Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Dia Ibuku!


__ADS_3

"Sesiang ini! Asshh, Ayaz benar-benar membuatku lelah!" gerutu Yaren.


Dengan susah payah Yaren melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, meski terasa nyeri di bagian inti namun dirinya tidak boleh bermalas-malasan, bagaimana jika nanti Ayaz datang dan lagi-lagi menyindirnya.


Rupanya Yaren memang begitu dilanda ketakutan jika dengan Ayaz, perlakuan buruk Ayaz, meski kadang pria itu bisa juga bersikap lembut padanya namun Yaren lebih banyak waspada dengan pria yang telah menjadi suaminya itu.


Yaren membersihkan diri sejenak, matanya membulat kala melihat tubuhnya penuh dengan maha karya Ayaz, Yaren bergidik ngeri memikirkan bagaimana cara Ayaz melakukannya, sebanyak itu pikirnya.


"Dasar Ayaz!" umpatnya.


Setelah selesai dengan kegiatan mandinya, Yaren menuju lemari, sore kemarin Ayaz sudah mengatakan bahwa banyak baju untuk ukurannya di dalam lemari, tidak masalah jika ia memakainya. Yaren membuka lemari itu, dilihatnya beberapa potong pakaian yang pas dengan ukuran tubuhnya dan dia mengambil salah satunya untuk dipakai.


Mengeringkan rambut, dan memoles wajahnya tipis memberikan kesan fresh untuk Yaren. Sepertinya Ayaz memang sudah menyediakan kebutuhannya di kamar ini.


Yaren menuju telepon di atas nakas, wanita itu ingin memesan makanan karena perutnya juga sudah sedikit perih. Adanya penyakit asam lambung yang dideritanya membuat Yaren tidak bisa menyepelekan makanan.


Setelah beres, dirinya memilih untuk berbaring lagi sembari menunggu pesanannya di antar. Dalam diamnya Yaren membayangkan kegiatan panasnya dan Ayaz malam tadi. Kedua sudut bibirnya tertarik, bukankah mereka melakukannya semalam bak dua sejoli yang sangat mencintai satu sama lainnya.


Aku mencintaimu Yaren, kau sudah menjadi milikku seutuhnya, jangan tinggalkan aku. Sayang, mungkin ini memang akan sedikit sakit, tapi percayalah aku akan membayarnya dengan cinta yang tak terhingga untukmu.


Ayaz mengatakan mencintainya, benarkah itu? Atau kata-kata itu hanya dilontarkan Ayaz supaya pria itu bisa mengambil haknya sebagai seorang suami.


Apa benar Ayaz mencintaiku?


Sedang dirinya saja entah di mana saat ini, meninggalkan aku sendirian, tanpa kabar, Ayaz memang selalu saja seperti ini.


Berhenti bermimpi Yaren, sekalinya bajingan tetaplah bajingan, seharusnya dia menemanimu saat kau membuka mata, jika dia benar-benar mencintaimu dia tidak akan meninggalkanmu setelah mengambil kesucianmu. Kau jangan terlalu bodoh Yaren.


Tapi, Ayaz mengatakan itu, mengatakan dia mencintaiku, dia juga mempersiapkan semuanya, aku bahkan dibebaskan olehnya melakukan apapun asal jangan mencoba kabur darinya. Dia mengatakannya semalam, jangan pernah meninggalkannya.


Jika dirinya benar-benar cinta, tidak akan memperlakukanku tanpa perasaan seperti ini, tidak taukah dia bagaimana rasanya dicap sebagai teman ranjang, menyuruhku mengonsumsi pil kontrasepsi, Ayaz tidak pernah serius denganmu Yaren, kau akan pria itu buang jika dirinya sudah bosan, kau akan dirinya terlantarkan jika Ayaz sudah tidak menginginkanmu lagi, yah pada masanya kau tidak akan ada artinya bagi Ayaz.


Cinta yang tak terhingga untukmu, heh! Pria itu pandai sekali dalam berbicara, aku tidak akan mudah tersentuh Ayaz hanya dengan kau mengatakan itu, kau bajingan, brengsek, penjahat.

__ADS_1


Yah, Ayaz penjahat, seharusnya aku tidak... Apa maksudnya, tidak jangan katakan aku sudah jatuh cinta dengannya, tidak Yaren, kau tidak boleh jatuh cinta dengannya hanya karena dia mengatakan mencintaimu, tidak... Jangan pernah jatuh cinta padanya Yaren....


Yaren menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, pemikirannya berkecamuk seolah menentang kemauannya, mungkinkah dirinya benar sudah jatuh cinta pada seorang Ayaz, pria yang telah di cap bajingan olehnya. Semudah itu, secepat itu?


Hanya karena sebuah pengakuan dari Ayaz. Jantung Yaren berdebar hebat kala teringat akan ucapan Ayaz yang mengatakan mencintainya, ya Tuhan apa begini rasanya jatuh cinta? batin Yaren mengatakan menolak namun otaknya terus saja memikirkan Ayaz.


Tok tok tok, pintu kamar diketuk pelan. Yaren tersadar dari lamunannya, dengan pelan juga dirinya melangkah ke arah pintu.


Ceklek, pintu dibuka, dilihatnya dua orang waiters yang mengantarkan makanan untuknya.


"Terimakasih, selamat menikmati!" ucap kedua waiters itu serempak.


"Iya!" kikuk Yaren.


Setelah kedua petugas hotel itu keluar, Yaren segera mempersiapkan diri untuk menyantap sarapannya, ah mungkin sarapan siang lebih tepatnya.


"Apa dia akan kembali? Apa aku harus menyisakan makanan untuknya?" tanya Yaren pada dirinya sendiri.


Sementara di lain tempat,


Sam dan Tuan Donulai baru saja selesai berziarah ke makam Tuan Frans, saat ini mereka sedang menuju makam Nindi Rowans, karena memang masih satu tempat.


"Kau tau makamnya?" tanya Tuan Donulai pada Sam.


"Tau Ayah, saat dulu aku sering ke sini bersama Ayaz, dia sering kali mengunjungi makam Ibunya." jawab Sam.


Dulu, memang benar. Sam sering kali mengunjungi makam ini bersama Ayaz, dari situ jualah Sam mengetahui nama dari Ibunya Ayaz adalah Nindi Rowans.


"Tunggu Ayah!" sergah Sam.


"Kenapa?" tanya Tuan Donulai.


Sam melihat ada seorang pria sedang berjongkok di makam Nindi Rowans, dari kejauhan dirinya bisa melihat itu. Yah dia yakin sekali pria itu benar-benar berjongkok tepat di makam Nindi Rowans, Ibunya Ayaz.

__ADS_1


"Ada orang di makam Nona Nindi!" sahut Sam.


"Hah?"


"Ayah tunggu sebentar, aku akan memastikan!"


...***...


Ayaz berjongkok di samping makam Ibunya, sudah lama sekali dirinya tidak mengunjungi makam itu, dirinya membersihkan makam yang tampak tidak terawat itu, dia yakin sekali Sian juga enggan mengurusi makam ini, cinta yang Sian katakan untuk Ibunya dulu sudah benar-benar menghilang.


Tidak jauh darinya, Ayaz juga sedang mengawasi pergerakan keluarga Donulai, dirinya melihat orang itu benar-benar sedang mengunjungi makam seseorang seperti apa yang Marco katakan.


"Apa itu makam adik Ipar orang tua itu?" gumamnya sambil terus membersihkan makam ibunya.


Ayaz mengedarkan pandangannya kala seperti kehilangan jejak targetnya, baru saja dirinya menunduk sebentar namun para incarannya sudah hilang dari pandangan.


"Kemana mereka?" gumam Ayaz, matanya menelisik mencari keberadaan keluarga Donulai, namun seketika jantungnya berdegup kencang kala melihat langkah seseorang menuju ke arahnya.


Ayaz menajamkan penglihatannya, semakin mendekat orang itu, maka semakin berpacu cepat jantungnya.


Ayaz menunduk, dirinya kembali berpura-pura membersihkan makam Ibunya, setidaknya dirinya punya alasan jika keluarga Donulai mencurigainya, karena Ayaz yakin sekali pria yang sedang melangkah ke arahnya ini adalah salah satu keluarga Donulai, atau mungkin adalah Rangga Donulai, pria yang sedang menjadi targetnya.


"Siapa anda?" tanya seseorang itu.


"Kenapa?" tanya Ayaz dingin dengan masih menunduk. Dirinya memilih sibuk untuk membersihkan makam yang sebenarnya sudah bersih itu.


"Kau mengenal Nindi Rowans?" tanya seseorang itu lagi.


"Dia Ibuku!"


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2