Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan.


__ADS_3

Pagi menjelang, Raisa mengerjabkan matanya dan mendapati dirinya berada di ruangan rumah sakit. Ia mengingat-ingat apa yang terjadi padanya dan langsung saja merasakan sesak saat sudah menyadarinya.


Ia tidak bisa menahan tangisnya kala mengingat itu, begitu banyak pertanyaan yang diberondong oleh para pencari berita tentangnya, tentang keluarga, dan sayang sekali hal yang ditanyakan itu adalah sebuah aib baginya.


Ia melepas paksa infus yang bersarang di tangannya, dengan tenaga yang belum pulih ia bangkit dan berjalan mendekati pintu, namun alangkah terkejutnya ia saat mendapati betapa banyaknya wartawan yang menunggu kedatangannya di luar, kali ini ia benar-benar terjebak.


Raisa memikirkan bagaimana caranya supaya ia bisa meloloskan diri, namun otaknya yang minimalis itu sepertinya tidak bisa bekerja dengan baik, pikirannya benar-benar buntu.


Sedang di ruang rawat lain, tak kalah dengan situasi di depan pintu ruang rawat Raisa, ruang rawat Argantara juga dipenuhi jejeran pencari berita, namun Argantara tampaknya belum juga menandakan tanda-tanda kesadaran.


Berita itupun masih menjadi simpang siur karena belum adanya konfirmasi dari pihak yang terkait.


Dari kejauhan juga terlihat seorang pria yang tengah mengawasi pergerakan Argantara dan Raisa. Ia ingin mengetahui bagaimana perkembangannya, apa lagi melihat Argantara tampak kesulitan menghadapi situasi terburuk ini, pastilah akan sangat seru untuk dirinya saksikan.


...***...


Hari menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi saat seorang warga menemukan sebuah mayat di tepian sungai. Mayat itu tampak bersih hanya ada bekas luka di pelipisnya namun sudah samar mungkin karena sudah lamanya mengapung di air sungai.


Para warga berinisiatif untuk melaporkan penemuan mayat itu pada pihak yang berwajib. Dan alangkah terkejutnya pihak kepolisian melihat mayat siapa yang mereka temui kali ini.


"Kabarkan pada Nyonya Amla Huculak, katakan bahwa suaminya sudah ditemukan!"


"Baik Pak!"


Amla yang mendengar itu berpura-pura histeris, ia berakting menjadi wanita yang paling menyedihkan karena baru saja mendapatkan kabar kematian suaminya.


Dalam hatinya ia mengumpati Ayaz yang dianggapnya telah berhasil membunuh Sian, kali ini dirinya benar-benar tidak boleh lagi menganggap remeh Ayaz, pria yang pernah menjadi anak tirinya itu sepertinya memang ingin membalaskan dendam.


Amla dengan tidak sabar menuju kamarnya, ia akan menelpon Kate Yarkan dan meminta Kate untuk segera menemukan Dean Aries yang sebenarnya. Terakhir ia mendengar kabar yang tidak menyenangkan, Kate mengatakan padanya bahwa Dean Aries telah pindah kota dan sulit sekali menemukan keberadaannya. Amla menganggap Kate Yarkan tidak berguna, sangat tidak becus dalam menanggapi masalah.

__ADS_1


Setelah itu, ia bergegas turun dan memerintah orang suruhannya untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi di lokasi, sementara ia diantar supir untuk segera menuju rumah sakit untuk melihat mayat suaminya.


Sesampainya di rumah sakit, ia langsung bergegas menuju kamar mayat, ingin memastikan bahwa mayat yang ditemukan di tepian sungai itu adalah benar mayat Sian suaminya.


Amla membuka kantong mayat itu, dan mendapati wajah Sian suaminya, tampak bersih dan seperti tidak terjadi apapun, tidak ada bekas siksaan atau semacamnya, hanya ada bekas luka yang tersemat di pelipisnya, seperti terbentur, namun itu juga hanya seperti luka kecil.


"Saya minta untuk melakukan otopsi, apa pihak kepolisian sudah menyelidiki apa yang terjadi?" tanyanya pada salah satu pihak kepolisian yang mendampinginya.


"Menurut penelitian yang sudah kami lakukan dengan tim medis, Tuan Sian meninggal sekitar dua hari yang lalu, praduga sementara adalah kecelakaan berkendara, karena seperti yang anda lihat tidak terdapat bekas siksaan jika selama ini Tuan Sian benar-benar menghilang karena diculik." jelas pihak kepolisian itu.


"Apa kalian sudah benar-benar memastikan? Bayangkan saja suamiku hilang sudah lebih dari setengah bulan, apa kalian pikir dia bersenang-senang di luaran sana dan tidak mengabariku sama sekali? Sementara aku sebagai seorang istri, tiada hari kulewatkan tanpa memikirkannya, mencemaskannya, apakah dia masih hidup, atau jikapun dia sudah tiada setidaknya harus masuk akal, ini tidak, ini benar-benar mencurigakan!" berang Amla.


Bagaimana bisa suaminya itu dinyatakan meninggal baru dua hari yang lalu, sementara sudah hilang sekitar setengah bulan lamanya.


"Nyonya Amla, jika anda ingin melakukan otopsi maka pihak kami menyetujuinya, mungkin melalukan itu akan bisa membuktikan apa yang terjadi sebenarnya. Saya hanya mengatakan hal tadi adalah praduga sementara, untuk lebih jelasnya memang sudah seharusnya dilakukan otopsi." jelas pihak kepolisian itu lagi.


Jika hasil otopsi mengatakan kalau Sian mati karena dibunuh, maka siap-siap saja Ayaz akan menanggung semuanya, Amla berjanji akan menjebloskan Ayaz ke penjara apapun caranya, dan juga kasus Ali Yarkan, ia masih punya harapan lain untuk membawa Ayaz mendekam dibalik jeruji besi atau bahkan mungkin lebih cepat membawa Ayaz pada kematiannya.


Tidak akan kubiarkan Ayaz, kau harus menanggung semuanya, kau tidak akan lolos kali ini, aku bisa memastikan itu, tunggu saja... Tunggu saja hingga hasil otopsinya keluar, maka akan ku pastikan kau mendekam di penjara.


Mayat Sian di bawa ke ruangan khusus, untuk dilakukan otopsi. Amla baru saja bergegas ingin pulang namun langkahnya terhenti karena mendengar kasak kusuk dari beberapa perawat di rumah sakit itu.


"Kau ingat mayat yang minggu kemarin ditemukan?"


"Mayat yang waktu itu?"


"Iya, katanya dia meninggal karena di bunuh?"


"Apa? Bukannya, kecelakaan lalu lintas?"

__ADS_1


"Ditubuhnya terdapat racun mematikan, yang baru akan bereaksi di tubuhnya setelah dua puluh empat jam!"


"Benarkah? Mengapa seram sekali?"


"Nyonya Amla!" seru salah satu pihak yang menangani otopsi memanggilnya.


Amla mendongak, konsentrasinya terputus kala mendengar seseorang memanggil namanya itu.


"Ya!" sahutnya.


"Atasan kami memanggil anda!" ucapnya.


Amla mengangguk, ia berpikir dirinya akan menghadapi langkah bagaimana menghadapi otopsi pada tubuh Sian, barang kali saja ada yang perlu ditanyakan, atau mengurus beberapa surat yang mungkin masih ada kekurangan.


Amla masuk pada sebuah ruangan kantor, lalu ia dipersilahkan duduk.


"Nyonya Amla Huculak, bagaimana keadaan anda?" tanya atasan itu yang nyatanya adalah seorang wanita. Namanya Dokter Diana.


"Sejauh ini, cukup memprihatinkan, mungkin anda juga sudah tau mana ada seorang istri yang tidak bersedih karena mendapati suaminya yang hilang berhari-hari, lalu setelah ditemukan saya tidak pernah menginginkan takdir kami yang seperti ini." ucap Amla melemah.


"Saya hanya bisa mengatakan dan berharap supaya anda bisa tetap sabar dan tabah." ucapnya dokter Diana melanjutkan.


Amla mengangguk, ia memaksakan air mata supaya jatuh meski hanya setetes. Supaya aktingnya yang sedang berduka kehilangan seorang suami terasa lebih menjiwai.


"Tapi, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan, ini di luar permintaan otopsi dari jasad Tuan Sian!" ucap Dokter Diana.


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...

__ADS_1


__ADS_2