Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Masuk!


__ADS_3

"Seharusnya kau tidak bersembunyi seperti ini, aku kan sudah bilang ingin mengatakan sesuatu yang penting, tapi kau malah seperti tidak peduli, bagaimana jika yang akan aku sampaikan ini menyangkut kedua orang tuamu? Untung saja aku masih berbaik hati, mau mencarimu sampai ke sini." ucap Rymi. Sebenarnya ia sungguh malas, hanya saja Marco, Ayah angkatnya itu menyuruhnya untuk mengurus Sam, mengabarkan berita yang mungkin tidak akan menyenangkan didengar ini.


Rymi awalnya menolak, ia beralasan dan sungguh ingin protes, mengapa setiap urusan dengan Rangga Donulai harus ia yang membereskannya, tidak pengertian sekali. Tidak taukah Marco kalau Rymi selalu saja emosi jika dihadapkan dengan Rangga Donulai ini.


"Orang tuaku? Apa maksudmu?" sergah Sam, baru saja tadi ia memikirkan kedua orang tuanya, namun apa lagi ini, Mervenya datang dengan wajah terpaksa, malah ingin menyampaikan sesuatu tentang orang tuanya, bukan begitu?


"Kau ingat sebuah foto yang di berikan oleh Ayaz padamu?" tanya Rymi.


"Ya! Apa itu benar..."


"Tepat sekali, itu memang benar foto ayahmu!" sambar Rymi langsung.


"Apa?" Sam terbelalak kaget, meski ia juga sedang memikirkannya, namun mendengar sebuah kenyataan dari mulut Rymi ini mengapa rasanya ia menolak untuk percaya.


"Apa nama orang tua kandungmu adalah Romi?" tanya Rymi lagi.


Sam tidak percaya, apa-apaan ini, jadi semua prasangkanya memang benar, Sian keparat itu mengambil hidup Ayahnya. "Dari mana kau tau?" tanya balik Sam.


"Aku bukan hanya tau, bahkan aku bisa mempertemukan kalian berdua!" ucap Rymi acuh.


"Benarkah? Di mana dia? Apa yang terjadi padanya?" tanya Sam.


Rymi mendekat ke arah Sam, wanita itu bahkan naik ke atas ranjang, mendekati tubuh Sam semakin dekat, hingga mata mereka bertemu, Rymi memandang Sam penuh kebencian, sementara Sam yang tidak menyadari itu karena kelewat gugup saat berdekatan dengan Rymi begitu.


"Kalian harus membayarnya, apa kau tau, Ayahmu bahkan dengan beraninya menusukkan pedang pada perut Kakakku, entah apa yang telah Ayaz perbuat pada Ayahmu hingga dia melalukan itu, kau harus bertemu dengannya dan menyuruhnya mengatakan apa yang terjadi." Rymi mencengkram erat kerah baju Sam, Sam bergidik ngeri kala Rymi menatapnya dengan nyalang.


"Apa maksudmu?" tanya Sam, ia jelas saja tidak percaya akan apa yang baru saja terucap dari bibir mungil wanita yang disukainya itu.

__ADS_1


"Masih tidak terdengar jelas, Ayahmu itu hampir saja membunuh Kakakku, kau tau!" berang Rymi.


"Ayaz..." lirih Sam, "Tidak, bagaimana bisa, Ayahku tidak punya dendam apapun dengan Ayaz, bahkan ia juga termasuk orang yang mendukung persahabatanku dengan Ayaz dulunya, tidak... Tidak mungkin!"


"Heh! Kau harus menanyakan itu padanya, apa alasannya, mengapa dia melakukan itu, dan juga... Buat dia mengakui kesalahannya, jika dia ternyata bekerja untuk Sian, maka sebagai anak, aku pastikan kau juga harus menanggung kesalahannya." Rymi berucap dengan geram, ia benar-benar marah.


Sebenarnya Marco sudah mengetahui kalau Romi bekerja dan melakukan itu semua untuk Sian, ah tidak lebih tepatnya karena dipengaruhi oleh Sian, namun berhubung Marco tidak pernah menjelaskan itu padanya, dan hanya menyuruhnya untuk menanyakan siapa nama Ayah kandung Samudra Rangga itu, jadilah Rymi diliputi emosi, ia sungguh geram dengan siapa saja yang berani membuat masalah dengannya, Ayaz, ataupun Marco.


"Bawa aku padanya, bisakah kau membawaku?" tanya Sam, ia sungguh kalut saat ini.


"Heh, aku kira kau benar tidak akan peduli jika pun aku membunuhnya." sahut Rymi.


"Merve, apa kalian selalu bercanda begitu, kau dan Ayaz, mengapa seolah mudah saja berkata tentang membunuh orang, itu mengerikan sekali kau tau!" protes Sam, untuk sekian kalinya ia mendengar Rymi mudah saja mengatakan kata kasar seperti itu, begitupun dengan Ayaz, apa sebenarnya yang terjadi dengan dua orang yang ia kira sebagai kakak dan adik itu.


"Mengerikan? Apa aku menakutimu? Kau mengatakan akan menghancurkan Sian tapi belum apa-apa kau malah sudah pernah berada ditangannya, pria lemah!" ucap Rymi angkuh.


"Apa aku mengatakan kesalahan? Jika bukan karena Ayaz yang menyelamatkanmu mungkin saat ini kau lah yang berada di posisi Sian, dasar bodoh!" lanjut Rymi lagi.


"Cukup Merve, tau batasanmu!" Sam bangkit, ia mendekat ke arah Rymi, menatap wanita itu tajam bagai hendak menusuk jantungnya.


"Kau pikir aku akan takut hanya dengan kau tatap begitu? Hahahah!" Rymi tertawa keras. Haruskah ia memperlihatkan siapa dirinya yang sebenarnya dengan pria ini.


"Aku tidak sedang menakutimu, apa kau pikir aku serendah itu, aku tidak punya cukup tenaga untuk melepaskan diri saat itu, bukan perihal mudah untuk lolos saat kepalamu sudah berlumuran dengan darah." ucap Sam membela diri.


"Oh ya!" Rymi tersenyum smirk, "Apa aku harus tertawa saat mendengar pembelaan dirimu ini?"


"Merve jaga batasanmu!"

__ADS_1


"DIAM! Dengar, aku bukan Merve, aku sungguh muak saat kau memanggilku begitu. Jadi berhubung namaku bukan itu, aku kira kita benar tidak pernah mempunyai urusan." ucap Rymi tanpa sadar, lalu setelah beberapa detik kemudian, ia mencoba menetralkan ekspresinya, ia rasa kali ini ia sudah berlebihan, emosinya membuat ia membuka kartunya sendiri.


"Ikut aku, kau akan menemui Ayahmu dan harus bertanggung jawab menanyainya, aku tidak punya banyak kesabaran jika aku yang mengurusnya."


"Apa maksudmu?" namun Sam masih berfokus pada apa yang dikatakan Rymi tadi. "Siapa namamu?"


"Cepatlah!" sahut Rymi, ia enggan menanggapi pertanyaan Sam.


"Apa kau selama ini membohongiku?" tanya Sam curiga.


"Akan aku jelaskan nanti, apa kau mau aku membunuh ayahmu, kau kira aku begitu sabar hingga dengan semangat membara menemuimu di sini? Aisshhh, lama-lama Marco bisa membuatku gila!"


Sam mengambil jaketnya, ia menarik tangan Rymi langsung, ia juga sama sebenarnya tidak punya stok kesabaran yang banyak. "Kau punya hutang penjelasan padaku!" ucap Sam.


Rymi mencoba melepaskan tangannya yang ditarik paksa oleh Sam, namun cengkraman itu nyatanya cukup kuat.


"Aku tidak selemah yang kau kira, aku bahkan bisa membuktikannya jika kau mau!" ucap Sam, matanya menatap Rymi bagai hendak menguliti.


Jika itu wanita normal mungkin sudah bergidik ngeri saat seorang pria menatap garang padanya begitu, namun ini Rymi, jenis spesies wanita gila yang tidak akan takut akan apapun, apa lagi hanya ditatap begitu.


"Hahahaha!" tanggapan berbeda, Rymi malah tertawa melihat Sam memperlakukannya begitu.


"Dasar gila!" umpat Sam, jika ia benar-benar berjodoh dengan wanita ini, mungkin seumur hidupnya ia tidak akan sanggup untuk mendidiknya sebagai istri yang baik.


Keduanya sudah sampai di garasi mobil, Sam membuka otomatis salah satu mobil mewahnya, dengan masih sedikit paksaan ia melepaskan cengkraman tangannya dan menyuruh Rymi, "Masuk!"


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2