Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Ayaz...


__ADS_3

"Keparat!"


Bugh bugh,


Marco memberikan tinjunya bertubi-tubi di wajah dan dan perut Sian, rasanya Marco semakin ingin melenyapkan pria itu.


"Akan kubunuh kau!" teriak Marco di sela-sela pukulannya.


"Tuan, Tuan tenangkan dirimu!" Jovan memeluk paksa tubuh Marco, ia tidak mengerti apa yang terjadi, baru saja ia membukakan pintu tapi Marco langsung saja dengan cepat menyerang Sian.


"Akan aku hancurkan hidupmu sehancur-hancurnya, kau akan mati, MATI MATI MATI!" Marco berteriak melampiaskan amarahnya, ia sudah seperti orang kerasukan, tangannya gemetar benar-benar ingin membunuh Sian, ingin mencekik pria itu sampai mati, ingin memukuli pria itu sampai mati, atau membakar tubuh itu hidup-hidup di hadapannya, Marco benar-benar ingin membunuh Sian dengan tangannya sendiri.


"Tuan, tenangkan dirimu, katakan apa yang terjadi, katakan bagaimana keadaan Yaren, tolong beritahu aku!" pinta Jovan, satu hal yang sangat ingin dirinya ketahui adalah bagaimana keadaan adiknya.


"Heh," Marco tersenyum smirk dan berucap, "Dia baik-baik saja, memangnya akan terjadi hal seperti apa dengannya? Ayaz sudah berkorban untuk wanita itu, dasar sialan!" berang Marco.


Ia tidak terima Ayaz menaruhkan nyawanya menyelamatkan wanita itu. Meski Yaren adalah istri dari anaknya itu.


"Apa maksudnya?" tanya Jovan lagi.


"Yaren, adikmu itu baik-baik saja, sebagai gantinya Ayaz harus menanggung penderitaan demi menyelamatkan adikmu itu!" Marco benar-benar kesal, jika sampai terjadi sesuatu dengan Ayaz, maka ia tidak akan pernah memaafkan Yaren.


Jovan merasa tidak senang, ia ingin menanyakan lebih lanjut mengenai bagaimana keadaan Ayaz, tapi mengingat yang sedang dihadapinya ini adalah orang yang begitu tidak bisa untuk disinggung, Jovan mengurungkan niatnya.


Biarlah nanti dirinya akan mencari tau sendiri, melalui Rymi misalnya, berharap wanita itu akan mengangkat panggilan teleponnya, lalu bisa memberikan informasi tentang bagaimana Ayaz, sungguh demi apapun, ia tidak berniat membuat Ayaz mengalami celaka, sebab apapun itu.

__ADS_1


Sementara Sian, pria itu sudah kembali tidak sadarkan diri, wajahnya hampir tidak bisa dikenali, bau amis darah menusuk hidung, mungkinkah Sian sudah sekarat saat ini? Pikir Jovan.


...***...


Mobil melaju dengan cepat, Yaren tidak sadar saat mobil itu berhenti Ayaz bahkan tidak di bawa ke rumah sakit, ia ingin menanyakan itu, namun bibirnya bergetar dengan masih terus terisak.


Sebuah mansion mewah berdiri tegak menyapanya, banyak orang menyambut kedatangannya, sebagian membawa brankar dan menempatkan tubuh Ayaz di atasnya, Ayaz dibawa ke mansion itu.


Rymi menarik pergelangan tangan Yaren, membawanya masuk menuju pintu utama, lalu ia menyuruh Yaren untuk beristirahat.


"Tidak, bagaimana keadaan Ayaz, akan kau bawa ke mana suamiku?" tanya Yaren. Ia mulai sadar, tidak seharusnya ia berdiam diri sementara Ayaz sedang berjuang antara hidup dan mati.


"Berdoa saja tidak terjadi apapun dengannya, orang-orang kami akan mengatasinya." jawab Rymi kemudian hendak berlalu pergi.


"Rymi... Rymi..." cegah Yaren, ia memegang tangan wanita yang diketahuinya sebagai sahabat suaminya itu, "Mengapa kita tidak membawa Ayaz ke rumah sakit, dia akan ditangani di sana, kenapa?" tanya Yaren lagi.


Dan di sinilah Ayaz berada, di ruangan yang sudah didesign sedemikian rupa, persis seperti ruang IGD di rumah sakit ternama, alat medis juga terlihat begitu lengkap di ruangan itu, dokter yang menanganinya juga sudah memiliki sertifikasi, Marco mempekerjakan mereka untuk berjaga-jaga jika saja ada situasi darurat seperti ini.


Ayaz langsung saja di tangani, malam itu juga tindakan operasi harus diambil untuk menyelamatkannya, Rymi hanya bisa melihat dari kaca, ia begitu tegang saat ini.


Isi dalam kepalanya, dipenuhi oleh kenangan-kenangan saat dirinya bersama Ayaz, apa lagi kejadian tadi pagi, rasanya baru saja ia dan Ayaz berhasil menuntaskan lawan, musuh abadi Ayaz nyatanya sudah berhasil dikalahkan, namun siapa yang tau malamnya Ayaz akan mengalami kejadian seperti ini.


"Kau tidak boleh pergi Ayaz, mengapa dia membunuhmu, kau sudah berjanji bahwa hanya aku yang bisa membunuhmu, aku akan membunuhmu Ayaz, jangan mati, aku yang harus menancapkan pedang itu, bukan keparat itu!" Rymi terisak, seumur-umur dia bukanlah gadis yang cengeng, namun melihat Ayaz yang terbaring lemah dengan serangkaian alat medis menghiasi tubuh sahabatnya itu, Rymi tidak kuat, air matanya bahkan jatuh dengan sendirinya.


"Rym... Kita akan mati bersama, aku akan membunuhmu, lalu secara bersamaan kau juga harus membunuhku, jadi... jangan biarkan orang lain membunuh kita!"

__ADS_1


"Kau gila? Heh, memangnya kau bisa membunuhku? "


"Aku hanya tidak bisa melihatmu mati ditangan orang lain Rym, sementara aku... Entahlah, kita akan saling menjaga sampai akhir, dan lagi pula aku hanya akan rela jika aku mati di tanganmu."


"Bagaimana kalau Marco membunuh kita? Aku jadi penasaran, bagaimana jika suatu hari nanti, Tua Bangka yang tidak bisa disinggung itu... Hahahaha! "


"Marco?"


"Ya, apa kita harus membunuhnya bersama?"


"Hahahaha, ide bagus, akan kupertimbangkan!"


"Aku tidak akan terima, kau pernah bilang, hanya aku yang bisa membunuhmu!" Rymi bergumam, tangannya meraba wajah Ayaz dari balik jendela kaca, ingin dirinya menangis sembari berteriak menumpahkan keluh kesahnya, namun itu sama sekali bukan sifatnya, ia tidak terbiasa melakukan hal demikian.


Rymi ingin protes pada dunia, mengapa hidup sahabatnya itu harus penuh dengan luka, dendam, kesakitan, nyawa yang bagai tidak berarti, mengapa rasanya hidup terlalu gampang untuk mereka, apa itu adalah semacam konsekuensi jika kita sudah memilih jalan hidup yang penuh dosa ini?


Mengapa tidak ada bahagia, terutama untuk Ayaz, bertahun-tahun semakan seminum dengan pria itu, selain Marco, Ayaz juga salah satu orang yang dianggap Rymi bisa melindunginya, bisa membuatnya tertawa, bisa merasakan apa arti hidup, bukankah harusnya Ayaz bisa berbahagia setelah menikah dengan Yaren, mengapa pria itu tidak juga bahagia? Mengapa hidup begitu tidak adil bagi mereka?


"Kau tidak bisa pergi Ayaz, kau tidak bisa meninggalkanku!" lirih Rymi, kepalanya menggeleng pelan, sungguh dirinya takut jika saja sampai terjadi sesuatu pada seseorang yang sudah bagai saudara baginya itu.


"Rym, kau tetaplah adikku!"


"Apapun yang kau lakukan, aku selalu mendukungmu, jangan ragu untuk menghubungiku, berkeluh kesahlah padaku, meski aku berada di pihak lawan, kau masih bisa mempercayaiku, karena ingatlah, aku masih orang yang sama!"


"Ayaz..."

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2