Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Menikahlah denganku!


__ADS_3

"Kau sudah sadar?" tanya Sam, pria itu bisa bernapas lega karena Rymi sudah bangun dari pingsannya.


Rymi terkejut karena seseorang yang ia lihat pertama kali saat ia bangun adalah Samudra. ke mana Ayaz ataupun Marco, mengapa tidak menungguinya pikir Rymi.


"Apa yang terjadi, di mana Daddy?" tanya Rymi.


"Emmhh, Tuan Marco sedang berada di ruangan Dokter Mike, dan Ayaz sudah kembali ke kamar." jawab Sam.


Rymi mengangguk. Ia menatap wajah Sam, namun tak lama kemudian ia menundukkan pandangannya, benar-benar memalukan harus satu ruangan dengan ayah dari bayinya ini. Rymi mulai merasa canggung, apakah ia seharusnya memberitahukan kehamilannya atau tidak, lalu bagaimana reaksi Sam jika ia mengatakan perihal kehamilannya ini? Akankah pria itu menerimanya, bersedia bertanggung jawab.


"Kau kenapa? Apa butuh sesuatu?" Tanya Sam, pria itu mendekat, duduk di sisi ranjang.


"Tidak apa!" sahut Rymi.


"Ah ya, kau kenapa tidak pulang?" tanya Rymi, yang lebih memilih menanyakan itu untuk mencari topik pembicaraan antaranya dan Sam.


"Aku tidak akan pulang sebelum kau bangun..."


"Aku sudah bangun, lihatlah... Kau bisa pulang sekarang." potong Rymi seakan mengusir Sam.


"Karena ada yang ingin aku tanyakan, aku sampaikan padamu!" lanjut Sam. Ia tidak peduli lagi akan sikap Rymi yang menolaknya, baginya mulai sekarang ia mempunyai alasan untuk selalu dekat dengan wanita di hadapannya ini.


"Aku?" tanya Rymi gugup, mungkinkah Sam mengetahui perihal kehamilannya? Pikir Rymi.


Sam menatap Rymi lembut, "Aku akan bertanggung jawab!" tuturnya langsung saja.

__ADS_1


Sementara Rymi, wanita itu malah membuang muka saat mendengar perkataan Sam.


"Tidak perlu!" sahut Rymi menolak, dadanya tapi justru sesak saat mengatakan itu.


"Rym..."


"Jangan bertanggung jawab, karena aku pun juga tidak menginginkan bayi ini, bayi ini memang tidak seharusnya ada." tambah Rymi.


"Rym, kau gila? Bayi itu tidak bersalah, mengapa..."


"Kehadirannya saja sudah menjadi kesalahan!" potong Rymi.


"Dengar!" Sam semakin mengikis jarak antara keduanya, "Sebenarnya apa yang kau takutkan?" tanya Sam.


Rymi masih belum siap bertatap muka dengan Sam, setetes air matanya jatuh karena masih menganggap dirinya tidak pantas.


"Kau bisa menggantungkan harapan padaku, berbagilah denganku, bahkan jika kau ingin memberikan beban itu padaku pun aku siap menerimanya."


"Sudah ku katakan berkali-kali, aku telah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu, kau tetap Merve yang ku kenal, jadi... Apa lagi yang tidak bisa kau percayai dariku!"


Rymi menunduk, hatinya sakit, rasanya bagai ada sebuah beban berat menimpa dadanya, dirinya yang sangat tidak menginginkan bayi ini, sementara di sisi lain pria yang adalah ayah dari bayinya ini begitu menginginkan, bahkan siap dibebankan akan apapun.


"Apa karena, dia adalah anakku, jadi kau tidak menginginkannya?" tanya Sam menyelidik.


Rymi mendongak, mengapa Sam tiba-tiba bisa berpikiran begitu?

__ADS_1


"Karena kau tidak mencintaiku, makanya kau tidak menginginkannya?"


Rymi pelan menggeleng, "Buu... Bukan seperti itu..." lirihnya tergagap.


"Lalu?"


"Aku bukanlah wanita baik-baik, aku tidak pernah bermimpi untuk membangun sebuah keluarga dan memiliki seorang anak, sudah berapa nyawa yang aku korbankan untuk aku tetap hidup, sudah berapa hati yang aku sakiti untuk aku tetap bisa melangkah lebih jauh, aku bukanlah orang baik, dan aku tidak mau dia menempati rahim orang yang buruk sepertiku, aku tidak mau dia lahir dari wanita yang adalah seorang pembunuh, penipu, yang menunjang hidup dengan hanya mengandalkan uang haram, dia tidak bisa hidup seperti itu, hidup bagai kutukan seperti itu." jelas Rymi dengan isak tangisnya.


Sam langsung saja memeluk Rymi, kini ia tau keresahan seorang Rymi, Sam mengusap pelan punggung Rymi untuk menenangkan.


"Aku tidak mau dia memiliki Ibu sepertiku, aku tidak bisa menjadi seorang Ibu!" akhirnya tangis Rymi pecah juga di pelukan Sam, seseorang yang adalah ayah dari bayinya.


"Rymi tenangkan dirimu, kita akan melalui ini bersama, aku akan menyayangi kalian, melindungi dengan seluruh nyawaku, aku mohon jangan pernah berpikiran seperti itu lagi, dia anak kita, kau harus menerimanya, dia membutuhkanmu tidak perduli seperti apa kelamnya hidupmu tapi dia tetaplah seorang anak yang akan selalu membutuhkan Ibunya."


"Dengar, mulai saat ini berhentilah dengan pekerjaan burukmu itu, kau bisa hidup denganku jika kau mau, kita mulai semuanya dari awal, hari baru akan dimulai, kau bisa meninggalkan hidup lamamu itu, demi dia Rym."


"Aku mohon, demi dia... Aku tau, jauh di lubuk hatimu yang paling dalam, kau pasti sangat mencintainya, kau pasti begitu menerima kehadirannya, aku meyakini itu, karena aku tau kau tidak seburuk yang kau pikirkan."


"Hiks hiks hiks..." Rymi semakin menangis terisak saat Sam mengatakan itu. Hatinya tersentuh, benar apa yang dikatakan Sam, jauh di lubuk hatinya sana, ia juga begitu menginginkan bayinya, namun Rymi merasa ia tidak pantas mengharapkan itu, terlalu berlebihan rasanya untuk seorang bajingan seperti dirinya. Rymi cukup sadar diri dan ketakutan akan tidak bisa menjaga anaknya dengan baik nantinya juga memenuhi ruang pikirannya, sehingga ia mengabaikan rasa ingin memiliki itu.


"Rym..." Sam mengurai pelukannya, ia menatap Rymi penuh cinta, pria itu menarik napasnya dalam, tangannya mulai ia tangkupkan di kedua sisi pipi Rymi, "Percaya padaku! Kau bisa melewati ini, kita akan melewati ini bersama."


"Menikahlah denganku!" pinta Sam.


Bersambung...

__ADS_1


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2