
Rymi menggeleng pelan, tidak menyangka akan ucapan Marco.
"Kau sungguh murah hati Tuan!" Rymi tersenyum smirk, "Cuih! Maksudmu, kau menyuruhku memakan daging kawan-kawanku. Tidak akan pernah aku lakukan!" pekik Rymi.
"Kau... Pasti akan melakukannya, yah kau benar, memakan daging kawan-kawanmu bahkan aku bisa membuatmu menjadi sangat menikmati daging itu." ucap Marco.
"Bugghh!"
Kemudian, setelah itu Rymi tidak sadar lagi apa yang terjadi padanya. Saat dia bangun, dia bahkan menjadi sangat penurut, dan lagi pula Marco menepati janjinya, sesuai perkataannya Rymi bahkan menjadi putri di istana Marco.
"Aku benci, aku benci mengingatnya!" teriak Rymi, keadaan itu sungguh menyiksanya setiap kali ia teringat.
Rymi berjalan menuju nakas, di atas nakas itu terlihat jelas sebuah foto saat dirinya berlibur di Hainan bersama Marco, pemandangan yang begitu pilu bagi Rymi.
"KAU TAU, AKU TIDAK MAU MENJADI BAGIAN DALAM HIDUPMU, TAPI BAHKAN AKU TIDAK BISA MENOLAK, BAHKAN KAU TIDAK MEMBERIKU PILIHAN, KAU TIDAK MEMBIARKAN AKU MATI, KENAPA? AKU TANYA KENAPA???"
"Hiks hiks, tidak taukah kau, betapa tersiksanya aku setiap kali mengingat itu."
Rymi bertanya pada wajah Marco yang menghiasi bingkai fotonya. Salah apa sebenarnya dirinya?
Pagi menjelang, seorang pria tampak duduk memainkan ponselnya di taman. Sepagi ini, dia sudah berada di sana dari jam lima pagi.
"Katakanlah!" ucap seorang pria lagi, baru saja sampai untuk menemui seseorang itu.
"Aku di pihakmu!"
"Sekali kau masuk, maka... Tidak akan mudah untuk keluar."
"Aku hanya berada di pihakmu, bukan berarti aku menganggapmu sebagai Tuan, kita bisa menjadi rekan dan berhati-hatilah aku bisa berkhianat kapan saja."
"Bajingan!"
"Perusahaanmu, tidak cukup baik jika dibandingkan DN Company, tapi... bukankah akan sangat penasaran jika kau tidak mencoba peruntungan ini, sekecil apapun peluang namun tetap saja tidak bisa dianggap sepele."
"Bahkan, semutpun akan kesakitan saat dirinya diinjak, dengan sisa tenaganya meski pilihannya hanya ada kematian, dia pasti akan mencoba melawan."
"Tepat sekali!"
"Sebenarnya, apa yang membuatmu kali ini tidak membunuh Donulai?"
"Belum saatnya!"
"Tua bangka itu, mungkin juga umurnya tidak bahkan panjang lagi, mengapa masih menunggu?"
__ADS_1
"Aku tidak bisa menghancurkannya sekarang."
...***...
Yaren bangun kesiangan lagi, semalam dirinya memikirkan Ayaz yang tiba-tiba saja mendiskusikan wanita lain padanya. Mengapa nasibnya tidak beruntung, dari penghidupan sampai kisah asmara pun mengapa ia begitu buruk.
"Apa aku terlalu berharap?" gumam Yaren.
Wanita itu bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelahnya gegas wanita itu berniat menemui Ayaz yang dikiranya di dapur.
Namun saat Yaren menyambangi dapur, Ayaz bahkan tidak terlihat di sana.
Untuk istriku! Kau terlihat kurusan, jaga selalu berat badanmu, aku tidak yakin hanya akan memandangmu saja, untuk itu kau harus menjagaku kan!"
Secarik kertas tergeletak di meja makan yang sudah tersaji menu rumahan untuk sarapan. Awalnya Yaren begitu senang kala menyangka Ayaz begitu perhatian padanya, namun melihat pesan yang tertera di kertas itu, Yaren menarik lagi perasaannya.
"Mengapa dia selalu berubah-ubah?"
"Ke mana dia pergi?"
Rymi memakan menu sarapannya, sesuai perintah Ayaz, lagi pula dirinya juga memang sudah lapar.
Tok tok tok!
Pintu rumah diketuk, Yaren menghentikan kunyahannya, aneh sekali bukannya tidak ada siapapun yang mengetahui keberadaannya, lalu siapa yang bertamu?
Yaren bangkit dan hendak membukakan pintu, bagaimanapun dirinya cukup penasaran.
"Ceklek,"
Seorang wanita berdiri diambang pintu, dengan senyum yang mereka ia mencoba menyapa Yaren.
"Selamat pagi!" sapanya.
"Pagi!" sahut Yaren kaget, dirinya mengenali wanita itu, seseorang yang pernah mencoba mengakrabkan diri dengannya di hari pernikahannya dan Ayaz.
"Apa, aku boleh masuk?"
"Ah silakan, silakan."
Yaren mempersilahkan tamunya masuk, sembari otaknya dipaksa bekerja untuk mengingat-ingat siapa nama dari wanita itu.
"Kau..."
__ADS_1
"Rymi!" sahutnya. Yah wanita itu adalah Rymi, biasanya jika hatinya sedang tidak bersahabat ia selalu saja mencari Ayaz, namun dari semalam sahabatnya itu tidak bisa dihubungi, ia sedikit khawatir, katakanlah itu berlebihan tapi Rymi tidak bisa menahan lagi.
"Ah iya, aku ingat sekarang." ucap Yaren.
Yaren sedikit curiga, mungkinkah wanita lain yang dimaksud Ayaz semalam adalah Rymi, apa Rymi dan Ayaz sedang bertengkar, untuk apa Rymi mencari Ayaz sampai mengunjungi sejauh ini, lihatlah... Bahkan raut wajahnya pun seolah setuju tentang hal itu. Pikir Yaren membatin.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Rymi berbasa-basi.
"Emh, baik! Kalian bagaimana?" tanya balik Yaren.
"Aku baik, hanya saja..."
"Kenapa?"
"Apa Ayaz ada di rumah?" tanya Rymi langsung.
"Emhh, suamiku baru saja pergi, tapi sayangnya aku kurang tau dia akan ke mana." jawab Yaren, menekankan kata 'Suamiku' mengakui Ayaz adalah miliknya, supaya Rymi sedikit tau diri. Katakanlah meski Yaren enggan mengakuinya namun sayangnya dia sudah cemburu. Dan Rymi, saat ini sedang tersenyum melihat kelakuannya.
"Ayaz adalah saudara bagiku!" ucap Rymi, meski dirinya tidak pernah mendapatkan kejelasan status dari Ayaz, tapi bolehkah ia bilang begitu.
"Ah, iya... Ayaz dan kau saudara." ucap Yaren.
"Kau, tidak perlu takut kakak ipar!" Rymi mengusap pelan lengan Yaren. "Ah iya, tolong titipkan ini pada Ayaz." Rymi memberikan sebuah flashdisk pada Yaren. Wanita itu mulanya hendak memberikan langsung flashdisk itu pada Ayaz, atau paling tidak jika dulunya tidak ada Yaren, Rymi akan menaruhnya di kamar di suatu tempat, tapi saat ini ada Yaren, Rymi tidak ingin membuat salah paham yang berujung keretakan. Dia yakin sekali, sahabatnya itu pasti sedang dalam tahap mencintai.
"Ku harap, kau tidak mencurigaiku!" ucap Rymi lagi.
"Ah, bukan begitu, maksudku..."
"Tidak apa, cemburu itu wajar saja, apa lagi untuk pengantin baru, aku bisa maklum!" goda Rymi.
"Tidak..."
"Aku pergi dulu!" pamit Rymi.
"Lekaslah berikan aku keponakan, aku menanti kabar baiknya." dan tak lupa menggoda Yaren lagi sebelum benar-benar pergi.
Wajah Yaren memerah, meski apa yang Rymi minta sepertinya tidak akan mungkin karena sebuah kesepakatan antaranya dan Ayaz akan mematahkan harapan itu, namun tetap saja Yaren begitu malu.
"Dia itu!" geram Yaren, "Sebenarnya siapa dia?" tanya Yaren, dia benar-benar penasaran akan sosok Rymi, terlebih apa yang Ayaz katakan semalam masih terus saja terngiang di telinganya, Yaren punya firasat wanita lain yang dimaksud Ayaz pasti ada hubungannya dengan Rymi.
"Rekan kerja, apa iya ada yang sedekat itu? Asshh, lagipun aku tidak begitu mengetahui sebenarnya Ayaz kerja apa? Ayaz begitu misterius!"
"Semua urusanku pasti menjadi urusannya, apapun tentang diriku dia pasti mengetahuinya, semuanya, tapi urusannya... Dia selalu bilang bukan urusanku! Haaahhh!" Yaren menghempaskan napasnya berat, ia sungguh frustasi.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...