Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Tunggu...


__ADS_3

"Cup!"


"Cih!" Rymi berdecih, menyunggingkan senyum setelah menyudahi ciuman singkatnya. "Mereka menginginkannya, bukankah aku harus professional!" Rymi masih saja terus meracau, membuat Sam semakin diliputi kebingungan.


"Hahahaha, kau suka kan?" tanya Rymi di sela-sela mabuknya.


Sam tidak tahan, wajahnya memerah kala mendapat perlakuan spontan Rymi.


Dengan sigap Sam langsung saja menggendong Rymi ala bridal style, tidak peduli wanita itu meronta-ronta protes dalam gendongannya


"Lepaskan aku!" teriak Rymi, tubuhnya serasa ringan melayang di udara, melihat Rangga yang tersenyum padanya Rymi semakin merasa muak.


"Diamlah." ucap Sam.


"Hei, lepaskan aku, hei Botak... Lepaskan!" teriak Rymi, begitu banyak pengunjung yang melihat itu, Rymi menyembunyikan wajahnya di dada Sam, ia sungguh malu. Meski dirinya saat ini sedang mabuk namun nyatanya masih ada sisa-sisa kesadaran dalam dirinya, Rymi tau, tak seharusnya ia dan Sam begitu.


Sementara Sam, sedikit meringis kala Rymi memanggilnya 'Botak'. Sungguh, seorang presdir dari DN Company, malah dengan secara sadar, bisa pasrah saja ketika 'Merve' seorang bawahannya mengatainya Botak, haruskah ia mengatakan itu adalah sebuah penghinaan?


...***...


Marco merasakan sakit di kepalanya, begitu berat sekali rasanya untuk bangkit.


Memijit pelan di titik sakitnya, mata yang memerah serta tubuh yang tidak imbang lagi karena didera mabuk.


Biasanya, kalau sudah begini ia pasti menghubungi Ayaz, namun rasanya meski Marco belum mengetahui kebenarannya, pria itu begitu malu untuk bertemu menatap wajah Ayaz.


"Rym!" serunya. Mengambil ponsel dari saku jasnya, dan segera menghubungi putrinya untuk bisa mengurus tubuh sempoyongannya ini.


Tak terhitung kalinya Marco menghubungi anak gadisnya itu, namun Rymi tak kunjung juga mengangkat panggilannya.


"Aisshh, ke mana dia? Apa belum selesai berkencan, ini sudah hampir pagi!" gumam Marco.


Dengan langkah gontai dan dengan sisa-sisa kesadarannya Marco mencoba keluar dari tempat laknat itu. Kepalanya yang pening terus dirinya paksakan untuk bekerja sama menemukan jalan keluar.


Marco memapah dinding dan kemudian berhasil keluar, menuju mobilnya dan segera masuk. Menarik napasnya dalam, dia cukup hapal daerah ini, karena memang sudah menjadi rutenya saat ia masih kuat minum dulu.

__ADS_1


Karena lelah badan dan pemikirannya, Marco memutuskan untuk menginap di hotel terdekat, dia tidak sanggup untuk pulang ke rumahnya yang memang sedikit jauh.


Namun karena terlalu mabuk akhirnya Marco tidak bisa mengemudi dengan benar. Pria paruh baya itu seakan berhalusinasi bahwa Ayaz berada di depan mobilnya, menampilkan senyum yang begitu mengerikan, membawa senjata api dan seolah siap untuk menembaknya tanpa ragu.


...***...


"Aarrrrgggghhhh!" pekik Rymi. Matanya melotot tidak percaya kala mendapati tubuh polosnya hanya berbalutkan selimut. Dan lebih mengejutkan lagi, seorang pria sedang menampilkan raut wajah kebingungan, mungkin terlalu terkejut karena mendengar teriakannya yang Rymi juga sadari pasti memekakkan telinga.


"Gila!" berang Rymi. Rangga Donulai, benar-benar berada di sampingnya.


"Merve, maafkan aku..." Sam langsung memegang telapak tangan Rymi, ia benar-benar minta maaf atas tindakannya pada wanita itu malam tadi.


Dengan cepat pula Rymi menarik tangannya, tatapan bagai membunuh ia layangkan pada atasannya itu.


"Anda!" geram Rymi.


Rymi meraup kedua wajahnya dengan tangan, menjambak rambutnya dengan kedua tangan, bagaimana bisa ia menjadi seceroboh ini.


"Aku akan bertanggungjawab!" ujar Sam spontan.


Wanita itu mencoba mengingat kilas balik apa yang terjadi padanya dan Sam semalam, mencoba berpikir tenang semoga saja tidak seburuk yang dirinya kira.


Namun ingatannya terputus hanya sampai saat pria di sampingnya ini membawanya ke parkiran dan dengan sedikit paksaan memasukkan tubuhnya pada mobil semalam.


"Pergi!" usir Rymi. Bajunya berserakan di lantai, membuat Rymi semakin membenci tindakannya.


"Tapi Merve..." lain pula halnya dengan Sam, seorang pria sejati seharusnya bertanggungjawab setelah dengan berani berbuat, namun mengapa wanita di sampingnya ini malah menyuruhnya pergi, bukankah seharusnya memohon pertanggungjawabannya. Sam mungkin akan dengan senang hati mendengarnya, atau bertanggungjawab dengan cara menikahinya pun Sam sama sekali tidak keberatan.


"Per..." ucapan Rymi terhenti karena ponselnya yang berada di tas tiba-tiba berdering. Ia segera menjangkau tas brandednya di atas nakas, sudah dirinya duga nama siapa yang tertera menelponnya.


"Ya...."


^^^"Selamat pagi, apa benar ini dengan Nona Rym?"^^^


"Ya... Saya sendiri."

__ADS_1


^^^"Dikabarkan pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan, dan sedang berada di ruang UGD di EMS Hospital, kami melihat nomor anda yang paling banyak di hubungi jadi bisakah anda ke sini, atau memberitahukan pada keluarga pasien?"^^^


"Ya, saya anaknya!"


^^^"Oh, baiklah kalau begitu kami tunggu segera Nona, karena pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut dan harus ada persetujuan dari keluarganya."^^^


"Lakukan apapun, lakukan apapun untuk selamatkan Daddy saya, lakukaannn."


Rymi segera bergegas bangkit dari ranjang, tidak mempedulikan lagi tubuh polosnya yang mungkin lagi-lagi di lihat oleh Sam, wanita itu terlalu panik.


Mengambil cepat pakaiannya yang berserakan dan langsung mengenakannya di hadapan Sam.


"Tidak Dad, aku hanya bercanda menyuruhmu mati lebih cepat, bukan maksudku begitu Daddy, hiks hiks. Jangan mati, aku hanya bercanda, sumpah!" gumam Rymi, ia sungguh kalut.


Sam yang melihat apa yang Rymi lakukan dan katakan pun bertambah bingung, apa ada seorang anak yang menyuruh orang tuanya mati, apa katanya tadi bercanda? Hei, itu sama sekali tidak lucu bagi Sam yang sungguh mempunyai rasa hormat tiada tara untuk para orang tua.


Sam tidak tau saja bagaimana hubungan tidak sinkron antara Rymi dan Marco. Pria itu, sama sekali tidak mengetahui sedikitpun bagaimana kehidupan wanita yang ditaksirnya.


"Anda... Ah, maksud saya, Pak Rangga... Tadi adalah panggilan dari rumah sakit, mengabarkan kalau Daddy saya mengalami kecelakaan dan sedang berada di UGD, oleh sebab itu, saya mohon izin untuk tidak masuk kantor hari ini." ucap Rymi, wanita itu mengikat asal rambutnya.


"Iya, santai saja." sahut Sam. Ia cukup mengerti, apa lagi melihat raut kekhawatiran Rymi, ingin sekali rasanya Sam mengantar dan menemani Rymi di rumah sakit, supaya ia juga bisa mengetahui bagaimana keluarga sekretarisnya itu.


Rymi mencari-cari heels dan segera memakainya, kemudian melangkah menuju pintu keluar. Saat tangannya sudah membuka pintu, tiba-tiba dirinya ingat sesuatu yang mungkin harus diselesaikannya.


"Pak Rangga." serunya.


"Ya!" sahut Sam.


"Yang terjadi pada kita semalam, apapun itu... Saya memohon dengan sangat untuk Bapak melupakannya. Bapak bisa melanjutkan hidup seperti biasa tanpa harus merasa bersalah pada saya, ini adalah ketidaksengajaan dan untuk itu saya tidak keberatan jika kita sepakat melupakannya." ucap Rymi. Kemudian tanpa menunggu persetujuan Sam tentang kesepakatan itu, Rymi berlalu pergi, ia ingin segera sampai ke rumah sakit karena sungguh mencemaskan Marco.


"Tunggu..."


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2