yang sedang mabuk untuk menggali informasi, namun dirinya begitu penasaran, kehidupan seperti apa yang tengah dijalani wanita yang disukainya ini.
"Dia?" tanya balik Rymi.
"Marco? Siapa dia?" tanya ulang Sam.
"Hahahahaha, kau menyebut nama itu, cih..." Rymi menggeleng pelan, menenggak lagi dan lagi birnya.
"Tolong hentikan Merve, kau... Kau sudah mabuk."
Mata Rymi mendelik tajam, wanita itu bangkit kemudian dengan cepat mencengkram kerah baju Sam, Sam yang tidak siap akan tindakan yang dilakukan Rymi itu tampak sedikit terkejut.
"Merve, hentikan memanggil namaku dengan nama itu." pekik Rymi garang. Beruntung dirinya tengah berada di ruangan VIP, jadi hanya ada dirinya dan Sam di ruangan itu. Jadi, meski dirinya berteriak pun tidak ada yang akan mendengarnya membuat keributan.
Semakin menatap mata Sam lekat, Rymi sungguh kesal pada pria itu.
"Mengapa kau mengikutiku sampai ke sini?" tanya Rymi. "Tidak cukupkah kau menggangguku di kantor, sampai aku ingin bersenang-senang seperti ini pun kau juga masih menggangguku." teriak Rymi kesal.
"Aiissshh, kalian memuakkan sekali, mulanya hanya berdua, dan kau malam ini menambah lagi daftar orang-orang memuakkanku menjadi tiga. Argggghhh, kalian bertiga memang sialan!" berang Rymi seolah menumpahkan seluruh kekesalannya pada Marco dan Ayaz.
Sam masih mencoba melepaskan cengkraman tangan Rymi di kerah bajunya, namun nyatanya cengkraman itu cukup kuat jika hanya untuk tangan seorang wanita.
"Hei, sekretaris! Kau sadar mengatakan itu pada siapa?" pekik Sam juga, ia ingin mencoba menyadarkan Rymi.
Rymi melemah, matanya kembali sayu seolah sangat tersakiti. "Kau benar, hiks hiks, tapi... Sayangnya aku tidak bisa mengabaikanmu..."
Mata Rymi kembali menatap Sam, Sam sungguh bingung dengan perubahan emosi Rymi. Namun beberapa detik kemudian, Sam benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Rymi padanya.
"Cup!" Mata Sam membulat, kala bibir Rymi benar-benar sudah menempel lembut di bibirnya.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...