Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Selamat sore Nyonya Amla Huculak!


__ADS_3

Ayaz bisa bersyukur karena Jovan sudah sedikit bermurah hati, saudara dari istrinya itu nyatanya sudah mengizinkan ia untuk membawa Yaren, namun tentu saja tatapan Jovan masih belum bersahabat padanya.


"Jadi kita akan ke Itali?" tanya Yaren, matanya begitu berbinar karena ia memang tidak tahu apa tujuan mereka kali ini ke Itali, ia juga baru mengetahui kalau suaminya itu adalah keturunan Itali batu-baru ini.


"Ya!" sahut Ayaz singkat


"Apa kita akan pergi berlibur?" tanya Yaren lagi


Ayaz mengusap kepala Yaren pelan, "Sayangnya tidak! Nenekku meninggal dunia hari ini, jadi kita akan menghadiri pemakamannya!" jawab Ayaz menjelaskan.


Yaren merasa tidak nyaman, ia sudah salah berpikiran kalau kepergiannya dan Ayaz ke luar negeri adalah untuk berlibur.


“Maafkan aku Ayaz... Aku tidak tau!” sesal Yaren.


Ayaz menggenggam erat tangan Yaren, “Tidak apa, sebenarnya aku juga tidak tau harus merasakan apa!” ucap Ayaz.


Yaren sedikit heran, kenapa begitu? Pikirnya.


“Selama ini aku tidak punya keluarga! Mereka memang keluargaku, namun sayangnya seperti orang asing.” Jelas Ayaz.


Tangan satunya semakin erat menggenggam kemudi. Ia mencoba menguatkan hatinya.


Tak lama mereka pun sampai di kediaman Marco, Marco sudah mengeluarkan tiga koper berisikan baju Ayaz dan dirinya, serta baju untuk Yaren yang ia ambil dari koleksi baju Rymi yang masih tersimpan di rumahnya.


“Apa kau berencana untuk pindah?” sindir Ayaz.


“Selama kalian di Itali, seharusnya tidak menyia-nyiakan kesempatan bukan, berbulan madu juga mungkin tidak ada salahnya.” Sahut Marco.


Wajah Ayaz dan Yaren spontan saja memerah kala mendengar ucapan Marco. "Sudah siap?" tanya Marco lagi


Ayaz dan Yaren mengangguk bersamaan.


Lalu ketiganya berangkat menuju bandara internasional untuk segera menempuh perjalanan menuju Itali.


...***...


Pihak kepolisian tidak mendapati apapun terkait jasad yang ditemukan di sebuah jurang pagi kemarin, dugaan sementara masih tetap mengarah ke kecelakaan lalu lintas mengingat mobil yang dikendarai korban sudah hangus terbakar.


Proses otopsi sudah selesai dilakukan namun untuk hasil observasi dari lab yang memeriksa belum bisa dilihat bagaimana hasilnya untuk saat ini.


Pihak kepolisian berencana untuk menunggu hasil tersebut terlebih dahulu sehingga mereka bisa mengetahui apa yang terjadi lebih jelasnya.


Namun, tak lama tiba-tiba saja pihak kepolisian mendapati hal yang mencurigakan, mereka mendapatkan kabar dari mata-matabyang berjaga di area sekitar TKP, bahwa ada seseorang pria yang pergi seorang diri untuk memeriksa mobil yang terbakar hangus itu di TKP.


Ketua tim tentu saja harus lebih cepat bertindak mereka segera menuju jurang itu, sebelum mereka kehilangan jejak orang yang katanya mencurigakan itu.

__ADS_1


"Apa kalian mengenalinya?" tanya salah anggota pihak penyidik.


Semua orang di sana menggeleng dan berkata bahkan pria itu tidak terlihat saat pemeriksaan tadi pagi "Kami berpikir mungkin itu adalah keluarga korban namun pergerakannya tampak lain."


"Lain yang bagaimana?" tanya salah satu pihak penyidik itu lagi.


"Pria itu tampak memeriksa dengan detail mobil yang terbakar hangus itu seperti ingin mencari sesuatu."


"Kalian sudah pastikan di mobil itu tidak terdapat apapun yang mencurigakan?"


"Kami rasa tidak, dari pagi tadi sampai siang ini kami sudah mencari dan tidak menemukan apapun."


"Kasus ini begitu pelik, jika tidak ada yang bisa terungkap, kecelakaan lalu lintas mungkin akan menjadi satu-satunya alasannya." ucap ketua penyidik.


"Terus awasi, barangkali pria mencurigakan itu akan kembali untuk memeriksa." lanjutnya.


"Siap Pak!"


Lalu ketua penyidik menuju mobil yang sudah menjadi rongsokan hangus itu, dilihatnya dengan begitu teliti, sebenarnya ia cukup mencurigai karena rasanya mobil ini seperti sengaja dibakar, namun saat ia mencoba mencari bukti sayangnya kecurigaannya itu tidak bisa dibuktikan.


Rasanya ia tidak percaya mobil ini benar-benar hangus dan tidak bisa memberikan petunjuk apapun.


"Pak!" seru anggotanya.


"Ya!"


Ketua penyidik itu maju beberapa langkah memakai sarung tangan dan lalu meneliti kembali.


Kaca mobil yang begitu kuat rasanya tidak mungkin bisa menjadi hancur berkeping-keping seperti yang dilihatnya ini.


Meskipun jatuh ke jurang namun setidaknya kondisi mobil ini tidak akan separah ini bukan, ini adalah kondisi terburuk di sepanjang ia menangani kasus kecelakaan yang berakhir di jurang.


Ia terus memeriksa, rasanya tidak mungkin saja mereka tidak mendapatkan apapun


Hampir setengah jam ia memeriksa tiba-tiba salah satu anggotanya dengan nafas yang tersengal berlari menghampiri.


"Ada apa?" tanya ketua penyidik.


"Saya menemukan sesuatu!" jawab anggota tersebut.


Anggota tersebut memberikan sebuah tas ransel, "Saya menemukan ini di atas sana!" ucapnya melapor.


Ketua penyidik memeriksa isi dari ransel tersebut sebuah dompet dan beberapa buah pakaian, lalu ia membuka isi dari dompet tersebut dan terdapatlah sebuah kartu identitas seorang pria.


Dale Adrie, tertulis di sana. Ketua penyidik itu memeriksa lagi dan mendapati sebuah surat Izin mengemudi dan juga beberapa kartu lainnya, namun di situ ia juga menemukan suatu yang menurutnya harus diselidiki, nyatanya Dale Adrie adalah salah satu pekerja di kediaman keluarga Sian Huculak, hal itu diperkuat dengan adanya sebuah tanda pengenal yang bertuliskan SN Group dan sebuah foto layaknya seorang pengawal.

__ADS_1


"Periksa ini!" titah Ketua penyidik pada anak buahnya memberikan ransel itu.


Salah satu anggota mengambil dan mengamankan ransel itu, sedang Ketua penyidik itu masih memandangi kartu identitas pria yang bernama Dale Adrie tersebut serta kartu tanda pengenal dengan foto seperti pengawal itu.


"Bukankah beberapa hari yang lalu Tuan Sian Huculak juga dinyatakan menghilang?" gumamnya. "Apa kecelakaan ini ada hubungannya dengan hilangnya pengusaha kaya raya itu?" lanjutnya.


Segala hal yang sedang ia coba kaitkan barangkali semuanya memang saling bersangkutan apalagi saat ini Sian Huculak juga masih belum ditemukan.


"Mengapa aku merasa ini ada hubungannya dengan kasus hilangnya Tuan Sian?" ucap ketua penyidik itu pada para anggotanya, "Apa sudah ada kabar bagaimana kelanjutan pencarian Tuhan Sian?"


Beberapa para anggota menggeleng pelan sampai saat ini pun dari pihak mereka masih terus melakukan pencarian dan sayangnya usaha itu tidak juga membuahkan hasil.


"Hubungi Nyonya Amla Huculak segera untuk menemuiku di kantor!" suruhnya.


"Baik Pak!"


Salah satu anggota kepolisian itu menghubungi Amla Huculak dan memerintahkan wanita itu untuk segera datang ke kantor.


...***...


Amla baru saja menerima panggilan telepon dari pihak kepolisian, jantungnya berdebar entah untuk apa gerangan kali ini pihak kepolisian memanggilnya dan dinyatakan harus datang segera.


Apakah ini menyangkut perihal kasus suaminya yang hilang atau karena hal lain karena ia baru saja membeberkan barang bukti mengenai Dean Aries yang nyatanya adalah Ayaz Diren itu, mungkinkah Kate Yarkan tidak bisa menjaga kepercayaannya untuk menyembunyikan identitasnya sehingga ia harus mengalami introgasi lagi nantinya.


Amla menetralkan kinerja jantungnya ia mengambil air putih dalam kemasan dan menenggaknya hingga setengah. Ia gugup.


"Tidak tidak, ini pasti tentang Sian! Ya benar, tentang Sian, seharusnya begitu sudah lama suamiku itu tidak ditemukan kali saja mereka sudah menemui titik terang!" harap Amla dengan cemas.


Amla segera memerintahkan sopirnya untuk menyiapkan mobil, ia menuju kamar untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sedikit sopan.


Iya sudah menyiapkan beberapa patah kata dan tak lupa membawa obat tetes mata untuk menetralkan aktingnya di kantor polisi nanti.


Iya sudah benar-benar siap jika pun suaminya itu mati ia tidak apa, namun setidaknya dengan ditemukannya Sian itu adalah jalan untuknya menjerat Ayaz.


Karena menurut Amla hanya Ayazlah yang mungkin bisa berbuat sesuatu pada Sian, suaminya.


Setengah jam berlalu, Amla sudah sampai pada gedung megah kepolisian, ia langsung menuju ruangan penyidik.


Kedatangannya disambut baik oleh ketua penyidik itu, Amla dipersilahkan duduk.


"Selamat sore Nyonya Amla Huculak!"


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2