Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Aku tidak ingin kehilangan itu lagi.


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Wana, ia menyuruh Raisa untuk menghubungi Harun, karena bagi mereka hanya Harun lah satu-satunya harapan.


Argantara, mana mungkin semudah itu untuk menerima mereka, lagi pula mereka tidak mengetahui di rumah sakit mana Argantara di rawat.


"Tidak diangkat Ma!" jawab Raisa.


Kedua Ibu dan anak itu akhirnya memilih berteduh di sebuah pepohonan, sayang sekali Wana tidak membawa sepeserpun uang, tas dan dompetnya ia tinggalkan di kamar hotel tempatnya di rias tadi, ia melupakan itu.


Beruntung saja Raisa masih sempat membawa ponsel.


"Jadi bagaimana?" tanya Raisa. Ia benar-benar bingung, dengan gaun yang lumayan berat serta heels yang mulai membuat kakinya pegal itu semakin membuat moodnya menjadi tidak baik.


"Ini sudah jauh dari kota, coba kau lihat sedang di mana kita?" suruh Wana mengisyaratkan Raisa untuk mengecek maps di ponselnya.


Raisa menurut, ia mengecek keberadaannya, lalu terpampang lah di mana sebenarnya ia berada. Kelihatannya lumayan jauh, namun masih bisa ditempuh setidaknya jika mereka mendapatkan taksi.


"Lumayan jauh! Tapi, kita harus berjalan sedikit lagi untuk sampai di persimpangan, di sana nanti ada taksi yang lewat, mending kita pulang saja Ma." ucap Raisa.


Wana tampak berpikir, lalu kemudian ia mengangguk setuju, "Baiklah, lebih cepat lebih baik, kita harus segera pergi dari rumah itu untuk membawa semua harta berharga kita, lebih baik saat ini kita memulai hidup baru, Argantara itu benar-benar sudah tidak bisa diharapkan." ucap Wana menggerutu, ia mengatakan itu penuh dengan kelicikan.


"Mama... Mama gila ya, bisa-bisanya berpikiran begitu?" protes Raisa, meski dirinya bukanlah anak Argantara namun baginya Argantara tetaplah Papanya, ia begitu menyayangi sosok ayahnya itu.


Dari kecil, Argantara lah yang merawatnya, ia hanya mengenal Argantara sebagai Papanya, dan akan selamanya tetap begitu.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Wana, ia tidak suka Raisa yang dilihatnya pastilah masih memedulikan Argantara.


"Semudah itu Mama pergi dari Papa?" tanya Raisa.


"Dia yang telah membuangku, aku hanya tinggal memutuskan hubungan dengannya, lagipula setelah ini aku bahkan tidak yakin dia masih punya cukup harta untuk menghidupi kita." jelas Wana.

__ADS_1


"Mama? Mengapa Mama seperti ini?"


"Seperti apa?" Wana menjadi begitu tidak suka, Raisa pastilah tidak setuju tentang cara pikirnya.


Raisa menggeleng, tidak menyangka Mamanya akan semudah itu melepaskan seseorang yang sudah dua puluh satu tahun hidup bersama mereka. Hanya demi sebuah harta, Raisa memang tidak bisa hidup susah, tapi jika dengan hidup susah akan mempersatukan keluarganya yang hampir tercerai berai ini setidaknya ia ingin mencobanya, akan ia lakukan sebisanya. Ia menyayangi Argantara sang Papa, dan juga menyayangi Mamanya ini, tapi kenapa Mamanya malah begitu tega.


"Sudahlah Raisa, tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari Papamu itu!"


"Mama..." Raisa masih menggeleng pelan, ia memundurkan langkahnya, ia benar-benar tidak percaya ini. Ia sudah berpikir saat mendengar apa saja yang menjadi titik permasalahannya, baginya di sini yang paling bersalah adalah Mamanya, tapi mengapa Mamanya malah begitu tega?


Tidak... Harta tidak akan membuatku bahagia, selama ini aku bahagia menjadi anak Papa, bukan karena harta belaka, tapi karena dia memang sangat menyayangiku...


Iya, dia sangat menyayangiku, aku tidak mungkin meninggalkannya di saat seperti ini, aku harus cari Papa...


"Raisa..." seru Wana, ia melihat langkah mundur Raisa yang semakin menjauh.


"Jangan mendekat!" pekik Raisa.


"Mama, aku tidak percaya Mama bisa melakukan ini, di saat aku yang memikirkan bagaimana keadaan Papa, tapi Mama malah berniat untuk kabur dan meninggalkannya, dua puluh satu tahun Ma! Dua puluh satu tahun, apa waktu selama itu begitu tidak berarti?" tanya Raisa.


Wana terdiam, ada sedikit keraguan mengingat dirinya memang sudah sangat lama mengarungi bahtera rumah tangganya bersama dengan Argantara. Tapi, jika harus menanggung malu dan hidup susah lagi, tidak tentunya ia tidak akan sanggup.


"Raisa, ikut Mama, kamu tidak akan mendapatkan apapun jika mencari Papamu itu, kau tidak ingat bagaimana dia mengusirmu, dia tidak menganggapmu lagi sebagai anak." bujuk Wana.


Raisa menggeleng pelan, sejujurnya ia juga tidak percaya saat tadi Papanya membentaknya, mengatakan dirinya bukanlah anak kandungnya, tapi, meski begitu ia tidak semudah itu untuk melupakan hubungan ayah dan anak yang terjalin selama puluhan tahun ini bukan?


"Lalu aku harus bagaimana?" teriak Raisa, ia frustasi.


"Ikutlah dengan Mama, kita bisa memulai hidup baru, buktikan pada Argantara kalau kau bisa hidup tanpa dirinya."

__ADS_1


"Mama..."


"Raisa, jangan kekanak-kanakkan, kau tidak akan bisa hidup susah, kau sudah terbiasa hidup bermewah-mewah sedari kecil, kau tidak akan sanggup hidup miskin!"


"Hanya itu?" tanya Raisa. Air matanya mengalir tanpa bisa dicegah.


"Apa hanya itu yang Mama takutkan?"


"Raisa... Jangan membantah!"


"Kalau hanya itu yang Mama takutkan, aku rasa Mama tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja."


"Raisa, apa maksudmu?"


"Pergilah!" ucap Raisa membentak. "Pergilah sejauh yang Mama bisa, tinggalkan saja aku, bahkan jikapun aku tidak bisa diterima oleh Papa, maka lebih baik aku hidup susah sendirian, aku tidak mau menikmati harta Papa sementara Papa hidup dalam kemalangan, kesusahan, aku tidak bisa melakukannya, hal itu terlalu kejam untuk dilakukan seorang anak yang sudah dua puluh satu tahun dibesarkannya dengan penuh kasih sayang." ucap Raisa, tangisnya pecah saat itu juga. Sungguh tidak sedikitpun niatnya untuk berpisah dengan salah satu sari orang tuanya. Namun jika kenyataan yang dilihatnya begini, maka baginya mungkin lebih baik ia memilih Papanya.


"Raisa..."


Wana melihat watak seorang Dandi di hidup putrinya itu, dulu ia meninggalkan Dandi karena Dandi yang tidak bisa memberikannya materi yang menurutnya bisa membuatnya bahagia, Dandi lebih memilih orang tuanya yang sakit-sakitan dan rela hidup dalam kesusahan, tapi saat itu Wana tidak sanggup hingga memilih pergi. Dan saat ini pun mungkin saja masih sama, baginya hidup adalah pilihan, susah ataupun senang diri sendirilah yang akan menentukan.


"Pergilah! Jangan pedulikan aku, jika menurut Mama aku ini tidak akan bisa hidup susah, maka biarlah kata-kata Mama itu kan aku simpan baik-baik, hari ini aku akan mulai belajar bahwa kadang hidup itu bukan hanya tentang harta."


"Jika aku hanya memikirkan harta, mungkin sudah lama aku mendapatkan pengganti Jovan, tapi nyatanya tidak, yang aku rindukan dari Jovan bukanlah hartanya, aku hanya ingin dia bersamaku, berada di sampingku, aku rindu disayangi. Belajar dari Jovan, aku tidak akan pernah mau kehilangan lagi seseorang yang aku cintai, selama ini Papa sangat menyayangiku, aku tidak bisa meninggalkannya hanya karena sebuah harta."


"Mungkin Mama tidak akan mengerti, jika aku meninggalkan Papa, maka itu berarti aku menukar harta yang tidak seberapa dengan harta yang paling berharga yang mungkin tidak akan pernah bisa aku dapatkan lagi, Mama tau apa?"


"Kasih sayang, aku tidak ingin kehilangan itu lagi." ucap Raisa kemudian berlalu pergi meninggalkan Wana.


Bersambung...

__ADS_1


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2