
"Kau bilang apa? Tidak bisa melanjutkan misi!" raut wajah geram dilayangkan Marco pada anak buahnya itu.
Marco, seharusnya pria itu berharap akan ada kabar baik hasil dari pengintaian Ayaz pada keluarga Donulai. Namun apa? Kali ini yang didengarnya bahkan begitu membuatnya berang.
Ayaz, anak buahnya itu tiba-tiba mengatakan ingin berhenti, ingin keluar dari misinya, dan parahnya lagi dengan beraninya meminta maaf.
"Aku tanya sekali lagi, apa alasannya?" Marco tampak frustasi, belum juga menghasilkan apapun pada misinya kali ini, namun semuanya sudah selesai akibat Ayaz yang tidak mau melanjutkan.
"Panggil Rymi ke sini!" titah Marco.
Ayaz langsung saja memanggil rekannya itu untuk segera datang ke rumah Bosnya. Rymi nampak terkejut di seberang sana, wanita itu bertanya ada apa? Namun Ayaz tetap saja menyuruhnya segera datang.
"Kau!" geram Marco.
"Ada apa Ayaz, aku tidak percaya kau mengakhirinya." Marco terduduk di kursi, ini adalah kali pertamanya, kali pertamanya Ayaz seperti menentang rencananya.
"Aku tidak bisa!" jawab Marco, singkat namun tetap pada pendiriannya. Pria itu tidak akan melanjutkan misi kali ini.
"Iya tapi kenapa?"
Ayaz diam, bukan tidak berani menjawab namun dirinya tidak tau akan memberikan jawaban seperti apa, jika ia mengatakan Sam adalah sahabatnya, apa kiranya Marco akan mengerti. Apa bisa begitu mudah untuk menjelaskan keadaannya pada Bosnya ini?
"Kau diam lagi, Ayaz! Pasti ada alasannya, aku harus tau dulu apa alasannya?" selidik Marco tidak menyerah.
"Aku akan menghabisimu Ayaz jika kau tetap seperti ini." ancam Marco.
"Apa jika aku jelaskan, kau akan mengerti?" tanya Ayaz, matanya menatap serius pada Marco.
"Kau bahkan belum menjelaskannya Ayaz." sergah Marco.
Ayaz menghempaskan napasnya, "Terserah jika kau mau marah saat kau mengetahui alasannya, aku tidak berharap banyak akan kekecewaanmu." ucap Ayaz.
"Jangan membuatku seperti orang bodoh hanya karena ingin mengetahui alasanmu, kalau ini orang lain mungkin sudah kulenyapkan dari dunia ini!" Marco menatap sengit Ayaz.
"Aku sudah menemukan keluargaku!" ungkap Ayaz, dadanya lagi-lagi sesak mengatakan itu. Keluarga, jika ada orang yang tidak bahagia bertemu dengan keluarganya setelah bertahun-tahun terpisahkan, maka Ayazlah orangnya. Kebencian sudah menjarah di seluruh isi hatinya.
Marco tersentak, keluarga? Mengapa tiba-tiba?
"Jadi, kau menganggap keluarga yang katamu telah menelantarkanmu itu lebih penting, bukan begitu maksudnya di sini?" tanya Marco, kini sedikit banyaknya dia mulai mengerti alasan Ayaz. Haruskah dirinya maklum?
__ADS_1
"Donulai, dia adalah keluarga Ibuku!" jelas Ayaz lagi.
"Apa?" pekik Marco tidak percaya.
"Bagaimana bisa?" lanjutnya.
"Aku tidak tau, semuanya terungkap pagi ini saat aku mengintai mereka mengunjungi makam."
"Dan, waktu itu..."
"Jadi, alasannya kau tidak bisa menyakiti keluargamu? Jadi, Ayaz, apakah alasan mereka yang tidak pernah sekalipun mengunjungimu?"
"Kau, semudah itu berpaling? Heh, gila!"
"Kau mengatakan membenci mereka, jika Donulai adalah keluarga Ibumu maka bukankah lebih bagus kau menghancurkannya!"
"Tidak kusangka!"
"Lebih dari itu!" ucap Ayaz dingin.
"Aku tidak peduli dengan mereka, tapi Rangga Donulai, Presdir DN Company... pria itu adalah anak angkat Tuan Donulai, dan sayangnya dia adalah sahabatku, orang yang selalu aku tunggu kehadirannya."
"Bodoh, orang tidak akan peduli tentangmu dan kau bisa-bisanya mempedulikan orang lain, sudah di depan mata, sudah terbentang luas jalan untukmu membalas dendam, namun kau semudah itu menyerah? Mereka yang bagimu pantas dimaafkan." sindir Marco.
"Kau harus membunuhnya, suatu hari nanti dia akan menjadi musuhmu, musuh yang paling berbahaya karena dia mengetahui kelemahanmu yang tidak bisa menyakitinya." teriak Marco mengingatkan prinsipnya pada Ayaz.
"Kau juga melakukannya padaku!" pekik Ayaz tak kalah tegas.
"Kita ini adalah bajingan, seorang bajingan tidak pernah bekerja menggunakan hatinya."
"Dan aku tidak akan pernah mau menjadi seperti ini disepanjang hidupku." lawan Ayaz, kini keduanya saking beradu argumen.
"Kau, sudah lupa sekali kau masuk maka kau akan tenggelam." Marco menatap remeh Ayaz.
"Aku tidak mau menjadi budakmu!" geram Ayaz, "Aku tidak bisa menyakitinya, kau tau... Kau, aku... Aku katakan, hari ini aku menyerah! Aku tidak bisa melanjutkannya, aku berhenti!" teriak Ayaz.
"Ayaz..." Marco menatap wajah Ayaz dalam, ada keseriusan di sana. "Kau membangkang, kau berani melawanku!"
"Sejak dulu, sejak tiga tahun yang lalu, seharusnya kau memang membunuhku, tidak pernah menyelamatkanku!"
__ADS_1
"Pergi!" usir Marco.
Pria paruh baya itu mengusir anak buah kesayangannya itu dengan segera, dia... Entah mengapa, meski marah namun dia tidak bisa menyakiti Ayaz.
"Kau!" ucap Ayaz lirih.
Mengapa ada sesak saat Ayaz mengatakan itu, Marco bukanlah siapa-siapa, selama ini mereka hanya terlibat hubungan kerja sama sebagai Bos dan anak buah, tapi mengapa rasanya Ayaz tidak bisa meninggalkan Marco begitu saja.
Mungkinkah sebuah kebersamaan mereka selama ini sudah semakin mengeratkan hubungan mereka.
Ayaz berbalik badan, kemudian dia pergi meninggalkan Marco, meski begitu namun Ayaz masih berharap bisa memiliki hubungan baik antaranya dan Marco.
Di pintu utama, Ayaz bertemu dengan Rymi, wanita itu menatapnya heran, bertanya apa yang terjadi, namun Ayaz seolah tuli, antara Marco dan Sam, sungguh pilihan yang sulit.
"Dad!" pekik Rymi saat melihat ayahnya nampak kacau, wanita itu segera menghambur untuk menenangkan ayah angkatnya.
Dilihatnya Ayaz yang terus saja berlalu, sebenarnya apa yang terjadi, Rymi sungguh tidak mengerti, siapapun tolong jelaskan padanya.
"Dia... Dia mengkhianatiku!" ucap parau Marco.
Rymi memapah Ayahnya menuju sofa, masih dengan raut wajah bingung, dirinya harus dikejutkan dengan ucapan Ayahnya.
"Rym, dia mengkhianati kita!" ucap Marco lagi.
"Siapa Dad?" tanya Rymi. Wanita itu enggan percaya kalau yang dimaksud Ayahnya itu adalah Ayaz, tidak seorang Ayaz tidak mungkin melakukan itu.
"Ayaz, dia berkata tidak akan melanjutkan misi ini, dia... Bahkan mengatakan berhenti menjadi anak buahku!" jelas Marco. Pria itu bangkit menuju lemari penyimpanan berbagai alkohol miliknya. Menarik satu botol vodka dari rak, Ayaz benar-benar membuatnya frustasi. Harta yang diincarnya nyaris tidak akan mungkin bisa didapatkan.
Marco mulai menuangkan vodka, meminumnya tanpa menghiraukan kehadiran Rymi.
"Dad, sudah jangan minum dalam keadaan seperti ini, kemarin terakhir kesehatanmu memburuk!" cegah Rymi.
"Kau juga berani membangkang padaku?" tanya Marco, delikan tajamnya mampu membuat Rymi terdiam.
"Dad, aku menyayangimu, jangan seperti ini, kita akan pikirkan caranya, Daddy juga belum menceritakan keseluruhannya padaku, ayolah jangan seperti ini, tenangkan dirimu!" ucap Rymi mencoba membujuk Ayahnya.
"Kau dan Ayaz sama saja, kalian tidak bisa diandalkan, suatu hari nanti kau juga pasti akan berpaling dariku, sama seperti Ayaz sialan itu."
"Dad, please, jangan seperti ini!"
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...