
"Kamu!" pekik Yaren tidak percaya.
Bagaimana bisa dirinya berada di kamar Ayaz saat bangun pagi ini? Seingatnya dirinya masih bertahan semalam di kursi kayu itu.
Meski banyaknya suara-suara horor yang mengganggu gendang telinganya, namun Yaren masih mencoba untuk tetap tinggal lebih lama lagi, memejamkan matanya walau begitu sulit.
Ayaz terlihat santai saja, dirinya turun dari ranjang kecil yang hanya muat untuk dua orang itu, itupun kalau dipaksa.
Mereka tidur saling berpelukan, dan itu membuat Yaren malu sekali saat bangun dan menyadari.
Ayaz mengambil air putih di nakas, menenggaknya hingga habis, kemudian berlalu ke kamar mandi.
Yaren memegangi dadanya, menetralkan irama jantungnya, apa yang terjadi mengapa bisa seperti itu, mencoba menerka-nerka, apa iya Ayaz yang memindahkannya ke kamar?
Tak ingin larut dalam kemarahan karena sejatinya diri ini hanya menumpang, Yaren mulai membersihkan kamar tidur Ayaz, ruangan yang tidak terlalu luas itu singkat saja mudah sekali dibersihkan.
Ayaz masuk kamar saat Yaren sudah selesai berbenah, pria itu tersenyum, yah setidaknya meski pria itu minim ekspresi namun masih bisa menampakkan ragam bahasa tubuh, kalau marah ya serem kalau suasana hati lagi seneng mungkin akan tersenyum manis seperti ini, eh secara tidak langsung Yaren ternyata memperhatikan Ayaz.
"Baguslah kalau tau diri!" ucap Ayaz dengan seringai, dirinya memuji Yaren yang membersihkan kamarnya sekaligus menjatuhkannya.
Ya Tuhan, kutarik pikiranku tadi!
"Kenapa?" tanya Ayaz.
"Tidak apa? Ayaz, apa aku boleh minta tolong?" tanya Yaren.
"Hemmm!"
Hemmm, apa maksudnya hemmm?
Yaren masih menunggu, baginya jawaban Ayaz kurang memuaskan.
"Kau mau apa?" tanya Ayaz setelah hening beberapa saat.
"Aku... Apa aku boleh meminjam bajumu? Aku tidak bisa memakai baju yang sama dari kemarin!" tanya Yaren hati-hati.
Sudut bibir Ayaz tertarik, dasar wanita menyusahkan saja pikirnya.
__ADS_1
Kemudian mengambil satu baju kaos dari dalam lemari, namun untuk bawahan dirinya bingung harus bagaimana, celana Ayaz tidak akan kuat untuk pinggang Yaren yang ramping.
Ayaz melirik wanita di hadapannya itu, memindai dari kepala hingga kaki, Yaren sebenarnya cantik, dan Ayaz tidak yakin bisa bertahan untuk tahan godaan, semalam saja dirinya malah diam-diam membawa Yaren ke tempat tidurnya saat gadis itu tengah terlelap.
Seketika hatinya luluh, "Aku tidak punya celana, hanya boxer itupun pendek sekali, kalau kau mau kau bisa memakainya?" tawar Ayaz, dirinya tidak tega, Yaren tampak terlihat tidak nyaman.
"Eemm, tidak masalah, apa kau punya sabun cuci, aku mau mencuci pakaianku ini?" tanya Yaren lagi.
"Ada di kamar mandi!" jawab Ayaz.
"Terimakasih!" ucap Yaren, dirinya mengambil kaos yang berada di tangan Ayaz, hendak keluar kamar untuk mandi.
"Yaren!" panggil Ayaz.
Yaren berhenti melangkah, "Ya!"
"Ini celananya!" Ayas memberikan satu celana boxer untuk Yaren pakai.
"Ah iya, terimakasih!" gugup Yaren, Ayaz tampan, apa lagi kalau sedang tersenyum.
Ayaz menggelengkan kepalanya pelan, semalam dirinya nampak aneh saat berada di dekat Yaren, meski gadis itu tertidur lelap namun Ayaz bisa terlelap dengan mudah saat berada di dekat Yaren.
Itu juga menjadi sebab mengapa dirinya seakan bisa menerima kehadiran Yaren.
Jika malam ini Yaren tidur dengannya dan nyatanya ia bisa tidur dengan nyenyak lagi, maka biarlah Yaren tinggal bersamanya, toh wanita itu juga sudah dibuang oleh keluarganya pikir Ayaz.
Sejenak Ayaz melupakan, kalau setiap hari bahkan setiap detik keselamatannya dipertaruhkan, itu adalah alasan mengapa dirinya tidak bisa menerima kehadiran Yaren kemarin, namun hari ini dirinya melupakannya itu, sejenak terlena karena Yaren bisa menjinakkan insomnianya.
"Ayaz..." seru Yaren dari kamar mandi.
Gegas Ayaz menuju sumber suara, takut terjadi sesuatu pada Yaren.
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku mendengar suara orang lain dari kamar mandi, aku takut!" ucap Yaren.
Ayaz menghela napasnya pelan, ternyata cuma itu.
__ADS_1
"Mandilah dengan benar, aku di sini!" ucap Ayaz, lalu pria itu duduk di kursi makan menunggui Yaren selesai mandi.
Ayaz nampak berpikir, apa lebih baik dirinya keluar setelah ini, namun ia tidak mungkin membawa Yaren bersamanya.
Ceklek, pintu kamar mandi di buka, Yaren tampak menggoda dilihat dari penampilannya, memakai baju Ayaz yang longgar, serta celana boxer yang tidak bisa menutupi paha mulusnya, Yaren tampak risih namun mau bagaimana lagi, dari pada dirinya tidak ganti baju.
Yaren keluar lewat pintu belakang, dirinya hendak menjemur pakaian, namun bagaimana caranya ia tidak tau.
"Ayaz!" panggilnya lagi.
"Ya!" sahut Ayaz langsung saat terlepas dari lamunannya tentang Yaren. Pria itu menyahut dari dalam rumah, tidak berniat mendatangi Yaren.
"Aku mau jemur baju, biasanya kau jemur baju di mana?" tanya Yaren.
Dengan terpaksa Ayaz menuju halaman belakang, dirinya mengambil gantungan baju dan diberikan pada Yaren. "Ini, kau gantungkan saja di sini!" tunjuk Ayaz pada sebuah kayu jemuran.
"Terimakasih!" ucap Yaren sembari menyunggingkan senyum.
Hari masih pagi, Ayaz melirik rolexnya, pukul 06:22, dirinya akan mengatur rencana jika mau bepergian namun Yaren tetap aman bersamanya.
Sementara di sebuah rumah megah,
"Aku tidak mau tau, bunuh anak itu, anak itu hanya akan menjadi penghalang untuk aku mendapatkan semuanya." teriakan itu menggema di seluruh ruangan, malam itu dirinya hampir saja membunuh anak tirinya yang ia sebut-sebut sebagai anak haram, namun sebuah mobil membawa kabur anak tirinya itu dan sayang sekali buronannya harus lepas.
"Pa, Papa harus tegas dong, sudah berapa kali kamu kehilangan jejak Ayaz, kalau seperti ini terus kita akan kehilangan semuanya." seorang wanita dengan make up tebal membelai mesra lengannya, wanita itu takut sekali tidak mendapatkan apapun jika Ayaz berhasil merebut perusahaan suaminya.
Tujuh tahun yang lalu saat umur Ayaz menginjak usia dua puluh satu tahun, saat warisan keluarga Ibunya benar-benar akan jatuh ke tangannya sebagai pewaris satu-satunya, Ayaz mengalami kebutaan.
Ayaz kira semuanya terjadi karena kecelakaan, tapi ternyata dibalik itu semua ada manusia tamak yang berperan.
Semua yang terjadi padanya adalah ulah Ayah tirinya, setelah itu Ayaz diasingkan ke sebuah desa terpencil dengan pengawasan ketat, Ayaz tau itu karena saat dirinya dinyatakan buta, dirinya bisa lebih peka terhadap gerakan, telinganya menjadi lebih tajam dan terlatih, sehingga derap langkah seseorang meski sepelan apapun, Ayaz bisa mengetahui.
Namun Ayaz beruntung kala itu, karena ada satu anak buah Ayah tirinya yang berkhianat. Namanya Sam, pemuda yang kiranya seumuran dengan Ayaz itu diam-diam mengobati mata Ayaz dengan cara tradisional selama di pengasingan, setidaknya butuh satu tahun untuk Ayaz sembuh, beruntung tidak ada yang menaruh curiga saat Sam berapa kali mendatangkan sesepuh di desa secara sembunyi-sembunyi untuk mengobati mata Ayaz.
Namun hal pedih harus Ayaz rasakan, kala bantuan Sam terhadapnya diketahui oleh pengawal yang menjaganya, Sam dibawa ke kota, sebanyak yang Ayaz dengar malaikat penolongnya itu akan diadili, dan saat itu juga ia tidak mengetahui lagi di mana keberadaan Sam setelahnya.
Ayaz kabur dari pengasingan, hidupnya terluntang-lantung bak gelandangan, dirinya tidak bisa ke kota, karena itu sama saja menyerahkan diri. Ayaz menyelinap masuk pada sebuah truk barang, entah akan kemana truk itu membawanya pergi, namun setidaknya dirinya bisa menjauh dari desa itu.
__ADS_1
Namun tanpa Ayaz ketahui ternyata truk barang tersebut membawa setidaknya puluhan kilo ganja dan sabu yang terbungkus rapi pada salah satu dus yang berisikan minuman kemasan.
Bersambung...