Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Yang ingin diakui Sian.


__ADS_3

Ayaz membuka matanya pelan setelah dirasanya Yaren sudah tertidur pulas di sampingnya.


Setelah melakukan pergulatan panas tadi, ia memang berencana untuk pergi dari rumah sebentar, ia harus mengetahui keadaan Sian, entah pria tua itu sudah mati atau belum.


Menelisik lagi wajah istrinya, semoga saja Yaren masih tidur dengan lelap sampai nanti dirinya kembali lagi.


Ayaz bangkit dengan hati-hati takut saja membangunkan Yaren, mengganti pakaiannya dan tak lupa memakai masker dan topi hitam, ia akan pergi untuk menyelesaikan masalah yang tertunda akibat kondisinya.


Hampir satu jam Ayaz sampai di sebuah pelabuhan, langkah kakinya bergegas menuju sebuah kapal, namun dalam perjalanannya ia merasakan ada sesuatu yang mencurigakan.


"Kalian pikir bisa menemukan Tuan kalian?" gumamnya hampir tidak terdengar, "Baiklah, aku tidak akan menghalangi niat baik kalian!"


Ayaz melihat begitu banyak orang suruhan Sian yang mengikutinya, jika ia melawan semua orang itu, Ayaz tidak bisa memastikan kalau ia akan menang, mengingat kondisinya yang baru saja sembuh dari luka tikam, mungkin hal tersebut juga bisa membahayakannya.


Namun jika langkah kakinya nekad memasuki kapal di ujung sana, mungkin hanya ada dua kemungkinan yang terjadi, Sian yang bisa selamat atau Sian yang mati di tangannya.


Dan, mundur juga bukan sifatnya.


Ayaz memberikan sebuah kode pada Jovan yang sedang berjaga di kapal itu, sebuah suara seperti suara burung namun hanya Jovan yang mengerti kode itu. Para orang-orang suruhan Sian saja tidak menyadari kalau suara burung itu berasal dari mulut Ayaz.


Ayaz mengerti, Amla begitu licik, wanita itu bisa saja memakai jasa pihak kepolisian untuk mencari keberadaan Sian, Ayaz tidak bisa percaya begitu saja, bisa saja Amla menjual namanya sebagai dalang penculikan. Meski hal itu juga butuh pertimbangan yang matang saat ingin membeberkannya.


Setelah di rasa cukup menunggu dan Ayaz sudah mendengar sebuah kode sebagai jawaban dari Jovan di ujung sana, Ayaz sedikit mempercepat langkahnya, ia mulai memasuki kapal besar milik Marco itu, sudut bibirnya terangkat kala melihat orang-orang suruhan Sian nyatanya memang benar mengikutinya.


Ayas terus saja melangkah, ia masuk lebih dalam lagi, terus saja menyulut kecurigaan, sedikit lagi ia akan menuntaskan orang-orang Sian itu.


Saat berada di sebuah lorong gelap, Ayaz dengan segera menukar posisinya dengan Jovan, Jovan memakai jaket Ayaz dengan cepat, beruntung celana jeans yang keduanya pakai berwarna sama, jadi hal itu tentulah akan mempermudah segalanya. Ayaz juga menukar sepatu mereka, sehingga terlihatlah penampilan Jovan yang persis seperti Ayaz jika tampak dari belakang.


"Giliranmu!" ucap Ayaz. Jovan mengangguk, bukan masalah besar baginya.


Setelah ini, di setiap lorong sudah ia siapkan beberapa anak buahnya untuk menuntaskan orang-orang suruhan Sian. Ia hanya perlu berjalan dengan tenang dan membiarkan mereka mengikutinya.

__ADS_1


Ayaz masuk ke dalam sebuah ruangan, ia akan menunggu semua orang pergi, barulah ia menuju tempat di mana Sian ia sekap.


Lima belas menit menunggu, datanglah anak buah Jovan membuka pintu, mengabarkan kalau kondisi di luar sudah aman.


Ayaz keluar, langkahnya berbalik menuju pintu masuk kapal, di dekat pintu ada sebuah tangga mengarah ke bawah, di sana ada sebuah ruangan rahasia tempat Marco bersembunyi biasanya, yang saat ini beralih fungsi juga ia gunakan untuk menyekap Sian.


Ceklek, pintu dibuka. Yang pertama ia lihat adalah tubuh tak berdaya Sian yang sudah terbaring lemah, tubuh itu penuh luka cambuk yang masih terikat oleh kawat besi.


Ayaz mendekat, kakinya mengayun dan lalu mengenai wajah Sian, "Kau tidak memberikan sambutan untuk kedatanganku?" ucap Ayaz.


"Aku ke sini untuk mendengar perlawananmu, kau mengumpatiku, meneriakiku, hal semacam itu sungguh aku ingin mendengarnya!"


Sian membuka matanya, dilihatnya Samar wajah anak tirinya itu, kali ini jujur saja, setelah merenung dan membayangkan betapa bersalahnya ia pada Nindi, Sian begitu ingin meminta maaf pada Ayaz, namun dia entahlah sanggup melakukannya atau tidak, untuk berucap saja ia tidak berdaya.


Matanya yang saat itu tertancap belati kini sudah busuk bernanah, sakit tak terhingga yang hanya bisa Sian tahan di setiap detiknya.


"Aa aa aa yaz!" ucapnya terbata, rasanya mengucapkan sebuah nama itu saja harus dengan tenaga yang sudah hampir terkuras habis.


"Maa aa af!" lirih Sian lagi.


"Apa? Aku tidak dengar? Bisa keraskan suaramu, beberapa hari yang lalu kau masih lantang meneriakiku, apa kau sudah kehabisan tenaga? Apa makanan yang aku berikan tidak pernah kau makan? Aisshh, ku rasa Jovan tidak merawatmu dengan baik sepetinya!"


"Maa aaf!" lirih Sian lagi.


"Kau bilang apa? Memangnya kau melakukan kesalahan hingga beraninya meminta maaf? Hahahaha!" tawa Ayaz menggelegar.


Sian tidak mampu lagi bicara, hari ini ataupun detik ini juga, jika ia bisa meninggalkan dunia ini, maka baginya itu lebih bagus ketimbang harus berurusan lagi dengan Ayaz.


Sungguh, rasanya Sian benar-benar ingin mati saja.


"Apa kau mau mati Bung?" tanya Ayaz.

__ADS_1


Mata yang sudah sipit karena bengkak itu menatap Ayaz, sebenarnya Sian ingin sekali mengatakan 'Ya', namun dirinya juga cukup tau diri, Ayaz juga pasti hanya mempermainkannya.


"Hahahaha!" Ayaz tergelak lagi, sudah bagai orang gila, kali ini ia benar-benar puas melihat Sian menderita.


"Aa ay az!" ucap Sian lirih.


"Ya?" tanya Ayaz, seolah membiarkan apa yang ingin Sian katakan.


"Di a, Ma aar co, aa yaa..."


"Ya? Marco? Maksudmu Marco?" tanya Ayaz, Sian mengangguk pelan membuat Ayaz tegelak lagi melihat Sian tampak kesusahan untuk bicara, "Ada apa? Apa dia ke sini menemuimu? Apa dia juga ikut menyiksamu?" tanya Ayaz, nadanya benar-benar puas mempermainkan Sian.


"Maa arr co, dii aaa..." Sian berusaha mengatakan kalau Marco adalah ayah kandung Ayaz, jari telunjuknya juga menunjuk ke arah Ayaz, namun Ayaz tidak melihat itu, yang dirasakan Ayaz hanya ada kepuasan melihat Sian menderita seperti itu.


"Aaa yaa..."


"Kau ini bicara apa sih Bung? Aku tidak mengerti!" ucap Ayaz mengejek.


Sian merasa putus asa, biarlah ia berharap akan kematiannya saja tanpa harus mengatakan sebuah kenyataan yang sebenarnya pada Ayaz, tenaganya bahkan sudah terkuras habis untuk mencoba mengatakan itu, namun yang ia lihat Ayaz hanya menanggapinya main-main saja.


"Kau tidak lagi bicara? Hanya itu kemampuanmu?" sindir Ayaz.


"Whoaaa, di mana kau tanggalkan teriakanmu waktu itu, sikap garangmu, bagai tidak tersentuh, dengar... Jika melihatmu yang seperti ini, tiba-tiba aku merasa gagal jadi seorang penjahat, karena aku seperti menyiksa lawan yang tidak berdaya, namun kau juga dulunya sama kan? Aku hanya melakukan apa yang pernah kau lakukan, itu saja, aku tidak berlebihan kan?" ledek Ayaz lagi.


"Aaa yaa az, aa yaahh muu, Maa arr..."


"Brakkk!" suara pintu dibuka dengan keras, Ayaz cukup kaget saat dilihatnya seseorang datang dengan napas yang tersengal.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2