
"Byurrr!"
Sian merasakan nyeri di seluruh tubuhnya kala air dingin dengan tumpukkan es batu itu menghantam tepat di kepalanya. Tangan dan kakinya terikat, persis seperti apa yang dirinya lakukan terhadap Sam tadinya.
"Bajingan!" umpat Sian, mulutnya masih bisa berucap demikian. Alisnya hampir menyatu kala mendapati siapa yang berada di hadapannya.
"Bukankah kau sudah biasa melihat tawananmu diperlakukan seperti ini? Sesekali, tidak apa kan jika kau mencobanya!" sudut bibir Ayaz terangkat ke atas, ia sungguh puas hati melihat Sian yang tampak begitu menyedihkan.
"Akan kubunuh kau! Anak haram!" umpat Sian lagi. tangannya sudah gatal ingin menghabisi anak tirinya itu, tapi sayangnya ia tidak berdaya.
"Hahahaha!" Ayaz tertawa terbahak-bahak, "Aku sungguh merindukan panggilan itu, terimakasih sudah mengingatkannya."
"Cuih!" Sian meludah, hampir saja mengenai wajah Ayaz.
"Ow!" Ayaz spontan menjambak rambut pria paruh baya itu, "Seharusnya, di saat seperti ini, kau setidaknya melakukan kebaikan padaku, merenungi nasibmu mungkin akan lebih baik dari pada bersikap tidak tau diri seperti ini, tapi tidak apa, aku suka semangatmu, jadilah diri sendiri hingga akhir!" bisik Ayaz geram.
"Bajingan! Lepaskan aku!" sorak Sian. Pria itu masih punya cukup tenaga ternyata untuk berteriak.
Ayaz mengambil gunting dari laci, sudut bibirnya terangkat, gunting itu terarah menuju rambut Sian, diguntingnya rambut itu menjadi tidak berbentuk, dia ingat Sian pernah melakukan hal seperti ini padanya dulu.
"Jangan lakukan, sialan!" teriak Sian tidak terima. Kepalanya terus saja bergerak, menghindari tangan Ayaz yang ingin menggunting rambutnya itu.
"Kau bisa diam tidak, jangan salah kan aku jika hasilnya tidak memuaskan!" berang Ayaz.
"Kau, beraninya kau menyentuhku!" Sian tak kalah garang meneriaki Ayaz.
"Menyentuhmu?" dahi Ayaz berkerut, "Aku bukan hanya berani menyentuhmu, menghabisimu pun aku sangat berani!" ucap Ayaz percaya diri.
"Kau..."
"Akan mendapatkan balasan yang lebih pedih dari apa yang kau perbuat padaku dulu, aku tidak suka sesuatu yang tidak berbalas, jadi dengan melakukannya, maka aku tidak akan berhutang lagi padamu!" Ayaz langsung saja memotong ucapan Sian. Ia sungguh sangat puas melihat tatapan putus asa yang tercipta di wajah Sian yang menjijikan baginya.
"Apa maumu?" tanya Sian.
"Mauku?"
__ADS_1
"Iya, apa maumu? Uang, kekayaan, kau akan mendapatkannya, namun lepaskan aku!" ucap Sian, jika melihat tatapan Ayaz yang seakan begitu membencinya, Sian bisa memastikan bahwa hari ini mungkin bisa saja ia mati di tangan anak tirinya itu.
Jadi, dengan keputusan yang diambilnya cepat, ia mencoba menawarkan kesepakatan pada Ayaz, berharap Ayaz akan tertarik, siapa yang tidak akan tergiur dengan harta dunia menurutnya.
"Apa kau sedang mencoba membuat kesepakatan denganku?" tanya Ayaz, pria itu tersenyum konyol, bukankah sangat menggelikan.
"Kau pasti akan menyesalinya, jika kau melepaskan aku maka aku akan mengampunimu!"
"Jika tidak?"
"Kau... Kau akan tau akibatnya!"
"Kau masih berani mengancam saat sudah sekarat begini? Bukan main, harus kuakui, anda memang tangguh!" Ayaz pura-pura menatap kagum lawannya itu, memberikan dua jempol dan tak lupa bertepuk tangan dengan keras.
"Jangan main-main denganku Ayaz, kau akan tau akibatnya!"
"Bermain-main denganmu? Kau terlalu percaya diri Tuan, kita adalah lawan, jadi tidak ada waktu untuk aku bermain-main denganmu!"
"Katakan apa maumu?" hardik Sian.
"Bajingan!"
"Ya! Kau sudah menyiksaku bertahun-tahun, membiarkan hidupku menderita, bahkan jika kujabarkan apa yang sudah kau perbuat padaku dulu, mungkin seluruh negeri ini akan setuju jika aku menyebutmu sangat tidak manusiawi, kau masih bisa mengumpat seolah aku yang bajingan di sini, aku yang keparat, bedebah, aishhh... Sialan!"
"Kau bahkan berbuat tidak adil pada ibuku, jika kau begitu amat kecewa dulunya, mengapa tidak kau usir saja kami, mungkin itu lebih berperikemanusiaan dari pada harus menghadapi perlakuan gilamu dulu, kau paham apa maksudku, masih juga tidak tau apa mauku?"
"Kau pikir aku akan membebaskanmu begitu saja, kau seharusnya mati Sian, tapi aku masih berbaik hati, aku ingin kau mengulang masa-masa kau menyiksaku dulu, tapi... dengan kau yang berada di posisiku! Jadi, mari kita bernostalgia sebelum pengirimanmu ke neraka!"
Ayaz mengambil sebuah mangkuk berisikan makanan basi, tangannya dengan kuat mencengkram rahang Sian, memerintahkan anak buahnya untuk menyuapi paksa masuk ke mulut Sian.
Sian terbatuk-batuk, rasa asam serta bau yang tidak sedap menyengat sangat tidak bagus untuk indra pengecap dan penciumannya, ia ingin muntah saat itu juga, namun dengan sigap Ayaz mengunci mulutnya, memaksakan masuk makanan basi itu menuju tenggorokannya.
Napasnya tersengal, rasa tidak nyaman yang tak tertahankan membuatnya tersiksa, tapi tidak ada kesempatan untuknya untuk memuntahkan apa yang telah masuk ke dalam mulutnya.
"Apa mengasikkan?" tanya Ayaz.
__ADS_1
Sian, masih dengan rasa ingin muntahnya menatap garang Ayaz.
"Jangan coba-coba memuntahkan itu? Atau, kau hanya akan memakan muntahanmu itu lagi setelahnya." Ayaz duduk di kursi, menatap puas pada Sian.
Sian begitu menderita, namun tidak sedikitpun ia menyesal telah memperlakukan Ayaz seperti itu dulunya. Bahkan yang ada, rasa benci pada anak tirinya itu menjadi bertambah berkali-kali lipatnya.
"Kau sudah siap untuk kejutan berikutnya?" tanya Ayaz.
"Lepaskan aku!" teriak Sian. Nampaknya pria setengah baya itu belum juga menyerah.
"Mengapa terburu-buru, ini bahkan belum sampai seperempat dari acara kita! Waahh, aku kecewa lagi."
"Ayaz! Kau, akan aku pastikan kau membayar mahal untuk ini?" ancam Sian.
"Mahal?" tanya Ayaz heran. "Seberapa mahal?"
"Ayaz!"
"Kau tau perusahaanmu, bisa saja aku hancurkan detik ini juga!" Ayaz tersenyum smirk.
"Hahahaha!" Sian tertawa miris, "Dengan apa?" Sian menatap Ayaz remeh, ia tidak percaya akan kata-kata Ayaz.
"Kau tidak percaya? Apa bagimu itu lelucon?" tanya Ayaz. Tangannya mengepal, ia tidak terima diremehkan.
"Kau tidak punya apa-apa Ayaz!" ucap Sian, menganggap sepele perkataan Ayaz.
"Tidak punya apa-apa? Tapi bagiku, mempunyai pemiliknya di tempat penyiksaan seperti ini, rasanya sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan perusaan itu. Apa aku salah bicara?"
"Kau tidak akan bisa menghancurkanku!" teriak Sian menggema.
"Benarkah? Kau ingin aku membuktikannya?" Ayaz menatap nyalang Sian, bersamaan dengan itu sebuah belati tepat menancap di mata pria yang telah menghancurkannya itu. "Arrrrrggggghhhh!" erang Sian, darah segar mengucur deras dari sebelah matanya, seketika Sian merasakan kesakitan yang tidak pernah terbayangkan olehnya, benar-benar sakit sekali. Bahkan untuk menahan mata itu dengan tangannya saja, Sian tidak bisa melakukannya, Ayaz benar-benar berubah menjadi orang yang kejam, dan Sian kini sudah membuktikannya.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1