Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Sejak kapan seorang Jovan Dirga memiliki adik?


__ADS_3

"Kau bertengkar dengannya?" tanya Marco.


Saat ini, ia dan Ayaz tengah berbincang santai di teras, Ayaz tampaknya mulai bisa berpikir jernih, namun untuk masalah hati, Marco tidak bisa menebaknya.


Hening, Ayaz tidak bisa bersikap begini, seolah menerima Marco tanpa perlawanan.


"Katakan pada Jovan, itu aku!" ucap Marco.


"Dia tidak akan mengerti!"


Marco mengangguk, ia menghidupkan rokok untuk menghindari canggung, "Rokok?" tanyanya menawari Ayaz.


Ayaz tidak menerimanya, ia masih betah memandangi pagar pembatas yang lumayan jauh di sana.


"Sebenarnya, apa yang begitu mengganjal di hatimu sehingga tidak bisa menerimaku? Beri aku alasan!" ucap Marco lagi.


Ayaz enggan menanggapi, dari penjelasan Marco kemarin seharusnya ia sudah bisa menerima, namun entah mengapa rasanya hatinya masih saja terbentur sakit. Penyiksaan yang dilakukan Sian padanya, nyatanya memang begitu membuatnya trauma hingga ia masih saja menyalahkan Marco meski menurutnya ia juga mengakui Marco tidak sepenuhnya bersalah.


"Satu alasan saja!"


Tidak ada lagi alasan, namun hati ini masih penuh dengan keraguan.


"Kau akan terus diam?"


"Bukannya kau sudah tau, aku adalah pemikir?" tanya Ayaz dingin.


Marco tersenyum, "Hiduplah bersamaku, bersama kami, Rymi juga sangat mengharapkanmu menjadi kakaknya."


Ah Rymi, mendengar nama gadis itu, selalu saja membuat Ayaz tidak tega, meski Rymi sudah pernah mengkhianatinya dengan menyembunyikan segala yang wanita itu ketahui, namun berkat Rymi jualah ia bisa duduk bersandingan dengan Marco hari ini sebagai seorang Ayah dan Anak.


Wanita itu, sebenarnya begitu bisa mengerti hatinya, apa lagi mengingat begitu banyak hal yang dirinya dan Rymi lalui beberapa tahun ini, mana mungkin ia bisa meninggalkan wanita itu begitu saja. Adik, ia juga yang telah menempatkan Rymi sebagai seorang adik baginya. Berjanji akan melindungi wanita itu, meski kadang Rymi juga nampaknya tidak perlu dilindungi.


"Beri aku waktu!" ucap Ayaz.


...***...


"Kau suka?" tanya Dokter Amri. Nil langsung saja, sebuah kalung berinisial awalan namanya sudah menggantung cantik di leher jenjangnya. Ia menatap mesra seseorang yang memang dirinya sukai itu.

__ADS_1


"Ini..."


"Happy birthday!" ucap dokter Amri riang, yah hari ini adalah hari spesial untuk Nil, calon pacarnya. mungkin bukan, lebih tepatnya calon istri, jika saja Nil tidak menolak lamarannya.


"Pak Dokter..." seru Nil tidak percaya.


"Kau terlihat lebih cantik." ucap Dokter Amri jujur.


Dari kejauhan, Yaren tidak percaya bisa melihat lagi seseorang yang juga dirinya kenali. Tadinya, ia ingin menemani Jovan makan siang, karena ia yang merasa begitu bersalah sekaligus berhutang budi pada Kakaknya itu, maka dirinya ingin berinisiatif mencoba menjadi adik yang paling baik meski hanya satu hari ini saja.


Dan juga, Yaren sekalian ingin memalingkan segala pemikirannya yang hanya berpusat pada Ayaz terus-terusan. Ia akan mencoba menikmati hidup, dan lagi pula apa yang bisa dirinya lakukan selai. menunggu kemarahan Jovan mereda, ingin diam-diam mencari keberadaan Ayaz, namun di mana?


Mereka tidak punya rumah yang menjadi tempat untuk pulang, jika masih punya seperti sebelum kebakaran waktu itu, pastilah Yaren sudah diam-diam pergi dari rumah dan menemui Ayaz.


Yaren mendekat, Jovan melihat gerak gerik adiknya itu yang sedang menuju pada salah satu meja pengunjung.


"Kak Amri?" serunya bersemangat.


Dokter Amri menoleh, matanya mendapati seseorang yang juga begitu dirinya rindukan, bahkan mungkin orang itu juga masih bertahta di hatinya.


"Yaren..." dokter Amri bangkit dan langsung saja memeluk Yaren. Tidak lagi menyadari mata Nil yang sudah membulat melihat interaksi spontannya dengan Yaren.


"Kau ke mana saja?" tanya dokter Amri, ia tidak percaya bisa bertemu dengan Yaren hari ini.


Wanita yang sempat disukainya itu tampak begitu cantik, semakin cantik dari saat terakhir ia melihat wanita itu.


"Hehe, maaf tidak mengabarimu, aku kehilangan ponselku dan aku sudah menikah!" ucap Yaren.


Nil yang sedang duduk sedikit lega saat Yaren mengatakan sudah menikah, wanita itu merasakan cemburu saat pria yang disukainya tampak begitu dekat dengan wanita lain.


"Kau sibuk sekali? Sehingga tidak berniat pulang?" tanya Dokter Amri.


"Yaren..." seru Jovan yang sudah ada saja di belakangnya.


Nil lagi-lagi membulat, Jovan Dirga, pengusaha muda, tampan dan kaya raya, mengapa ada di sini dan sepertinya mengenal wanita itu. Namun sejurus kemudian mulutnya menganga, mungkinkah Jovan Dirga menyembunyikan pernikahannya dan wanita ini adalah istrinya, pikir Nil mulai ngawur.


Dokter Amri juga sedikit tercengang, ia pernah memiliki kerja sama dengan pria itu beberapa minggu yang lalu, namun jangan sampai pria itu membeberkannya.

__ADS_1


Lagipula, apa hubungannya Yaren dengan pria itu pikir Dokter Amri.


"Kak!" jawab Yaren. Ia tersenyum melihat Jovan, Jovan memang tidak mempermasalahkan jika Yaren menyebutnya Kakak meski hal itu akan menyulut kecurigaan orang yang tidak mengetahui tentang mereka jika mendengarnya, ia sudah siap akan konsekuensi mengingat dia adalah seorang pengusaha muda, seorang anak tunggal yang sudah yatim piatu. Lalu, bagaimana bisa tiba-tiba ada gadis memanggilnya kakak dan terdengar sangat tulus begitu.


"Apa dia temanmu?" tanya Jovan pura-pura tidak tau.


Dokter Amri tersenyum miris melihat akting seorang Jovan Dirga, namun sebenarnya memang lebih baik begitu.


Yaren mengangguk, "Lebih dari teman, dia adalah saudaraku, saudara dari Mama." jelas Yaren.


Jovan mengangguk paham, lalu setelah mendengar itu ia mencoba mengingat siapa sebenarnya dokter Amri, kalau benar pria itu adalah keluarga dari Mamanya, tentu saja ia seharusnya mengenali.


Jovan mengingat teman masa kecilnya dulu jika keluarga besar mereka sedang berkumpul keluarga, banyak anak yang sepantaran dengannya, namun ia merasa tidak mengenal Dokter Amri.


"Kenapa?" tanya dokter Amri saat melihat raut bingung tergambar dari wajah Jovan.


Jovan menggeleng pelan, "Nothing!"


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" dokter Amri juga tidak tau, pertanyaan itu terlepas saja dari ujung lidahnya. Padahal ia tidak bermaksud, dan seharusnya ia menghindari percakapan ke arah situ.


Jovan terlihat berpikir, dokter Amri menganggapnya sedang berakting, padahal Jovan benar-benar berpikir, ia mencoba mengingat siapa sosok dokter Amri.


"Siapa ini Kak?" tanya Yaren membuyarkan konsentrasi Jovan. Ia menunjuk Nil sembari tersenyum hangat.


Nil membalas senyum, dalam hatinya terselip kecut, merasa sudah terkenal sebagai seorang selebgram masa iya ada orang yang tidak mengenal dirinya, apa lagi seseorang yang modis seperti Yaren, dilihat dari penampilannya semua yang dikenakan Yaren ditubuhnya berikut dengan brand ternama, tentu saja seharusnya Yaren begitu update.


Ia merasa kecil, apa seorang kalangan atas tidak mengenal dirinya, ia rasa juga tidak, ia tidak seburuk itu.


Padahal tidak taukah Nil, Yaren sama sekali tidak bermain ponsel, sempat saja kemarin saat Jovan menghadiahkan benda itu menjadi miliknya, namun hanya sebentar sebelum hilang dan mungkin sudah hancur akibat tragedi penculikannya waktu itu.


"Saya Nil!" Nil mengulurkan tangannya dan menyapa.


"Yaren!" balas Yaren.


"Ah iya, kenalkan ini Jovan, Kakakku!" lanjut Yaren memperkenalkan Jovan.


Nil benar-benar tidak percaya, sejak kapan seorang Jovan Dirga memiliki adik, pikirnya rancu.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2