
Ilham dan ketua pengawal dipanggil, Ilham sudah mempersiapkan diri untuk itu, begitupun juga rekannya, ketua pengawal itu memang sempat menemui Amla saat larut malam tadi, namun tidak sedikitpun bisa merubah keputusannya untuk berkhianat.
"Darah ini, bukanlah darah Dale Adrie!" ucap Penyidik.
Ilham berlagak seperti orang yang tidak mengetahui apapun, sementara ketua pengawal itu melebarkan matanya tidak percaya. Lalu jika bukan darah Dale Adrie, jadi darah itu adalah darah siapa?
"Jadi, kalau kami boleh tau, darah itu adalah darah siapa?" tanya ketua pengawal.
Penyidik itu tidak bisa menjawab, mereka masih harus merahasiakan itu sebelum mereka memanggil Amla untuk penyidikan berikutnya.
"Kasus ini ternyata saling berkaitan, jadi kehadiran kalian di sini adalah untuk memberikan beberapa keterangan lagi." ucap penyidik itu, sambil mengetikkan sesuatu di laptopnya.
"Bisa kita mulai?"
"Bisa!"
Ilham dan ketua pengawal itu mengangguk serentak.
Proses penyidikan berlanjut, setidaknya ada lima puluh pertanyaan terkait kasus Dale Adrie dan juga kematian Tuan mereka yang harus mereka jawab, Ilham bisa kooperatif begitupun ketua pengawal itu, mereka benar-benar memusatkan perhatian pada Amla.
"Baiklah, untuk hari ini saya rasa sekian dulu, nanti jika kehadiran kalian diperlukan, apakah kiranya kalian bersedia untuk datang lagi?"
"Bisa Pak!"
"Pasti Pak!"
Sahut keduanya bersamaan.
"Berita acaranya masih harus di tanda tangani, jadi kalian bisa menunggu diluar barang kali ingin merokok atau hal lainnya, nanti akan diberitahukan jika berkasnya sudah siap!" ucap penyidik itu ramah, dari raut wajahnya saja Ilham bisa yakin kalau penyidik itu kali ini berpihak padanya.
Amla, sebentar lagi kau akan menemui kehancuranmu.
__ADS_1
...***...
Ayaz tampak tersenyum, saat bangun lalu melihat wajah polos sang istri adalah penambah semangat di pagi hari.
Bibirnya tidak bisa untuk tidak memberi kecupan pada bibir tipis milik Yaren, ia benar-benar candu.
"Morning Kiss!" ucapnya saat Yaren membuka mata bersamaan dengan bibir mereka yang sempat bersentuhan.
"Aahhh... Sudah pagi ya?" tanya Yaren bingung, semalam mereka melakukannya hingga tiga kali, badannya saja saat ini masih seperti remuk, perasaan baru saja Yaren memejamkan mata tapi siapa yang menyangka hari sudah bertemu pagi lagi.
"Apa kau masih mengantuk?" tanya Ayaz, ia menciumi seluruh wajah Yaren, lalu memeluk wanitanya itu dengan masih berbaring.
"Sedikit, kau membuatku tidak bisa tidur semalam." aku Yaren.
"Hehe... Maaf ya sayang, kau pasti lelah ya?"
"Heemm!" angguk Yaren.
Yaren tampak berpikir, kemudian mengangguk setuju.
Ayaz bergegas menuju kamar mandi, ia ingin mencuci muka dan membersihkan dirinya, setelahnya barulah ia menuju dapur dan menyuruh pelayan untuk membuatkan teh.
Ayaz membawa teh itu ke kamar, sebenarnya pagi ini ia harus menjenguk anak yang mereka bawa dari panti itu pada salah satu kamar di mansion milik Marco ini, tapi nanti saja pikirnya setelah Yaren merasa sudah lebih nyaman barulah ia akan menemui anak itu bersama Yaren.
Ayaz sudah sampai di kamar, ia meletakkan teh itu di atas nakas, ia melihat Yaren yang masih betah berbaring, kemudian Ayaz membantu Yaren untuk bangun.
"Maafkan aku ya, lain kali akan aku coba untuk menahannya." ucap Ayaz, matanya menatap genit Yaren.
Yaren tau itu hanyalah rayuan belaka, karena seorang Ayaz kadang tidak cukup bercinta hanya satu ronde saja.
Aya memberikan teh pada Yaren, membantu istrinya itu minum, tangan satunya membenarkan rambut Yaren yang terlihat berantakan.
__ADS_1
"Ah ya Ayaz, kemarin aku dengar dari pelayan katanya Rymi pingsan? Apa terjadi sesuatu dengannya?" tanya Yaren.
"Kau juga semalam kembali ke kamar saat sudah sangat larut, maksudku apa Rymi baik-baik saja?"
Ayaz tersenyum saat Yaren menanyakan Rymi, istrinya itu meskipun pernah cemburu karena kedekatannya dan Rymi, namun sepertinya Yaren benar-benar memiliki hati yang baik, bersamaan dengan itu sebenarnya Yaren sudah bisa menerima Rymi. Baiknya istrinya itu tak jarang selalu bersikap peduli.
"Dia hamil!" jawab Ayaz.
"Aa... Apa?" tanya Yaren memastikan.
"Iya, Rym hamil!" ulang Ayaz.
"Hamil? Tapi bukankah Rymi tidak memiliki suami?" tanya Yaren.
"Hemmm..."
"Ayaz..."
"Apa?"
"Jangan bilang Rymi itu hamil anakmu?" tuduh Yaren.
Ayaz pura-pura tidak peduli, ia masih betah membungkam mulutnya, ia sudah tau Yaren pasti akan menanyakan itu, ia ingin sedikit mengerjai istrinya.
"Ayaz... Mengapa kau diam? Katakan, apa itu benar? Apa benar Rymi hamil anakmu?" bentak Yaren, nada bicaranya benar-benar tinggi, ia takut apa yang ia curigai selama ini menjadi kenyataan.
Apa lagi semalam Ayaz meninggalkannya dan lagi-lagi karena Rymi.
"Ayaz jawab! Apa benar kau menghamili Rymi?"
Bersambung...
__ADS_1
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...