Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Berita duka.


__ADS_3

"Apa Anda yakin?" pihak penyidik meneliti lagi tentang bukti-bukti yang baru saja diberikan oleh Kate Yarkan. Anehnya, mengapa ada bukti baru semacam ini dan mengapa baru kali ini bisa dibeberkan oleh keluarga Ali Yarkan, seorang Dean Aries adalah bukan Dean Aries yang sebenarnya, pemilik nama itu tertulis di situ mempunyai nama asli sebagai Ayaz Diren.


Pelik memang, namun selama ini Dean Aries memang juga berpotensi menjadi tersangka pelaku pembunuhan. Jadi tentunya mereka tidak boleh mengabaikan bukti ini begitu saja.


"Aku hanya bisa melakukan yang terbaik entah anda mau percaya atau tidak, namun sebagai seorang istri yang suaminya sedang berada di balik jeruji besi sana, aku tidak bisa untuk berdiam diri saja, bukti-bukti ini anda bisa mencari tahu tentang siapa Dean Aries yang sebenarnya, di sini tertulis Dean Aries adalah pria berkewarganegaraan asing, dari sini bukankah anda bisa menelusuri apakah benar ada pria bernama Dean Aries sesuai dengan data terkait, dan tentunya dengan wajah yang sama seperti ini, jika itu benar maka Dean Aries yang kita kenal selama ini bukanlah Dean Aris yang sebenarnya!" jelas Kate mencoba meyakinkan pihak penyidik.


Ya, hanya itu yang bisa dirinya lakukan. Dia sudah kehabisan akal dan tidak tahu lagi harus melakukan apa, sebuah bukti yang diberikan Amla Huculak padanya, meski dalam keadaan seperti ini, sebenarnya ia tidak boleh langsung saja percaya pada orang baru, namun baginya itu adalah satu-satunya harapan untuk keluarga mereka dan tidak boleh disia-siakan begitu saja.


Berhasil atau tidaknya, namun paling tidak dia sudah berusaha.


"Baiklah, akan kami teliti terlebih dahulu bukti-bukti ini, nantinya akan kami kabari bagaimana hasilnya. Anda tidak perlu khawatir, selama anda dan keluarga anda bisa bersikap kooperatif maka kami akan sebisa mungkin membantu. Jika menurut anda memang suami anda bukanlah tersangka utamanya maka hal yang anda lakukan saat ini memanglah sudah benar." ucap penyidik tersebut.


Kate mengangguk mengerti, ia berterima kasih pada pihak penyidik dan mengatakan akan sebisa mungkin bersikap kooperatif, kapan saja kehadirannya dibutuhkan maka ia akan segera hadir tanpa banyak alasan untuk memberikan keterangan.


Kate berpamitan, namun sebelum itu ia juga meminta izin untuk pergi mengunjungi sang suami di sel tahanan.


"Bagaimana?" tanya Joshe Yarkan, melihat senyuman di wajah istrinya membuat dia sedikit berlega hati, mungkinkah ada secercah harapan untuknya bebas. Ah semoga saja!


"Masih belum tahu!" jawab Kate, namun bibir itu tetap saja mengembangkan senyuman, lalu ia memegang tangan suaminya yang masih terpisahkan jeruji besi, momen itu jika dilihat tampaknya begitu haru, "Aku sedang berusaha doakan aku ya!" ucapnya meminta.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Joshe lagi.


"Ada orang baik yang memberikan satu bukti aku harus mencobanya! Bagaimanapun kita tidak punya pilihan lain selain percaya pada orang baru itu kan!" jawab Kate.


"Yah, kau benar! Tapi siapa?"


"Aku tidak bisa memberitahumu, dia meminta untuk tidak mengungkap identitasnya, kau doakan aku saja semoga ini cepat berlalu dan semoga saja bukti yang diberikan orang itu memang benar adanya." ucap Kate.


"Oh ya Tuhan! Istriku, kau jangan terlalu memaksakan diri, kita sudah cukup tersiksa karena kematian anak kita, aku kadang juga sedikit menyesal mengapa aku terlalu mengungkit masalah ini dan sekarang aku malah membuat jiwa Ali menjadi semakin tidak tenang, kiranya sedang apa dia di sana? Sudah bahagiakah, atau bersedih karena melihat kita seperti ini?" ucap Joshe, setitik air mata itu kini sayangnya harus menggenang di pelupuk lagi.

__ADS_1


"Suamiku... Tetaplah tabah dan bersabar, ini hanya ujian, sesungguhnya Tuhan tidak akan menguji suatu umatnya jika dia tidak bisa melewati ujian tersebut, kau adalah yang terpilih karena bagi Tuhan kau pasti bisa melalui ini semua." ucap Kate mencoba tegar.


Tangan itu semakin erat menggenggam, keduanya sama-sama saling menguatkan menyalurkan kekuatan karena memang hanya itu yang saat ini bisa mereka lakukan.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Kate, ia menatap wajah suaminya yang tampak lusuh. Padahal hari ini barulah hari ketiga suaminya itu ditahan namun jambang tipis sudah menghiasi sebagian wajah suaminya hingga wajah itu terlihat seperti sangat tidak terawat


"Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku jaga selalu kesehatanmu aku disini baik-baik saja!" ucap Joshe juga tak kalah dalam menyembunyikan kegundahannya.


"Aku tidak bisa berlama-lama, aku juga harus menyelesaikan, sesuatu karena kasus ini kau juga tahu begitu banyak perusahaan yang menarik investasinya pada perusahaan kita." ucap Kate.


Joshe tertunduk. Dia benar-benar sangat menyayangkan itu rasanya ia tidak tahu lagi harus berbuat apa, begitu banyak hal yang terjadi setelah dirinya ditetapkan menjadi tersangka pembunuhan anaknya sendiri, meski dirinya berteriak sekalipun dan mengatakan bahwa dirinya bukan pembunuh karena tidak mungkin dia melakukan hal sekeji itu pada seorang anak darah dagingnya sendiri namun sayangnya siapa yang akan percaya.


"Maafkan aku istriku, hidupmu menjadi semakin sulit karena diriku!" sesal Joshe.


"Tidak tidak, ini adalah ujian untuk kita, kita akan melewatinya bersama!" Kate menguatkan suaminya dan juga dirinya.


...*** ...


Tuan Donulai bertanya apakah Sam sudah menemukan Sian namun Sam menjawab kalau putranya itu belum juga menemukan musuhnya itu.


Lalu dirinya juga bertanya ada urusan apakah gerangan sampai bisa membuat Sam tidak pulang ke rumah seperti itu.


Sam juga menjawab adanya urusan keluarga karena dia tiba-tiba saja menemukan kedua orang tuanya dan sayangnya kedua orang tuanya selama ini ternyata berada dalam genggaman Sian dan istrinya.


Tuan Donulai bertambah khawatir, ia takut Sam akan kembali ke keluarganya dan melupakan segala kemewahan yang dirinya beri, padahal tuan Donulai sudah berharap bahwa Sam akan menemani masa-masa tuanya nanti.


Tuan donulai memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan Sam namun tidak juga ada tanda-tanda pergerakan anak angkatnya itu terlihat di manapun.


Dalam kebingungannya tiba-tiba saja salah satu orang kepercayaannya mengahampiri.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Tuan Donulai, ia begitu antusias, ia pikir mungkin sudah ada titik terang tentang keberadaan Sam.


“Tuan Besar, maafkan saya sudah lancang, tapi kedatangan saya kali ini karena saya harus menyampaikan berita duka bahwasana, Nyonya Daslah sudah tiada.”


Tuan Donulai terkejut, jelas saja tangannya langsung memegangi erat dadanya saat mendengar berita duka itu, rasanya Tuan Donulai sungguh tidak percaya, dirinya tidak bisa berada di sisi Daslah di saat-saat terakhir adiknya itu.


Detik itu juga tuan Donulai memutuskan untuk kembali ke Itali, ia akan mengurus pemakaman adiknya itu sembari memerintahkan anak buahnya untuk terus mencari keberadaan Sam dan mengabarkan berita duka itu.


“Katakan juga pada Sam, jika dia bertemu Ayaz, sampaikan juga berita duka ini pada cucunya Daslah. Aku tidak bisa menunggu lagi, aku mohon kalian harus temukan Sam dengan segera.” perintahnya pada beberapa anak buahnya.


"Baik Tuan Besar."


...*** ...


Sam merasakan dirinya harus pulang karena sudah tiga hari ia meninggalkan rumah besar Tuan Donulai, kesehatan jantung Ayah angkatnya itu tidak begitu baik akhir-akhir ini maka sebagai anak sudah menjadi kewajibannya untuk sebisa mungkin berada di samping sang ayah.


Sam mencari keberadaan Rymi, namun tidak menemukan wanita itu di manapun di markas, lalu ia menanyakan pada salah satu penjaga markas itu di mana gerakan Rymi, tapi sayangnya penjaga itu juga tidak mengetahui.


Wanita itu memang aneh menurut Sam, pergi dan datang selalu saja sesuka hati, kehadirannya selalu saja secara tiba-tiba begitupun kepergiannya.


"Katakan padanya kalau aku harus pulang sebentar, mungkin malam atau besok pagi aku akan kembali lagi." ucapnya pada salah satu penjaga itu.


Penjaga itu mengangguk dan mengatakan akan menyampaikan pesannya itu saat Nona Ryminya sudah datang.


Sam pergi, dirinya juga sudah rindu sosok orang tua yang juga sangat disayanginya itu.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2