
"Aku tidak dengar!" tanya Ayaz meremehkan.
"Tuan... Tuan Ayaz!" Argantara semakin kalut, bagaimana jika menantunya itu, seseorang yang juga adalah pemilik hotel tempat ia mengadakan resepsi ini membuat kekacauan. Acara baru berjalan setengah, Argantara sungguh tidak bisa membiarkan itu terjadi.
"Ya?"
"Papa!" Bentak Wana, ia tidak terima suaminya itu merendahkan diri di hadapan Yaren.
Argantara menoleh ke arah Wana, matanya melotot mengisyaratkan Wana untuk diam, dan Wana langsung saja tercekat.
"Tuan Ayaz, maafkan kami, maafkan kelancangan istri saya, mohon kemurahan hati Tuan, izinkan saya menyelesaikan acara ini hingga akhir!" ucap Argantara mencoba memohon lagi.
"Hemmm... Ternyata kau tidak bodoh!" Ayaz menganggukkan kepalanya pelan, "Buktinya kau bisa mengerti apa yang sedang aku pikirkan!"
"Tuan..."
Wana benar-benar bingung tentang panggilan suaminya itu pada suaminya Yaren, "Tunggu!" cegatnya.
Ayaz mengangkat kedua alisnya, sedikit tertarik dengan apa yang sebentar lagi akan Wana katakan.
"Mengapa kau begitu hormat padanya?" tanya Wana pada sang suami.
Argantara mendekat dan membisikkan sesuatu tepat di telinga istrinya hingga membuat si pendengar terkejut bukan main.
"Haaahhh! Kau bercanda?" Wana memekik masih tidak percaya. Lalu melihat ke arah Ayaz dan Yaren, memang meyakinkan dari segi penampilan, namun ia tidak semudah itu akan percaya.
Dan Ayaz hanya menyeringai, ia tidak berniat menjelaskan, baginya untuk apa menjelaskan dan bertingkah ingin meyakinkan orang yang tidak menyukainya, buang-buang waktu saja.
"Kau jangan begitu! Aku berkata sebenarnya, dia adalah pemilik hotel ini, yang sedang kita tempati ini adalah miliknya, jangan membuat masalah!" bisik Argantara pelan.
"Haahhhhh!" Wana menutup mulutnya yang menganga lebar, apakah ia sedang bermimpi, bermimpi buruk, kalau 'Ya' tolong bangunkan segera, itu berarti nasib mereka berada di tangan Yaren saat ini.
Wana memalingkan wajahnya, seketika air liur di tenggorokannya menjadi begitu kelat, berpikir tentang apa yang harus dirinya lakukan.
Bersikap pura-pura baik seperti penjilat! Tidak, tidak mungkin, hal itu menurutnya sangat tidak mungkin dirinya lakukan mengingat ia yang begitu membenci Yaren, namun jika terus menampakkan kebencian hidupnya saat ini juga sedang terancam. Lalu, harus bagaimana?
"Tuan Ayaz, bagaimanapun ini hanyalah salah paham, tolong jangan ambil hati perkataan istriku, dia... Dia memang kadang suka kelewatan, mungkin sedang ada masalah dalam hatinya, maklum saja beberapa hari ini, karena pernikahan Raisa yang begitu mendadak sebagai seorang Ibu, tentulah dia sangat sibuk!" terang Argantara mencoba mendinginkan situasi.
__ADS_1
"Aku akan mengajarinya untuk lebih baik memperlakukan orang lain, sungguh!" lanjutnya.
"Bukankah aku adalah orang yang sudah menghamili putrimu, jadi bagaimana mungkin kau berpikiran kalau aku adalah orang baik yang akan rela saja mengerti bagaimana istrimu?" tanya Ayaz menyindir.
Argantara terdiam, ia tidak tau harus menyahut seperti apa, waktu itu dirinyalah yang begitu marah dan seakan mengutuk Yaren, ia bahkan pernah membenci Yaren dan berniat tidak akan memberikan maaf, sehingga ia dengan tega bagai membuang seorang anak.
"Aku tidak... Bukan begitu maksudku!" gugup Argantara.
"Bukan begitu? Jadi... Kiranya seperti apa?" tantang Ayaz.
"Ayaz, sudah!" cegah Yaren dengan berbisik. Ia mengusap pelan lengan suaminya itu.
"Aku hanya menanyakannya!" sahut Ayaz santai.
"Ayaz, aku tidak yakin itu tujuanmu sebenarnya!" bisik Yaren lagi.
"Memang bukan, tapi aku menyukai ini!"
"Ehmm!" Ayaz berdehem untuk menetralkan perasaannya, "Jadi, Argantara yang terhormat, bisa kau jelaskan apa yang menjadi maksudmu?"
"Pa!" Wana tidak terima, namun mulutnya langsung saja dibungkam oleh gerakan tangan Argantara.
"Papa benar-benar minta maaf, Papa yakin kau sudah bahagia, bukankah meski Papa sempat tidak merestui namun kalian juga tetap berbahagia bukan?"
Ayaz tau, Argantara sedang memainkan trik, karena istrinya itu pastilah mudah tersentuh akan sebuah kata maaf, seberapapun dahulunya orang lain menindasnya namun semua itu jika di hadapkan dengan Yaren pasti akan selesai dengan satu kata maaf saja.
"Papa..." lirih Yaren.
Argantara langsung saja memasang wajah memelas seketika saat Yaren memanggilnya, "Maafkan Papa nak!" imbuhnya.
"Rendahan!" pekik Ayaz tidak terima.
"Ayaz!" Yaren menatap Ayaz meminta pengertian.
"Tuan Ayaz, kita adalah keluarga, maafkan saya karena pernah memperlakukan kalian secara tidak baik." tambah Argantara.
"Bahkan jikapun Yaren bisa memaafkan kalian, tapi sayangnya aku tidak." sahut Ayaz dengan pasti.
__ADS_1
"Kau..." berang Wana, ia tidak tahan dan seolah bagai ditampar dengan kerasnya.
"Apa ada perkataanku yang membuat anda tidak tenang?" sindir Ayaz.
"Ah tidak tidak..." Argantara langsung saja memutus tatapan yang bagai menusuk itu, ia mencubit sedikit tangan istrinya, "Sudah ku katakan jangan menambah masalahku!" bisiknya sangat pelan.
"Bagaimana bisa kami merasa tidak tenang, Tuan berhak menyuarakan hati Tuan sendiri, saya akan menerima segalanya, tapi... Saya mohon jangan memperpanjang perdebatan ini, saya akan melakukan apapun!"
"Bukankah kau tak ubah seperti penjilat?" ledek Ayaz terang-terangan.
"Tuan..."
Argantara setengah mati menahan kesalnya, perlakuan baiknya sama sekali tidak membuahkan hasil untuk manusia tidak berhati seperti Ayaz, dada Argantara tiba-tiba menjadi sangat sesak, rasa takut pun juga tak hentinya ia rasakan, memikirkan bagaimana nasibnya jika suami dari Yaren ini benar-benar bertindak gila.
"Apa perkataanku salah?"
Memalingkan wajah, menarik napas dalam lalu menghembuskan pelan, "Tidak Tuan, tidak sama sekali." sahut Argantara dengan sabar.
"Kau sedang menahannya?"
"Hei sialan!" umpat Wana tiba-tiba, ia benar-benar tidak bisa menahan rasa sabar saat dirinya dan sang suami dari hina seperti itu, jelas-jelas dilihatnya Ayaz sangat tidak berperasaan. "Kau pikir kau siapa? Kau pikir aku akan takut denganmu? Jangan terlalu bangga, aku... Tidak akan pernah tunduk pada siapapun! Lihat saja, kau akan menyesali kesombonganku ini" teriak Wana, sebagian orang yang awalnya tidak mempedulikan perbincangan mereka lekas saja menjadi begitu penasaran, teriakan Wana tadi nyatanya cukup untuk menarik perhatian.
"Benarkah!" Ayaz tampak tertarik akan gertakan Wana, "Kau benar-benar apa adanya, tapi aku suka, aku suka semangatmu, harus aku akui aku lebih suka kejujuranmu dari pada seorang penjilat ini!" Ayaz selalu kit menekankan kata penjilat dengan melirik Argantara.
Argantara mencoba menghentikan Wana, ia menarik lengan istrinya berniat membawa Wana pergi dari situ, namun sayangnya Wana tidak berniat berpaling sedikitpun.
"Baguslah, jika kau bisa melihat betapa tidak sukanya aku akan kalian berdua!" ucap Wana lagi.
"Hahahaha!" Ayaz tergelak keras, "Sayangnya gertakanmu itu sama sekali tidak akan ada artinya!"
"Butuh ribuan serangga jika kau ingin menyerang sebuah tempat untuk menyebarkan wabah, karena jika serangga itu hanya sendirian, maka bisa dipastikan hal yang terjadi selanjutnya adalah..." Ayaz menjeda ucapannya, ia mendekat ke arah Wana dan tangan satunya yang tidak di genggam oleh Yaren dengan cepat menjambak rambut Wana yang masih disanggul rapi.
"Dia akan terinjak dan mati!" lanjut Ayaz, terdengar nada bicaranya yang begitu mengerikan.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...
__ADS_1