
"Sudah ku katakan berkali-kali, jangan menghubungiku lagi kalau aku sudah menolak panggilan, itu artinya aku sedang berada di dekat Argantara!" geram Wana.
Malam sudah beranjak naik, Wana memijit pangkal hidungnya pelan, mantan suaminya itu kembali mengajaknya bertemu, entah apa yang pria itu inginkan.
"Relaks Wana!" ucap laki-laki bernama Dandi itu.
"Apa maumu?" tanya Wana cepat. Ia sungguh tidak sabar, untuk datang ke klub malam ini saja ia harus sembunyi-sembunyi takut saja ketahuan Argantara, namun Dandi mengatakan ingin bertemu segera, karena ingin membahas sesuatu yang penting, entah sepenting apa sesuatu itu.
Ingin Wana menolak dan meminta bertemu besok pagi saja, tapi rasanya ia terlalu penasaran akan informasi yang akan disampaikan mantan suaminya itu.
"Aku sudah memutuskan sesuatu untuk bayi itu!" ucap Dandi memulai pembicaraannya.
"Ya?" tanya Wana penasaran.
"Ada dua cara!" ucap Dandi.
"Pertama, kalau kita tidak bisa juga mengetahui siapa ayah dari bayi itu, maka kita bisa membuat keributan supaya Jovan, pria incaranmu itu setuju untuk menikahi Raisa."
"Kau gila, bahkan dia punya hasil tes DNAnya, bagaimana jika dia meminta tes DNA lagi, kau tau dia itu orang yang berkuasa." ucap Wana yang sepertinya tidak setuju.
Ingin sekali rasanya ia menjadikan Jovan seorang menantu, namun apa daya Jovan saja bagai sudah memutus hubungan dengan keluarganya.
"Atau cara ke dua!" lanjut Dandi, "Aku punya kenalan, dia sangat kaya, namun ini perkara umur, tugasmu harus membujuk Raisa supaya bisa menikah dengannya, kita bisa mengambil keuntungan dari itu." jelas Dandi.
"Perkara umur?" heran Wana.
"Iya, sudah empat puluh delapan tahun, kau kenal Tuan Harun?" ucap Dandi.
Wana tampak berpikir, sepertinya nama itu cukup familiar, Tuan Harun sepetinya nama itu sering sekali ia dengar wara wiri di televisi, dan seperdetik kemudian Wana pun tersadar, "Astagah... Apa yang kau maksud Tuan Harus pemilik salah stasiun televisi itu?" ucapnya terkejut.
__ADS_1
Dandi mengangguk, memang benar, Harun Aji Suryono, Tuan kaya raya pemilik salah satu stasiun televisi swasta di negeri ini, dan pria itu nyatanya juga adalah bujangan tua, namun meski begitu masih banyak yang mengantri untuk dilamar olehnya, suatu kehormatan saat Dandi menawarkan putrinya Tuan Harus langsung saja setuju.
Sebenarnya bukan karena sebab Harun menyetujui tawaran itu tanpa pertimbangan, Dandi pernah menyelamatkan nyawanya lima tahun lalu, dan pria itu menolak untuk diberikan kompensasi, jadi anggap saja saat ini Harun sedang mencoba membalas budi. Dan Dandi pun menyadari itu.
"Tapi, bagaimana Raisa? Dan juga apa kau jujur mengenai kehamilan Raisa pada Tuan Harun?" tanya Wana.
"Itu urusanmu, bagiku aku sudah menyelesaikan sebagiannya, dan juga Argantara, aku serahkan juga dia padamu!" jawab Dandi.
Wana mencibir kesal, mengapa selalu saja dia yang harus melakukan semua itu, kalau bukan karena ingin hidup kaya raya dan menikmati hidup, Wana sungguh malas mempedulikan orang lain begini.
"Dan untuk mengenai kehamilan Raisa, aku sudah mengatakan padanya."
"Dia bilang apa?"
"Tuan Harun mengatakan tidak keberatan, hanya saja saat anak itu lahir dia tidak mau anak itu tinggal bersamanya, dia hanya menginginkan Raisa."
"Ada gunanya juga ternyata saat kau menolak kompensasi yang diberikannya waktu itu." ucap Wana.
"Aku tidak bodoh sepertimu, kau selalu saja tamak akan harta."
"Ya, harus kuakui, jika bukan karena harta mungkin aku masih bersamamu hidup dalam kesusahan." ucap Wana merendahkan Dandi.
"Wana!" berang Dandi, "Aku sudah biasa menerima hinaan seperti ini dari mulutmu, tapi tampaknya kau semakin kurang ajar!" ucap tegas Dandi.
"Kenapa? Apa kau tiba-tiba saja tersinggung?" ledek Wana.
"Wana!" Dandi semakin geram.
"Dandi... Dandi... Kalau bukan karena kau yang mengetahui semua rahasiaku, mungkin kau tidak akan bisa bertahan hidup di dunia yang penuh dengan kekejaman ini, jangan munafik, itu menggelikan!" seloroh Wana.
__ADS_1
"Perbedaan antara aku dan kau, kau tau? Meski aku bukanlah orang yang punya segalanya tapi aku masih punya hati, sementara kau, kau bahkan bis menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuanmu!" ucap Dandi.
"Dandi!" berang Wana, "Kau ingat, kau juga pernah memakai uang hasil harga diriku ini, seharusnya kau cukup sadar diri." ejek Wana.
"Aku melakukan itu karena terpaksa, kau pun tau itu!" sahut Dandi.
"Tapi, kau tidak menolaknya, kau bahkan datang sendiri padaku!"
"Wana, setidaknya aku melakukan hal menjijikan seperti itu untuk sebuah bakti, jadi jangan kau samakan aku denganmu." geram Dandi.
"Aahhh, sudahlah Dandi, akui saja, aku cukup mengerti, aku pun sudah melupakannya, tapi aku cukup terkesan, dan jika caramu tadi bisa menyelamatkan Raisa, aku sungguh akan bermurah hati, kau tidak perlu mengganti uang itu lagi, sudah kuanggap lunas. Oohh, sebenarnya harus kuakui jika dibandingkan Argantara, kau lebih menggairahkan, namun harus bagaimana lagi, aku harus bertahan hidup, akan sangat menyedihkan jika aku masih tinggal di tempat kumuh mendampingimu!" ejek Wana lagi seolah tidak ada habisnya.
Tangan Dandi mengepal, tanpa basa basi ia bangkit dan lalu pergi meninggalkan Wana, berbicara dengan Wana memang selalu saja menyakiti hatinya.
Tanpa Wana dan Dandi sadari, percakapan dan gerak gerik mereka tadi sebenarnya sudah terekam oleh kamera ponsel seseorang, seseorang itu tersenyum smirk, satu senjata untuk menghancurkan Argantara, ternyata banyak hal untuk memudahkan langkahnya.
...***...
"Bagaimana keadaan Ayah saya Dok?" tanya Sam, dirinya sungguh kalut, Ayah angkatnya itu belum juga sadarkan diri, bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi, tidak Ayaz belum berhasil dirinya bujuk, lagi pula ia tidak berhak atas semuanya, jangan meninggalkan semua ini pada dirinya, akan sangat tidak pantas rasanya. Dan juga sungguh ia sudah menganggap Tuan Donulai bagai ayah sendiri, jadi rasanya ia tidak akan sanggup untuk kehilangan sosok orang tua itu secepat ini.
"Seperti biasa, kondisinya setelah mendengar hal yang mengejutkannya, bukankah Pak Rangga sudah mengetahui itu, kalau bisa, saya dengan sangat memohon untuk jangan pernah membuat Tuan Donulai terkejut." jelas Dokter yang tadi menangani Tuan Donulai.
"Saya sudah berusaha Pak Dokter, namun bukankah kemungkinan bisa saja terjadi, ini bukan disengaja." sahut Sam sungguh merasa bersalah, jika mengetahui kejadiannya akan seperti ini, tidak akan ia menawarkan Ayah angkatnya itu untuk ikut dengannya menemui Ayaz, karena jika Ayah angkatnya itu berhadapan dengan Ayaz, sesuatu apapun bisa saja terjadi, seharusnya Sam lebih waspada dan selalu menyadari itu.
"Saya akan resepkan obat, kondisi beliau akan segera pulih, Pak Rangga hanya harus menunggu Tuan Donulai siuman saja." ucap dokter itu.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1