Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Maafkan aku Nindi... Maaf...


__ADS_3

"Aku bisa membiarkanmu hidup, hanya dengan satu syarat, kau mau dengar apa syaratnya?" tanya Marco lagi.


Sian diam saja, namun dari pandangannya Marco tau pria yang tampak seumuran dengannya itu sedang menunggu kata selanjutnya yang akan dirinya ucapkan.


Marco mendekatkan wajahnya, "Kau harus menghidupkan kembali Nindiku!" ucap Marco, berbisik di telinga Sian. "Hahahahaha!" lanjutnya tertawa lagi, sudah seperti orang gila yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang yang dirinya sayangi sudah tidak ada lagi di dunia ini.


"Sebab mata harus dibayar dengan mata, lalu... Apa lagi yang bisa aku inginkan darimu selain kematian? Kau tidak berhak untuk hidup, namun kematian sungguh begitu mudah bagimu, hidup hinamu ini layak untuk mendapatkan perjalanan panjang atas siksaan!" Marco menatap marah pada Sian, tangannya dengan pasti mengambil cambuk yang tergantung di tempat penyimpanan dan "Slassshh!" tubuh yang masih terikat oleh kawat besi itu, kembali mendapatkan serangan, tangan dan tubuhnya yang terkena cambukkan kembali mengeluarkan darah.


Sian memejamkan matanya, sungguh ia lebih baik mati dari pada harus mendapatkan siksaan seperti ini, mengapa rasanya setiap detik dan menit begitu lambat dilaluinya, sudah berhari-hari ia menghadapi siksaan ini, tidak seteguk air minum dan tidak sesuap makanan pun yang masuk ke dalam mulutnya, namun mengapa rasanya ia tidak juga menemui ajal.


"Slasshhhh!" tubuhnya yang penuh luka kembali mendapatkan cambukkan, Sian tidak bisa lagi mengerang, ia tidak punya cukup tenaga.


Dalam kesakitan yang ia rasakan sebenarnya Sian juga menyadari, mungkinkah dulu Ayaz juga merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan saat ini. Berkali-kali Ayaz meminta Sian untuk membunuhnya, namun Sian tidak melakukan itu dan malah membuat siksaan yang lebih pedih untuk anak tirinya itu. Tidak peduli akan permohonan Ayaz, tidak peduli akan erangan kesakitan Ayaz, tidak peduli akan darah segar yang terus saja keluar sebab luka yang dirinya buat, Ayaz berkali-kali memuntahkan darahnya, namun Sian seolah buta dan malah berkali-kali juga menghantam tubuhnya.


Memberikan makanan basi, makanan tidak layak untuk dimakan, Ia bahkan menganggap anjing peliharaannya lebih berharga dari pada Ayaz, entah apa yang sudah dirinya lakukan pada anak yang sebenarnya tidak bersalah itu, hanya seorang anak yang diharuskannya untuk menanggung segala kebenciannya pada Nindi, dan hanya karena harta seorang Nindi Rowans dirinya bisa melakukan hal hina itu pada anak tirinya.


Padahal jika Sian bisa sedikit berlapang dada, jika saja Sian bisa membebaskan Ayaz meski harus dengan cara mengusir Ayaz dari rumah itu, atau hal yang paling gila sekalipun misalnya dengan membunuh Ayaz, mungkin tidak akan ada dendam separah ini.

__ADS_1


Mengapa dia terlalu serakah? Bukankah saat ini ia juga bisa memiliki segalanya meski tanpa harta warisan dari Nindi yang selama ini diincarnya, bahkan ia rela menunggu harta itu selama dua puluh delapan tahun lamanya, dan sayangnya ia harus berakhir menyedihkan seprti ini.


Harta telah membutakannya, harta telah menulikan telinganya, harta telah mengubah cara pandangnya, dan juga pengkhianatan, sungguh meski Amla telah mengusai hatinya, kadang tidak jarang Sian masih saja memimpikan Nindi berada di bawah kungkungannya, hal yang sebenarnya adalah Sian begitu kecewa mengapa wanita yang sangat dirinya cintai bisa mengkhianatinya.


Untuk apa saat itu Nindi menerima perjodohan yang dilakukan orang tua mereka jika di hati Nindi sudah bersemayam nama laki-laki lain, untuk apa mengharapkan ia menjadi pendamping hidup jika sebenarnya Nindi bahkan sudah membohonginya, bahkan dengan gilanya wanita itu sedang mengandung benih dari pria lain saat menikah dengannya, apa sudah gila dengan beraninya mempermainkan perasannya?


Benci, namun juga cinta, itulah yang dirinya rasakan setiap melihat Nindi, dengan begitu banyak pertimbangan, akhirnya hari itu Sian sudah memutuskan untuk menerima kehadiran Ayaz. Awalnya berhari-hari sikapnya pada Ayaz kecil yang baru saja dilahirkan saat itu tidak begitu kejam, Sian masih bisa menatap wajah itu, meski dalam hatinya berkecamuk keraguan.


Nindi selalu berusaha menghiburnya, meyakinkannya dan berkata hanya dialah satu-satunya pria yang wanita itu sayangi saat ini. Sian ingat Nindi juga mengatakan saat itu untuk menjaganya dan Ayaz.


Aku percaya, kau masih punya sedikit cinta untuk kami, hanya kaulah tempat kami berlindung, tempat kami bernaung, maaf jika aku meminta terlalu banyak, tapi... Aku mohon, jagalah kami bahkan meski penjagaanmu itu tidak akan pernah tulus, sungguh aku akan mengerti.


Aku akan membayar mahal untuk itu. Aku mohon, aku hanya bisa berharap padamu...


Sian sungguh menyesal telah hanyut akan pesona dunia, setelah umur Ayaz memasuki empat tahun, saat itulah ia mengenal Amla, wanita abege yang sudah pasti lebih muda darinya yang ia jumpai di klub malam, mendengar keluh kesah wanita itu yang mengatakan hidupnya tidak beruntung karena dikhianati kekasihnya membuat Sian merasakan nasib yang sama dengan Amla.


Sian sering kali mengunjungi klub malam tempat ia bertemu dengan Amla pertama kali, dan sesekali Sian juga menjumpai wanita itu.

__ADS_1


Mereka bertukar nomor ponsel dan menjadi dekat, Amla baginya adalah tempat untuk berbagi, Sian juga menceritakan bagaimana kisah rumah tangganya dengan Nindi dan baginya mencurahkan isi hati dengan Amla saat itu bisa melegakan beban pikirannya.


Ia tidak pernah tau bagaimana perjuangan Nindi merawat Ayaz sendirian, Nindi yang saat itu tidak punya banyak permintaan begitu mengerti akan posisinya.


Hari itu, Sian merasa kedekatannya dengan Amla sudah diluar batas normal, wanita itu selalu saja tampak menggoda baginya, dan lagi pula saat Sian pulang ke rumah, Nindi baginya tidak pernah curiga sedikitpun akan aktivitasnya yang selalu pulang larut malam, bahkan Sian tidak jarang pulang subuh, namun wanita itu tidak pernah mengajaknya bertengkar, tidak pernah protes akan tingkah lakunya. Padahal jika sekali saja Nindi menanyakan dari mana dirinya, mengapa pulang selarut itu, atau jika Nindi marah akan ulahnya, mungkin Sian akan tetap teguh pada pendiriannya. Bahwa hanya Nindi, nama seorang wanita yang bersemayam di hatinya, dan itu adalah istrinya.


Hal itu juga semakin meyakinkan Sian bahwa mungkinkah sebenarnya Nindi tidak peduli akan dirinya, selama ia bisa menerima Ayaz maka Nindi tidak akan peduli lagi tentang apapun, termasuk jika ia benar-benar berselingkuh dengan Amla.


Sian benar-benar mencobanya, karena beban pikiran yang tak kunjung reda dan menganggap Nindi tidak peduli padanya, membuat ia mencari kehangatan lain di luar sana, Amla... Wanita itu mengatakan akan memberi kepuasan untuk dirinya, dan Sian dengan senang hati menerima niat baik Amla, tanpa tau sebenarnya apa yang sedang Amla rencanakan untuknya.


Maafkan aku Nindi... Maaf...


Dalam setiap luka yang diberikan oleh Marco, Sian tiada hentinya berucap maaf, maaf untuk seseorang yang sebenarnya tidak pernah pergi dari hatinya.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2