Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Apa yang baru saja Marco minta? (Marco POV)


__ADS_3

"Kau mabuk?" tanya Nindi, wanita itu merampas gelas bir yang sedang digenggam oleh Marco, Marco baru saja hendak menenggaknya kalau saja Nindi tidak mengambil minuman itu dari tangannya.


"Hentikan!" teriak Nindi, ia sungguh frustasi, melihat Marco, tidak mengerti sebenarnya masalah apa yang tengah dihadapi pria itu hingga menjadikan minuman keras sebagai pelarian.


"Hentikan?" Marco menatap Nindi dingin, baru kali ini dia bersikap sedikit acuh pada wanita itu, biasanya ia selalu memperlakukan Nindi sangat spesial.


"Marco, kalau ada masalah itu katakan?" cegat Nindi saat Marco ingin merampas balik minumannya.


"Masalah? Hahaha, sudahlah Tuan Putri, memangnya apa pantas aku punya masalah, masalah apapun tidak akan berani datang padaku." Marco sudah sedikit mabuk, namun dirinya masih bisa bertahan menjaga kesadarannya, buktinya ia masih bisa melihat dengan jelas Nindi mendatanginya di klub malam tempat dirinya menghabiskan waktu.


Saat itu, aku benar-benar merasa hubunganku dan Nindi mungkin akan berakhir, tapi nyatanya... Apa yang aku pikirkan sama sekali tidak terjadi, bahkan malam itu nyatanya adalah awal dari hubungan kami yang sebenarnya.


Saat memikirkan ini, aku selalu saja menggelengkan kepalaku, berpikir bahwa semua itu tidaklah mungkin.


"Semuanya sudah berakhir, untuk apa Nona datang ke sini, wajahmu... aku kesal melihat wajah ini dan sayangnya aku tidak bisa marah jika itu menyangkut tentangmu." racau Marco, Nindi berada tepat di hadapannya.


"Marco, apa yang kau katakan?" tanya Nindi, nampaknya wanita itu cukup terkejut mendengar Marco yang berkata kesal melihat wajahnya.


"Bagus! Kau berlagak tidak tau, sebenarnya siapa kau?"


"Marco, kau sudah mabuk!" bentak Nindi, bau minuman menyeruak, entah sudah botol ke berapa yang sudah habis ditenggak Marco.


"Tidak, aku tidak mabuk." Marco mendengus kesal, menghidupkan rokok lalu menyesapnya, menyemburkan asap itu tepat di hadapan Nindi hingga membuat wanita penuh kelembutan itu terbatuk-batuk.


"Kau tidak akan menyukaiku kan?" tanya Marco tiba-tiba, "Lalu, untuk apa kau ke sini? Seolah peduli, dengar Nona... Aku tahan banting, tidak akan mabuk hanya dengan minuman ini, hanya beberapa botol saja tidak akan mampu membuatku tumbang."


Marco berdiri, menunjukkan bahwa dia benar-benar baik-baik saja.


"Aku benar-benar sudah gila saat perasaan itu datang padaku, tapi aku tidak menyesal... Sama sekali tidak, hanya saja kadang aku membenci, tidak... Bukan membencimu, tapi aku benci terhadap diriku sendiri, tidak pantas! Dasar bajingan, beraninya kau! Plakk!" Marco menampar pipinya sendiri, sangat keras hingga menimbulkan bekas kemerahan.


Mengatakan dirinya tidak akan mabuk, namun nyatanya dirinya hampir tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Nindi menangis, Marco yang melihat itu menjadi sesak tak terhindarkan dan berkata, "Aku yang kesakitan, mengapa kau yang mengeluarkan air mata, bukan apa-apa sangat tidak pantas rasanya."


"Kita... Aku rasa tidak cukup dekat untuk saling memberi perhatian, jangan sia-siakan itu hanya demi aku."


Marco mengusap pelan air mata yang mengalir di pipi Nindi, "Ah, lihatlah, bahkan aku sudah setengah gila, kau pasti menangis karena aku yang terlihat begitu menyedihkan kan? Tidak tidak, tidak usah pedulikan, aku baik-baik saja."


Saat itu, Nindi malah memelukku erat, aku sungguh tidak mengerti jalan pikirannya, sebenarnya apa yang dirinya rasakan terhadapku, aku ingin lebih percaya diri menganggap akulah orang itu, namun setelahnya aku pasti tertawa menyedihkan, itu adalah hal terburuk yang pernah aku pikirkan, yah bukankah itu adalah sebuah ketidakmungkinan.


"Jangan seperti ini!" Nindi berucap, tangisnya semakin pecah, Marco mengusap punggung itu, sudah dirinya bilang, jangan ada yang membuat Nindinya menangis, sekalipun itu dia... Maka ia pun tidak akan suka.


"Jangan terlalu berlebihan, kita tidak sedekat ini kan." ucap Marco, sembari menahan sesak di dadanya, sakit sekali.


"Aku menyukaimu Marco, orang yang selama ini aku bicarakan itu kamu, tapi mengapa kamu tidak mengerti juga, jangan seperti ini Marco, sebenarnya ada masalah apa hingga membuatmu mengabaikanku dan kemudian minum-minum seperti ini."


Waktu itu rasanya, bagai dihujam sebuah batu besar di dadaku, apa Nindi sudah gila, apa dia mabuk juga, tapi aku belum melihatnya minum setelah sampai menemuiku di klub waktu itu, mengapa dia berbicara meracau? Konyol!


"Mengabaikanmu? Memangnya aku berani?" Marco kembali menyesap rokoknya, asap itu mengepul ke sembarang arah saat dihembuskannya.


Dia, menyukaiku? Apa dunia sudah terbalik? Apa sudah mau kiamat?


Kutarik tangannya, kubawa dia keluar dari klub malam itu, aku ingin mendengarnya sekali lagi, lebih jelas, dalam keadaan tenang dan suasana hening.


Aku menghidupkan motorku, kubawa dia bersamaku dan laju motorku berhenti di sebuah pelataran hotel, bukan... Mana mampu aku membawanya ke tempat mahal seperti itu, hanya sebuah penginapan, namun cukup mewah untuk ukuran sebuah penginapan, tapi belum bisa dikatakan sebuah hotel.


Dia meringis menatap tempat itu, seolah bisa menebak betapa brengseknya aku. Tidak Nindi, kau harus percaya, hari itu adalah hari pertama aku membawa seorang wanita ke tempat seperti itu, kuakui penampilanku yang urakan dan seperti penjahat wanita ini, tolong jangan membuatmu salah paham, aku hanya pernah jatuh cinta satu kali, dan wanita itu adalah kamu.


"Katakan sekali lagi?"


"Apa?"


"Yang kau katakan dengan lantang di klub tadi?" Marco menatap remeh wanita di hadapannya ini. Bagaimanapun dia enggan percaya, dan menganggap Nindi hanya membual.

__ADS_1


"Aku menyukaimu!" ucap tegas Nindi, Marco terperangah, apa ini benar?


"Memangnya aku percaya?" tanya Marco.


Yah benar, tidak mungkin.


"Kau tidak percaya?" tanya Nindi, matanya meredup, meski hanya diterangi cahaya bulan yang jauh di atas sana, namun cukup sampai dan Marco bisa melihat tatapan Nindi yang seakan mengeluh.


"Kalau begitu apa buktinya?" tantang Marco.


"Bukti?"


"Iya, pernyataan cinta bukannya harus dibuktikan agar semuanya bisa dipercaya."


"Emm, kau mau bukti seperti apa?" tanya Nindi, sedikit takut, namun Marco yang mabuk dan saat itu sedang menjaga kesadarannya malah tanpa sengaja mengabaikan ketakutan Nindi.


"Apa kau benar-benar akan membuktikannya?"


"Jika aku bisa, akan aku buktikan agar kau bisa mempercayai kata-kataku."


"Wah wah, apakah kita sedang memainkan drama, seorang Tuan Putri jatuh cinta pada seorang gelandangan, miris sekali... Ya Tuhan, tolong segera bangunkan aku dari..."


"Katakan saja, ini bukan mimpi." pinta Nindi tegas.


"Menarik sekali Tuan Putri! Baiklah, bagaimana kalau, tidur denganku!" tantang Marco.


Nindi terdiam, dan pelan menggeleng, apa yang baru saja Marco minta?"


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2